One Night Stand With Me

One Night Stand With Me
BAB 49



Anita masih belum berkutik . Dikejarnya waktu hanya sampai esok hari membuatnya tegang harus menyelesaikan dua baju sekaligus.


Sampai-sampai baju yang dia janjikan untuk Bi Umi harus mangkrak sementara.


Andy sudah berkacak pinggang karena tak digubris oleh Anita yang masih berkonsentrasi penuh dengan jarum dan benangnya.


“Anita, aku lapar!” bentak Andy kemudian hingga membuat Anita terjingkat bukan main.


“Hahh! Awhh! Saking kagetnya, ujung jari Anita sampai tertusuk jarum hingga berdarah.


Anita mendongak jengkel karena Andy begitu kekanakan. Mengetahui jari Anita berdarah, segera Andy menyahutnya lalu memasukkan jari itu ke mulutnya.


“Kamu kenapa sih, Andy!” bentak Anita jengkel karena Andy sungguh membuyarkan waktunya saat ini.


“Habisnya kamu nyuekin aku” jawab Andy datar lalu membawa Anita mendekat ke dapur, mengguyur jarinya yang terluka dengan air mengalir lalu memberinya plester.


“Aku kan lagi konsentrasi. Belum pernah aku bikin baju secepat ini”


“Sudah jam berapa? Beberapa hari ini kamu sudah tidur larut dan aku biarkan. Kamu sampai tidak memperhatikan dirimu sendiri”


Bak tengah dimarahi oleh orangtuanya, Anita sampai menunduk meski Andy masih memegangi tangannya.


“Sekarang berhenti dulu. Toh tidak ada yang akan memarahi kamu apapun hasilnya. Istirahat aku tidak mau melihat kamu terlalu sibuk!” titah Andy kini tak bisa dibantah oleh Anita yang didudukan ke ruang makan.


Andy kemudian memanggil Bi Umi untuk membuatkan Anita makanan, sementara dirinya mengambil pamphlet yang tadi dilemparnya.


“Ini, beberapa pilihan fashion school. Pilih saja yang kamu suka. Nanti waktu kursusnya aku yang tentukan agar kamu tidak terlalu lelah”


Anita memperhatikan beberapa pamphlet yang dijejer di hadapannya.


“Woow!” decak Anita tanpa bersuara melihat tempat ini adalah lembaga pendidikan fashion yang begitu terkenal dan pasti menjadi tempat impian siapa saja yang ingin menjadi fashion enthusiast seperti dirinya.


Namun Anita dibuat mendelik dengan rincian biaya sekolah yang jika bukan istri Andy saat ini pasti tidak akan mampu Anita kejar meski baru memasuki gerbangnya saja.


“Mahal sekali” desau Anita membaca semua biaya itu tidak ada yang murah


Paling murah saja dia harus membayar puluhan juta rupiah belum termasuk segala peralatan yang harus dimiliki.


“Kenapa?”


Anita terkesiap dan langsung kembali ke mode normal saat menyadari posisinya saat ini.


“Eumm, tidak apa. Lain kali saja” tolak Anita padahal dia begitu tergiur bisa menjadi bagian dari salah satu sekolah fashion bergengsi itu.


“Terlalu mahal? atau gengsi, karena aku yang ngasih?”


“Tidak, Andy. Aku…hanya ingin dirumah saja” kilah Anita mencoba beralasan lalu berusaha menghindar dengan berdiri dan akan kembali ke mejanya.


“Anita!” panggil Andy dengan suara lantang untuk meminta wanita itu tetap tinggal. Anita pun mulai takut karena wajah Andy berubah tak bersahabat saat ini.


Hingga kemudian Anita duduk kembali ke kursi ruang makan saat Bi Umi kemudian menyodorkan semangkuk sup buah padanya.


“Apa sopan suami sedang bicara dan kamu mengacuhkan?”


“Suami?”ulang Anita meracau dalam batinnya.


Apakah mereka sudah pantas disebut suami istri, sedang hubungan yang mereka jalani seperti tidak ada ikatan apapun.


“Maaf..” hanya itu yang bisa Anita ucapkan karena berbagai hal soal suami dan istri pun Anita tidak berpikir ke arah sana saat dirinya menerima perjanjian dengan opa Hardi saat itu.


“Terima dan pilih salah satu sekolah ini. Aku tak ingin dibantah. Masalah waktu nanti biar mereka yang datang ke sini kalau kamu tidak ingin tampil ke muka public”


“Nah gitu dong. Sekarang tolong buatkan aku mie!”


“A-apa?” Anita sampai menoleh cepat untuk meyakinkan telinganya atas perintah Andy yang super tegas itu hanya untuk meminta makan.


“Iya, mie. Seperti yang kamu buat waktu itu, boleh,kan? Aku lapar dari tadi tapi kamu cuek!”


**


Beberapa hari kemudian..


“Bagaimana Bi Umi? Bagus tidak?” Tanya Anita saat memberi sentuhan akhir pada dua baju yang sudah ia seterika uap dan siap dikemas dalam kotak kado.


“Bagus nyonya. Tidak kalah dengan merek mahal. Tuan dan Nyonya besar pasti suka” jawab Bi Umi tulus melihat dress bawah lutut semi cheongsam dan kemeja lengan panjang yang masih terpajang rapi.


Dan kini Anita memotret kedua baju itu sebagai kenang-kenangan bahwa ia pernah membuat pakaian sebagus ini. Bukan karena bakat saja, namun peralatan bagus yang Anita miliki saat ini.


Jimmy datang saat Anita tengah dengan hati-hati memasukkan baju-baju ke kota kado yang ia juga pesan khusus atas nama Andy sesuai perintah suaminya kemarin.


“Permisi Nyonya. Baju untuk Anda dan Tuan Muda”


“Baju untuk apa ya?” Anita malah heran karena Jimmy membawa berkantong-kantong pakaian dari segala brand seolah Anita akan membuka toko baju saat ini.


“Untuk datang ke acara oma dan opa lah!” sahut Andy yang datang dibelakang Jimmy yang meletakkan banyak sekali kantong belanja itu berjejer di sofa ruang tengah.


“Sebanyak ini?”


“Kamu sibuk membuat pakaian untuk mereka, tapi kamu tidak memikirkan akan memakai apa ke sana nanti”


Jlebb!


Ucapan Andy barusan ada benarnya juga. Anita bahkan tidak berpikir akan mengenakan pakaian apapun mengingat ia tidak memiliki baju yang pantas dipakai keluar rumah sekalipun.


“Memangnya acaranya semeriah apa, Andy? Siapa saja yang diundang?” Anita memanjangkan tubuhnya melongok sekilas dari bungkusnya saja pakaian ini bermerk luar negeri dan pasti seharga jutaan rupiah untuk satu potong baju saja.


“Tidak ada. Hanya kita yang datang” jawab Andy cuek kemudian berlalu menuju kamarnya.


Tentu Anita langsung menyeringai aneh melihat punggung Andy yang berlalu “Dasar Absurd!”


“Cepat kamu pilih. kita nanti akan kembaran ke sana” pungkas Andy sebelum benar-benar menghilang ke kamarnya.


Setelah membungkus rapi kadonya, Anita kini beralih ke deretan paper bagi dengan brand yang Anita hanya tahu para selebritis yang memakainya.


Satu per satu pakaian di buka sampai Anita menggeleng kepala karena semuanya tidak ada yang tidak bagus.


“Ckk! Dasar orang kaya! Paling enak kalau buang-buang uang!” gerutu Anita saat menemukan pakaian yang lumayan matching untuk mereka.


Sebuah kemeja slimfit dengan lengan sampai siku berwarna putih dengan garis biru terang dipilih Anita untuk Andy pakai nanti sore.


Anita mengetuk pintu kamar Andy terlebih dahulu sebelum membuka handlenya, Karena tidak ada jawaban, Anita melongokkan kepalanya terlebih dahulu.


Terdengar suara air mengalir dari kamar mandi dan Anita langsung masuk untuk meletakkan kemeja baju itu diatas kasur setelah terlebih dahulu dia seterika uap agar lebih rapi.


Wanita itu lantas pergi karena tak memiliki alasan lagi berlama di kamar ini.


“Ngapain, Anita?”


... Bagaimana kelanjutan ceritanya? ...


...Tetap dukung othor yah dengan mengikuti cerita di bab selanjutnya….salam hangat selalu...