
Pagi harinya kedua mata Anita mengerjap saat cahaya matahari memasuki tirai jendela besar hingga langsung menyembur ke wajahnya.
“Shhh!” desisnya merasakan kepalanya berputar dan tulang-tulangnya serasa patah.
Langit-langit kamar yang menjadi pemandangan pertama yang dilihat gadis itu sampai ia mengumpulkan kepingan nyawa untuk dijadikan satu dalam memorinya.
“Astaga! Kenapa aku? Awhh !” Anita memijit pelipisnya hingga sejurus kemudian ia terhenyak dan membuka lebar kelopak matanya.
“Hawhh!” Anita sontak membangunkan tubuhnya dan menyisir tubuhnya yang mengenakan kemeja kedodoran dengan kancing terbuka hingga menunjukkan lekuk tubuhnya “Ya. Tuhan ada apa ini!” pekiknya ketakutan dengan tubuh yang langsung gemetar.
Dilihatnya sekeliling dan memorinya langsung memutar kejadian penyiksaan yang menyakitkan beberapa hari yang lalu “Kenapa aku bisa berada di sini lagi!”
Dengan nafas menderu cepat, Anita buru-buru turun dari ranjang dan mencari pakaiannya namun ia hanya menemukan ****** ***** di atas karpet.
“brengsek!” umpat Anita saat sudah menyisir ke seluruh kamar namun tak menemukan pakaian satupun. Saat mengangkat kedua tangan dengan lengan kemeja pria, Anita baru sadar terakhir kali ia mengenakan pakaian super minim dan berada dengan banyak pria bajingan di tempat karaoke.
Merasa trauma dengan ruangan ini, Anita terpaksa mengancing kemejanya lalu mencari apa saja yang bisa ia gunakan sebagai bawahan. Membuka lemari pakaian milik Andy, Anita tak menemukan apapun yang ia bisa pakai dengan posturnya yang tidak seberapa tinggi.
Melihat bayangan dirinya di cermin, Anita rasanya ingin muntah saja “cowok bejat!” murka Anita membayangkan apa yang Andy perbuat padanya dengan kondisi yang mengenaskan “Aku harus pergi dari sini!”
Menyisir kemeja yang menjuntai panjang sampai atas lututnya, Anita berpikir baju ini masih seperti dress pendek dan ia harus tetap pergi. Tak menemukan barangnya sedikit pun di sini, Anita terpaksa melangkah pergi tanpa alas kaki pula.
Namun langkah Anita terhenti saat melihat benda yang membuat emosinya naik “Astaga! Cowok seperti apa dia! Ya Tuhan jangan-jangan dia psikopat!”
sebuah kamera tripod mengarah persis ke tempat tidur dengan lampu berkedip. Ditekannya tombol off pada benda itu lalu mengambilnya dengan kasar dari tiang penyangga dan mengambil memory card di dalamnya.
“Apa maumu, hahhh, pria laknat!”
Anita membuka pintu kamar lalu menoleh ke sekeliling mencari pintu keluar.
“Nona, anda mau pergi kemana?”
Deg!
Sebuah suara wanita yang sekian detik menghentikan langkah Anita tanpa berani dia menoleh. Dengan emosi berujung amarah diujung kepalanya, Anita tak ingin menangisi nasibnya yang sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Ia terus berjalan tergesa bak korban penculikan yang akan kabur menuju pintu keluar, Anita membuka paksa pintu itu hingga ia berhasil keluar tak peduli Bi Umi memanggilnya tadi.
Anita berlari menuju tangga sebagai akses satu-satunya yang dia lihat saat ini, namun dengan fasilitas yang ada di rumah ini, Anita yang jelas bukan penghuni rumah tidak memiliki akses untuk sekedar membuka pintu dengan kartu, ia berusaha memencet tombol pada pintu keluar ‘Ayoo. Pliss!” gadis itu berharap ada seseorang yang bersamaan dengannya membuka pintu itu.
Ting!
Suara pintu terbuka dan Anita yang hanya bisa mondar mandir akhirnya tidak sabar ingin keluar bersamaan dengan Harlina yang merangsek masuk bersama pengikutnya, Harlina menatap ada seorang gadis yang baru saja keluar dari kediaman pribadi cucunya.
“terima kasih, tolong saya mau pulang, saya mohon!” kedua tangan Anita sudah ditangkupkan dengan wajah memohon dan air mata yang tumpah meski sekuat tenaga dia menahannya.
Namun bukannya membantu Anita dengan akses yang dimiliki, Harlina malah menatap Anita lekat
…
Sudah hampir dua bulan semenjak kejadian malam penuh jerat gairah itu, Anita bertekad melupakan semua dan memulai hidup baru. Awalnya ia berniat pulang kampung saja bersama ibunya, namun kondisi sang ibu yang tidak memungkinkan untuk perjalanan jauh membuat gadis itu akhirnya memilih bertahan di kota.
“Ibu, Anita pergi dulu, Doakan hari ini banyak pelanggan. Supervisor menjanjikan banyak bonus kalau banyak tamu yang datang ke butik” pinta Anita lalu mengecup kening sang ibu yang tak bisa banyak bergerak dari tempat tidurnya,
“Hati-hati, nak. Doa ibu selalu bersamamu” ucap Dewi melempar senyum dengan kedua matanya yang sayu.
Beruntung sebuah butik pakaian milik seorang desainer menerima Anita bekerja setelah ia sudah tidak bisa lagi kembali ke tempat karaoke. Sebagai penjaga butik dengan gaji lumayan karena gadis itu rela bekerja dengan dua shift langsung.
Mengenakan setelan seragam rapi kini Anita yang menata rambutnya dengan model cepol kini berdiri.
dengan ramah pada setiap tamu yang datang.
“Selamat siang, silahkan. Ada yang bisa kami bantu, Bu?”
Karena bekerja di butik mahal, tamu yang datang pun bukan dari kalangan biasa, Anita yang sempat mengenyam pendidikan di bidang seni rupa itu tahu banyak soal fashion, namun sayang terhalang tuntutan ekonomi sehingga ia harus mengubur mimpinya dalam-dalam untuk menjadi seorang desainer.
Namun di tempat ini ia bisa mencuri ilmu hingga ia merasa sangat nyaman bekerja di dunia yang dia gemar. Hampir dua bulan bekerja sebagai karyawan baru, Anita memasuki zona nyamannya selama tinggal di kota.
“Anita, gak makan siang dulu? Buruan makan, lagi banyak tamu waktu istirahat kita siang ini gak banyak”
“Duluan saja mbak. Saya masih belum lapar” ucap Anita seraya menggosok tengkuknya yang terasa berat siang ini.
Entah apa yang terjadi hari ini tubuh Anita sedang tidak fit namun berusaha ia tahan demi bonus yang dijanjikan jika bisa melayani banyak pembeli.
“Aku salah makan apa ya kok jadi berkunang-kunang gini?” gumam gadis itu saat duduk di ruang istirahat dengan menu makan siang nasi bungkus di depannya.
“Masuk angin kali” timpal teman satu bagian dengan Anita kala melihat gadis itu memijat pangkal hidungnya.
“Mungkin” jawab Anita kemudian berpikir bahwa ia hanya kelelahan karena bekerja sambil merawat sang ibu yang sedang sakit.
Tak ingin ikutan sakit, Anita kemudian membuka bungkus nasi dengan aroma kuah santan masakan Padang yang langsung menguar masuk ke hidungnya.
“heuggh!”
Anita langsung merasa mual lalu membungkam mulutnya kemudian berlari menuju toilet butik. Di dalam bilik toilet ia langsung memuntahkan isi perutnya. Rasa panas di kerongkongan ditambah perih di ulu hati langsung menjalar membuat kepalanya sangat pusing.
Keringat dingin keluar dari pori-pori wajahnya sampai Anita tak kuat berdiri. Dia lebih memilih mendudukkan dirinya sejenak diatas water closet lalu mengelap wajahnya, tak ingin berlama merasakan badannya yang tidak enak, Anita segera mengatur nafas lalu keluardari bilik segera menuju meja wastafel.
Bagaimana kelanjutan cerita ini?
Kira-kira apakah yang terjadi dengan Anita?
Nantikan di bab selanjutnya…stay tuned