Salma And Rayden

Salma And Rayden
Bab. 64 Pulang Kampung



" Bee, ayo kita tengok kamar kita! " ajak Rayden. Keduanya lalu melangkah menuju sebuah kamar tidur yang paling besar.


Desain kamar ini juga tak kalah menariknya dengan ruangan - ruangan lainnya. Kamar tidur di desain dengan komposisi warna coklat yang di kombinasikan dengan warna putih susu hingga menimbulkan perpaduan warna yang unik.


" Bee, apa kamu tidak berniat untuk mencoba kasurnya? " tanya Rayden dengan ekspresi yang menggoda.


Hari ini, terlihat kesibukan kecil di rumah baru Salma. Wanita cantik yang memakai jilbab itu tampak bersemangat sekali menyiapkan sarapan untuk sang suami yang masih pulas tertidur sambil memeluk buah hati mereka, Raisa.


Salma tersenyum sendiri, bila ingat kejadian beberapa hari yang lalu. Suaminya itu dengan dalih ingin mengajak melihat rumah baru namun ujung - ujungnya malah ngajakin buat cobain ranjang baru.


Masih terbayang jelas dalam ingatan Salma, senyum mesum Rayden yang menggoda saat mereka sedang berdua saja di kamar tidur utama.


" Bee, kamu nggak berniat buat cobain kasurnya? " Salma tahu, itu kode dari sang suami untuk mengajaknya bercinta di kamar itu.


Dapat dia lihat, kabut gairah terpancar jelas di mata Rayden. Mau tak mau, dirinya kemudian berjalan mendekati suaminya.


Begitu sudah berada didekatnya, secepat kilat Rayden langsung menerkam istri mungilnya itu. Nafas Rayden kian memburu saat mendapati tak ada perlawanan dari sang istri.


Dengan bersemangat, dia melucuti semua pakaian yang melekat di tubuh sang istri. Kemudian selanjutnya yang terdengar adalah ******* Salma dan erangan nikmat Rayden yang mengiringi bunyi irama penyatuan mereka yang terdengar hingga ke luar kamar.


Rayden sangat bernafsu sekali menggarap tubuh sang istri sampai - sampai Salma hampir kewalahan karena walaupun sudah mencapai pelepasannya berulang kali, suaminya itu masih saja meminta lagi dan lagi.


" Ohhh, arrrggghhh! Bee! " Rayden melenguh panjang saat pelepasannya untuk yang kesekian kali. Dia menindih tubuh Salma dan menghujani istrinya itu dengan ciuman bertubi-tubi.


" Makasih, ya bee. Aku puas banget!" kata Rayden seraya menggeser tubuhnya ke samping Salma.


Salma melepaskan apron yang melekat di tubuhnya. Dia berjalan menuju kamar utama untuk membangunkan dua orang makhluk Tuhan paling imut itu yang kini masih saja terlelap meskipun Salma sudah membuka tirai yang menutupi jendela kamar mereka.


Sinar matahari menerobos masuk melewati celah - celah tipis dari tirai yang terpasang di kamar mereka.


" Bee, kok tirainya di buka? aku masih ngantuk banget! " kata Rayden dengan suara serak, khas orang yang bangun tidur.


" Sayaang, ayo bangun. Katanya ada meeting dengan klien hari ini.!" bujuk Salma.


" Hmm, meeting dengan klien bisa ditunda, tapi janji buat adek untuk Raisa nggak bisa ditunda. Iya kan, bee? " kata Rayden sambil tangannya sudah menjelajahi area di sekitar dada sang istri.


Satu ******* lolos dari bibir mungil Salma.


" Hon, jangan sekarang. Kamu kan harusnya bangun cepat - cepat agar bisa segera mandi." kata Salma sambil mencoba menetralisir debaran dihatinya.


Kalau dilayani , tak ada habis - habisnya. Suaminya ini memang sudah kelewatan mesumnya. Di mana ada kesempatan, dia selalu cari - cari cara agar bisa bercinta dengan sang istri.


Dengan malas, Rayden bangkit dari kasur dan menuju kamar mandi. Namun sebelum itu, dia masih sempat mencium sekilas bibir mungil Salma.


" Tapi janji loh, entar malam acara 'bikin adek' untuk Raisa dobel servis! " katanya sambil berlari masuk ke kamar mandi.


Salma geleng - geleng kepala melihat kelakuan sang suami.


" Bee!"


" Apalagi, sayang! "


" Mandiin! "


"Astaghfirullah..!" Salma menepuk jidatnya. Suaminya ini sejak dia kembali dari Surabaya makin manja saja. Kemarin - kemarin, rasanya nggak pernah minta di mandiin.. Paling juga ngajak mandi bareng. Nah sekarang....?


" Bee....! "


" Iya.. iya! Sabar...! Manja banget sih! " kata Salma yang kemudian segera masuk ke dalam kamar mandi.


" Sebentar aja...Bee..! Sekali aja, terus langsung mandi...oke! "


" ....???? "


...------...


Sementara itu, Jani merasa bimbang saat menerima tawaran Dewa untuk menikah dan membina rumah tangga bersama pemuda itu.


Mereka baru saja bertemu dan masih belum mengenal dengan baik satu sama lain.


Masih ada satu yang mengganjal di hati Jani. Apakah Dewa mau menerima keadaan dirinya dan keluarganya.


Jani juga berharap masih bisa bertemu dengan ibunya. Dia masih memiliki dua orang adik yang masih kecil.


Jani merasa bersalah karena telah meninggalkan ibunya bersama kedua orang adiknya yang masih kecil - kecil. Andai saja ayahnya dulu tak berhutang pada juragan Sudin tentu sekarang dia tinggal bersama sang ibu.


Lelaki tua bangka itu memaksa Jani untuk menjadi istrinya. Padahal lelaki itu sudah memiliki tiga istri.


Jani yang ogah dijadikan istri bandot tua itu memilih kabur satu jam sebelum acara pernikahan.


Terjadilah acara kejar - kejaran antara Jani dan orang - orang suruhan juragan Sudin. Namun, Jani beruntung karena secara tak sengaja bertemu dengan Dewa yang kemudian menyelamatkan dan menampung dirinya di rumah lelaki muda itu.


Jani menghela nafas pelan. Di hampirinya Dewa yang sedang asyik bermain bersama Azka.


" Kak, bisakah Jani memohon sesuatu? " tanya gadis itu ragu.


" Hmm, katakan saja, Jani. Emangnya ada yang kamu inginkan? " tanya lelaki itu seraya memegang tangan Jani dengan hangat.


" Bolehkah Jani pulang sebentar, kak. Jani ingin menemui ibu dan minta izin pada beliau. Jani janji, Jani tidak akan lama - lama. Jani janji pasti akan segera pulang lagi kesini. " kata gadis itu dengan satu tarikan nafas dia bicara tanpa terputus.


" Wow... sabar.. sabar. Bicaranya satu satu.! " kata Dewa menepuk pelan tangan gadis itu.


" Ehh... iya. Jadi Jani bolehkah minta izin untuk pulang dulu, kak? " tanyanya lagi.


" Hmm, boleh. Siapa bilang tidak. Aku mengizinkan kamu kok, kamu boleh pulang untuk menemui ibumu kapan saja kamu mau, asal... " Dewa menggantungkan ucapannya.


" Asal apa, kak? " tanya Jani penasaran.


" Asal sama kakak! " jawab Dewa.


" Tapi... apa Jani nantinya tidak merepotkan kakak? Kakak kan harus bekerja? " tanya Jani.


" Hei, Jani. Aku memang harus bekerja, tapi aku kan bosnya. Jadi aku bisa mengurus perusahaanku kapan saja aku mau. Dan lagi pula... aku sendiri kok yang mau. Jadi aku nggak merasa di repotkan." jawab Dewa.


Jani terdiam mendengar jawaban Dewa. Ada keraguan yang tersisa di wajahnya.


" Bagaimana, jadi... kapan mau pulang? " tanya Dewa balik, mengusik lamunan gadis itu.


" Ehh... jadi. Jadi.. kak. Rencananya sih kalo bisa .. ya besok! " jawab gadis itu.


" Ok.... kalau begitu, besok kita bersama - sama Azka pulang ke rumah kamu. Kamu nggak keberatan kan, jika aku mengajak Azka? " tanya Dewa.


" Nggak, kak. Jani malah senang, kok! " jawab Jani.


Dewa tersenyum mendengar jawaban tulus dari gadis itu. Dia meraih gadis cantik itu kedalam pelukannya. Jani menyandarkan kepalanya di dada lelaki itu. Hangat dan nyaman.