Salma And Rayden

Salma And Rayden
Bab. 10. God of Island



𝓴𝓾 𝓫𝓪𝔂𝓪𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓴𝓪𝓷 𝓮𝓷𝓰𝓴𝓪𝓾 𝓱𝓪𝓭𝓲𝓻


𝓴𝓾 𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓽... 𝓫𝓪𝓱𝓪𝓰𝓲𝓪𝓷𝔂𝓪 𝓪𝓴𝓾


𝓴𝓾 𝓼𝓮𝓻𝓪𝓱𝓴𝓪𝓷 𝓼𝓮𝓵𝓾𝓻𝓾𝓱 𝓱𝓲𝓭𝓾𝓹𝓴𝓾


𝓶𝓮𝓷𝓳𝓪𝓭𝓲 𝓹𝓮𝓷𝓳𝓪𝓰𝓪 𝓱𝓪𝓽𝓲𝓶𝓾...


Rombongan tour dari perusahaan sudah menginjakkan kaki di Bandara Ngurah Rai Bali. Demikian juga dengan pesawat pribadi yang membawa Salma dan Rayden juga sudah mendarat di tempat yang sama.


Setelah turun dari pesawat mereka kemudian di jemput dengan kendaraan yang di Carter pihak perusahaan untuk mengantar mereka ke hotel tempat mereka semua menginap yang juga telah di sediakan oleh pihak perusahaan. Lokasi hotel itu sangat strategis karena berada persis di depan Pantai Kuta.


Salma dan Rayden naik mobil yang sama. Mereka tiba di hotel bersamaan dengan rombongan dari perusahaan. Dan setelah itu mereka di antar ke kamar masing-masing yang telah di sediakan pihak hotel. Tentu saja semua telah diatur oleh pihak manajemen perusahaan.


Salma, Mbak Yuni mendapat kamar yang sama. Sedangkan mbak Mita sekamar dengan Devi, anak dari divisi pemasaran. Aries dan Dewa juga kebagian kamar yang sama.


" Oh... indahnya pemandangan di luar sana"


Salma melihat keluar jendela kamar hotelnya. Terlihat pemandangan diluar. Pantai Kuta yang indah dan sedikit ramai oleh turis baik lokal maupun mancanegara.


Salma lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Kasur di hotel itu rasanya nyaman sekali.


Mbak Yuni yang melihat hal itu hanya menggeleng kepalanya.


" Gimana rasanya naik pesawat pribadi-? "


"wuih..!!! mewah banget, mbak-!"


" Seumur-umur, barusan kali ini aku naik pesawat, eh sekali naik pesawat, malahan pesawat pribadi lagi. "


Salma jadi senyum senyum sendiri, teringat kembali dirinya yang naik pesawat pribadi keluarga Rayden dan di layani bak putri raja.


Aneka makanan dan minuman di suguhkan kan padanya. Sungguh dia merasa sangat kenyang, hingga akhirnya diapun tertidur. Ketika dia terbangun, dia sudah berada di dalam ruangan pribadi di dalam pesawat itu.


"Salma -!! oi melamun aja ni bocah. kesambet dedemit Bali, kali ya ! " mbak Yuni menepuk pipi Salma gemas.


Salma tersadar dari lamunan. Dia tersipu malu ke arah mbak Yuni yang menatapnya.


"Hayo-!! pasti lagi ngelamunin Pak Rayden, ya? "


" Ihh!!! siapa yang lagi melamunin Pak Rayden-! "


"pake nggak ngaku lagi. Sudah ketangkep basah masih aja main ngeles-! "


"Mbak Yuni yang cantik, koq tau sih aku lagi ngelamunin Pak Rayden. Emang profesi sambilannya dukun, ya? " tanya Salma yang langsung mendapat cubitan di pipinya.


" Aduh! sakit mbak--!! " Salma meringis merasakan sakit di pipinya.


" Syukurin, siapa suruh ngatain aku dukun-! "


" Mbak Yuni, Ayo keluar cari makan, perutku laper sekali-! "


"Dasar perut karet, bukannya tadi kamu bilang sudah kenyang makan di pesawat pribadinya Pak Rayden"


"Iya, tapi sekarang aku laper lagi---! "


"Buruan mandi dulu, nona!! Baru kita keluar. Malu dong , kalau pergi keluar cari makan dengan muka kucel dan bau ! " kata mbak Yuni sambil ngeluyur masuk ke kamar mandi.


Salma membuka koper kecilnya. mengeluarkan isinya dan menyimpan di lemari yang terdapat di kamar hotel itu.


Lalu dia mengambil baju ganti dan juga peralatan mandi yang dia bawa dari rumah.


Sambil menunggu mbak Yuni mandi iseng Salma mengambil HPnya. Dia membuka pesan yang sudah banyak masuk ke Whatsapp. Salah satunya pesan dari Rayden.


...//Calon suami:...


..."Sayang, kamu dimana??"...


Salma tersenyum membaca pesan dari Rayden. Dia lalu mengetikkan balasan.


...//me:...


..."Masih di kamar, Pak! "...


Tak lama kemudian masuk balasan dari Rayden.


...//Calon suami:...


...Ayo keluar, aku mau ajak kamu jalan-jalan. "...


...// me:...


..." Maaf, Pak. saya sudah janjian sama mbak Yuni mau keluar cari makan. "...


Hening, belum ada balasan dari Rayden.


Mbak Yuni sudah keluar dari kamar mandi. Sekarang gantian Salma yang masuk.


Salma memutar kran air hangat di bathtub. Dia berniat untuk mandi berendam air hangat di bathtub, agar pegel pegel di tubuhnya hilang.


Salma akui pelayanan di hotel ini memang hebat. Kapan lagi dia bisa merasakan mandi pake bathtub. Setelah cukup lama berendam, Salma lalu bangkit dan membilas tubuhnya dengan air hangat lalu mengerikan tubuhnya dengan handuk.


Salma keluar dari kamar mandi dengan bathrobe yang melekat di tubuhnya. Kepalanya yang masih basah di balut handuk.


Salma duduk di atas tempat tidur sambil mengoleskan lotion ke seluruh tubuhnya.


Di bukanya kembali HPnya. Tak ada balasan dari Rayden. Salma melihat pesan itu sudah dibaca, tapi rupanya Pak Rayden belum membalasnya.


Setelah memakai pakaian dan berdandan, Salma dan mbak Yuni keluar dari kamar untuk mencari makan. Mereka berdua bermaksud akan berburu kuliner khas Bali.


^^^***^^^


Rayden membaca balasan chat dari Salma. Gadis itu sudah janjian dengan Yuni teman sekamarnya mau keluar mencari makanan.


Rayden mengacak rambutnya kesal membuat rambut coklat pirangnya menjadi berantakan. Tapi justru hal itu yang membuat kadar ketampanannya bertambah.


" Kenapa sih Salma harus janjian sama Yuni. Padahal tadi niatku mau ngajakin dia jalan-jalan."


Rayden memanggil orang suruhannya. Seorang pria bertubuh tegap dan atletis datang menghampiri Rayden.


"Revan, aku memerintahkan kau untuk mengawasi dan menjaga Salma . Lakukan dari jarak jauh saja. Jangan sampai Salma mengetahuinya-! "


" Baik, Pak-! "


Sepeninggalan Revan, Rayden menghubungi seorang. Dia dan orang yang dihubungi itu terlibat percakapan serius beberapa saat. Setelah itu Rayden menutup telpon nya dan berjalan keluar kamar.


Salma dan mbak Yuni berkeliling di seputaran Pantai Kuta. Membeli beraneka jajanan dan kuliner setempat.


Setelah puas dan kenyang, mereka lalu memutuskan untuk berenang dan berjemur di pantai.


Mbak Yuni sudah mengganti bajunya menjadi bikini seksi yang menggoda.


Lain halnya dengan Salma, dia tidak mengganti pakaiannya karena dia berhijab dan juga tidak ingin repot mengganti baju karena males berenang di laut.


Dia hanya duduk saja di gazebo sambil menunggu mbak Yuni yang asyik berenang di pinggir pantai.


" Hello-! "


Sebuah suara mengagetkan Salma yang fokus mengawasi mbak Yuni berenang.


Reflek Salma menoleh. Seorang lelaki berwajah Latin berdiri tak jauh darinya. Tersenyum memamerkan sederet gigi putih yang tersusun rapi. Lelaki itu mengenakan Sweater biru gelap dan jeans biru terang.


Lelaki itu memiliki ketampanan di atas rata-rata dengan kulit coklat sensualnya. Benar benar menggoda iman setiap wanita yang memandangnya.


"Ya, Hallo" jawab Salma sambil balas tersenyum.


" Are you alone? "


Lelaki bule itu kembali bertanya, sambil berjalan mendekati tempat duduk Salma.


" No, I am here with my friend. She is swimming right now. " Jawab Salma tanpa canggung sedikitpun.


Salma memang fasih dalam berbahasa Inggris. Di samping itu dia juga menguasai beberapa bahasa daerah.


Lelaki itu memandang ke arah Salma.


" Hi, I am Luiz, Luiz Gutteres.I come from Brazil. "


"Hello, I am Salma. Nice to meet you, Luiz ! " Salma membalas perkenalan Luis.


"Well Salma, You are so beautiful-! "


Wajah Salma memerah mendapati pujian dari Luiz.


" Thank you ,Luiz " ucap Salma tersipu malu.


Luis terpana menatap wajah Salma yang merona.


'Oh my Lord! This girl so beautiful!' Kata Luiz dalam hati mengagumi kecantikan Salma.


Suara deringan dari Handphone di sakunya menyadarkannya. Dia mengangkatnya dan berbicara sesaat dengan seseorang di telpon itu. Kemudian....


" Well, Salma. I have to go now. Nice to see you. I hope we will meet again soon. " kata Luiz.


Salma mengangguk dan tersenyum manis pada Luiz.


Luiz menelan saliva melihat senyum manis Salma. Bisa terserang diabetes begini, pikir Luiz.


Luiz berlalu dari hadapan Salma. Di sana telah menanti dua orang lelaki berbadan tegap yang rupanya pengawal pribadi dari Luiz.


Salma kembali memandang ke arah mbak Yuni yang masih saja asyik berenang.


"Mbak Yuni, sini!"


Salma memanggil mbak Yuni agar segera ke gazebo.


Mbak Yuni segera berlari menghampiri Salma.


" Eh, Ada apa? " Leher mbak Yuni celingukan ke sana kemari.


" Mana tuh, bule ganteng-! Tadi barusan kamu ngomong sama cowok bule, kan? "


" Udah pergi, telat! makanya jangan berenang terus, lewat tuh rezeki nomplok-! " Salma memonyongkan bibirnya ke arah Mbak Yuni.


"Sudah sore-! Kita kayak sudah kelamaan di sini."


Baru saja Salma selesai bicara. Rayden sudah menelponnya.


" Hello. Assalamu'alaikum-! "


" 𝘞𝘢𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘶𝘮 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮. 𝘚𝘢𝘭𝘮𝘢-! 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢? " terdengar suara Rayden yang terdengar agak kesal.


" Aku masih di pantai bareng Mbak Yuni-! "


"𝘒𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨-?! "


"Ini sudah mau pulang,Pak-! "


"𝘠𝘢, 𝘶𝘥𝘢𝘩. Cepat pulang. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘩𝘰𝘵𝘦𝘭 ! "


Salma diam dan menutup telpon dari Rayden. Mbak Yuni menatap Salma. Dua tahu siapa yang menelpon. Dan itu juga berarti dia dan Salma harus segera pulang kalau tidak ingin mendapat marah dari Sang Bos.


Rayden menutup panggilannya ke Salma dengan gusar. Dia menumpahkan kekesalannya dengan melempar gelas di genggamannya ke dinding kamar hotel. Gelas itupun hancur berkeping-keping. Hatinya sedang kesal dan marah.


Orang suruhannya yang ditugaskan menjaga dan mengawasi Salma baru saja melaporkan bahwa ada laki laki bule yang mendekati Salma.


Rayden pun panik dan berusaha menghubungi Salma. Dia tak mau Sang Princess nya di gaet lelaki lain. Salma hanya miliknya. Miliknya seorang-!! Rayden menghubungi seseorang melalui hpnya.


" Revan, Cepat cari tahu siapa laki-laki yang mendekati Salma tadi-!! "


"𝘉𝘢𝘪𝘬, 𝘉𝘰𝘴-! "


Rayden menutup telpon dan pergi. Langkahnya gontai menuju bar yang letaknya di dalam hotel itu.


Dia bermaksud mendinginkan hatinya yang sedang panas karena terbakar emosi dan cemburu mengetahui Salma di dekati oleh lelaki lain.


Sementara itu Salma dan mbak Yuni sudah kembali ke kamar hotel dan sudah selesai membersihkan diri.


Salma sedang duduk di sofa di kamar hotelnya. Mbak Yuni pergi lagi keluar bersama mbak Mita, Aries dan Dewa. Sedang dia sendiri memilih tetap di kamar.


Dia lalu menelpon ke nomor Rayden, namun nggak diangkat sama yang empunya nomor.


Setelah beberapa kali menelpon tapi tak ada respon, Salma yang kelelahan akhirnya tak terasa tertidur di sofa sampai malam hari.