One Night Stand With Me

One Night Stand With Me
BAB 36



“Hahh!” Anita terjingkat mendengar suara Andy di atas kepalanya, lalu mengangkat kembali badannya duduk dengan tegak.


“Kamu jago gambar, kenapa dulu putus kuliah?” kata Andy.


“Karena gak ada biaya” jawab Anita ketus lantas merapikan kertas-kertas yang berserakan.


Andy pun mengangguk paham bagaimana Anita yang bekerja keras di kota ini dan tidak ada yang sesuai dengan bakat yang dimilikinya.


“Sekarang sudah mampu kenapa tidak lanjut saja?”


Anita tertegun saat Andy dengan entengnya menawari kembali ke bangku kuliah dan meneruskan apa yang menjadi keinginannya di dunia fashion.


Wanita itu jadi teringat ucapan Harlina yang memintanya berbicara dengan Andy soal ini. Seperti tersambung, Andy malah bicara duluan sebelum ia mengutarakan apapun.


“Mikir apa? masih belum enak dibuat kegiatan,ya? tunggu saja setelah melahirkan nanti kamu bisa fokus belajar desain lagi. Kartu yang aku berikan kemarin tidak ada batas kok kamu mau kuliah dimana saja”


Deg!


Jantung Anita tetiba berdebar. Ia bahkan lupa kalau Andy pernah memberinya sebuah kartu kredit dengan limit tak terbatas, namun sampai sekarang belum ia sentuh sama sekali.


“Andy ini sebenarnya tahu apa tidak soal perjanjian itu? Kenapa dia malah menyuruhku kuliah lagi? Bukankah malah menyuruh pergi setelah anak ini lahir” batin Anita kembali meracau.


Mengingat soal perjanjian itu, Anita kini kembali menggaungkan ucapan Hardianto yang mewanti-wanti nya untuk menjaga jarak dengan pria yang masih berdiri didekatnya ini.


“Emm, lupakan, Aku….tidak serius!”


**


“Halo, iya, Oma, Apa?” Andy nampak memutar bola matanya saat menerima panggilan dari Harlina pagi ini seraya berjalan menuju ke ruang kerjanya.


“Terserah oma, lah. Yang penting oma bahagia” jawab Andy asal lalu langsung melangkah ke ruang meeting karena rapat akan segera dimulai.


‘Selamat pagi, Bapak Andy” sapa salah seorang manager operasional menyambut kedatangannya di rapat para peserta tenderproyek manufaktur baru yang akan berdiri di luar kota.


Andy hanya mengangguk dengan tatapan tajam khas pribadinya yang begitu arogan dan mengintimidasi saat sedang bekerja. Tidak ada yang berani melakukan kesalahan jika sudah berhadapan dengan pria yang selalu memasang mata elang jika sudah berkutat dengan pekerjaannya.


Di ruang rapat besar ini beberapa perwakilan perusahaan peserta tender sudah berada di kursi masing-masing. Dengan gagahnya Andy berjalan menuju kursi paling ujung depan hingga sebuah suara kemudian mengagetkannya dari arah peserta perwakilan tender.


“Selamat pagi, Bapak Andy Hardiputra”


Andy melirik sekilas lalu terperanjat bukan main


"Hahhh! Anita?”


Sekian detik tubuh Andy mematung saat berpapasan dengan seorang wanita dengan pakaian kerja resmi dengan setelan blazer lengan panjang tertutup dan celana kain serta rambut yang tergerai bebas dan makeup super minimalis.


“Silahkan bapak Andy!”


Manager perusahaan sampai mengulurkan lengannya karena Andy tetiba mengerem langkahnya tepat di salah satu sisi peserta rapat dihadapannya.


Membuka pertemuan dengan para calon mitra kerjanya, Andy kini kembali ke mode serius, Anna yang pagi ini tampil memukau bersama sang ayah menunjukkan kemampuannya yang mumpuni di bidang bisnis dengan latar belakang pendidikannya yang tidak main-main.


Andy memperhatikan dengan serius satu persatu kandidat perusahaan yang akan memegang proyek tender di cabang perusahaan yang baru. tak ada senyum apalagi lirik kanan kiri, Andy benar-benar menjelma menjadi siluman menakutkan di ruangan ini.


Giliran perusahaan terakhir kini Ratih Susanto yang maju bersama salah satu rekannya mewakili salah satu anak perusahaan milik ayahnya yang tanpa malu berada dihadapan banyak orang setelah melakukan penghinaan terhadap Andy waktu itu di hadapan banyak orang pula.


“Hehh!” Andy menaikkan sudut bibirnya sinis dan membiarkan saja Ratih dan rekannya mengoceh menunjukkan kelebihan perusahaan mereka.


Andy membuka map folder berisi profil perusahaan itu lalu memberi tanda silang yang besar dengan pena di lembar hasil remark terhadap perusahaan mereka. Andy tak sudi punya urusan apapun dengan Ratih dan semua yang berbau keluarga Susanto.


Dilihatnya halaman berikutnya yang menampilkan profil Ratih dengan segudang prestasi akademiknya saat kuliah. Ada satu poin yang membuat Andy terusik.


“Tanggal lahir Ratih sama dengan hari lahir Anita?” Batin Andy lantas mengerutkan alisnya dan tak mendengar sama sekali paparan yang ditampilkan saat ini.


Andy nampak berpikir keras hingga wajahnya mengerut tak karuan. Pikirannya penuh dengan beberapa spekulasi. Diangkatnya wajah menoleh ke arah Ratih yang lantas tersenyum mencari perhatian padanya.


“Kamu ini Ratih apa Anita? Sialan! Aku bahkan hampir tidak bisa membedakan. Untuk apa juga dia berpenampilan sok polos seperti itu!” batin Andy kembali meracau.


Kedua kalinya Andy memberi tanda silang lebih besar ke lembar profil perusahaan itu lalu memberikannya pada sekretaris yang ada disampingnya. Andy mengangguk dengan kode yang langsung diketahui oleh sekretarisnya itu.


“Selanjutnya saya serahkan ke manajer operasional. Saya masih ada perlu!” perintah Andy kemudian memilih pergi bahkan sebelum Ratih menyelesaikan paparan dan mendapat tanggapan dari pucuk pimpinan.


Ratih nampak kecewa karena tinggal dirinya yang tidak sempat mendapat tanggapan apapun dan Andy pergi begitu saja. Sementara Anna yang masih duduk di deretan peserta rapat menyunggingkan senyum termanisnya saat Andy berjalan melewatinya. Gadis itu sampai mengerlingkan satu matanya pada Andy yang kebetulan juga melihatnya.


Kembali keruangannya, Andy sampai meminum air putih di atas meja dengan sekali tegukan, lalu membuang nafasnya dengan terengah. Sementara Jimmy mengatur sebuah layar monitor agar Andy masih bisa mengikuti lewat teleconference sisa meeting yang ia tinggalkan.


“Jimmy, cari tahu seluk-beluk keluarga Susanto, Dari mana mereka, dimana Ratih dilahirkan dan sebagainya”


Jimmy yang masih sibuk berkutat dengan sebuah laptop untuk mengatur sebuah tampilan itu nampak diam namun tengah berpikir.


“Mengapa? kamu juga punya pikiran yang sama juga?”


Jimmy mengangguk dan tak mengelak saat pertama kali melihat wajah Anita yang tak berdosa, dirinya juga hampir tak bisa membedakan kedua wanita itu jika sama-sama tidak mengenakan polesan apapun di wajah mereka.


“Anita pernah bilang kalau dia dibesarkan hanya oleh ibunya. Jangan-jangan di Susanto itu bapaknya” tebak Andy ngawur dan asal bunyi saja dengan bayangan yang ditarik sederhana olehnya.


“Tapi nama ayah nyonya bukan Victor Susanto saat akad nikah, Tuan Muda”


Andy menyandarkan punggungnya kemudian memainkan penanya berputar di sela jari-jarinya “Iya, Irvian Winata. Andy mengingat lagi nama ayah Anita yang ia ucapkan saat ijab Kabul waktu itu “ Apa ibunya Anita menikah lagi dengan orang ini?”


Bagaimana kelanjutan kisah ini?


Kira-kira misteri apa yang berasal dari Ratih dan Anita?


Nantikan di bab selanjutnya…….