
*mencari bayangan wajahmu...
diantara wajah wajah...
sekian lama memendam rasa
payah ku rasa menyiksa jiwa....
menyimpan rindu....
Merawat luka....
Sudah lebih dari sepuluh hari Salma di rawat di rumah sakit. Keadaannya kini sudah berangsur - angsur membaik. Rayden begitu memanjakannya dan bersikap sangat posesif.
Sudah dua hari ini ibu dan saudara saudara nya juga bergantian - gantian menjaga Salma. Salma heran, sejak kemarin, dia tak melihat batang hidung bosnya yang tampan itu.
Salma berpikir apakah Rayden marah padanya. Jujur saja, di lubuk hati yang tersembunyi, diam - diam Salma mulai merindukan lelaki tampan itu.
Salma tak menampik, ada getaran getaran aneh saat mendengar lelaki itu berkata bahwa dia serius ingin menjadikan dia sebagai pacar.
Tapi Salma tahu diri. Dia tak ingin baper dan buru buru menerima dan mempercayai perhatian dan ucapan Rayden padanya tempo hari.
Dia kapok sakit hati lagi untuk kedua kalinya. Salah dia juga dulu, yang baper sendiri sama kakak Riko, kakak kelasnya. Akhirnya semuanya berakhir dengan Salma yang terluka.
Salma menghela napas. Hari ini dia sudah diperbolehkan pulang dengan catatan masih harus kontrol seminggu sekali.
Orang suruhan Rayden yang mengurus semua masalah administrasi rumah sakit. Salma hanya tinggal angkat kaki saja lalu pulang kerumah. Tentu saja orang suruhan Rayden yang mengantar Salma dan keluarganya sampai di rumah.
Lagi lagi dia tidak menjumpai Rayden saat kepulangannya. Salma menghela napas dalam saat dia mengingat Rayden.
'Kenapa aku merindukanmu, Bos-?' hati Salma bertanya.
Salma masuk ke kamarnya. Ifa adiknya yang paling bontot membawa tas pakaian Salma ke dalam kamar dan meletakkannya di samping lemari.
" Kak, kata ibu kakak makan dulu, baru minum obat--"
Ifa memandangi wajah kakaknya yang sedikit meringis ketika punggungnya menyentuh kasur.
" Iya, bilang sama ibu kakak mau istirahat dulu sebentar ---" jawab Salma.
Ifa tak menjawab. Hanya menganggukkan kepala lalu beranjak keluar kamar.
Salma menarik selimut yang terletak di bawah kakinya hingga menyelimuti separuh tubuhnya. Dia ingin beristirahat sejenak untuk mengistirahatkan hati dan pikiran yang kini mulai gelisah.
Salma memejamkan matanya perlahan dan tak lama kemudian dia sudah tertidur pulas.
...*****...
Entah sudah berapa lama Salma tertidur. Ketika dia merasakan seseorang mengusap kepala dan mencium keningnya lembut ....
" Pak Rayden--!! "
Hampir saja Salma melompat dari tempat tidur karena kaget. Bagaimana caranya Rayden bisa ada di kamarnya. Ini pasti kerjaan ibu dan saudaranya.
" Maaf, kalau aku telah membangunkanm tidurmu---" Rayden berkata sambil menatap manik bola mata Salma.
Bola mata itu teduh sekali. Bening seperti air laut tapi menyimpan sejuta cerita misteri.
" Sejak kapan Pak Rayden berada di kamar saya--? "
" Sejak tadi! " Jawab Rayden kalem.
Otak Salma berpikir jika Rayden datang dari tadi pasti dia sudah melihat Salma tidur.
'Aduh gimana ini! 'pikir Salma. Salma malu sekali. Pasti Rayden melihat dia tidur.
'Apa tadi dia tidurnya pake ngiler ya.. ???'pikir Salma lagi, ihhh.. malunya!!! Rasanya muka Salma mau di bawa lari aja. Tapi dibawa lari kemana ???
" Aku di sini dari tadi. Sebenarnya aku mau membangunkan kamu, karena kata ibu sudah waktunya kamu minum obatmu--"
" Tapi melihat kamu tidur begitu pulas, rasanya aku tak tega buat bangunin kamu--"
" Jadi, Yah --!!! Aku tungguin aja sampai kamu bangun. Kapan lagi ada kesempatan aku bisa liat kamu tidur. Eh kamu ngiler loh tadi waktu tidur "
Muka Salma berubah warna. Biru, ungu , putih, abu abu, kuning lalu yang terakhir merahhhhh.
Astaga!!!
'Tuh kan.. apa ku bilang!!! '
Malunya Salma! Dia menutup wajahnya dengan selimut.
Rayden yang melihat itu terkekeh geli. Dia sukses menggoda Salma.
'Pak Rayden, Salma mohon keluar, deh--!!! Salma malu tau --!!. Kata Salma di balik selimut.
"Mana boleh begitu. Aku kan tamu di sini. Tamu itu harus di hormati. Masa di usir --!!! balas Rayden sambil masih saja terkekeh.
Ditariknya selimut yang menutupi tubuh Salma. Nampak wajah Salma yang polos tanpa make up plus tanpa hijab. Pipinya bersemu merah.
Rayden terpesona, 'Cantiknya-!!' jerit Rayden dalam hati.
" Nggak kok, aku hanya bercanda saja--!"
" Aku juga barusan sampai. Terus ibumu memintaku agar membangunkan kamu. Karena sekarang waktunya minum obat, Tuan Putri--! " Blus, pipi Salma merona merah.
" Oh begitu--!Baiklah, terima kasih sudah mengingatkan saya. Kalau begitu, saya mau ke dapur. Mau makan dulu--" kata Salma.
Salma bermaksud akan turun dari tempat tidurnya dan pergi ke dapur, tapi tangan kokoh Rayden menahannya dan menarik tubuhnya kembali ke tempat tidur.
" Kamu di sini saja. Biar aku yang ambil makanan dan obatmu". Kata Rayden seraya beranjak ke dapur.
Salma terdiam dan menurut saja. Dia jadi heran.??? Kenapa dia jadi penurut sama Rayden kayak kerbau di cocok hidungnya....( Wah !!!! Kenapa Salma di samakan sama kerbau nih thorr!!. Salma protes ah--!!!).
Tak lama kemudian Rayden kembali dengan membawa nampan yang berisi sepiring nasi lengkap dengan lauk ayam dan sayur asem, secangkir air minum dan obat untuk Salma.
'Aduh--! itu semua makanan kesukaan aku. Enaknya!!' Kata Salma dengan tidak sabaran.
Rayden menepis halus tangan Salma yang langsung mengambil makanan di piring itu tanpa mencuci tangan dulu.
" Aduh, kamu itu kebiasaan banget. Cuci tangan dulu, Salma". kata Rayden.
Mendengar itu, Segera Salma beranjak ke kamar mandi mencuci tangan dengan sabun, kemudian mengeringkan dengan handuk sampai kering. Setelah itu Salma segera kembali ke kamarnya.
Salma sudah tidak sabar untuk melahap makanan yang di masak oleh ibunya. Perutnya sudah berteriak minta di isi. Masakan ibunya kayaknya nikmat banget.
Emang bagi Salma, tak ada masakan di dunia ini seenak masakan Sang Ibu.
Salma makan dengan lahap sampai tak bersisa. Dia makan seolah olah tak ada Rayden di kamar itu. Tak ada jaim atau malu. Santai saja dia melahap semuanya sampai ludesb. tak bersisa.
Rayden yang melihat hal itu tersenyum. Lucu sekali melihat cara Salma makan. Jauh dari kata anggun seperti kebanyakan wanita pada umumnya.
"Kalau sudah selesai makan, jangan lupa minum obatmu" Kata Rayden mengingatkan Salma.
" Iya, Pak! Nih... obatnya sudah saya minum--! "
Rayden tersenyum dan mengacak rambut Salma yang tak tertutup oleh hijab. Kemudian mengambil piring dan gelas bekas makan Salma, memasukkannya ke nampan dan membawanya kembali ke dapur.
Tak lama kemudian Rayden kembali ke kamar Salma. Dilihatnya gadis itu sedang duduk di sandaran tempat tidur sambil bermain dengan Handphone miliknya. Hijabnya sudah terpasang rapi.
Rayden duduk di sebelah Salma. Di raihnya sebelah tangan Salma yang masih saja sibuk dengan handphonenya.
Salma menghentikan kegiatannya bermain handphone. Keningnya berkerut.
"Pak Rayden nggak kembali ke kantor?? " tanyanya kemudian.
" Nggak, aku mau di sini saja. Lagian urusanku di kantor sudah selesai " Jawab Rayden.
Rayden masih memainkan jari jemari Salma yang ada di dalam genggamannya.
Salma mencoba menarik tangannya dari genggaman Rayden, tapi tenaganya kalah dengan Rayden.
" Biarkan tetap seperti ini. Aku mau merasakan hangatnya genggaman tanganmu" bisik Rayden lirih.
Jantung Salma berdebar kencang. Debaran itu semakin kencang takkala Rayden mencium lembut jemari tangannya. Rasanya Salma tidak bisa bernafas.
Aduhh,mak!!! Panas seluruh wajah Salma.
Tok !tok! tok!
Kedua insan yang sedang terhanyut itu tersentak kaget. Salma buru buru melepas genggaman tangan Rayden. Ifa adik Salma muncul di balik pintu.
"Kak!, Diluar ada teman teman kakak dari kantor." Muka Salma berbinar cerah. Buru buru dia memperbaiki jilbabnya dan bersiap.
"Suruh aja masuk, Fa! " Ifa mengangguk dan menghilang dari balik pintu.
Tak lama kemudian rombongan teman kantor Salma sudah berada di kamar Salma. Ada mbak Yuni teman sekantor Salma, ada juga Dewa, Mbak Mita dan Aries, teman satu divisi nya.
Mereka sedikit surprise saat mendapati Bos mereka ada di kamar Salma.
Bisik bisik dan senyum penuh arti tergambar jelas dari wajah wajah mereka.
Setengah canggung mereka mengambil tempat masing masing di kamar Salma. Namun hal itu hanya sesaat. Selanjutnya kemudian yang terdengar adalah suara canda dan banyolan konyol yang keluar dari mulut mulut usil mereka.
" Hayo, ada yang jadian diam diam, nih..! " Kata mbak Yuni sambil melirik ke arah Salma.
Salma yang jengah tersenyum sambil melirik ke arah Rayden. Yang di lirik cuma tersenyum kecil.
Semua di ruang itu tersenyum melihat keduanya, kecuali Dewa. Wajah lelaki itu berubah masam. Ada kecemburuan yang tergambar jelas di sana.
" Gimana keadaanmu, Salma?" Dewa bertanya untuk menutupi perasaannya yang sedikit kacau.
Sudah bukan rahasia lagi kalau Dewa menyukai Salma.
" Ya...lumayan sih--! Sudah agak baikan.Cuma masih sedikit sakit kalau bergerak terlalu aktif.! " jawab Salma. Tangan Dewa bergerak meraih jemari Salma.
" Cepat sembuh, kami semua merindukan, kamu--! " Dewa berkata penuh arti menatap Salma.
Mata Rayden sukses melotot melihat itu. Tangannya terkepal.
'Berani sekali dia menyentuh gadisku, awas saja nanti dia --!' kata Rayden dalam hati.
Mbak Mita, Aries dan Mbak Yuni yang melihat hal itu tersenyum penuh arti. Aries lalu berdehem.
" Teman teman --!! kayaknya Salma butuh istirahat. Kalau begitu kita pamit dulu--! " kata Aries.
"Cepat sembuh ya, Salma" Kata Aries sebelum melangkah keluar.
Aries menarik tubuh Dewa agar segera mengikutinya keluar kamar Salma.
Dengan enggan Dewa mengikuti Aries. Matanya menatap Salma sayu.
"Aku pamit dulu. Cepat sembuh ya..!! kata Dewa.
Mbak Yuni dan Mbak Mita juga ikut beranjak untuk pulang setelah tak lupa berpamitan pada Salma.
Salma melepas kepergian teman temannya dengan helaan nafas panjang.
'Uggh! Gencar lagi gosip di kantor, besok--! ' keluhnya dalam hati sambil melirik kearah Rayden yang terlihat sibuk berbicara dengan seseorang melalui handphone.