
Kembali ke kursi kerjanya, Anita malah menghirup sesuatu yang mengganggu indra penciumannya. Dilihatnya Bi Umi sedang memasak entah apa. Tak ingin membuang sia-sia makanan yang sudah masuk ke lambungnya, kini Anita mengenakan masker sekali pakai untuk menutup hidung dan mulutnya.
Mulai mengambil kertas dan sebuah pena, Anita menggerak-gerakkan jemarinya yang sudah kaku, Menggores sembarang bentuk ke kertas putih itu, Anita menyingkirkan sementara layar tab ke samping.
Sudah satu tahun semenjak ia putus kuliah, Anita seolah lupa apa saja yang pernah ia dapat selama menjadi mahasiswi.
“Lumayan juga, tidak buruk” gumam Anita memuji hasil coretan asalnya yang menghasilkan sebuah sketsa busana meski belum jelas pakaian apa yang ia gambar.
“Meja baru?”
“Hahh!” pekik Anita kaget lalu refleks berdiri melempar penanya dan membalikkan tubuhnya.
DIlihatnya Andy sudah berdiri dibelakangnya entah sejak kapan.
Pemandangan pertama saat Anita berbalik menghadapnya jelas pada masker yang menutupi sebagian wajahnya.
“Mengapa memakai itu?” Andy sudah akan membuka tali pengait masker saat Anita kemudian refleks memundurkan kepalanya
.
“Aku mual!”
“Ohh, maaf!” Andy mengangguk paham lalu kembali menyisir satu set meja dengan banyak perlengkapan di atasnya.
“Meja ini…kamu yang beli?”
“Opa yang berikan. Aku mana mampu!” jawab Anita setengah ketus di akhir kalimatnya.
“Emm, Anita. Sebenarnya ada hal yang ingin aku bicarakan. Tapi…kamu sibuk saja dulu. Aku juga masih ada perlu”
Belum bergerak dari posisinya yang menjaga jarak dengan suaminya, Anita lantas melirik pergerakan Andy yang mengambil sesuatu dari dalam kantongnya.
“Ini….” Andy meletakkan sebuah kartu berwarna hitam pekat berlogo bulatan kecil diujungnya “Pakai saja sesukamu. Buatlah dirimu sibuk seperti ini. supaya tidak mengurung diri saja di kamar.”
“Aku tidak perlu apapun!” balas Anita dengan ketus. Ia sasar sudah tidak tahu diri dengan bicara kasar pada pria itu meski apa yang ia nikmati saat ini juga bukan miliknya.
“Anggap saja ini sebagai bentuk kewajibanku sebagai…suami”
Jlebb!
“Suami?” batin Anita meracau. Benarkah mereka saat ini sebagai suami istri? Bukankah Andy hanya menganggapnya istri di atas kertas, tapi mengapa harus repot memberinya uang dalam jumlah tak terhingga seperti ini?
Andy makin mendekatkan kartu itu pada Anita yang belum menyentuhnya. Pria itu lantas pergi dan membiarkan Anita melanjutkan kesibukannya.
**
“Sudah berhenti menangisnya. Dari kemarin kamu menangis terus!”
“Anakku nasibnya saja belum jelas sampai sekarang dan kamu memintaku untuk diam saja? Terbuat dari apa hatimu?” seraya terisak dengan wajah sembab,
Yeni mengutuk suaminya yang tak goyah sedikitpun mendengar kabar pesawat jet pribadi milik Andy jatuh dan belum diketahui nasib awak penumpangnya.
“Kalau begitu aku pergi ke perusahaan asuransi. Aku mau tanya bagaimana bisa klaim asuransi milik Andy. Pasti dia mencantumkan namamu sebagai ibu ke daftar penerima manfaatnya”
“Abraham! Kamu itu manusia apa iblis!” bentak Yeni pada pria yang sudah bersamanya selama dua puluh tahun itu.
“Yeni, istriku yang lugu dan polos. Kamu pikir saja, sejak kapan ada peristiwa kecelakaan pesawat yang penumpangnya bisa melenggang selamat? Kalau begitu kamu banyak berdoa saja. Mungkin takdir Andy hanya sampai di sini saja”
“Halo, bagaimana?” wajah pria lima puluh tahun itu nampak menyeringai tak jelas “Apa? dialihkan? Bukan atas nama Andy? Ba-bagaimana bisa? Andy itu cucu satu-satunya. Memang bisa dialihkan ke orang lain begitu saja?”
Abraham hampir saja membanting ponselnya kesal “Brengsekkk! Tua Bangka sialan! Bisa-bisanya dia bergerak cepat. Dialihkan kemana semua hartanya sekarang?”
Pria itu mengatur nafasnya yang tetiba tersengal “Papa sudah tidak bisa di goyah, Aku harus mencari cara” Abraham mengangguk dengan pikiran yang coba ia putar. “Mama, ya, Aku harus beralih ke mama”
Abraham kemudian keluar dari rumahnya dengan mengendarai sendiri mobilnya. Keluar dari gerbang rumah mewah yang ditinggalinya bersama Yeni sejak lama itu. Abraham memacukan kendaraan dengan sedikit kelegaan dalam hatinya. Namun, belum juga keluar dari kompleks perumahannya, sebuah kendaraan kini menghadang lajunya kemudian melintangkan persis di depannya hingga Abraham kini menginjak rem dengan segera.
“Sialan, siapa bawa mobil gak becus begitu” Abraham menekan klaksonnya berkali-kali namun mobil sedan hitam yang menghalangi jalannya tak bergerak “Mau mati thu supir”
Akhirnya pria itu pun keluar dari mobilnya dan berjalan bersungut menghampiri kendaraan mengkilap itu lalu menendang pintunya dengan kasar.
“Heh! Kalau gak bisa bawa mobil mati saja sana!” Dengan berkacak pinggang, Abraham menunjukkan arogansinya saat ini.
Penghuni mobil itu belum bereaksi sampai Abraham kini menggebrak kaca sampingnya. Hingga beberapa saat kemudian kaca itu terbuka dan menampilkan sosok di dalamnya.
Abraham terjingkat luar biasa sampai membelalakan matanya “A-An-Andy!”
Sementara itu ditempat lain…
“Anita, kamu sedang apa, nak? Kalian baik-baik saja, kan?”
Semburat wajah penuh keriput dan layu terpampang dilayar ponsel Anita yang tengah melakukan panggilan video dengan Harlina di rumahnya.
“Anita baik-baik saja, oma” Anita nampak cemas melihat wajah pucat Harlina yang kehilangan keceriaannya “Oma sakit?”
“Tidak, nak. Hanya kepikiran Andy saja, Dia sudah pulang?”
“Sudah semalam, oma. Tapi pagi tadi sudah keluar. Ponselnya hilang, jadi tidak bisa menghubungi siapapun”
Harlina mengangguk saja. Padahal dia sudah mendapat laporan lengkap dari Bi Umi yang selalu update informasi apapun tentang perkembangan hubungan Andy dan Anita.
“Oma, apa perlu Anita ke sana untuk merawat oma? Oma pucat sekali” imbuh Anita makin cemas mengingat hanya pada wanita tua itu kini Anita menggantungkan dirinya di balik ketakutannya pada Hardianto yang sungguh mengintimidasi hidupnya.
“Tidak perlu, nak. Kalau Andy pulang suruh hubungi oma, ya”
Hari sudah gelap saat Anita yang seharian berkutat sendiri di sudut kesibukannya itu mulai resah karena Andy yang pergi sejak pagi belum juga kembali.
Bukan soal bagaimana dan apa yang dia lakukan diluar sana. Anita hanya kepikiran bahwa Andy harus menghubungi kedua kakek neneknya.
“Hoammsh!” Anita menguap lebar sampai ia meletakkan kepala dan tangannya tertidur di atas meja kerja yang luas ini. Tak ingin masuk ke kamar dulu karena ingin menyambut Andy pulang dan langsung memberitahunya kalau oma Harlina sedang tidak baik-baik saja.
Anita selalu lupa dengan kehamilannya saat tidak ada serangan mual melnda hingga dengan enaknya dia tertidur dengan posisi menunduk di meja.
Sementara di sebuah area yang gelap dengan struktur jalan bergelombang, tiga unit kendaraan melaju pelan menuju hamparan persawahan di sisi kanan dan kirinya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya?
Nantikan di bab selanjutnya…stay tuned
Bagaimana kelanjutan cerita ini?
Nantikan di bab selanjutnya yaahh…..