
Kembali lagi dia melihat wajah pria yang sangat dibencinya. Anita kini terisak. Kebenciannya pada Andy sudah di ujung batas kesabarannya. Meski banyak wanita yang bermimpi menjadi permaisuri pria itu, namun tidak bagi Anita yang menempatkan Andy pada daftar kebenciannya bertengger paling atas bersama ayah kandungnya.
“Pergi!” erang Anita tak peduli dirinya sedang berada di rumah sakit yang membuat suaranya bergema
.
“Hey, jangan lari!”
Anita tidak peduli, Ia harus terus berlari meski ada sesuatu yang hidup didalam perutnya saat ini.
Sementara Andy kini hanya bisa mematung menyaksikan Anita yang pergi menaiki ojek online yang dipesannya. Pria itu bahkan seperti tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Apa yang dirasakan pada gadis itu juga Andy tak paham.
**
Sementara di kediaman Hardianto
“Tuan besar, tuan Abraham kembali melayangkan gugatan hibah ke pengadilan, masih ada beberapa asset yang belum anda balik nama”
Hardianto dirundung murung saat ini. Pandangannya menggelap setelah sekian lama hal yang mengusik pikirannya tidak bergaung lagi.
“dasar anak durhaka! Sudah sengsara sekarang mencari-cari masalah lagi! Jangan sampai biarkan anak iblis itu menang. Sampai mati aku tidak akan memberikannya sepeser pun!”
Tangan tuanya lantas mengepal erat menunjukkan gurat otot tua yang menonjol gemetar. Hardianto yang di usia senjanya belum bisa menikmati hari tenang itu masih harus dihadapkan dengan berbagai masalah dalam hidupnya.
Tuntutan dari Abraham, anak bungsunya yang sedari muda tidak pernah menurut dengan pengaturannya dan kini menjadi anak pembangkang, kini mencoba menggerogoti hartanya lewat jalur hukum.
Sementara Andy, cucu yang sangat diandalkannya, kini tidak mau lagi menerima harta hibah darinya karena sudah merasa sanggup mengembangkan kemampuannya sendiri. Belum lagi kekerasan hati Andy yang belum juga ingin berumah tangga sampai pria tua itu harus memutar otak untuk mengamankan banyak asetnya agar tidak digerogoti oleh Abraham.
“Sepertinya agak sulit, Tuan Besar. Aset anda masih terlalu banyak. Pengadilan pasti akan mempertimbangkannya. Kecuali….Anda mengalihkannya ke pihak lain lagi”
Hardi melirik tajam ke arah pengacara pribadinya
“Aku punya siapa lagi selain cucuku, Andy?”
“Anda tinggal mempertahankan calon anaknya Tuan Andy. Tinggal dia satu-satunya yang bisa anda andalkan saat ini, Tuan”
Hardianto menggeleng pesimis “Kita bisa dengan mudah mencengkram gadis itu, tapi tidak dengan Andy. Hehh!” Hardi menghela nafasnya berat “Sepertinya aku sudah salah mendidik dia terlalu keras sampai tidak ada keinginan menikah seperti ini”
“Tuan besar, nyonya…”
“Ada apa?” Hardi segera berdiri saat seseorang asisten rumah tangganya memanggil dengan terburu.
“Nyonya besar, sesak napas!”
Hardianto mempercepat langkahnya menuju kamar dimana seorang dokter keluarga sudah memeriksa kondisi Harlina yang mengalami sesak nafas setelah berusaha meyakinkan Andy yang kini merasa bersalah.
“Oma….”
Hardi menghampiri istrinya yang terbaring sedih di tempat tidur.
“Tensi Nyonya Harlina mendadak tinggi, Jangan banyak pikiran biar gula darahnya tidak ikut naik” ucap dokter setelah memberi obat penurun tekanan darah pada wanita itu.
“Sudah. sudah Oma tidak apa. Jangan marahi Andy lagi” ucap Harlina kini mengelus lengan suaminya saling menguatkan diantara mereka berdua demi tugas terakhir mereka melihat Andy yang mau berumah tangga.
“Andy, tolong pertimbangkan ucapan oma ya Nak. Jangan melihat hal buruk yang orangtuamu berikan. Lihat kami, puluhan tahun berumah tangga juga sampai saat ini masih awet dan tidak ada masalah. Contoh opa dan omamu ini, Nak”
Hardianto sudah mengetuk pangkal tongkat kayunya ke lantai pertanda pria itu sudah menunjukkan kemarahannya “Hanya keinginan kecil dari orangtua saja kamu tidak becus! Mau menunggu omamu ini dipanggil Tuhan baru kamu menyesal!”
“Opa, sudah. Oma ingin istirahat. Biar Andy yang menunggu di sini” bujuk Harlina meredam kemarahan suaminya yang memiliki hati batu, sama seperti Andy miliki.
Hingga kemudian Hardi mengalah dan melirik ke asistennya lalu mengangguk pelan.
Sementara Anita kini kembali bersedih karena tak sanggup memasukkan sang ibu ke rumah sakit dan hanya bisa membawa ke klinik dokter di dekat rumah kontrakan mereka.
“Pasien harus secepatnya dibawa ke rumah sakit untuk mendapat penanganan. Penyakit yang diderita sangat serius dan tidak bisa hanya mengandalkan berobat jalan seperti ini”
Anita hanya bisa mengangguk pasrah atas ucapan dokter sementara dirinya kini tak mampu melakukan apapun. Bertahan dengan obat rawat jalan yang entah sampai kapan, kini Anita menatap ibunya sedih sekembalinya mereka ke rumah petak.
“Anita….” lirih Dewi iba melihat putrinya yang nampak makin kurus.
“Maafkan Anita bu, sementara Ibu dirawat di rumah”
Dewi menggeleng pelan lalu mengusap wajah putri tercintanya “Cari ayahmu lagi, Nak. dia sangat bisa membantumu. Ibu sudah—“
“Tidak ibu, tolong jangan bicara lagi. Ibu pasti sembuh. Anita akan lakukan apa saja tanpa kita harus mengemis pada pria yang sudah mencampakkan kita!” Anita mendengus emosi setiap kali ibunya mengungkit soal ayahnya yang entah pergi kemana.
Di Kota besar ini, dimana Anita harus mencari seseorang yang telah pergi puluhan tahun lalu dengan hanya berbekal sebuah foto using dan alamat yang sudah tidak ada lagi di pencarian.
“Anita, Ibu mohon. Ini demi masa depanmu juga, Nak. Jangan kerja keras hanya untuk menyembuhkan penyakit ibu, Sudah waktunya kamu bahagia”
“Sudah sudah, ibu istirahat dulu. Jangan banyak berpikir”
Anita menidurkan ibunya di kamar lalu menutup pintunya pelan. Sejenak gadis itu lupa dengan kehamilannya saat tidak ada siksaan mual dan muntah lagi. Di ruang tamu rumah kontrakan yang sempit kini Anita merenung untuk mencari cara bagaimana bisa menyembuhkan ibunya.
“Hehh, ayah? Ayah macam apa yang tega menelantarkan anak dan istrinya? demi apa sampai puluhan tahun tidak kembali? Atau jangan-jangan sudah mati?” kesal Anita mengutuk ayah yang belum pernah ia jumpai secara langsung.
Suara ketukan pintu dari luar membuyarkan lamunan gadis itu saat ini. Anita menggeleng cepat menguburkan impian ibunya untuk bisa menemukan ayah kandungnya.
“Hahh!” pekik Anita terperanjat kaget saat ada seorang pria dengan penampilan sangat rapi kini tetiba merangsek masuk ke rumahnya “Siapa kamu!”
“Silahkan , Tuan Besar!”
Hardianto memasuki ruang tamu rumah Anita dengan pandangan lurus tanpa permisi “Keras kepala! sudah kepepet masih gengsi. Sepertinya kamu lebih memilih ibumu mati daripada mendapat pertolongan cepat”
Anita jelas menyeringai tak suka dengan kehadiran Hardi yang tetiba menyelonong masuk tanpa permisi dan tanpa basa-basi.
Bagaimana kelanjutan cerita ini?
Kira-kira apakah gerangan sehingga Hardianto tiba-tiba datang ke rumah kontrakan Anita?
Nantikan di bab selanjutnya…stay tuned