
Riko gelisah membolak - balikan tubuhnya. Entah mengapa, semenjak pertemuannya hari ini dengan Alin, wajah gadis itu tak bisa lepas dari ingatannya.
Celoteh riang dan canda tawa gadis itu membuat Riko dapat melupakan pesona Salma.
" Apakah aku sudah jatuh cinta pada Alin? " tanya Riko pada dirinya sendiri.
Riko meraih ponselnya yang tergeletak di kasur. Dia membuka Whatsapp dan mencari - cari nomor Alin. Setelah menemukannya dia segera mengetik pesan untuk gadis itu.
...// Riko:...
...Hi...
Tak ada balasan dari Alin. Chat Riko hanya centang satu alias belum di baca.
Riko melirik jam yang tergantung di dinding kamarnya. Waktu menunjukan pukul sepuluh malam lewat sedikit.
Kemana sih gadis itu? Apa dia sudah tidur. Dasar bocah !Jam segini sudah tidur aja.
Riko mendesah kesal.. Rasa rindu di hatinya pada gadis itu membuat dia tak dapat memejamkan matanya.
Diam-diam ada rasa bangga di hatinya saat ingat bahwa dia adalah lelaki pertama bagi gadis itu yang menyentuh bibir sensualnya. Riko dibuat mabuk kepayang oleh gadis remaja yang bahkan baru saja lulus SMA.
Tring-! sebuah chat masuk di Wa-nya. Riko segera membuka WA nya dan membaca pesan tersebut.
...//Alin:...
...Hi, juga...
Segaris lengkungan terukir di sudut bibirnya. Dia lalu menekan icon bergambar video dan segera nomor dia tersambung dengan panggilan video call pada Alin.
Mata Riko melotot ketika melihat gadis itu yang hanya mengenakan tank top dan hot pan tergolek di atas tempat tidur. Sungguh pemandangan yang sangat menggiurkan.
" Hi, lagi ngapain? " Pertanyaan bodoh! Riko mengumpat. Kenapa dia jadi gugup seperti bocah SMA yang baru pacaran saja.
" Lagi mikirin Kak Riko yang ganteng-! " Wajah Alin tersenyum manja, membuat Riko gemas.
" Aku nggak bisa tidur mikirin kamu-! "Alin mendelikkan matanya." Kak Riko gombal-! "
" Ha ha ha-! " Tawa Riko pecah di seberang. " Besok aku jemput, ya-! "
" Mau kemana, emang? " Alin penasaran. "Temani aku ke pantai -!" jawab Riko kalem.
" Oke, sapa takut-! Jam berapa?" Alin memutar tubuhnya berbaring tengkurap hingga menampakan sebagian tonjolan di dadanya yang menyembul keluar.
Aggrh-! Riko menahan geram karena sesuatu di balik celana mendadak mengeras.
Riko menelan ludah. 'Bocah Sialan -!'
"Aku jemput kamu jam sembilan pagi. Oke Alin. Dah.... Selamat bobo-! " Riko buru-buru menyudahi panggilan videonya karena tak tahan melihat tubuh molek Alin yang sangat menggoda.
ALIN -!!! Riko menggeram seraya pergi ke kamar mandi. Alin sialan-!
...*****...
Alin turun dari mobil Riko dan berlari menyusuri hamparan pasir putih yang terhampar di pantai itu. Di lemparnya sepatu dan tas selempang miliknya lalu bergegas mencelupkan kakinya di air. Riko geleng- geleng kepala melihat tingkah kekanak-kanakan Alin. Dasar Bocah-!
" Kak Riko, ayo buruan temani Alin berenang-! " Riko berjalan menyusul Alin yang sudah lebih dulu menceburkan diri di air.
Kaos putih gadis itu basah oleh air laut sehingga menampakkan lekuk tubuh sexynya.
Riko menarik tubuh Alin hingga jatuh ke dalam pelukannya.
"Kamu cantik banget, Lin-!" Pipi Alin bersemu merah."Ih.. Kak Riko gombal terus-! bikin Alin bakper-!" Lalu keduanya terdiam saling memandang. Entah siapa yang memulai, bibir keduanya kini sudah saling menempel.
Riko ******* bibir tebal Alin penuh gairah membuat Alin benar- benar terbuai oleh pengalaman yang baru kali ini di rasakannya.
"Kak Riko, Jangan begini, Alin malu-!" Suara gadis itu menyadarkan Riko akan keberadaan mereka.
"Maafkan aku, Alin. kau benar - benar membuatku mabuk, sayang-!" Suara Riko serak karena terbakar gairah.
Di raihnya tangan gadis itu untuk berjalan naik ke daratan. Mereka memasuki sebuah cottage yang memang sudah dibooking Riko seluruhnya hingga tak ada seorang pun yang boleh masuk.
"Duduklah-! aku ambil minum dulu-" Riko berjalan ke kedai minuman dan mengambil dia buah soft drinks untuk dia dan Alin.
" Ayo-! " Tangan Riko menyeret gadis itu masuk ke sebuah kamar yang ada di cottage itu.
"Bilas dulu tubuhmu di sana. Aku akan pesan makanan untuk kamu.-!"
Riko memesan makanan di Restoran sementara Alin membersihkan tubuhnya yang lengket karena air laut. Tak lama kemudian gadis itu sudah keluar dari kamar mandi dengan kaos dan celana levis pendek sepaha.
"Untung aku bawa baju ganti-! jika tidak, bakalan bisa masuk angin aku karena kedinginan." kata Alin sambil menjatuhkan diri di kasur.
Riko bergegas masuk ke kamar mandi untuk melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Alin, Mandi.
Makanan yang di pesan Riko sudah datang. Alin meneguk liur melihat semua makanan itu.
"Banyak benar-!Wuih, berani taruhan,semuanya pasti enak-!" Alin kembali menelan liurnya. Akhirnya dia berteriak tak sabar.
"Kak Riko, Alin makan duluan, ya-! Abisnya kak Riko lama-!" sungut gadis itu kesal. Dia sangat lapar karena Aktivitas berenangnya.
Riko menghampiri Alin yang sedang lahap menyantap makanan yang terhidang di meja. Dia duduk tepat di hadapan gadis itu dan ikut juga makan karena memang perutnya sudah lapar.
"Sudah makannya-?" tanya Riko, Alin hanya menganggukkan kepala karena mulutnya masih sibuk meneguk gelas yang berisi air. "Ayo-!" Riko menarik tangan Alin ketika gadis itu sudah selesai minum agar mengikutinya.
Mereka sampai di dermaga yang letaknya tak jauh dari cottage itu. Tangan Riko membimbing Alin menuntunnya menuju sebuah perahu bermotor yang cukup besar.
"Kita akan berlayar, baby-!" Riko melepaskan tali - tali yang mengikat perahu itu, kemudian menyalakan Mesinnya.
Alin melonjak girang saat perahu mesin itu menyala. Dia mendekat ke arah Riko yang berada di belakang kemudi.
"Kak Riko, kita akan ke mana-mana?" bisiknya di telinga Riko. Riko meraih tubuh gadis itu ke pelukannya. "tenang aja, kamu juga pasti akan tahu. " Riko tersenyum penuh misteri. Alin mencubit gemas lengan laki-laki itu.
" Aduh!, sakit, Lin! " Riko pura pura mengaduh kesakitan.
" Habisnya Kak Riko ngeselin! " jawab Alin kesal.
Tak berapa lama, perahu itu sudah berada di tengah laut. Riko mematikan mesin dan segera membuang jangkar.
"Alin, ayo sini-! kita mancing." Tangan Riko bergerak mengeluarkan alat pancing dari dalam peti yang ada di haluan. Dia memasang umpan mainan pada ujung mata pancing dan kemudian melemparnya ke laut. Lalu di ambilnya tikar dari bawah kabin dan merebahkan tubuhnya rileks mencoba menikmati hari yang cerah.
"Oi... rasanya sudah lama aku tidak selepas ini-!" Riko tersenyum memandang ke langit. Alin berjalan mendekati nya. Di tatapnya Riko dengan ragu.
" Kak Riko-! " dengan ragu Alin memanggilnya. Riko memutar tubuhnya dan menatap Alin.
" Apa, Sayang? "
"Boleh Alin nanya,nggak?" Alin balas menatap wajah Riko. Riko menganggukkan kepala sambil tersenyum ke arah remaja cantik itu.
"Kak Riko, apakah kakak masih mencintai kakakku-?" Wajah Riko mendadak tegang. "Kok nanyanya gitu? " Alin menghela napas.
"Ah, sudah lupakan saja-! Kalau Kak Riko keberatan dengan pertanyaan Alin, ya nggak usah di jawab-!"
Riko menatap lurus ke manik mata Alin. " Kakakmu cinta pertama aku, aku kehilangan dirinya karena kesalahanku. Dan sayangnya aku tak bisa mendapatkannya kembali. Dia sudah menjadi milik Rayden sekarang-! " Riko tertunduk lesu. Ada setetes bening yang mengalir di sudut matanya.
"Dan kakak masih mencintainya, kan-!" Riko bungkam. Kebungkaman Riko terasa menusuk Alin. Ada perih yang diam- diam menjalari hatinya.
Ternyata posisi kakaknya masih tak bergeser di hati kak Riko walaupun kehadirannya dalam hari- hari Riko.
" Kakak mancing pake umpan apa-? " Alin mencoba mengalihkan pembicaraan. Moodnya bisa rusak jika ngobrol masalah kakaknya.
"Itu, umpan cumi mainan-!" Riko menjawab enteng.
"Mana ada ikan yang mau makan umpan bo'ongan-!" Alin mengejek Riko sambil duduk di sebelahnya.
"Kalau ikannya nggak mau makan, maka aku yang akan makan kamu-!" Riko menangkap tubuh gadis itu dan menjatuhkannya di bawah kukungannya. "Ah, Kak Riko.." Alin belum selesai bicara tapi bibir Riko sudah menciumnya. Tubuh Alin menegang. Alin meremas baju Riko.
" Kak Riko-!" tubuh Alin bergetar. Ada rasa takut dalam hatinya karena ini adalah pertama kalinya Alin se dekat ini dengan seorang pria.
Lautan biru menjadi saksi bisu saat Alin kehilangan mahkotanya. Alin hanya bisa pasrah terlena dalam permainan Riko, hingga akhirnya Riko berhasil merenggut kesucian gadis itu.
Namun Alin bagai tersadar dari kenyataan, saat mendengar Riko mendesah menyebutkan nama Salma. Hatinya bagai di tusuk pedang. Mengapa Kak Salma?
Dia menangis seraya mendorong tubuh Riko. "Kak Riko, jahat-!" Riko tertegun menyadari kesalahannya. Bagaimana mungkin dia bisa kelepasan menyebut nama Salma.
Alin bergegas menyambar kembali pakaiannya dan berlalu dengan wajah terluka dan air mata yang sudah berhamburan. Riko menarik rambutnya dan menampar wajahnya dengan gusar. "Tolol-! tolol-! kamu tolol sekali Riko-!" Riko memaki dirinya sendiri. Riko sungguh sangat menyesal dan merasa bersalah pada Alin. Dia sudah menodai dan juga menyakiti hati gadis itu di saat yang sama.