One Night Stand With Me

One Night Stand With Me
BAB 18



Bi Umi segera mengangguk lalu mengantar satu nampan berisi makanan sehat yang komposisi menunya sudah diatur secara khusus oleh Harlina.


Tak lama ponsel Andy berdering dengan nama sang nenek yang sudah pasti akan memantau secara live.


“Ya, Oma” sapa Andy langsung sambil mengunyah buah potong yang disajikan Bi Umu untuknya.


“Andy sedang apa kalian? Anita baik-baik saja, kan? Dia sudah makan? Kamu tidak berlaku buruk padanya, kan?” cecar Harlina tanpa ampun sampai membuat Andy menjauhkan ponselnya sesaat.


“Bi Umi sudah masak sesuai pesanan oma, ini sedang diantar”


“Diantar? Diantar kemana, Andy? Kalian tidak tinggal terpisah,kan Andy?”


“Anita sendiri yang mau, Oma, Sudah ya, Andy mau mandi, gerah”


Buru-buru Andy mematikan panggilannya demi untuk tidak mendapat cecaran lagi dari neneknya yang jelas saat ini sedang gelisah memikirkan situasi rumah tangga baru cucunya.


Tok Tok Tok


Bi Umi mengetuk pintu kamar Anita yang tengah berada di posisi ternyamannya dengan merebahkan diri setengah duduk.


“Makan malam, nyonya. Ini menu sehat untuk ibu hamil dari Nyonya Besar” Bi Umi segera masuk dan meletakkan nampan itu di atas nakan samping tempat tidur.


“Bi Umi, tolong jangan panggil saya nyonya. panggil saja Anita”


Lagi-lagi telinga Anita dibuat gatal dengan sebutan nyonya yang terlalu formal untuknya. Terbiasa hidup tidak berkecukupan membuat Anita tidak ingin diperlakukan istimewa.


Bi Umi yang nampak seumuran dengan ibu Anita kini berdiri menghadap gadis itu lalu menangkupkan kedua tangannya ke wajah Anita yang lantas tersenyum teduh membayangkan jika wanita itu adalah ibunya.


“Kenapa,Bi? Maaf kalau saya salah bicara?”


“Nyonya muda begitu baik. Tidak menyangka berjodoh dengan Tuan Muda Andy. Bicara pada bibi kalau butuh sesuatu”


“Kenapa bibi menangis?” Tanya Anita terhenyak saat melihat ada air mata yang menggenang di pelupuk mata wanita itu.


“Tidak apa. Bibi hanya terharu” salah satu tangan Bi Umi kini beralih mengusap perut Anita. “Ada calon anak tuan muda, kan di sini? Selamat ya Nyonya Muda. Kehidupan menjadi orangtua baru itu sungguh membahagiakan”


Berdesir hati Anita saat seorang asisten rumah tangganya saja begitu perhatian terhadapnya. Meski ingatan Anita tak banyak soal wanita ini, namun sedikit saja ada yang memperhatikannya dengan tulus, Anita langsung menangis. Entah mengapa ia jadi cengeng akhir ini.


“Terima kasih Bi” Anita kemudian tidak tahan memeluk wanita itu. Ia tidak ingin memposisikan dirinya sebagai majikan. Jabatan ini terlalu tinggi baginya “Tapi saya tidak menginginkan anak ini,Bi. Tiap kali saya mengingatnya, saya trauma. Ada kekejaman yang terjadi sampai anak ini ada”


“Tidak Nyonya, Jangan bicara seperti itu. Bibi yakin Tuan Andy tidak bermaksud kejam saat itu, Dia hanya salah paham. Tetap cintai anak ini bagaimanapun kondisinya. Dia akan tumbuh dan berkembang menunggu kasih sayang kedua orangtuanya. Tuhan sudah punya rencana yang lebih indah. percaya sama bibi”


Malam sudah semakin larut dan kini Anita mencoba memejam di tempat yang baru dengan fasilitas paling nyaman. Namun Anita jelas tidak bisa tidur dengan tenang.


Kegelisahannya akan pernikahan kontrak, lalu kehamilan yang cukup tidak membuat nyaman. tinggal satu atap bersama Andy yang dibencinya, semua bercampur aduk di pikirannyaa saat ini.


Andy sendiri pun merasakan hal yang sama di kamarnya. Tidak bisa terlelap meski ia berusaha memejam, namun bayangan akan penyiksaan dan kekejamannya seakan kembali berputar.


“Hahh!” kesal Andy kemudian memilih turun dari tempat tidur, berganti baju lalu mengambil jaketnya.


Pergi jalan keluar adalah pilihannya saat pikirannya sedang kusut. Ponselnya berdering saat Andy akan mengambil kunci mobilnya. Lagi-lagi nomor Harlina.


Perasaan Andy tetiba tak enak takut terjadi sesuatu dengan kakek atau neneknya yang sudah tua.


“Andy, cepat sekali kamu mengangkat telepon? Malam ini tidak usah keluar rumah, apalagi pergi ke klub, Jangan lagi mabuk! Ingat sudah ada istri, jaga perasaannya”


Andy sampai meremas benda pipih yang baru saja mati layarnya setelah neneknya mengakhiri panggilannya.


“Sialan, Tau aja kalau aku mau ke klub!”


**


“Tidak! Jangan! tolong jangan sakiti saya, tolong….” Anita terisak dengan mata terpejam erat. Keringat dingin keluar dari pori-pori wajahnya. Tubuhnya menggeliat tak jelas “Jangaannn!”


Brakkk!


Bi Umi terpaksa membuka pintu kamar Anita tanpa diketuk saat mendengar suara rintihan dari dalam.


“Nyonya muda!” Bi Umi mengguncang tubuh Anita hingga gadis itu kemudian membuka matanya lebar lalu sekian detik mematung dan mengeluarkan nafas kasar, Anita masih mengembalikan jiwanya lalu kemudian tersadar ia telah kembali bermimpi buruk.


“Nyonya tidak apa?” Bi Umi mendekat hingga kemudian Anita membangunkan tubuhnya lalu memeluk wanita paruh baya itu dan terisak. Tubuhnya gemetar.


Bayangan Andy yang menyiksanya terus menghantui, apa lagi sekarang mereka sudah tinggal satu atap. Padahal sebelum ini Anita sudah melupakan semuanya.


“Mimpi buruk?”


Anita mengangguk dan masih terisak sampai Bi Umi kemudian mengambil segelas air dan memberikannya pada Anita, Wanita itu jelas tahu apa yang menjadi mimpi buruk Anita karena dialah saksi hidup kekejaman Andy sampai mengantar kerumah sakit waktu gadis itu mengalami pendarahan.


Namun Bi Umi memilih bungkam dan tidak mengungkit apapun soal kejadian hari itu. Perasaannya sebagai seorang ibu juga teriris merasakan bagaimana Anita kini sangat trauma.


“Sudah tidak apa, hanya mimpi”


“Bi. mulai nanti malam tidur sama saya, ya”


“Saya? tidur sekamar dengan Nyonya Muda?”


Anita mengangguk dengan wajah memelas “Tolong temani saya…saya takut...” lirih Anita masih duduk di atas tempat tidur.


Waktu masih pagi saat Anita mengalami mimpi buruk hingga sejurus kemudian serangan morning sickness datang dan Anita melompat dari tempat tidurnya.


Berlari masuk ke toilet, Anita bahkan tak peduli lagi bahwa kalau di dalam tubuhnya tumbuh benih kebencian, bukan benih cinta layaknya pasangan suami istri lainnya.


Andy yang baru keluar kamar saat melihat ada sayur dalam panci yang mendidih dan kompor menyala.


“Bi Umi kemana, ceroboh sekali” gerundel Andy lalu mematikan kompor dapurnya “Bi! Bi!Bi Umi!” panggil Andy dengan suaranya yang menggema.


Melihat pintu kamar Anita yang terbuka sebagian. Andy lantas menggerakan langkahnya ke sana. Di kamar mandi yang pintunya terbuka, Bi Umi sibuk memijat tengkuk Anita yang tertunduk memuntahkan angin di wastafel.


“Shhh!” desis Anita merasakan perihnya Perut dan kerongkongan saat serangan mual menderanya “Haakkh!” erang Anita jengkel lalu berusaha memukul perutnya sendiri dengan kepalan tangannya.


“Nyonya Muda, tolong jangan lakukan itu” cegah Bi Umi menahan kedua tangan Anita yang bisa saja mencelakai calon anaknya.


Bagaimana kelanjutan cerita ini?


Nantikan di bab selanjutnya…stay tuned