One Night Stand With Me

One Night Stand With Me
BAB 19



Anita jelas tertekan sampai Bi Umi kini berupaya memeluk gadis yang kini makin terguncang “Nyonya Muda tolong apapun yang terjadi jangan berusaha menyakiti diri seperti itu”


“Apa yang saya bilang Bi, Tiap kali seperti ini saya selalu teringat rasa sakit hari itu” lirih Anita sampai hampir tak terdengar tertutup oleh isak tangisnya.


Bi Umi hanya bisa mengelus punggungnya sampai pandangannya tertuju pada Andy yang berdiri terpaku di ambang pintu kamar mandi. Baru saja wanita itu akan melepas pelukannya, Andy mengangkat telapak tangannya. Pria itu mengangguk singkat lalu memilih pergi.


Setelah menenangkan Anita kembali ke tempat tidur, Bi Umi bergegas kembali ke singgasananya di dapur dan menepuk jidatnya karena lupa mematikan kompor sampai majikannya turun tangan sendiri.


“Maaf Tuan Muda, mau kopi atau teh?”


“Saya sarapan dikantor saja, Bi. Tadi Anita kenapa?”


“Serangan pagi, Tuan. Biasa kalau ibu hamil muda seperti itu”


Andy yang sudah siap dengan baju kerja lengkapnya kini nampak gusar. Padahal Jimmy sudah menunggunya untuk mengantarnya ke perusahaan hari ini.


“Apa sakit?”


Bi Umi yang menyiapkan sarapan untuk Anita lantas mendongak heran “Kalau pengalaman bibi dulu sih…sakit, iya. perih di tenggorokan dan ulu hati, kepala jadi berat sama meriang Tuan. Pokoknya gak enaklah, mau gerak juga serba salah. bau sesuatu yang menyengat juga langsung muntah.”


Andy masih memainkan ponselnya berputar-putar lalu kembali ke pikirannya “Ada obatnya, Bi?”


“Setahu bibi tidak ada, Tuan. Reaksi ibu hamil, menyiksa tapi ya dinikmati. kalau almarhum suami bibi dulu langsung meluk bibi begitu bibi kena serangan seperti itu”


Bi Umi mendelik lalu membungkam mulutnya sendiri ‘Maaf, Tuan Muda, Bibi salah bicara. Permisi, mau antar sarapan dulu, Tuan mau dibuat bekal saja sarapannya?”


Andy menggeleng lalu memilih pergi ke perusahaan meski neneknya sudah memintanya libur seminggu.


Sementara Anita menolak saat Bi Umi membawakannya sarapan pagi ini. Aroma asap dari sup panas langsung menusuk hidungnya hingga mual. Untuk meminum susu saja ia harus memencet ujung hidungnya.


Anita memilih posisi ternyaman nya saat ini yaitu tidur dengan posisi setengah duduk dengan bersandar bantal tinggi. Sedikit gerakan saja, Anita merasa perutnya bergejolak.


“Anita ada dimana Bi Umi? Apa dia baik-baik saja?” Harlina datang berkunjung di jam delapan pagi hingga membuat BI Umi kaget.


Dengan gaya anggunnya di usia tidak lagi muda, Harlina berjalan dengan flat shoesnya mengikuti kemana Bi Umi menunjukkan jarinya.


“Ada dikamarnya, Nyonya Besar. Mau saya panggilkan? Baru saja kena serangan Morning Sickness. Nyonya muda mengeluh badannya tidak enak”


Harlina mengangguk dan menghentikan langkahnya “Lho kok kesitu? Anita dan Andy tidak tinggal satu kamar?”


Bi Umi hanya bisa menggeleng tanpa bersuara.


“DImana Andy?”


“Pergi ke kantor, Nyonya besar”


“Kerja?” delik Harlina dengan nafas kesal


“keterlaluan!”


**


Sementara itu


“Hai, Andy. Selamat pagi”


Andy terjingkat saat baru saja melangkah keluar lift eksekutif yang langsung menuju ke ruang kerjanya di perusahaan manufaktur ini. Seorang gadis dengan tubuh terawat mendekati sempurna. Rambut cokelat lurus sepunggung menjuntai indah kini berdiri menampakkan keindahannya di depan pintu ruang kerjanya.


“Semalam aku ke tempatmu tapi sepi, Bi Umi juga tidak ada, tumben. Apa kamu tinggal di rumah opa semalam, Andy?”


Claire dengan gayanya yang mendesah manja mengikuti langkah Andy yang tetap berjalan lurus tanpa menoleh ke gadis itu.


“Andy kok kamu jadi cuek sama aku? Aku tidak masalah kalau kamu menolak perjodohan itu, Toh kita masih bisa tetap bermain-main, kan?”


Tanpa sungkan dengan keberadaan Jimmy di ruangan ini. Claire terus saja melesak sampai duduk di pangkuan Andy di kursi direktur padahal pria itu masih menunjukkan tanpa ekspresi lalu meminum air di atas meja kerjanya.


“Jimmy, pesankan sarapan. Saya lapar”


“Aku rindu sama kamu, Andy. sudah berapa lama kita tidak…..”


Pandangan gadis itu kemudian menyapu jemari tangan kanan Andy yang tampak mencolok.


“Kamu pakai cincin, Andy? Sejak kapan?”


Claire mengangkat pergelangan tangan namun segera ditampik oleh pria itu. Gadis itu segera berdiri dengan pikirannya yang dipenuhi pertanyaan.


“Cincin polos? Seperti cincin pernikahan.


Andy.kamu….?”


Andy tidak menjawab dan mulai mengeluarkan layar tab nya saat sekretarisnya masuk dan memberikan beberapa map folder untuk ia periksa pagi ini.


“Andy, tolong jawab aku!” cecar Claire tidak terima karena diacuhkan pria itu, “Kamu sudah bertunangan? Atau jangan-jangan sudah menikah? Kenapa diam-diam?”


Andy hanya menggeleng tanpa bersuara. Bahkan ketika Claire dengan kasar menyahut berkas yang akan dia buka.


“Andy, kamu bisu! Justru aku yang patut sakit hati karena menolak perjodohan malam itu. Tapi ini kok malah kamu yang tidak mau bicara. Katakan salah apa aku?”


Memijit pangkal hidungnya yang tiba-tiba merasa berat, Andy sudah mendongak akan berbicara saat ponselnya berdering,


Oma, tiga huruf yang terpampang dan tidak berani ia tolak atau abaikan panggilannya.


“Iya, Oma. Apa? Ke dokter?” Andy nampak berpikir sejenak dan ragu. Namun suara neneknya yang tidak bisa dibantah kemudian membawanya untuk menutup kembali pekerjaannya “Iya, Andy susul ke sana”


“Mau kemana?” Tanya Claire waspada


“Claire mulai hari ini jangan mencariku lagi, cari pria lain yang bisa bermain denganmu”


“A-apa! maksudmu apa!”


Andy segera menghubungi Jimmy untuk segera kembali menjemputnya “Silahkan, pintu keluar sebelah sana. Aku ada perlu. Aku rasa tidak perlu mengulangi lagi. Jangan mencariku, hari ini dan seterusnya, oke!”


“Kamu mengusirku?” Claire berkacak pinggang tidak terima “Andy aku tidak terima!” berang gadis itu menghadang langkah Andy yang akan keluar dari ruangannya sendiri.


“memangnya kita ada hubungan apa, Claire? Pacaran? Tunangan? atau suami istri?”


Claire jelas tergagap karena mereka tidak terikat komitmen apapun sejak mereka berkenalan dulu.


“Menepilah, aku sedang tidak ingin berdebat”


“Oma dimana?”


“Di poli psikiatri, Andy”


“Poli apa?” Tanya balik Andy saat memutar tubuhnya mencari arah poli rawat jalan di rumah sakit ini.


“Istrimu sedang bertemu dengan dokter kesehatan jiwa, Andy”


Andy tertegun sesaat saat mengulang ucapan neneknya “Dokter jiwa?”


Melebarkan langkahnya kini Andy menuju tempat dimana neneknya sudah duduk diruangan tunggu yang sengaja di kosongkan pagi ini oleh keluarga Hardianto agar Anita tidak bercampur dengan pasien lainnya.


“Oma….”


Harlina melirik sinis ke arah cucunya yang duduk mendekat. Di tangannya masih memegang layar ponsel yang membuat kekesalannya semakin menjadi.


“Kenapa ke sini, Oma?”


Bagaimana kelanjutan cerita ini?


Apa penyebab Anita di bawa ke dokter jiwa?


Nantikan di bab selanjutnya…stay tuned