
Pameran musik yang di adakan di pusat kota itu sebenarnya sudah berlangsung selama satu minggu dan ini adalah hari terakhir pameran ,semua gendre musik di pamerkan di sana ada juga bermacam-macam jenis alat musik dari yang tradisional sampai modern. Sesampai nya di sana Chandra tak henti-henti nya terpesona ini tempat yang sangat ingin dia datangi ,Soya mengekori langkah Chandra dia terlalu antusias, sampai tak sadar langkah kaki nya dan Soya sangat jauh berbeda Soya sampai beberpa kali harus berlari-lari kecil untuk menyusul Chandra,hingga dia berhenti di depan panggung hiburan yang sedang membawakan lagu kelasik yang di iringi gitar akustik ,mata Chandra tak lepas dari itu senyum nya juga terus terukir ,Soya sangat senang melihat itu ternyata ini cara terbaik untuk melihat Chandra bahagia .
"Makasih ya loe udah ngajak gue ke sini "
"Gak geratis tapi "
Chandra langsung menoleh menatap Soya yang cengengesan .
"Traktir aku makan "
"Ok elo mau makan apapun gue bayarin "
Sean menarik napas dalam sebelum masuk ke dalam cafe itu dia kemudian di sambut dengan tatapan tajam kaka Bie dia tau ini akan terjadi ,dia seperti biasa memesan bubble tea dan duduk di bangku pojok tak lama kemudian Bie muncul dari arah dapur cafe tersenyum menghampiri Sean ,Bie menunjukan lima jari yang artinya lima menit lagi tunggu, Sean sekarang sudah hapal dengan gerak gerik Bie meskipun dia tak menulis nya , semalam Bie memberi tahu Sean bahwa dia ingin belajar main gitar dan ingin membeli satu buah gitar untuk belajar, Sean langsung menceritakan itu pada Chandra meminta saran dan rekomendasi toko gitar yang bagus dan setelah berdiskusi dengan Chandra siang itu dia akan mengajak Bie ke toko langganan Chandra tersebut ,Bie sangat senang dengan rencana Sean dan langsung meminta izin kaka nya .
"Seperti biasa jm delapan malam "
"Baik kak "
Sean sudah paham dan tau kaka Bie sangat protektip kepada adiknya mereka cuma tinggal berdua dan hanya Bie keluarga nya sekarang ,di dalam mobil Sean selalu melirik Bie yang duduk manis dia seperti seorang putri yang sangat cantik ,dia heran kenapa Mamih nya tak menyukai nya ,toko itu tak terlalu jauh setelah sepuluh menit berkendara mereka akhirnya sampai ,toko itu seperti nya sudah sangat lama bangunan nya saja bergaya kuno tapi begitu masuk toko itu menjual berbagai macam alat musik baik moderen maupun tradisional,Bie tampak senang sekali dia tak melepas pegangan tangan nya pada lengan sean ,melihat Bie seperti itu Sean juga ikut senang .
Kai tampak serius dengan buku nya ,Gisela ragu apa dia sedang membaca atau hanya melihat gambar nya saja, tapi melihat raut serius Kai yang suka bercanda membuat Gisela sedikit terpana dia benar-benar tampan ,mereka sudah empat jam di perpustakaan mempelajari materi sekolah Kai dengan cara belajar baru dan tampaknya itu berhasil ,karna Kai tak mengeluh pusing sejauh ini ,gisela tau Kai cukup pintar hanya saja dia tak terlalu suka teori yang berbelit .
"Kak aku lapar "
Gisela kaget pemandangan yang sedang di lihatnya sudah mengeluh lapar.
"Ahh apa ,lapar ayo ke kantin "
Kai tersenyum melihat tutor cantik nya salah tingkah ,Gisela berjalan lebih dulu kemudian Kai menyusul dan dengan santai merangkul bahu gisela membuatnya kikuk tapi tak perotes ,meskipun Gisela dua tahun lebih tua dari Kai mereka tampak seumuran kai yang maskulin dan Gisela yang imut ,sepanjang jalan menuju kantin perpustakaan banyak pasang mata yang melirik mereka ,ada yang iri dengan Gisela yang di gandeng pria tampan ,ada juga yang berpikir mereka pasangan serasi .
"Kai lepas orang-orang memandangi kita "
Gisela mencoba melepaskan tangan kai dari bahunya tapi gagal Kai malah tambah mempererat dan mepet padanya .
"Biarin aja kita serasi kan ka coba lihat "
Kai menunjuk bayangan mereka di sebuah kaca jendela.
"Terus kenapa ,,?"
"Kaka gak ada niat gituh pacaran kaka jomblo kan "
"Buat apa ,buat apa ya hehe "
Kai merasa bodoh sendiri lalu jalan duluan meninggalkan Gisela sendiri yang celingukan ,kenapa Kai bicara seperti itu apa dia memberinya kode atau bagai mana ,Gisela akhirnya bingung sendiri kemudian mengikuti Kai yang sedang memesan makanan ,setelah menerima makanan kini mereka dengan tenang makan sepertinya zkai benar-benar lapar dia sangat lahap menghabiskan makanan nya ,Gisela sampai lupa dengan makanannya karna terus memperhatikan Kai makan dia seolah melihat acara mukbang .
"Kaka ayo makan kenapa liatin Kai begitu "
Ahh benar, gisela mulai memakan makanan nya kembali ,dan kini giliran Kai yang memperhatikan nya Kai tersenyum dia begitu suka membuat tutornya salah tingkah ,mungkin ketika belajar Gisela akan tegas tapi ketika mereka bicara santai Gisela sangat manis di mata Kai ,dia tak seperti Gadis yang pernah dia temuai sebelumnya, mereka kebanyakan selalu berpura-pura baik dan hanya menginginkan uangnya ,Gisela tak pernah mengagapnya berbeda karna anak seorang walikota dan Kai bisa menjadi dirinya sendiri di depan Gisela .
"Kaka beneran gak mau pacaran "
"Hmmm kenapa kamu terus menanyakan itu "
"Ya siapa tau kaka mau jadi pacar Kai "
"Apa , jangan bercanda terus Kai habiskan makanan mu kita kembali ke dalam "
Bahkan dia tak percaya dengan perkataan Kai ,dia benar-benar tak mudah di dapatkan .
"Kalau aku lulus dengan nilai bagus kaka mau jadi pacar ku kan "
"Uhhukkk uhhukkkkk,apa ?"
Gisela terkejut sampai tersedak .
Renbie terpesona dengan sebuah piano tua di toko itu ,dia sangat ingin mencoba memainkan nya tapi dia takut pemilik toko akan melarangnya dan akhirnya dia hanya memandangi nya dengan tatapan sedih ,dan seperti biasa Sean selalu mengerti apa yang Bie rasakan .
"Pak apa boleh pacar saya mencoba piano ini ? "
Dia langsung bertanya pada pria paruh baya pemilik toko.
"Boleh silahkan "
Bie langsung tersenyum lebar ke arah Sean dia hampir saja memeluk Sean jika dia tak langsung sadar sedang di mana mereka berada ,Sean yang hampir mendapat pelukan tampak kecewa karna tak jadi di peluk .
Bie mulai duduk dan memainkan piano itu suara merdu piano itu mulai mengalun di seluruh bangunan toko membuat semua pengunjung tertarik dan mulai melihat permainan Bie ,pemikik toko itu juga terkesan .
"Pacar mu sangat berbakat bahkan piano tua seperi itu juga masih bisa merdu di mainkannya ,aku jadi ingat mendiang istriku dia juga sangat pandai bermain piano "
Sean tersenyum dengan pujian pemilik toko dia bangga dengan Bie pacar cantik yang sangat di cintainya .