
Salma yang tak sadarkan diri, dibawa ke rumah sakit terdekat untuk memperoleh penanganan dari tenaga medis.
" kondisi pasien kritis, Pendarahan pada uterus, hb rendah sekali 4,3 dokter dan detak jantung lemah 110/50, dokter." lapor seorang perawat yang bertugas memeriksa keadaan Salma kepada dokter yang akan menanganinya.
" Bagaimana kondisi bayinya, suster? "
" keduanya kritis, dok! "
" Siapkan operasi, kita terpaksa melakukan Cesar, karena aku jika tidak nyawa salah satu atau bahkan keduanya tak akan selamat! " kata Sang dokter.
" Baik, dokter! " perawat itu segera berlalu untuk menyiapkan operasi bagi Salma dan bayinya.
Mommy Elise menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Shock...dia mendengar semua itu. Daddy Dave segera memeluk Sang istri, berusaha untuk menenangkan istrinya yang tampak terpukul dengan kondisi Sang menantu.
Tubuh Rayden lemas mendengar semua itu. Tidak.....dia tak percaya. Salmanya akan baik -baik saja, pikirnya mencoba menghibur diri. Tak terasa dia terduduk dengan wajah nelangsa dan tatapan mata yang kosong.
Kembali rasa penyesalan dalam hatinya membuat dia tak dapat lagi menahan air matanya. Tolol...tolol kamu Rayden, makinya dalam hati.
Mengapa dia tidak peka pada kondisi istrinya. Seharusnya dia menyadari bahwa keluhan Salma yang sering mengalami rasa sakit adalah tanda jika kandungan istrinya sedang bermasalah. Rayden merasa benar-benar tak berguna sebagai suami.
Diusapnya wajahnya dengan kasar. Kemudian, Rayden berdiri dan berjalan cepat mencegat langkah dokter yang akan berlalu ke ruang operasi.
" Permisi, dok. Tapi saya ingin tahu, bagaimana kondisi istri saya, dok? " Rayden bertanya kepada dokter yang akan menangani Sang istri dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan ketakutan dan kecemasan.
" Tenang ya, Mas. Kami tahu anda sedang cemas akan keadaan istri dan anak anda. Namun, saya sarankan Anda sebaiknya memperbanyak berdoa. Karena itu adalah hal terbaik yang dapat anda lakukan. Biarkan tim medis yang bekerja." kata dokter dengan bijak seraya menepuk bahu Rayden.
Rayden terduduk lemas di kursi panjang ruang tunggu kamar operasi. Mommy Elise dan daddy Dave yang sejak tadi hanya diam kini keduanya tengah memeluk Rayden untuk memberikan dukungan moril kepada sang putra.
" Dokter itu benar, Ray. Kita hanya bisa berdoa kepada-Nya. Semoga Salma dan bayi yang dikandungnya selamat." kata mommy Elise.
" Tapi Ray takut ,mom. Ray tak mau kehilangan Salma. Ray sangat mencintainya." kata lelaki itu dengan bahu terguncang. Dia menangis karena merasa takut akan kehilangan istri dan anaknya karena kesalahannya yang tidak mampu menjaga istrinya dengan baik.
Mommy Elise memeluk Rayden dengan erat dan mengusap punggungnya untuk menenangkan Sang putra.
" Sabar, ya Ray. Allah pasti akan menolong kita. Kita berdoa saja demi keselamatan istri dan calon anakmu!! " kata mommy Elise.
Mata Rayden nanar menatap dinding putih rumah sakit. Betapa selama ini dia telah lalai melupakan Tuhan yang mengatur garis takdir manusia.
Mungkin selama ini dia lupa dan ini Adalah teguran untuk dirinya dari Allah.
" Maafkan hambamu yang lupa diri ini, ya Allah." gumannya dalam hati.
Rayden berdiri melangkahkan kaki.
" Ray, mau kemana? " tanya mommy Elise begitu melihat putranya hendak beranjak keluar.
" Rayden mau cari minum dulu, mom." katanya.
" Oh, ya udah. pergilah. Jangan lama - lama! "
" Daddy dan mommy mau Rayden pesan kan sesuatu? " tawarnya.
" Hm, boleh. Daddy mau segelas cappucino, mommy? " kata daddy seraya bertanya pada Sang istri.
" mommy cukup air mineral saja dan sepotong cake. Tadi mommy sudah menghubungi orang rumah, agar menyusul ke sini sekalian bawain makanan." kata mommy.
" ya, udah. Rayden pergi dulu, mom, dad.!" kata Rayden.
Rayden melangkah keluar dari ruang operasi. Kepalanya terasa pusing.
Dia butuh sesuatu yang bisa membuat dia tenang dan rileks. Dia harus kuat
Salma membutuhkan dirinya.
Rayden berjalan sampai ke kantin rumah sakit yang letaknya di samping sebelah utara rumah sakit.
"mbak, cappucino dua dan sepotong cheese cake."
Mata Rayden tertuju pada bangunan di samping kantin. Kebetulan sekali ada musolla di sini, pikirnya.
Rayden melangkah ke tempat wudhu dan melaksanakan wudhu dengan canggung.
Dia ragu karena belum terlalu hapal cara berwudu. Akhirnya, dia selesai juga setelah memperhatikan diam-dia gerak - gerik orang yang kebetulan juga akan melaksanakan wudhu.
Rayden melaksanakan sholat. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan, walaupun dia dan keluarga adalah muslim. Namun mereka semua adalah mualaf. Mereka belum terlalu mendalami ajaran-ajaran agama Islam dengan baik dan benar.
Dengan canggung Rayden mendirikan sholat setelah mengatakan untuk ikut menjadi makmum pada lelaki yang berwudu bersamanya.
Lelaki tersebut mengangguk dan mereka pun sholat bersama berjamaah.
Setelah sholat, Rayden berdoa dengan khusuk kepada Allah, agar di beri kekuatan oleh Allah untuk melindungi dan menjaga istri dan anaknya. Seraya yang terpenting berdoa memohon pertolongan Allah untuk istri dan anaknya.
Selesai berdoa, Rayden kembali ke kantin untuk mengambil pesanannya lalu bergegas kembali ke rumah sakit. Dia melihat seluruh keluarga Salma dan kakaknya Prily sudah datang. Riko mendatangi lelaki yang terlihat rapuh itu dan memeluk Rayden. Dia menepuk- nepuk bahu lelaki itu memberi semangat.
" Sabar, bro... kamu harus kuat! " bisiknya.
Rayden mendekati mommy Elise dan menyerahkan pesanan mommy dan daddy.
" Ray, kamu sudah kembali,... " ucapan mommy Elise terjeda saat seseorang perawat keluar dari ruang operasi.
" Maaf, suami nyonya Salma yang mana?" tanya perawat itu.
Rayden segera maju mendatangi perawat tersebut.
" Saya suaminya, ada apa ya, Sus? "
" Ikut saya, Pak. " Rayden masuk mengikuti perawat tadi. Hatinya bertanya - tanya apa telah terjadi sesuatu dengan sang istri. Sesampainya di dalam dia sudah ditunggu dokter yang menangani Salma.
" Begini, Mas. Kondisi istri Mas Rayden dalam keadaan kritis." Deg ! jantung Rayden seakan berhenti berdetak. " Saya jujur pada Mas, saya hanya bisa memilih salah satunya untuk diselamatkan."
Apalagi ini, mengapa dia harus di suruh memilih. Dua pilihan yang sama beratnya. Mana mungkin dia harus mengundi nasib antara istri dan anaknya.
Keduanya sangat berarti bagi dia dan Salma. Apakah Salma akan setuju dengan pilihannya kelak jika dia hanya bisa memilih Salma. Dia tak sanggup jika harus kehilangan Salma.... Namun dia juga tak ingin kehilangan anak yang merupakan buah hati mereka.
Rayden kalut, namun dia harus memilih. Tak ada waktu lagi.... Dengan tangan gemetar, Rayden akhirnya memilih untuk mempertahankan istrinya.
Dokter sudah kembali ke ruang operasi. Rayden melangkah keluar dengan langkah lesu. Baru saja dia akan menghampiri Sang mommy, ...
" Oe... Oe... Oee...Oeeeeee!! " suara tangisan bayi pecah di tengah kekalutan hati Rayden.
Serta merta dia menoleh. Menatap ke arah pintu ruang operasi. Jantungnya berdebar kencang.
" apa ini, bukankah tadi dia memilih istrinya. Apakah istrinya telah.... " pikiran buruk melintas di kepala Rayden.
Pintu ruang operasi terbuka. Dokter keluar di iringi perawat yang tadi memanggilnya.
" istri saya, gimana dok? " tanya Rayden dengan cemas. Tidak.... jangan istrinya, pikirnya.
" Alhamdulillah, istri dan bayi mas keduanya selamat. Hanya saja saat ini keduanya masih lemah. Saya akan menempatkan anak mas di dalam inkubator. Karena kondisinya yang lemah sekali." Dokter kemudian berlalu bersama perawat yang membawa bayi Salma keruang inkubator.
" istri dan anak kamu selamat, bro!" kata Riko sambil menepuk pundak Rayden yang masih saja terpaku tak percaya.
Tepukan keras di pundaknya menyadarkan Rayden yang segera masuk menerobos ruang operasi Salma.
Di lihatnya istrinya itu tergolek lemah di atas tempat tidur yang hanya berukuran satu kali dua meter. Di usapanya kepala Salma yang masih pulas tertidur. Cukup lama Rayden menemani Salma hingga perempuan itu akhirnya tersadar.
" Bee, kamu nggak papa, kan? " dia menghambur memeluk dan mencium seluruh wajah istrinya tanpa malu-malu. Justru Salma yang merasa malu karena di sana ada banyak perawat yang melihat mereka.
" Hon, aku malu! " Rayden terkekeh melihat Salma yang meringis dengan wajah yang bersemu merah.
" Terima kasih ya sayang, karena sudah memberikan aku seorang putri yang sangat cantik." bisiknya, ditelinga Salma.