Problematic Handsome

Problematic Handsome
54



Malam sudah larut ,namun mata indah nya belum juga bisa mengantuk ,kejadian tadi masih tergambar di pelupuk matanya ,dia beruntung bisa kembali berasama Sean ,dia laki-laki terbaik yang pernah di temui nya .Bie turun dari ranjang nya kemudian berjalan keluar kamar ,di lihatnya Sean sudah tidur nyenyak di sofa ruang keluarga ,Bie menghampirinya bermaksud membetulkan selimut yang tak menutupi kakinya ,tapi mata Bie langsung fokus melihat punggung tangan Sean yang terluka .Mimik muka nya langsung sedih dia tak tau Sean terluka .


Sebenarnya Sean mau langsung pulang setelah mengantar Bie pulang tapi kakanya mengajak nya mengobrol membahas kejadian tadi hingga larut malam ,kemudian Sean di suruh menginap di sana karna Bie dan kaka nya khawatir bisa saja Dimas menyuruh orang lagi untuk mencelakai nya ,Sean akhirnya menurut dan setelah Bie memberinya bantal dan selimut tak lama kemudian dia tidur pulas,kejadian hari ini benar benar menguras tenaga dan pikiran nya .


Bie kembali ke dalam kamarnya kemudian membawa satu kotak p3k dia hendak mengobati tangan Sean ,dengan hati-hati Bie mengangkat tangan kekar Sean ke pangkuan nya ,kini Bie duduk di lantai yang beralaskan karpet bulu tebal dia duduk persis di samping sofa tempat Sean tidur ,dengan hati-hati Bie mulai mengobati luka itu .Bie kemudian meniup-niup tangan Sean setelah di berinya obat agar luka itu cepat kering ,Sean yang merasakan perih di tangan nya mulai bangun dan yang pertama di lihatnya adalah Bie dia sedang meniup-niup tangan nya ,wajah nya sangat menggemaskan ,Sean tak bersuara dia hanya diam dan memperhatikan semua yang Bie lakukan .


Pagi-pagi Chandra sudah ada di depan rumah sakit ,dia sudah janjj pada Soya lebih tepat nya di paksa janji oleh Soya untuk menjemputnya.Gadis itu memaksanya untuk datang saat dia keluar rumah sakit Chandra akhirnya menurut dan pagi-pagi sekali dia sudah sampai di sana ,dia tak keluar dari mobil dan hanya menunggu Soya yang katanya akan segera keluar ,sebenar nya hari ini dia harus ke luar kota ada jadwal manggung selama beberapa hari dia tak sendiri tapi bersama anggota musik dan juga ada Wendy ,tapi dia terpaksa harus berangkat terakhir seorang diri dia melakukan itu demi Soya .


"Kaka sudah lama "


Soya akhirnya datang ,dia bersama Mamihnya segera masuk ke dala mobil Chandra takut ada paparazi yang memergoki mereka biasa-bisa menjadi gosip .


"Maaf ya kami merepotkan "


"Gak apa-apa kok tan gak setiap hari juga "


Soya duduk di samping Chandra ,sedangkan Mamihnya duduk di kursi belakang sendirian .Dia sudah benar-benar sehat lihatlah senyum nya saja terus merekah dia tak henti mengoceh membuat kuping Chandra seakan panas terbakar .Tapi hal seperti ini yang Chandra rindukan ,bisa mendengar kembali kegaduhan Soya bisa di repotkan lagi oleh gadis itu ,mungkin Chandra terlihat dingin di luar tapi dia adalah tipe pria hangat yang akan melakukan apapun demi orang yang di cintainya .Sesampai nya di rumah orangtua Soya ,Chandra turun dari mobil dia bermaksud pamit pada Soya dan orangtuanya .


"Hallo Chan apakabar ,sudah lama om gak liat kamu ?"


Chandra menghampiri Papih soya kemudian bersalaman.


"Hallo om ,maaf Chandra jarang main "


"Iya om tau kamu pasti sangat sibuk "


Papih nya Soya tak ikut ke rumah sakit tapi dia menyambut kedatangan Chandra begitu dia turun ,dulu setelah Chandra di usir dari rumah awalnya Papihnya Soya sangat terkejut dan tak menyangka sosok Chandra yang pendiam dan terkesan penurut itu bisa memberontak pada kedua orangtua nya ,tapi begitu tau alasan nya Papih Soya malah mendukung keputusan Chandra dan beberapa kali menawarinya bantuan ,dia juga sangat mengangumi sosok Chandra yang mandiri dan pekerja keras bahkan dia selalu menolak bantuan darinya ,dia akhir nya mengerti kenapa Soya begitu menyukai Chandra dan saat perjodohan itu di batalkan oleh keluarga Chandra Soya sangat sedih dia takut Chandra akan menghindari nya dan menjauhi nya ,tapi nyata nya sampai sekarang hubungan mereka baik-baik saja ,Papih nya Soya sangat beruntung anak gadis nya punya lelaki hebat seperti Chandra .


Setelah berbincang-bincang singkat Chandra berpamitan pada mereka jadwal penerbangan nya sebentar lagi dia takut ketinggalan pesawat .


"Kaka lama ke luar kota nya ?"


Soya tak ikut orangtua nya masuk dia masih di sana ingin melihat Chandra berangkat .


"Mungkin seminggu ,kenapa ?"


Chandra yang hendak masuk ke dalam mobil kini duduk bersandar di kursi kemudi sambil menghadap ke Soya .


Soya tersenyum dia pasti akan sangat merindukan Chandra apalagi mereka baru saja baikan setelah lama saling diam .Chandra mengusap kepala Soya dengan lembut menyelipkan rambutnya ke belakang telinga Soya agar dia bisa lebih jelas menatap wajah cantik gadis itu .


"Jaga kesehatan loe jangan lupa makan ,tar gue bawain oleh-oleh "


"Makasih hati-hati ya "


Chandra membalas pelukan itu ,dia senang mendapat perlakuan manis dari Soya .


"Ya udah gue berangkat ya "


Soya perlahan melepas pelukan nya menatap Chandra dengan intens ,dia ingin menyimpan bingkai wajah tampan Chandra di dalam memori nya sampai Chandra nanti kembali .


"Chhuupp"


Chandra mengecup singkat bibir mungil Soya yang sedang cemberut itu ,membuat nya mematung .Kemudian tanpa merasa berdosa Chandra langsung menjalan kan mobilnya .Tak perlu di tanya lagi bagai mana Soya sekarang wajahnya sudah merah padam jantung nya berdetak tak karuan dia masih mematung di sana memandangi mobil Chandra yang mulai menjauh .


"OMG wahhhhh, omg, omg ,ya tuhannn "


Soya teriak tak karuan membuat Mamih nya yang sedang di dalam rumah keluar karna kaget takut Soya kenapa-kenapa ,sementara itu Chandra meliaht kelakuan Soya dari kaca sepion nya, dari jauh dia melihat Soya yang histeris dan jingkrak-jingkrak kelakuan nya seperti anak kecil di mata Chandra.


"Dasar bocah ,haha"


Entah kenapa dia melakukan itu ,mengecup singkat bibir Soya ,dia hanya terlalu gemas melihat nya cemberut seperti anak kecil ,dari dulu Chandra ingin melakukan itu hanya saja dulu gengsi nya masih besar .


Sore hari yang sudah seperti malam ,langit di tutup awan hitam mendung ,hujan turun sudah dari siang tadi ,Gisela baru saja keluar dari gedung rumah sakit dia ingin cepat-cepat pergi dari sana ,gisela memandangi layar ponselnya dia baru menerima pesan dari kai katanya dia akan tiba 10 menit lagi ,kemarin Gisela menelpon nya ,dia baru pulang dinas dari luar kota dan membawa sesewatu untuk Kai ,dan hari ini Kai menawarkan diri untuk menjempunya sepulang kerja ,dia juga ingin menunjukan sesewatu pada Gisela kata nya .


Gisela mengeratkan tubuhnya udara sudah semakin dingin dia lupa tak membawa jaket ,tiba-tiba seseorang dari belakang memakaikan jaketnya pada Gisela ,dia refleks berbalik dan mendapati Kian di sana sedang tersenyum padanya .Gisela membuka kembali jaket itu dan memberikan paksa pada Kian .


"Gak usah makasih "


Ini yang membuat Gisela ingin cepat-cepat pergi dari sana ,karna Kian ,seminggu lalu saat Gisela dinas keluar kota ternyata Kian juga ikut dan mereka bekerja sama di sana ,kemudian saat dia pulang ternyata Kian di pindah tugaskan ke rumah sakit tempat nya bekerja ,membuat mereka menjadi sering bertemu .Gisela juga aneh dengan tingkah Kian yang menjadi manis padanya membuatnya risih .


"Kamu belum pulang ,gak bawa mobil ya ?"


"Aku sedang nunggu jemputan "


"Gimana kalau aku yang antar sekalian kita kan satu arah ? "


"Gak perlu kak Gisel pulang sama gue "


Tiba-tiba dari arah samping Kai datang dan langsung menarik lengan Gisela agar mendekat pada nya ,dia langsung menatap Kian dengan tatapan tajam .