
Hingga kemudian mereka berbalik badan dan akan kembali memasuki rumah dan terdengar suara.
“Bi Umi” Suara seseorang wanita memanggil Bi Umi refleks menoleh saat namanya dipanggil.
Bi Umi langsung membelalak “Nyonya?”
Wanita itu lantas memegang kedua pundak Anita yang kebingungan seolah sedang menjaga Anita dari sesuatu yang tidak diinginkan.
Yeni dengan senyum anggunnya kemudian berjalan mendekati Anita dan Bi Umi “Apa kabar, Bi?”
Anita yang mengingat betul wanita ini adalah ibu kandung Andy alias ibu mertuanya itu kini langsung melihat lebih dekat sosok wanita yang konon katanya menimbulkan kebencian mendalam di hati anaknya sendiri.
Yeni pun sudah bisa menebak bahwa wanita ini adalah istri anaknya yang belum dikenalkan padanya. Dia menyisir penampilan Anita yang sederhana.
Anita pun tersenyum dan mengangguk pada wanita itu.
“Ada apa, Nyonya?” Tanya Bi Umi waspada saat Yeni mendekati Anita.
“Kamu istrinya Andy?”
Anita tergagap dan mengangguk seadanya. Yeni pun berusaha meruntuhkan dan menurunkan semua egonya demi bisa kembali dekat dengan putranya.
Wanita itu mengulurkan tangan pada Anita yang melirik sekilas ke arah Bi Umi.
Melihat seorang ibu yang mengulurkan tangan padanya, tenggorokan Anita serasa tercekat.
“Saya Yeni Sasmita, mamanya Andy, Ibu Mertuamu”
Bibir Anita pun seketika bergetar melihat seorang ibu yang entah mengapa selalu membuatnya tidak bisa menolak.
Anita pun menyambut uluran tangan Yeni dan membawanya untuk dikecup. Anita rindu ibunya saat ini yang belum bisa dia peluk dan pegang tangannya, Tangan seorang ibu yang mengandung sejuta doa bagi anak-anaknya.
“Terima kasih, Nak, Siapa namamu?”
Belum juga Anita menjawab, ponsel Bi Umi yang ada di saku bajunya berdering, Rupanya Andy yang menghubunginya saat ini.
“Maaf, Nyonya Yeni, Saya harus membawa Nyonya muda naik. Tuan Muda sudah menghubungi saya”
Yeni pun mengangguk paham dan tidak memaksa, Ia tahu Andy masih menciptakan jurang yang begitu dalam pada hubungan mereka.
Bi Umi segera menggamit tangan Anita untuk berbalik pergi.
“Lain kali bawalah Andy menemuiku, Nak. Kita bicara banyak hal” pinta Anita dengan suara agak meninggi lalu Anita pun menoleh dan mengangguk yakin.
**
Sementara itu..
Derap langkah Andy yang lebar berjalan dengan pandangan lurus membawanya ke sebuah lorong rawat inap sebuah rumah sakit di Singapura.
Entah mengapa hawa mencekam langsung menyeruak, Andy memasang mata elangnya. Di lorong khusus kini Andy berada dan menunggu temu janji dengan seorang dokter.
“Apa? Mengapa tidak bisa?” pekiknya saat seorang tim medis melarangnya bertemu dengan Dewi yang kini dirawat di sebuah ruang isolasi khusus dengan peralatan canggih dan tidak diizinkan dikunjungi selain oleh tim medis sendiri.
“Ruang isolasi? Aneh sekali?” gumam Andy meski tak menemui kejanggalan dari hasil rekam medis yang ditunjukkan padanya namun prosedur ketat di rumah sakit ini seolah menjeratnya untuk tidak mendekat meski hanya dari luar ruangan.
Andy tidak putus asa. Dia berupaya menemui manajemen rumah sakit dan kalau perlu direkturnya sekalian untuk memastikan Dewi memang dirawat dengan baik ditempat ini.
“Ada permintaan tertulis dari pihak keluarga untuk ibu Dewi agar tidak dijenguk sampai proses pengobatan selesai”
Andy pun disodori salinan surat yang diketik rapi menunjukkan pernyataan bahwa Dewi tidak akan menerima kunjungan dan tetap berada di ruang rawat isolasi VVIP sampai semua proses penyembuhan dilaksanakan.
Meski saat itu ia tak tahu menahu soal pengobatan Ibu Anita di tempat ini, namun Andy hanya mengira itu adalah salah satu upaya Harlina untuk membujuk Anita supaya bisa tenang menjalani pernikahan dengannya.
Akhirnya Andy memaksa meminta waktu satu menit saja untuk melihat Dewi secara langsung. Penjagaan ketat langsung berduyung di belakangnya. Andy kembali menyipitkan matanya.
Di depan ruang isolasi yang beberapa jam lalu baru saja menjalani operasi itu juga melihat kearah Andy yang berdiri di luar kamar dengan melihatnya dari dinding kaca yang disingkap sebagian.
Andy lantas tersenyum dan mengangguk sekali setelah benar-benar memastikan wanita itu mendapat perawatan yang benar-benar tepat.
Malam sudah semakin pekat saat Anita merasakan tidur dengan resah dikamarnya. Tidak bisa bebas bergerak dengan sugesti yang tertanam bahwa ada sebuah kehidupan di dalam perutnya, Anita hanya berani tidur terlentang.
Sekian lama ia merasa resah dengan selimut yang sudah berada di bawah kakinya, wanita itu seperti ketagihan sosok yang menenangkan yang hadir di malam-malamnya belakangan ini.
Wanita itu sedikit memiringkan tubuhnya, mengelus perutnya yang masih rata lalu berbalik setengah miring ke kanan.
Di tengah keresahannya, kini ada sebuah tangan yang menggapai jemarinya lalu digenggam untuk diletakkan ke atas perutnya yang hangat.
Dan ajaib, Anita tak lagi menggerak-gerakan tubuhnya. Namun sesaat kemudian Anita membuka matanya lebar-lebar lalu terjingkat saat ada sosok manusia yang meringsek ke tempat tidurnya.
“Hahh! Siapa kamu!” pekik Anita lantas melempar tangan yang ada di atas perutnya dengan kasar, lalu memukulnya dengan guling.
“Awhh! Anita, kamu melempar tanganku keras sekali”
“Andy?”
Anita segera menyalakan lampu kamarnya yang semula temaram, Dan benar saja Andy yang masih mengenakan kemeja rapi itu kini ada di sampingnya.
Anita mengucek matanya untuk meyakinkan lagi bahwa ia tidak salah orang “Kok kamu ada di sini? Bukannya kamu…”
Anita bahkan menilai dirinya agak gila malam ini dengan nyawa yang masih belum terkumpul sepenuhnya.
“Aku sengaja pulang menemanimu sampai tertidur. Tidak boleh, ya? Baru semalam saja kamu sudah resah seperti tadi. Tidurlah, besok aku balik lagi dengan penerbangan paling pagi”
“Kamu tidak perlu bolak balik seperti itu, Aku tidak apa” Anita malah kini mendudukkan dirinya bersandar pada bantalan tinggi.
“Tidak apa-apanya! Buktinya aku lihat kamu tidak nyenyak sama sekali, Sudah tidur, aku tidak menerima protes"
**
“Andy, bangunlah! Penerbangan pagimu jam berapa?”
Anita yang sudah merasa engap karena semalaman tangan Andy bertumpu diatas perutnya itu merasa tak nyaman dan ingin membangunkan tubuhnya.
Anita menoleh ke arah Andy yang masih mendengkur kecil di sampingnya. Sedang telapak tangannya masih memberatkan perutnya saat ini, Wanita itu lantas mengangkat jemari Andy yang malah terasa berat.
Ditahannya telapak tangan itu ke udara. Anita membalikkan tangan itu lalu menyisirnya. Tangan yang pernah dengan keji digunakan untuk melukainya, kini berbalik fungsi jadi melindunginya.
Andy terbangun saat Anita mengangkat tangannya.
“Ada Apa?”
Anita yang terkaget lantas refleks meletakkan tangan Andy sembarangan “ Sudah pagi, pesawatmu jam berapa?”
…….
...Bagaimana kelanjutan ceritanya? ...
...Tetap dukung othor yah dengan mengikuti cerita di bab selanjutnya….salam hangat selalu...