Salma And Rayden

Salma And Rayden
Bab. 60 Jangan Pergi Lagi Istriku Sayang



Akhirnya bu Emi menerima uang pemberian Rayden setelah Rayden mengatakan bahwa Salma akan sangat berterima kasih jika wanita itu mau menerima uang pemberian Rayden untuk memperbesar usaha warung nasinya.


Wanita itu mengucapkan terima kasih kepada Rayden dan Salma. Dia berpesan agar Salma dan Rayden sesekali datang dan mampir ke warung nasi miliknya jika sedang berlibur ke Surabaya.


Perjalanan Surabaya - Jakarta cukup melelahkan. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam dengan pesawat pribadi keluarga Chandler, akhirnya mereka sampai juga di rumah kediaman keluarga Chandler.


Salma segera mandi dan membersihkan diri di kamar mereka saat tiba di rumah. Mommy Elise dan daddy Dave menyambut kedatangan menantu dan cucu mereka sambil berlinang air mata. Mommy Elise memeluk menantu kesayangannya itu dengan haru.


" Akhirnya kami menemukanmu. Mengapa kamu pergi tinggalkan mommy, sayang? Lain kali, jika terjadi hal seperti itu, bicara pada mommy, mommy sendiri yang akan memberi Rayden pelajaran karena sudah menyakiti menantu kesayangan mommy. " isaknya.


Salma juga tak dapat menahan haru. Ada rasa bersalah di hatinya karena telah pergi diam - diam tanpa memberitahu siapapun tanpa terkecuali mommy Elise.


" Maafkan Salma, mih. Salma pergi begitu saja tanpa memberitahukan pada mommy perihal apa yang menimpa Salma!"


" Sudah, sayang. Sudah. Mommy faham. Mommy juga akan berfikir yang sama jika jadi kamu. Siapa sih yang tahan, jika suami sedang berpelukan mesra dengan wanita lain! " kata mommy sambil melirik tajam ke arah Rayden yang berdiri di belakang Salma sambil menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal.


Mommy Elise segera mengambil Raisa dari gendongan Salma. Berdalih ingin melepas rindu dengan sang cucu, mereka membiarkan Salma dan Rayden berbicara dari hati ke hati. Mereka memang harus berbicara berdua untuk meluruskan begitu banyak kesalahan fahaman di antara mereka berdua.


Sepeninggalnya mommy dan daddy, suasana hening. Tak ada seorang pun yang memulai pembicaraan. Mereka bagai dua orang asing yang tidak saling mengenal.


Waktu lima bulan tak bertemu dengan Rayden membuat Salma merasa menjadi seperti orang asing bagi Rayden. Ada rasa canggung di hati Salma jika harus berdua saja dengan lelaki yang masih bergelar suami baginya itu.


Setelah lama tak ada satu pun yang berbicara, Salma mengambil inisiatif untuk beranjak pergi dari kamar itu, keluar.


" Bee, mau kemana? " Rayden menggenggam tangan Salma.


" Keluar. Aku mau menemui Raisa.!" jawab Salma dingin. Merasa enggan untuk berbicara dengan Rayden. Alih-alih memasang jarak, Salma lebih suka menghindar.


" Biar saja Raisa bersama mommy dan daddy. Mereka berdua masih kangen sama cucu mereka. " kata Rayden kemudian meraih Salma dalam pelukannya.


Salma diam tak membalas pelukan Rayden. Ada rasa sakit yang masih tertinggal di sudut hatinya.


" Kau masih marah padaku, bee?" Rayden bertanya dengan berbisik pelan di telinga Salma. Salma hanya diam, tak menjawab.


Rayden melonggarkan pelukannya, memberi jarak diantara mereka dan menatap lurus ke mata Salma. Dia melihat ada luka yang tersimpan rapi di sana. Berdarah dan menganga.


Dia menghela nafas kemudian menungkup kedua belah pipi Salma, gemas.


" Sepertinya aku harus menjelaskannya padamu agar luka di hatimu itu tak lagi berdarah." Salma membuang pandangan ke arah lain. Namun kembali Rayden menarik wajahnya agar kembali mereka bertatapan mata. Akhirnya Salma menunduk, dia tak ingin menatap mata Rayden. Dia tak ingin luluh oleh tatapan bola mata hijau toska milik suaminya itu.


Namun Rayden dengan perlahan menarik wajahnya hingga mata Salma tak dapat lagi menghindar dari tatapan Rayden.


Salma memejamkan matanya. Ada bendungan yang siap jebol. Dan dia harus menahannya. Dia tak ingin terlihat lemah.


Rayden mengecup mata Salma yang terpejam.


" Sebegitu sakitkah hatimu, bee. Hingga tak mau menatapku. Aku merindukan mata ini. Aku merindukan bola mata indahmu selalu memabukkanku saat menatapmu!" Salma masih memejamkan matanya. Hanya dadanya saja yang naik turun menahan sesak.


" Bayangkan, bee. Lima bulan aku harus menahan kerinduan yang begitu menyiksaku dalam pencarianku untuk menemukan kembali dirimu." bisik Rayden. Dia mengecup berkali-kali kedua kelopak mata Salma yang masih saja terpejam erat.


" Jangan pergi lagi bee! aku mohon. Kau boleh menghukumku apa saja asal jangan meninggalkan diriku. Karena aku tak sanggup, bee. Aku bisa mati jika aku harus kehilangan dirimu. Kamu boleh memukulku, bee. Pukul saja aku, bee. Tampar aku. Aku memang pantas untuk menerimanya! " Rayden menangis dan kemudian lelaki itu meninju dinding kamar mereka sambil menampar dirinya sendiri.


Salma yang melihat hal itu menjadi tak tega. Dia memeluk Tubuh Rayden erat menahan lelaki itu agar tak lagi menyakiti dirinya sendiri.


" Sudah, cukup. Berhenti melakukan itu. Aku sudah memaafkanmu. sudah... aku mohon.. berhentilah! " kata Salma sambil menangis. Tubuhnya terguncang oleh isaknya.


Rayden tertegun melihat Salma yang menangis terisak.


" Maafkan aku, bee. Aku membuatmu terluka. Aku menyakitimu... hukumlah aku, bee." kata Rayden seraya memeluk Salma. Salma menjatuhkan kepalanya di dada Rayden. Lelah... dan rapuh.


Keduanya saling memeluk, erat dan lama. Sampai akhirnya keduanya saling melepaskan diri.


" Bee, maafkan aku. Berjanjilah untuk tetap di sisiku walau apapun yang terjadi. Aku mencintaimu, bee. percayalah.. aku tak pernah mengkhianati cintamu.. Hati dan cintaku hanya untukmu. Pertama dan terakhir, kau milikku, bee. Dan aku adalah milikmu. Tak Pernah berubah sampai kapanpun! camkan itu, sayang." kata Rayden.


Salma mengangguk kemudian kembali merebahkan kepalanya ke dada Rayden. Betapa dia merindukan aroma tubuh suaminya yang khas. Rayden tersenyum bahagia mendapatkan kembali pelukan hangat nan manja Salma yang selalu dia rindukan.


" Jangan pergi lagi istriku, sayang!" bisiknya di telinga Salma.


" Tidak, aku tidak akan pergi." jawab Salma. Dia semakin erat memeluk tubuh suaminya.


Rayden tak dapat menahan dirinya lagi.. Di angkatnya tubuh Salma ke atas kasur king size milik mereka. Di letakkannya perlahan tubuh Sang istri.


Keduanya saling pandang. Entah siapa yang memulai. Tubuh keduanya kini menyatu dalam gelora cinta yang penuh dengan kerinduan, menghempas dengan lembut setiap kehampaan hati yang lama terluka, mereguk setetes demi setetes setiap madu cinta mereka hingga tetes yang terakhir.


Tubuh Salma berpeluh akibat panasnya gelora cinta dari Sang suami. Pun demikian halnya dengan Rayden yang tidak ada puasnya mereguk air dari telaga cinta Salma yang membuatnya tenggelam dalam lautan asmara. Hingga pekikan Salma dan erangannya mengakhiri semuanya.


Tuntas sudah semua bayaran rindu atas penantiannya pada Sang Istri. Dia bahagia.... sangat bahagia. Hingga dalam tidurnya pun dia masih tetap tersenyum.