
Gisela Natasya Nugroho putri dari seorang kolonel terpandang dengan prestasi yang gemilang ,dia mahasisiwi tahun ke dua jurusan kedokteran meskipun anak seorang terpandang dia masuk universitas bergengsi dengan jalur beasisiwa ,bahkan dia memilih tinggal di asrama bersama mahasiswi lain , jarang orang yang tau dia adalah anak orang yang cukup berpengaruh di kota ini ,itu karna dia sangat sederhana selain ,pintar dalam akademi Gisela juga jago olahraga dia sudah sabuk hitam karate ,semua lelaki yang mendekatinya akan mundur perlahan begitu tau latar belakang keluarga nya dan tak ada yang berani menyentuh nya jika itu terjadi dia tak segan membuat orang itu terkapar ,
dan barusan Kai dengan santai nya mencium bibir Gisela membuat dia kaget bukan kepalang tapi anehnya dia tak bisa marah, jantungnya hampir saja melompat dari dadanya entah kenapa perasaan yang di rasakan nya sangat jauh berbeda ketika bersama Kian kaka Kai ,dia adalah cinta pertamanya seseorang yang sangat dia kagumi selama dua tahun ini , tapi kini dia selalu merasa nyaman dan bahagia bersama Kai bahkan dia tak bisa marah atas apa yang dia lakukan barusan , jika di pikir lagi Kai tak pintar dan baik seperti Kian kaka nya dia malah kebalikan nya ,tapi saat bersama Kai dia lupa dengan perasaan nya pada Kian apa dia muali jatuh cinta dengan Kai si cowok bandel dan playboy itu .
Gisela mematung memandang pantulan dirinya di cermin ,jarinya masih menyentuh bibirnya itu ciuman pertama nya beberapa kali dia cuci mukanya karna merasa seolah terbakar rasanya panas bahkan pipinya masih bersemu merah .
"Tok tok tok "
Kai mengetuk pintu.
"Kaka marah ya ,maaf ya kak Kai khilaf melihata wajah kaka sedekat itu membuat Kai lupa diri ,please jangan marah kaka bisa pukul kai atau suruh Kai apa pun asal jangan diam dan marah "
Suara memelas Kai di balik pintu.
Gisela menghembuskan nafas kasar dia tak marah hanya kaget dan bingung dengan perasaan nya ,dia berjalan ke dekat pintu membukanya perlahan yang pertama di lihatnya adalah muka memelas Kai yang sedang berlutut hampir saja Gisela tersenyum melihat itu, Kai begitu menggemaska .
"Aku tak marah hanya kaget ,jangan lakukan itu lagi jangan mencium orang tanpa izin "
"Jadi aku harus minta ijin dulu kaka kalau ingin itu "
"Bukan gitu sudah lah jangan di bahas "
Gisela salah bicara atau memang sebagian dari dirinya menginginkan hal itu .
Ritual pagi yang paling Chandra hindari adalah sarapan di meja makan bersama Ayahnya ,sebisa mungkin dia akan selalu menghindar bertemu Ayah dia sudah bosan menjadi boneka yang Ayahnya kendalikan. Seperti pagi ini dia mencoba bangun sepagi mungkin hari ini adalah hari tes untuk masuk universitas musik ,setelah seminggu ujian akhir sekolah selesai kini chandra mulai mempersiapkan masuk universitas itu dia berharap dapat beasiswa ,semua perlengkapan sudah di masukan nya dalam tas pakaian nya sudah rapih kemudian dia turun kelantai bawah dengan sedikit mengendap-ngendap berharap tak ada yang melihat ,dia berhasil masuk garasi tanpa ketahuan dengan kecepatan penuh dia pergi dengan scooter nya .
Wendy tampak celingukan sesekali dia melihat jam di tangan nya dia berdiri di pinggir jalan menunggu kedatangan Chandra hari ini mereka akan pergi bersama, melakukan tes itu, tak lama kemudian dia melambaikan tangan nya melihat scooter Chandra yang mulai mendekat .
"Sorry lama ya ? "
Chandra membuka kaca helem nya.
"Enggak kok "
Wendy mulai memakai helem yang Chandra beri ,kemudian duduk di belakang nya dia tampak canggung tak tau harus berpengana pada apa kemudian dengan ragu-ragu dia memegang pundak chandra ,chandra tampak menggeliat.
"Wen jangan pengang pundak gue geli tau "
"Wen udah sampe elo tidur ya ?"
Wendy tersentak lamunan nya buyar kenapa waktu selalu cepat berlalu ketika bersama chandra.
"Ahh udah nyampe ,enggak kok cuma ngelamun aja tadi "
"Jangan terlalu di pikirkan nanti loe stres yakin aja kita bisa lolos tes ini "
Yang Wendy pikirkan bukan tes ini tapi dialah, Chandra laki-laki yang di sukai nya tiga tahun belakangan ini .
Chandra berjalan mendekati meja pendaftaran yang ada di depan kampus menyerahkan beberapa dokumen dan mengisi formulir ,senior yang menjaga tempat itu heboh melihat kedatangan Chandra tubuh tinggi proprosional wajah tampannya menjadi pusat perhatian bukan hanya para mahasiswa saja para pendaftar lain nya pun tak luput memperhatikan kehadiran Chandra .
"Gila lihat dia ,apa dia artis ganteng banget siapa namanya "
Bisik mahasiswi yang menjaga meja pendaftaran setelah Chandra selesai mendaftar.
"Chandra Wijaya ,wahhh dia akan menjadi bintang kampus ini gue yakin "
Wendy melihat kehebohan ini dia tersenyum miris kesempatan nya semakin sempit untuk bersama Chandra .
Matahari sudah mulai tinggi sinarnya mulai menrobos celah tirai membuat dia yang tergulung selimut tebal menggeliat kemudian menutup muka nya dengan selimut ,seseorang berjalan masuk ke kamar nya kemudian duduk di samping nya mulai membelai rambut nya yang sedikit keluar dari selimbut ,dia menggeliat lagi kini matanya mulai terbuka mengecek siapa orang yang memnganggu tidur nya.
"Papih "
Sean langsung duduk tegak ,Papih nya yang sudah dua bulan tak pulang karna bisnis itu ada di depan nya tersenyum padanya merentangkan kedua tangan nya kemudian Sean memeluknya .
"Papih pulang kamu gak ada malah tidur di rumah Oma "
Sean masih marah pada Mamih nya dia sudah dua minggu di rumah Oma ,beberpa kali Mamihnya datang dan membujuknya pulang tapi tak berhasil Sean kalau sudah keras kepala siapapun takan di dengar nya .
"Masih marah sama Mamih "
Sean diam dia cemberut tentu saja dia marah Mamih nya sudah keterlaluan .
"Sudah tak baik begitu pada orang tua ayo pulang , dan kamu harus siap-siap masuk universitas kan ,mau masuk jurisan apapun Papih dukung "
Papih sangat berbeda dengan Mamihnya dia sangat bijaksana dan terbuka selalu menerima aspirasi yang Sean beri ,tak pernah mau memaksakan kehendak nya sean saangat dekat dengan Papihnya bahkan dia ingin menjadi seprti Papihnya ,