
“Obat apa itu?” Batin Anita ketika melihat Andy menenggak pil penenang.
“Obat apa itu?” Tanya Anita tidak bisa membendung rasa penasaran meski ia berulang kali menasbihkan diri untuk masa bodo dengan semua yang dilakukan pria itu.
“Obat biar tidak mengigau. Nanti buat kamu tidak bisa tidur lagi”
Anita mengerutkan wajahnya melihat Andy yang kemudian mencoba memejam dengan posisi yang setengah miring di sofa.
‘Andy ketergantungan obat penenang?’ batin Anita meracau.
Sebagai orang yang terbiasa hidup sederhana meski banyak masalah. Anita bersyukur tidak sampai mengkonsumsi obat-obatan seperti itu dalam hidupnya.
“Dasar orang kaya, Kena sedikit masalah saja sudah aneh-aneh. Gimana jadi aku, kamu? Bisa bunuh diri!” batin Anita kembali membuatnya bersyukur tidak menjadi orang kaya yang melampiaskan masalah mereka ke hal yang merugikan.
Anita masih ditempatnya duduk tak berani bergerak apa lagi merebahkan diri. Bayangan Andy yang akan melakukan sesuatu padanya saat tidur kini tergambar buruk di benaknya. Lagi pula Anita merasa sangat tidak nyaman berada dalam satu kamar dengan pria itu, meski Anita bahkan sudah pernah menemaninya tidur di ruang depan beberapa hari yang lalu.
“Kenapa tidak tidur? Takut aku perkosa lagi?” Andy mendongak sesaat lalu kembali cuek menarik selimutnya,
Mendengar kata yang tak mengenakkan telinga, Anita makin membenci Andy yang sembarang bicara tak peduli bagaimana perasaannya.
Anita segera menurunkan dirinya dari tempat tidur namun Andy yang merasa Anita marah lantas menghadangnya.
“Mau apa!” ketus Anita benar-benar dengan nada paling sewot.
“Apa aku salah bicara?”
Pertanyaan Andy yang konyol sungguh membuat Anita mentertawakan dirinya sendiri saat ini.
“Kamu tuh benar-benar tidak ada perasaannya yah. kamu pikir aku tidak trauma mendengar kata itu? Kamu ini manusia apa bukan!”
“Sttt! oke,oke .Aku minta maaf. Kamu jangan keluar, aku harus jawab apa nanti ke oma?”
“Bukan urusanku!”
Anita menyingkirkan tubuh kekar Andy dari hadapannya lalu menerobos berjalan cepat ingin keluar kamar ini, Namun baru saja dia memegang handle pintu, Anita merasakan mual tiap kali emosi melanda kepalanya.
Membungkam mulutnya dan mengunci kerongkongannya, Anita berharap ia tak sampai memuntahkan isi perutnya, Ia benci muntah. Andy yang menyadari kekeliruan ucapannya kini membalikkan badan Anita menghadapnya lalu menarik dalam pelukan.
“Maaf, aku….tidak pernah berpikir kalau kejadian itu sangat melukaimu seperti ini, maaf”sesal Andy yang entah mengapa ikut sakit melihat Anita yang tersiksa dengan kehamilannya.
Berada di pelukan seorang lelaki dengan tubuh yang menutupi hampir seluruh tubuhnya kini membuat Anita menghangat. Bahkan saat ia bisa menurunkan tangannya,Anita bisa merasakan aroma tubuh Andy dengan sentuhan parfum maskulin yang masih menempel meski sudah malam.
Anita tidak menolak apalagi memberontak. Dua kali sudah saat serangan mual menghampirinya, Andy bahkan berhasil membuatnya lupa. Ada sebuah aroma yang membuat Anita melayang saat ini.
Entahlah, aroma itu masuk begitu saja melewati lubang hidung Anita yang membuatnya kemudian menghembuskan napasnya kasar.
Dan Anita masih dikamar yang sama malam ini. Ia terpaksa menarik selimut tebal berwarna abu tua itu sampai menutupi separuh wajahnya, Dan Andy sudah berjanji akan menjaganya jika ditengah malam nanti Anita tidak bisa tidur di tempat yang baru.
Meski bukan pertama kalinya berada dikamar ini, Anita yang mengawali tidur dengan kondisi sadar itu jelas masih mencoba mencerna agar otak dan badannya bisa sinkron malam ini.
Mendengar napas Andy yang sudah berderu teratur di sofa, Anita akhirnya lega lalu mensugesti dirinya untuk segera terbang ke alam mimpi.
“Eghh!”
Suara lenguhan Anita terdengar tipis ditelinga Andy yang kemudian terbangun ditengah malam dan melihat Anita seperti gelisah dalam tidurnya.
Anita menggeliat sampai menendang selimutnya. Seperti ada sesuatu yang tidak nyaman karena tangan kanannya memegangi perutnya yang terbuka.
“Hey, Anita. Kamu kenapa?”
Andy menundukkan tubuhnya menepuk pelan pipi Anita namun wanita itu tidak menyahut. Ia tetap gelisah lalu mengernyit seperti menahan sesuatu yang sakit ditubuhnya.
Dengan tangan gemetar Andy mencoba mengulurkan tangannya menumpangi tangan Anita yang memegang perutnya. Sesaat kemudian, Anita tak lagi menggeliat gelisah, terlebih lagi kini Andy menggeser telapak tangannya merasai perut bagian bawah Anita yang mengeras.
Andy mencoba mengangkat tangannya dan Anita kembali gelisah. Sebuah senyum tipis refleks tersungging dari sudut bibirnya yang merasa lucu dengan kondisi Anita saat ini.
Akhirnya Andy menggeser sebuah kursi kecil lalu duduk menghadap Anita dan meletakkan tangannya menumpuk tangan Anita di atas perutnya.
Dengan sentuhan dan elusan kecil kini Andy meletakkan kepalanya bertumpu pada satu lengannya dan mencoba tidur dengan posisi ini demi menjaga Anita tetap nyaman.
Pagi sudah menjelang saat Anita merasa ingin buang air kecil dan perutnya terasa berat. Anita mencoba menarik tangannya namun ada sesuatu yang mengganjal. Mencoba mengembalikan nyawa secara lengkap ke tubuhnya, Anita malah mendengar suara dengkuran yang berat.
“Andy!” pekik Anita kaget lantas membangunkan dirinya.
Andy yang refleks terbangun lalu menahan tubuh Anita agar tidak sembarang gerak “Hati-hati!”
“Ngapain kamu!” Anita membuang tangan Andy yang berada diperutnya lalu buru-buru menutup kembali baju tidurnya yang tersingkap.
“Kamu gelisah semalaman. Apa perutmu sakit? Aku hanya ingin membuatmu dan anak ini nyaman, itu saja, Tolong jangan salah paham!” ucap Andy dengan suara cepat lalu mengangkat tangannya yang menggeser kursi kecilnya.
Sementara Anita yang merasa canggung kini tidak tahu harus berbuat apa. Diliriknya Andy yang beranjak menuju pintu keluar. Tubuhnya berdesir setiap kali Andy melakukan perhatian kecil untuknya, Namun otak dan pikirannya seperti masih bertolak belakang.
“Terima kasih!”
Ucapan Anita menghentikan langkah Andy yang kemudian berbalik dan mengangguk singkat.
“Selamat pagi, Tuan Besar”
“Semalam, nyonya besar menginap di sini?” Hardianto dengan langkah besarnya memasuki dan menyapu pandangan di rumah Andy.
“Ada tuan, Saya panggilkan. silahkan duduk”
Setengah berlari Bi Umi menuju ke kamar Anita tempat Harlina semalam menginap di tempat ini.
Belum juga Bi Umi mengetuk pintu, Harlina sudah keluar dengan wajah masam melihat suaminya datang menjemput.
“Tunggu di situ, tidak usah duduk! Oma panggilkan Andy dulu”
Harlina dengan langkah anggun dan dagu terangkat kemudian menuju ke kamar cucunya.
“Andy, Anita, Oma mau pulang!”
Hardianto langsung memicing waspada saat istrinya memanggil nama Anita di sana.
Dan benar saja, Andy yang masih dengan pakaian tidurnya membuka pintu dengan Anita yang berdiri dibelakangnya. Harlina lantas tersenyum gembira melihat perkembangan hubungan keduanya.
“Kok buru-buru, Oma? Tidak sarapan dulu? Andy antar, ya?”
Bagaimana kelanjutan ceritanya?
Apa reaksi Hardi ketika mengetahui Anita telah satu kamar dengan Andy?
Nantikan di bab selanjutnya…