
Sebuah derap langkah yang pelan namun pasti ditambah ketukan tongkat kayu dilantai rumah sakit kini bertalu menggema di ruangan yang hanya diisi oleh seorang gadis dengan selang oksigen di lubang hidungnya.
Anita lantas menoleh lemah ke sumber suara dan ternyata seorang pria tua yang begitu terperanjat saat melihat wajahnya.
“Anita Celine?”
Anita jelas mengerutkan wajahnya dan mulai waspada meski tubuhnya sangat lemas usai dirinya nekat menenggak cairan pembersih lantai. Beruntung kandungannya tidak bermasalah, hanya saja tubuhnya yang lemas saat ini.
“Anak tunggal, tulang punggung keluarga” Hardianto mulai menjabarkan hasil penelusurannya terhadap gadis itu “Setelah dengan Andy, dengan siapa lagi kamu tidur?”
Degh!
Anita hanya mampu menggeleng lemah dan tak ingin menggubris ataupun bertanya siapa pria ini. Yang ada dalam pikirannya hanya ibunya yang pasti mencarinya karena belum juga pulang sejak kemarin.
Pria tua itu lantas mendekati Anita di brankarnya “Mengapa kamu ingin membuang anak yang kamu kandung?”
“Karena saya tidak menginginkannya. Anda ini siapanya pria brengsek itu?” Tanya balik Anita dengan tatapan menerawang siap untuk hal menyakitkan lain yang mungkin menantinya setelah ini.
Gadis itu paham bahwa Andy yang keji terhadapnya bukanlah orang sembarangan. Sampai polisi saja bisa bertekuk lutut dan tidak berani meneruskan laporannya hingga Anita berpikir pasti masih berhubungan dengan pria yang ingin sekali Anita ludahi wajahnya.
“Kalau saya bilang saya menginginkan bayi itu, bagaimana?”
Anita kemudian menoleh cepat dengan seringai tak suka “Mau anda apa langsung saja”
“Dengar-dengar ibumu sedang sakit dan butuh banyak uang”
Degh!
Anita kembali menyalakan lonceng waspada karena pria tua ini sudah menyebut ibunya.
“Kamu bisa menikahi Andy hanya sampai anak itu lahir lalu biaya pengobatan ibumu akan terjamin”
“Hehh!” Anita mengangkat salah satu sudut bibirnya untuk mentertawai dirinya sendiri “Silahkan cari wanita lain yang mungkin tergila-gila dengan cucu Anda. Saya tidak sudi!”
“Kamu pikir kamu ini siapa? Jangan sok suci dan sombong padahal kamu juga butuh banyak uang! Kamu pikir keluarga kami menginginkan menantu seperti kamu?” Hardianto sampai mengangkat tongkatnya lalu menunjuk Anita dengan tongkat kayunya.
Meski sudah berusia lanjut namun suara pria itu masih cukup kuat kalau sedang dilanda emosi
“Saya juga tidak menginginkan suami brengsek dan tidak berperasaan!”
“Hehh!” Giliran Hardianto yang kini menyunggingkan senyum bibirnya “Kamu akan tahu nantinya siapa yang butuh siapa!”
“Opa! Ngapain opa ada di sini sendiri?” gumam Andy saat membelokkan badanya menuju kamar rawat Anita namun melihat kakeknya baru saja keluar dari sana.
Andy tidak menyapa, kedua matanya bergerak mengikuti langkah pelan pria tua itu dengan tongkatnya. begitu tenang namun dengan tatapan tajam menusuk.
Setelah memastikan kakeknya pergi, barulah Andy mendekati kamar yang pintunya tidak tertutup sempurna.
Sebuah isak tangis terdengar bahkan sebelum Andy sampai di ambang pintu. Entah apa yang membuat pria itu kemudian semakin mendekat.
Terlihat sosok gadis diatas brankar yang menekuk kedua kakinya lalu membenamkan wajahnya tertunduk dengan punggung terguncang. Anita menangis setelah kepergian Hardianto yang memukul mentalnya semakin dalam.
Andy masih menyaksikan Anita dalam diam. Ia pun tidak tahu apa yang akan dirinya lakukan saat ini, Menyaksikan seorang wanita yang menangis karena dirinya, perasaan Andy yang bertahun membeku justru kini seolah tergerak.
Anita mengangkat wajahnya saat ponselnya berdering. Diusapnya wajah yang penuh air mata hingga menyebabkan sembab memerah.
Andy yang baru saja membalikkan badan untuk pergi namun indra pendengarannya menangkap sesuatu yang mengusik.
“Apa? Ibu tadi pingsan?I-Iya sa-saya ada di …emm, baik saya pulang sekarang juga!”
Anita segera menekan tombol merah memanggil tim medis yang segera datang tak peduli Andy yang masih mematung di dekat pintu.
“Tolong lepaskan jarum infus ini. Saya harus segera pulang, ibu saya sakit” pinta Anita setengah memohon dengan wajah yang penuh kecemasan.
“Tapi kondisi anda masih belum stabil. Masih ada obat yang harus –“
“Lepaskan atau saya cabut paksa! Mbak mau tanggungjawab kalau ibu saya kenapa-napa?” sembur Anita sudah tak sabar lebih tepatnya tidak peduli dengan kondisinya saat ini. Menjadi pesakitan seperti ini benar-benar membuatnya tidak bisa bergerak.
Gadis itu segera mengemasi barangnya tidak memikirkan lagi biaya perawatannya di rumah sakit ini. Mengambil tas kecilnya lalu bersungut keluar sampai kemudian ia bertemu dengan Andy.
Wajah menyeringai penuh dendam amarah langsung ditampakkan gadis itu. ingin sekali dia mencabik-cabik wajah Andy yang mengesalkan, namun mengingat ia masih ada urusan mendesak, Anita memilih menerobos Andy dan berjalan cepat menuju pintu keluar rumah sakit.
Entah dorongan dari mana pula yang membawa Andy kemudian mengikuti langkah cepat Anita meski ia sendiri tak mengerti apa yang dirasakannya saat ini.
“Halo, Bu Endang, Saya minta tolong ada di rumah saya dulu, ya. Iya saya usahakan dulu, terima kasih”
Tetangga sebelah rumah kontrakan Anita menghubungi gadis itu dan mengabarkan kondisi ibunya yang butuh pertolongan segera.
Sambil terisak membayangkan kondisi sang ibu tanpa dirinya, Anita setengah berlari dengan jantung berdebar. Gadis itu menyalakan aplikasi pemesanan ojek online sampai tak sadar ada orang yang lewat didepannya.
Brukkk!
“Awas!” Andy mengulurkan tangannya refleks saat Anita hampir terhuyung karena menabrak orang lewat. Padahal posisinya sedang berjaga jarak dengan gadis itu.
Beruntung Anita tidak sampai jatuh hingga ia bisa kembali menegakkan tubuhnya, namun belum sempat melangkah, Anita terlihat menunduk dengan satu tangan menutupi mulutnya. Ada sebuah dorongan di dalam perutnya yang terasa naik melewati tenggorokan.
Anita menggeleng cepat lalu menoleh ke kanan dan kiri mencari arah toilet berada. Tak peduli dirinya yang tak bisa terguncang. Anita berlari memasuki toilet lalu menundukan dirinya ke atas wastafel.
Sementara ada sebuah panggilan yang seperti mengetuk sanubari Andy yang terkenal keras dan tidak tergoyahkan saat mendengar Anita seperti tersiksa dengan efek kehamilannya.
Dengan nafas terengah kini Anita mengerang jengkel karena merasakan perih di ulu hatinya. Tiap kali ia mendapat serangan khas ibu hamil seperti ini. Anita langsung teringat wajah Andy dan segala kekejamannya. Ia menjadi benci muntah, ia sangat benci kehamilannya. Tak ingin meratapi sakitnya, Anita kemudian mengusap kasar wajahnya lalu memburu keluar dari toilet, Namun baru saja melewati ambang pintu, langkah kaki Anita tetiba berhenti.
“Kamu..tidak apa?” Andy bertanya khawatir melihat wajah Anita yang nampak memucat.
Bagaimana kelanjutan cerita ini?
Kira-kira apakah gerangan yang terjadi pada Anita?
Nantikan di bab selanjutnya…stay tuned