Salma And Rayden

Salma And Rayden
Bab. 7 Jealousy.....



Kekasih... bila kau jauh


rasaku hilang tiada makna


Asaku redup tak berpelita


menunggu itu lara....


menanti itu derita yang tiada


pasti.....


Hari ini Salma sudah kembali bekerja. Pagi hari Salma sudah mendapat kejutan dari Rayden yang berdiri di depan pagar rumah Salma untuk menjemputnya



Dengan dalih mengkhawatirkan Salma naik sepeda motor seorang diri ke tempat kerja, dia menawarkan untuk berangkat bersama, yang langsung di setujui oleh ibuku.



"Huh, Dasar modus--! " dengus Salma kesal karena harus berangkat bareng Rayden.



" Sayang, bukan modus, tapi aku memang khawatir !" kata Rayden menanggapi ucapan Salma.



" Sayang! Sayang! Genit amat, sih ! Salma kan jadi malu kalau di dengar ibu! "



" Biar saja ibumu denger!! Ibumu kan sudah kasih restu untuk jadi mantu! " jawab Rayden sambil tersenyum menggoda.



Kemudian dia menuntun Salma masuk ke mobil. Tak lupa dia pamit pada ibunya Salma.



" Kami pergi dulu, ya Bu--! " pamit Rayden yang di balas anggukan dan senyum oleh ibu Ayuni.



" Hati - hati di jalan. Nggak usah ngebut--! "



Setelah mobil Rayden berlalu. Ibu Ayuni menghela napas. Dia berharap Salma mau membuka hati untuk Rayden agar dia bisa segera punya menantu.



Dia tak habis pikir Apa yang kurang dari Rayden.. Ganteng iya, mapan juga iya. Disamping itu Rayden juga anak yang baik. Dia cukup mengenal Rayden karena Rayden adalah anak dari Elise sahabatnya. Tapi nyatanya bagi Salma label ganteng dan tajir bukan jaminan dia akan tertarik.



''Ya Tuhan..! *hamba mohon satukanlah keduanya* " doa ibu Ayuni dalam hati sambil berlalu masuk ke dalam rumah.


^^^***^^^


Salma akhirnya tiba di kantor bersama Rayden. Saat akan keluar, pintu mobil telah dibuka oleh Rayden. Tangan Rayden terulur membimbing Salma dengan hati hati agar bisa keluar dari mobil.



"*Sumpah, lebay banget sih!! Kayak aku ini sakit parah aja* " rutuk Salma dalam hati.



Rayden tersenyum melihat muka wanita nya yang ditekuk masam.



" Nggak usah ngambek. Aku cuma kasih sedikit perhatia sama wanita ku" bisik Rayden di telinga Salma.



"What the held ! kok bisa dia tahu isi otakku. Apa dia bisa membaca pikiran? " guman Salma sambil berjalan pelan di belakang Rayden dengan wajah yang ditundukkan.



Bukan apa apa. Beberapa pasang mata sudah menatap ke arah dirinya dan Rayden.



Sebagian ada yang menatap dengan pandangan kagum. Karena bagi mereka Rayden dan Salma adalah pasangan yang serasi. Yang satu tampan dan berwibawa, yang satu lagi cantik dan cerdas.



Namun ada juga yang menatap iri dan tidak suka. Mereka menatap seraya berbisik-bisik dengan temannya. Siapa lagi kalau bukan dirinya dan Rayden yang di digosipkan.



Salma kesal namun nggak bisa berbuat apa apa. Dia terus saja berjalan sambil menunjukkan kepala.


Rayden yang dibuat gemas dengan tingkah Salma, lalu berbalik dan menggandeng tangan Salma berjalan menyusuri lobi hingga masuk ke lift.


Jantung Salma berdegup kencang. Ada perasaan aneh yang dia rasakan saat jari jemarinya di genggam Rayden.



Tangan kanan Rayden menekan nomor lantai tujuan sementara tangan kiri masih menggenggam jemari Salma. Tak ada satupun diantara keduanya yang bersuara. Masing - masing hanyut dengan pikirannya sendiri sendiri.



Sesampainya di lantai tujuan. Rayden melepaskan tangan Salma. Namun baru saja Salma akan melangkah, Rayden sudah menariknya kembali hingga Salma terjatuh ke pelukannya.



" Kamu belum memberikan jatahku, sayang-! " bisik Rayden. mesra.



" Jatah apa-? " tanya Salma tak mengerti.



" Hem.. itu. Obat penambahan semangat kerja aku-! "



" Obat apaan, sih-! " Salma masih bingung.



Rayden menjadi gemas. Dia langsung meraup bibir Salma dan \*\*\*\*\*\*\*\*\*\* dengan penuh gairah. Salma berontak minta di lepaskan. Namun Rayden tetap mencium Salma hingga puas barulah dia lepaskan.



" Manisnya, aku jadi makin bersemangat untuk kerja hari ini. Terimakasih, sayang! " Kata Rayden seraya mengantar Salma ke bilik kerjanya.


^^^***^^^


Mbak Yuni menyambut kehadiran Salma dengan gembira. Dia menjerit senang dan merangkul Salma. Juga teman - teman Salma yang lain. Dewa adalah orang yang paling terakhir menghampiri Salma. Tangan kanannya terulur menyodorkan seikat buket bunga ke arah Salma. Salma menerima dengan sungkan. Pipinya bersemu merah.



"Selamat datang kembali, Salma, aku senang melihat kamu sudah sehat " kata Dewa.



" Terima kasih atas bunganya--! " balas Salma.



" Ck! ck! ck! Dewa. Sejak kapan lo jadi bucin begini --??" Aries terkekeh sambil menepuk pundak Dewa. Dewa hanya meringis.



" Namanya juga usaha, Ries !! " jawabnya kalem.



" Ehem..ehemmm.. -!! "



Sebuah deheman menghentikan aksi romantis Dewa. Semua menoleh seketika. Ups-!!! Jantung Salma seakan berhenti berdetak.



" Bagaimana kinerja kalian mau bagus kalau di saat jam kerja begini, kalian malah ngobrol "



" Apa sudah bosan kerja kalian semua --? "



Rayden berdiri dengan tatapan dingin dan tajam ke arah mereka. Kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana panjangnya


. Semuanya menahan nafas. Takut dan gugup. Hanya Dewa seorang yang bertindak biasa saja. Tak ada ketakutan dan cemas dari sorot matanya. Dia hanya mendengus lalu pergi kembali ke meja kerjanya.



" ikut aku sekarang ke ruang kerjaku! " perintah Rayden dingin. Lalu berbalik kembali ke ruang kerjanya.



Salma menarik napas panjang lalu melangkah menuju ruang kerja Rayden diikuti pandangan iba dari beberapa rekan kerjanya.



Tok,Tok, Tok!



Salma mengetuk pintu ruang kerja Rayden dengan ragu.



" Masuk--!!! " terdengar suara bariton dan serak dari dalam menyuruh nya masuk. Salma membuka pintu dan melangkah masuk dengan ragu.



"Tutup kembali pintunya--! "



Salma segera menutup kembali pintu begitu dia sudah berada di dalam ruangan.



Tatapan mata Rayden masih fokus pada laptop di depannya dan membiarkan Salma yang masih saja berdiri.



Dia memang sengaja berbuat demikian karena kesal melihat Salma dan Dewa yang pagi - pagi sudah beradegan mesra.



'*Pake acara beri bunga segala. Apaan, huh* ---!!! " pikirnya kesal.



Matanya melirik ke arah Salma yang menunduk sambil meremas jari- jarinya. Keliatan sekali kalau dia sedang gugup dan cemas.



Rayden sebenarnya tak tega melihat Salma yang takut dan merasa bersalah. Namun dia juga kesal saat melihat Dewa memberi bunga pada gadis nya. Rasanya dia tidak terima jika Dewa bersikap manis pada Salma.



" Kamu mengerti tidak apa kesalahanmu---?? " tanya Rayden dengan dingin.



"Ma...ma ...Maafkan saya Pak Rayden, saya, saya tidak sengaja tadi ngobrol. Saya janji nggak akan memgulanginya--! " Salma berkata dengan terbata bata dan cemas.



Rayden mendengus kesal seraya bangkit dari kursi. Dia berdiri di depan Salma.



" Bagian mana tadi yang di sentuh oleh si Brengsek itu? "



" Hah! " Salma melongo tak faham akan maksud perkataan Rayden.



" Aku tanya, dimana tadi Dewa menyentuhmu! aku akan menghapus jejaknya.. aku tak mau ada bekas tangan laki-laki lain di tubuhmu! "



Salma hanya diam mematung. Dia bingung tak tahu harus menjawab apa karena memang Dewa tak pernah menyentuhnya, hanya memberi buket bunga saja.



Karena Salma hanya diam, Rayden makin nggak sabaran. Dia meraih tangan Salma dan mengecupnya, lalu ke arah dahi, dan terakhir bibir Salma. Rayden mencium dan \*\*\*\*\*\*\* bibir manis Salma cukup lama hingga gadis itu memukul dadanya karena tak bisa bernafas.



Rayden melepaskan ciumannya. " itu hukuman karena sudah menerima bunga dari lelaki lain." Salma mendelik jengkel.



." Siapa juga yang mau bunga. aku cuma nggak mau di bilang tak sopan. " jawab Salma membela diri.



" tapi tetap saja, kau menerima bunga pemberiannya. Dengar ya, sayang. aku tak mau kamu dekat dengan laki-laki manapun. aku tak suka! " Rayden berkata dengan ekspresi kesal. Salma bingung, apa pak Rayden sedang cemburu ya, padaku? pikir Salma dalam. hati.



"Hm... oke. Kali ini aku memaafkanmu. Tapi lain kali jangan diulang" kata Rayden dengan ekspresi tegas.



Salma mengangguk. Hatinya lega.



" Kamu boleh kembali ke ruang kerja. Oh ya.. tolong buatkan aku kopi , sayang ! dan siapkan juga laporan bulan ini."



Salma mengangguk dan segera pamit keluar dari ruangan Rayden untuk membuatkan kopi dan menyiapkan laporan bulanan yang di minta Rayden.



.Rayden menghela napas. Dia melonggarkan dasi dilehernya. Konsentrasinya mendadak buyar.



Pikirannya mengingat kembali peristiwa tadi. Mengapa rasanya sesak sekali ketika melihat Salma dan Dewa. '*Apakah aku cemburu*--??pikirnya galau.



"*Maafkan aku Salma, aku hanya tak ingin kehilanganmu* -!" Rayden berkata dalam hati.


Tak lama kemudian Salma sudah kembali membawa secangkir kopi untuk Rayden. Kemudian dia pamit untuk menyiapkan laporan bulanan


^^^***^^^


Salma PoV


Aku tak tahu apa yang kurasakan. Tapi aku suka perasaan ini. Jantungku rasanya tak berhenti berdebar.



Pagi ini, Pak Rayden tiba-tiba muncul menjemputku dengan alasan khawatir kalau aku pergi sendiri dengan mengendarai motor sendirian. Aku jadi merasa melambung ke awan.



Aku pernah merasakan perasaan seperti ini ketika dulu bersama kak Riko. Rasa yang indah tapi juga telah membuat aku akhirnya terluka.



Tadi waktu di kantor teman - temanku menyambutku dengan gembira. Aku juga merasa senang bertemu kembali dengan mereka. Tapi yang membuat aku surprise adalah Dewa yang memberi aku hadiah seikat bunga. Selama ini aku tak pernah menduga bahwa Dewa bisa juga bersikap romantis.



Aku sempat salah tingkah. Aku memang sudah tahu kalau Dewa menaruh hati padaku. Dari sikapnya padaku selama ini yang selalu saja penuh perhatian.



Namun aku tidak memiliki perasaan lebih padanya. Aku hanya menganggap Dewa sama seperti teman - temanku yang lain.



Berbeda dengan perasaan yang ku rasakan pada Pak Rayden. Perasaan itu sama dengan perasaan yang dulu pernah ku rasakan saat bersama dengan kak Riko.



Tapi tiba-tiba Pak Rayden muncul. Dia terlihat tak suka melihat kami berkumpul di saat jam kerja. Sehingga dia menegur dan mengingatkan kami.



Kami semua langsung bungkam dan tak berkutik. Hanya Dewa saja yang masih tetap tenang. Makan apa sih tuh anak. Kayaknya dia tak punya rasa takut pada apapun dan siapapun.



Aku merasa bersalah. Dan Aku makin cemas ketika Pak Rayden menyuruhku ke ruangannya. Apakah aku akan di pecat?



Tapi ternyata aku salah, Pak Rayden bukan marah karena melihat kami ngobrol, tapi karena melihat Dewa yang memberi buket bunga padaku. Ya ampun ! aku jadi bertanya dalam hati apa mungkin Pak Rayden cemburu padaku? Entahlah, tapi yang jelas aku agak sedikit lega karena tidak jadi di hukum. Eh... tapi Pak Rayden tetap memberi hukuman dengan menciumku sampai aku rasanya hampir kehabisan nafas. Walaupun kesal tapi aku suka. Tak apa apa di hukum, asalkan aku tak di pecat.! lagipula hukumannya indah banget.! pikirku senang.