Problematic Handsome

Problematic Handsome
34



Hari sudah mulai gelap namun Soya masih diam di sana menunggu Chandra ,dia sangat keras kepala Chandra tak bisa membuat nya pulang ,di depannya sudah ada empat gelas kosong bekas milk tea yang dia habiskan, Soya duduk di bangku luar cafe dan masih mengenakan seragam ,sesekali Chandra meliriknya ketika mengantarkan pesanan pelanggan ,dia geleng-geleng kepala gadis itu luar biasa batunya ,jam kerjanya hampir selesai Chandra sudah ganti baju dan siap pulang ,dia menghampiri Soya yang sudah mulai mengantuk ,Wendy juga melihat itu Chandra tak pernah melepaskan pandangan nya dari Soya meskipun dia sedang kerja.


"Kenapa loe belum pulang ?"


Soya menengadah melihat pria jangkung yang berdiri di depan nya ,Chandra sudah selesai kerja ,tentu saja dia menunggu Chandra dia ingin tau kenapa tunangan nya bisa bekerja di cafe begini .


"Aku nunggu kaka "


"Kan udah di bilangin gue lama loe ngeyel banget ,ayo pulang "


Chandra pulang dengan membonceng Soya di scooter nya dia tak langsung mengantar nya pulang tapi pergi ke rumahnya dulu, badannya sudah sangat lengket dan gerah dia ingin mandi dan ganti baju dulu sebelum mengantar Soya ,Chandra tak menggubris ocehan Soya yang terus bertanya alasan nya kerja meskipun kuping nya sakit sekarang ,mereka sudah sampai di rumah Chandra ,kemudian dia lebih dulu masuk meninggalkan Soya yang masih mengoceh, Soya sampai kesal di buat nya Chandra tak pernah mau terbuka padanya .


"PRRRRAAKKKKKKK"


Soya kaget mendengar suara benda pecah ,kemudian di ikuti suara jeritan Ibu Chandra dia langsung berlari masuk ke dalam rumah mewah itu dan betapa kagetnya dia melihat Chandra yang sudah terduduk di lantai memegangi kepalanya yang berdarah, Ayahnya dengan muka merah padam penuh amarah berdiri bertolak pinggang sambil melotot menatap cahndra yang meringis.


"Anak tak tau di untung ,kau ingin hidup sesukamu ,kau pikir kau siapa darah siapa yang mengalir di tubuh mu bocah sialan "


Soya sangat kaget dia hanya bisa mematung di pintu rumah Chandra dia tak tau harus apa sekarang situasi ini tak pernah dia lihat seumur hidupnya.


"Memangnya aku ingin punya darah mu aku tak bisa memilih lahir dari siapa ,tapi aku bisa memilih jalan hidup ku ,aku bukan boneka mu aku tak mau gila harta seperti mu "


Ayah chandra makin meradang dia mengambil kursi dan hendak melemparkan nya lagi pada Chandra tapi dengan langkah seribu soya berlari dan mendorong tubuh Chandra yang seolah membatu tak bergerak ,dan


"BRAKKKKK"


kursi itu hancur pas di sebelah mereka berdua dan mengenai kaki kiri Soya, itu lumayan sakit tapi Soya tak peduli ,di lihatnya muka Chandra yang sudah lebam mungkin Ayahnya memukulinya tadi ,dia menangis kenapa Ayahnya begitu kejam pada Chandra dan kenapa Chandra hanya diam saja apa dia sering di perlakukan seperti ini .


"Sudah cukup yah Soya bawa pergi Chandra dari sini "


Ibu nya langsung mendekati Soya dan Chandra yang teduduk di lantai ,dengan sigap soya langsung berdiri dan menarik lengan Chandra dia menurut saja dan mengikuti soya yang membopong nya


"CUKUP JIKA MASIH BELUM PUAS BUNUH SAJA AKU SEKARANG "


Chandra berbalik melihat Ibunya berdiri di hadapan monster yang selama ini menyiksa mereka ,monster dengan topeng malaikat yang seolah sangat menyayangi keluarganya, monster yang selalu datang ke panti asuhan untuk menyumbangkan uangnya kemudian meliputnya di media , monster yang menggusur perumahan orang-orang miskin dengan mencekik mereka dan mendirikan tempat hiburan di sana ,dia selalu di sorot dengan kebaikan yang menjadi topeng nya selama ini ,setelah mengetahui Chandra tak ikut tes dan malah masuk Universitas seni dan musik dia langsung naik pitam marah, semua orang di rumah kena murkanya hingga Chandra datang dan langsung di hajar habis-habisan ,bukan kali ini saja, dia sudah terbiasa dengan ini bahkan tubuhnya sudah tak merasa sakit lagi dengan pukulan itu ,hari ini bahkan Ibu yang sangat takut pada nya sudah tak tahan dia dengan derai air mata membela chandra .


Kai menoleh melihat siapa yang mengambil paksa toples cemilan yang sedang di peluknya ,dia langsung memutar bola mata malas begitu mengetahui itu Kian ada apa dia datang ke rumah memangnya seorang dokter bisa sesantai ini kerja nya ,Kai bangkit dia benar-benar tak mau melihat wajah Kian dia kecewa benci dia seharusnya sadar lebih awal dan tak jatuh cinta pada Gisela ,dia benar-benar kalah jika harus melawan Kian dia hendak pergi ke kamarnya tapi Kian menghalangi jalan nya.


"Ayo kita bicara "


Kai mendengus kesal ingin sekali dia tonjok wajah Kian itu.


"Ayo cepat mau ngomong apa ?"


"Kita bicara di luar "


"Gue malas keluar cepat ngomong sekarang atau gue balik ke kamar "


Kian mengusap wajahnya kasar awalnya dia benar-benar tak tau hubungan Kai dengan Gisela ,saat Mamak dan Bapak membujuknya habis-habisan memaksanya melamar Gisela dia akhirnya mau tanpa tau itu semua ,dia baru tau tadi pagi saat Gisela menghubungi nya dia menangis sambil menjelaskan semuanya ,dia merasa bersalah tapi dia tak tau harus apa.


"Kenapa loe gak cerita tentang hubungan loe sama Gisela "


Kai tertawa geli kakanya adalah lulusan terbaik dan orang jenius, Dokter termuda yang sukses dengan banyak prestasi bahkan penghasilan nya sudah melebihi Bapak sekarang ,tapi jika menyangkut masalah percintaan dia bodoh bagai mana dia tak menyadari hubungan nya dengan Gisela.


"Elo punya mata dan kuping hati loe juga sehat ,sudah lah gue malas ngebahas ini ambil aja Gisel buat loe "


Kai hendak pergi tapi tangan Kian dengan cepat menahan bahunya ,Kai yang sudah susah payah menahan emosi akhirnya melampiaskan nya dengan sekali serangan Kkan berhasil roboh dengan tinju nya sudut bibirnya berdarah .


"Gue emang berengsek, playboy ,bahkan otak gue sama dengan otak udang ,tapi gue juga manusia punya hati selama ini gue selalu terima dengan perlakuan Bapak dan Mamak yang lebih sayang sama loe, ini terakhir kalinya loe ngerebut hal yang gue suka, bahkan di saat ulang tahun gue mereka lebih milih pergi sama loe ngerayain kelulusan loe jalan-jalan keluar negri ninggalin gue di sini, mungkin kaka gue bukan loe tapi si Kipli tukang kebun kita yang selalu baik sama gue ,mungkin Gisela lebih baik sama loe "


Kai pergi ke kamarnya berganti pakaian kemudian pergi dari rumah dengan mobil nya ,Kian hanya terduduk ucapan Kai masih terngiang-ngiang di pikiran nya apa benar selama ini dia begitu dia merasa telah jadi kaka yang baik untuk Kai .