
Rayden tidak dapat lagi menahan kegusarannya. Sudah berhari- hari Salma tidak mau menghubungi ataupun dihubungi oleh Rayden. Laki-laki itu menduga pasti ada yang tidak beres di balik semua ini.
" Revan, siapkan pesawat pribadiku, aku mau pulang hari ini juga! " titah laki-laki itu tanpa memandang ke arah Revan karena matanya sibuk menatap ke arah gedung-gedung pencakar langit yang berdiri megah di sana. Hatinya benar benar gelisah saat ini.
" Baik, Pak! " Revan segera berlalu dari hadapan Rayden begitu laki-laki itu mengisyaratkan agar dia segera mengerjakan tugas yang di perintahkannya tadi.
Baru saja Revan berlalu meninggalkan Rayden, ketika pintu ruangan Rayden kembali dibuka.
" Aku sudah bilang segera kerjakan tu.... " ucapan Rayden terputus begitu dia menyadari siapa yang masuk ke ruang kerjanya.
" Aku heran mengapa kamu akhir-akhir ini sulit sekali ku hubungi? " Anastasia langsung menerobos masuk dan berdiri di depan meja kerja Rayden dengan tatapan tajam menyelidiki ke arah Rayden.
" Ana!" desisnya.
Rayden menghela nafas dan berdiri menghampiri wanita cantik dan sexy itu. Memberi kecupan kecil di keningnya.
" Duduklah!" Rayden merangkul wanita cantik itu dan membawanya duduk di sofa. Anastasia menurut dan duduk di samping Rayden dengan muka cemberut.
" Aku kira kamu sudah kembali ke Singapura" kata Rayden pada Anastasia.
" Aku masih di sini, karena aku masih ada pemotretan untuk agensi sampai lusa" jawab Anastasia.
Rayden menganggukkan kepalanya tanda faham. Dia ingat seminggu yang lalu Anastasia pernah menjelaskan padanya saat dia bertanya mengapa Anastasia tiba-tiba sudah berada di Australia sehingga berakhir dengan terjadinya peristiwa pada malam itu.
Rayden mengamati wajah wanita di depannya dengan intens. Wajah itu tampak sedikit pucat. Ada garis hitam di bawah matanya sepertinya wanita ini kurang tidur semalam.
"Ada apa kamu menelponku?" tanya Rayden dingin.
Anastasia bergayut manja di lengan kiri Rayden." Tidak ada apa-apa. Aku hanya kangen " jawab Anastasia manja.
Rayden mendengus mendengar jawaban Anastasia. "Maaf, akhir-akhir ini aku sedang sibuk" ucap Rayden dingin sambil beringsut melepaskan pegangan tangan Anastasia di lengan kirinya.
" Huh, kamu selalu saja sibuk dan tak ada waktu jika buatku, tapi kau selalu ada waktu buat gadis culun berhijabmu itu" dengus Anastasia dengan raut wajah yang menampakkan kekesalan.
Hatinya kembali merasa sakit. Walaupun Rayden sudah berjanji akan menikahinya, namun ternyata Rayden tidak mau melepaskan Salma karena Rayden sangat mencintai gadis itu.
Mendapati kenyataan itu, kembali Anastasia meradang. ' Awas kau gadis culun, akan kubuat kamu makin menderita lagi!' desis Anastasia geram dalam hati.
" Cukup, Ana! jangan bawa-bawa Salma dalam hal ini. Bukankah aku sudah berjanji padamu bahwa aku akan bertanggungjawab tentang peristiwa malam itu!" sentak Rayden dengan nada tinggi.
Bukannya ciut dengan bentakan Rayden, malah dengan berani dan angkuh Anastasia berjalan ke arah Rayden. "oke, honey. Aku percaya kamu tidak akan mengingkari janjimu, sebab kalau sampai hal itu terjadi aku akan memastikan kalau video hot kita akan sampai ke Salma dan juga ke media sosial." bisik Anastasia di telinga Rayden.
"Apa maksud kamu Ana?" Rayden geram. Seandainya orang yang di hadapannya ini bukan seorang wanita, apalagi Anastasia adalah juga sahabat nya, sudah dapat di pastikan orang itu akan tinggal nama saja. Dia mengepalkan tinjunya erat menahan geram.
" Aku tidak ada maksud apa-apa, honey. Aku hanya sedikit berjaga-jaga seandainya kamu berubah pikiran " Anastasia tersenyum penuh misteri membuat Rayden gusar.
" Kamu jangan coba-coba untuk berbuat macam-macam denganku atau Salma! Karena aku akan pastikan kamu akan menyesalinya nanti " ancam. Rayden sambil mencengkram bahu Anastasia dengan kuat sehingga wanita itu sedikit meringis kesakitan.
"Kau tenang saja, honey. Aku akan menghapus semua video hot kita saat kita sudah menikah nanti. Kau tidak perlu khawatir." kata Anastasia sambil berusaha melepaskan cengkraman Rayden di bahunya.
" Aku akan membunuhmu dengan tanganku jika sampai kamu menyakiti Salma, Ana! " desis Rayden dengan wajah mengeras. Anastasia tersenyum penuh ejekan.
" Oke, aku akan bertanggung - jawab. Tapi jangan sakiti Salma" kata Rayden tegas.
" Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu. Aku masih harus menghadiri sesi pemotretan terakhir hari ini. Sampai jumpa, honey." Anastasia mencium pipi Rayden sekilas lalu berjalan ke arah pintu, namun langkahnya berhenti begitu tepat di depan pintu. Dia berbalik dan berkata pada Rayden yang masih berdiri mematung. "Ingat janjimu, honey. Jangan buat aku kecewa, karena kau tau apa yang bisa kulakukan" Anastasia memgedipkan matanya lalu menghitung di balik pintu.
Rayden kesal dan memaki Anastasia dengan marah.
"****! dasar ******! Kau pikir aku takut dengan semua ancamanmu. Aku akan bongkar semua kebusukan dan akal licikmu! " Rayden melempar semua dokumen yang ada di meja kerjanya sehingga semuanya berhamburan ke lantai. Tangannya bergerak mengambil handphone miliknya dan kemudian dia menghubungi seseorang di seberang sana.
^^^***^^^
Salma berjalan pelan menyusuri halaman parkir depan kantornya. Hari ini dia sengaja pulang agak larut karena banyak sekali pekerjaan yang harus di selesaikannya sehubungan dengan sudah waktunya perusahaan tutup buku . Tadi Pak Arif sopir kantorrnya sempat menawarkan diri untuk mengantar pulang tapi Salma menolak dengan alasan dia bawa kendaraan sendiri.
Baru saja dia memasukkan kunci kontak ketika sebuah tangan kokoh memeluknya dari belakang. Tanpa menoleh pun Salma tahu siapa yang sedang memeluknya dengan posesif itu. Bau parfum yang sangat dia rindukan, sekaligus juga yang di bencinya.
" Aku sangat merindukanmu, Bee" bisik Rayden di telinganya.
" Mengapa kamu tak pernah mengangkat telpon dan juga membalas chat dariku? " tanya Rayden sambil masih dalam posisi memeluknya.
Salma terhenyak. Dia teringat dengan handphone miliknya yang kini sudah tak berbentuk lagi. Ya.. Salma benci dengan handphonenya karena ada foto -foto dan video hot Rayden bersama Anastasia, maka dari itu Salma membanting handphone miliknya hingga remuk tak bersisa sesaat setelah gadis itu kembali menerima telepon lewat WhatsApp dari wanita sialan itu.
Salma mendongak mencoba menahan air matanya agar tidak keluar. 'Apakah dia tak salah dengar' pikirnya aneh.
'Mengapa lelaki di hadapannya itu mengucapkan kata rindu untuknya. Apakah dia tak sadar bahwa dia sudah berkhianat pada cinta mereka. Atau lelaki ini hanya berpura-pura berkata bahwa dia merindukannya untuk menutupi pengkhianatannya? Hati Salma teriris. Baiklah kita lihat sampai dimana kebohonganmu, Pak Rayden! kata Salma dalam hati.
" Bee, Kenapa kamu diam saja, sayang? Apa kamu sedang marah padaku? " pertanyaan Rayden yang kesekian kalinya membuyarkan lamunan Salma.
" Tidak, aku hanya merasa kaget saja kamu datang tiba-tiba tanpa memberitahu aku, honey" kata Salma seraya berpaling menatap Rayden. Dia memang melihat tatapan penuh kerinduan di mata lelaki itu.
'Tidak, kau jangan tertipu oleh mata itu, Salma. Bisa saja dia berpura-pura merindukanmu untuk menutupi kebohongannya' kata hati Salma mengingatkan.
" Hmm, tapi mengapa handphone kamu tidak bisa di hubungi, Bee? " Rayden mengulangi kembali pertanyaannya.
' Eh, itu karena handphone aku seminggu yang lalu tak sengaja terjatuh dan rusak. Dan aku belum membeli yang baru. Aku belum punya uang. Rencananya nanti kalau sudah gajian, baru aku beli" Salma tersenyum untuk menutupi kebohongannya.
Rayden mengeryitkan alisnya.
" Koq bisa, Bee? "
" Iya, itu waktu itu aku terima telpon dari temanku saat di jalan, karena kurang hati-hati handphone aku jatuh dan rusak deh jadinya" Salma berkata sambil menunduk menyembunyikan wajahnya. Dia tak ingin Rayden mendapati kebohongannya.
" Oh, begitu. Tapi kenapa nggak bilang Bee. Kamu kan bisa memberitahu aku melalui Mbak Yuni atau Mbak Mita. Jadi aku bisa beliin kamu handphone baru" protes Rayden.
" Aku tak ingin merepotkan kamu, hon" kata Salma . Rayden menarik hidung Salma gemas karena gemas. Gadisnya ini selalu saja berpikiran demikian. Padahal dia tak pernah merasa di repotkan oleh Salma.
Sejujurnya gadis itu bahkan tak pernah meminta apapun dari dia. Salma tak seperti gadis-gadis yang dia kenal yang hanya memanfaatkan harta kekayaannya saja untuk memperoleh keuntungan pribadi. Gadisnya bukan type seperti itu. Dia polos dan lugu. Dia tulus mencinta Rayden tanpa memandang siapa Rayden.
Tenggorokan Rayden tercekat. Hatinya serasa di sentil saat dia menyadari betapa tulusnya Salma mencintainya. Sedangkan dia, dia telah mengkhianati Salma walaupun itu bukan kemauannya dan tanpa dia sadari.
' Maafkan aku Salma' Rayden memejamkan matanya dan menangis dalam hati sambil memeluk Salma.