One Night Stand With Me

One Night Stand With Me
BAB 31



Anita pun cuek dan memanjangkan langkahnya menuju tempat yang akan ia tinggal dengan istilah menumpang secara cuma-cuma.


“Huufh!” Anita menghembuskan napasnya panjang saat ia sudah bisa merebahkan dirinya siang ini.


Hujan langsung mengguyur kota saat Anita bisa menikmati langit menggelap dari jendela kamarnya.


“Nyonya, mau dibawakan makan siang sekarang?”


“Lima belas menit lagi boleh? Saya mau rebahan sebentar, Bi. Nanti saya ke meja makan saja”


Bi Umi segera pergi saat Anita kini mencoba memejamkan mata setelah bergulat dengan emosi Andy yang sama sekali tidak masuk dalam nalarnya.


Namun bukannya tertidur, Anita kemudian malah membulatkan matanya lebar-lebar.


Bayangan siapa dan bagaimana sosok suaminya kini menari dalam pikirannya, Sejujurnya Anita tidak ingin tahu, tapi entah mengapa dirinya malah jadi kepikiran saat ini.


“Mengapa Andy sangat membenci ibunya? Memangnya kesalahan apa yang ibunya perbuat sampai Andy menolaknya seperti itu?”


Anita menggeleng cepat, ia tak ingin tahu, sungguh tak ingin tahu apapun, Apa yang diperbuat Andy, ia tidak peduli sama sekali. Anita kembali merapatkan kedua matanya agar berharap ia bisa segera menuju dunia mimpi. Namun sialnya, wajah Andy yang terus muncul secara kurang ajar bahkan saat ia memejam.


“Hahhh, sialan!” Anita sampai mengacak rambutnya sendiri karena terus kepikiran pria itu “Dasar pria gila! Arogan! Kejam!” umpat Anita uring-uringan sendiri hingga ia kemudian membangunkan tubuhnya lalu tanpa sadar mengelus perutnya.


“Amit-amit kamu ya, Nak. Nanti kalau sudah besar jangan kayak bapakmu!”


Anita yang sedang memakai sandal tidurnya akan berjalan ke kamar mandi tetiba menghentikan langkahnya. Tanpa ia sadari baru saja Anita tengah bicara pada calon anaknya. Apalagi dengan sebutan ‘Nak’ yang begitu dekat jika diartikan hubungan antara ibu dan anaknya.


Anita lantas membalikkan tubuhnya menghadap sebuah cermin panjang yang menempel di dinding kamarnya. DIlihatnya bayangan seorang gadis yang seharusnya kini masih bekerja membanting tulang mencari uang puluhan juta untuk pengobatan ibunya.


Namun kini, bayangan gadis itu menjelma menjadi seorang nyonya muda yang mau segala rupa pun ada. Nyonya muda yang tinggal menjaga sebuah makhluk bernama janin yang tumbuh di rahimnya.


Refleks Anita mengulurkan kedua lengannya memeluk perutnya sendiri. Sembari memiringkan posisinya, Anita sampai membuka baju atasannya namun belum menampakkan bentuk apapun diperutnya.


“Hamil? Benarkan aku hamil? Memangnya ada apa di sini?”


Anita menggeleng sendiri dengan kegilaannya berbicara sendiri di depan cermin. Toh ia juga tidak menginginkan apa lagi menyayangi anak yang di kandungnya.


Wanita itu akhirnya memilih keluar menemui Bi Umi yang sedang memanggang ikan di dapur.


“Makan di sini sama saya, Bi. Bi Umi tidak perlu memposisikan saya sebagai apa, Saya kan cuma numpang di sini”


Bi Umi akhirnya menurut dan menemani Anita menikmati makan siang di meja makan meski dirinya sendiri tidak makan apapun.


“Bi Umi masih berhutang penjelasan ke saya” ucap Anita seraya melirik ke arah bi Umi yang langsung murung.


“Nyonya ingin tahu soal yang mana?”


Anita mengedikkan bahunya, Sebenarnya dia sendiri juga masa bodoh, namun mengingat wajah Yeni yang tampak begitu nelangsa, Anita begitu ikut miris,


Wajah Dewi sang ibu langsung tergambar di matanya.


“Kalau Bi Umi tidak mau cerita juga tidak apa, toh tidak ada hubungannya dengan saya, Andy membenci orangtuanya juga apa urusan dengan saya”


“Tuan Andy tidak membenci orang tuanya!” ralat Bi Umi cepat hingga Anita mengangkat satu alisnya, “Tuan Muda hanya tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan rasa sayangnya ke Nyonya Yeni, itu saja”


“Kenapa bisa? Tinggal bilang aku sayang ibu saja, mudah kan?”


Bi Umi kembali murung “Sayang hubungan Tuan Muda dan orang tuanya tidak semudah itu, Nyonya”


“Andy broken home?”


“Lebih dari itu…”


Kediaman Keluarga Hardianto


“Andy!” panggil opa Hardi menyambut kedatangan cucunya yang sempat membuat dirinya sesak nafas kemarin.


Andy menoleh datar pada kakeknya.


“Kamu ada yang terluka?”


Andy kembali menggeleng tanpa bersuara


“Opa dengar Abraham itu sudah di penjara. Apa itu kamu, Nak?”


“Yang seharusnya ada dimana sudah berada di tempat semestinya” jawab Andy mengambang tapi langsung dimengerti oleh Hardianto yang kemudian menyunggingkan senyum kemenangan.


“Ini baru cucuku”


Andy kemudian berjalan lurus mencari keberadaan Harlina yang kabarnya belum mau menyentuh makanan sebelum melihat cucunya secara langsung.


“Oma….”


Andy segera membuka pintu kamar neneknya dan langsung disambut tangan tua Harlina yang terulur padanya.


“Andy, cucuku! Apa ini benar kamu, nak? Kamu tidak mati, kan?”


“Tidak oma, Tuhan masih sayang kita semua”


Harlina nampak pucat langsung menangis tersedu di pelukan cucunya “Oma mengapa tidak mau makan? Bukankan Jimmy sudah bilang Andy baik-baik saja?”


“Oma makan sekarang juga, Oma lega kamu pulang dalam keadaan utuh. Bagaimana nasib anak dan istrimu jika terjadi sesuatu, Andy?”


Jadilah kini Andy menunggui sang nenek sejenak dikamarnya, Sebagai cucu kesayangan dan satu-satunya, Andy pun mengakui keduanya sebagai orang tuanya.


“Andy, oma dengar kabar kalau om mu yang berbuat jahat, apa benar? Katakan itu tidak benar, Nak”


“Sayangnya itu benar!” sahut Opa Hardi yang muncul dari ambang pintu kamar.


Sedang Andy yang kini tertunduk tak bisa menjawab apapun demi tak ingin menyakiti hati oma tercintanya.


“Lihat kelakuan anak yang kamu bela setengah mati itu, Dia sudah membuat Lukman mati pelan-pelan, lalu sekarang akan membunuh Andy juga, Coba pikir semua ini demi apa?”


Hardianto yang berjalan tegas dengan tongkat kayunya itu kemudian mengambil duduk di sofa sudut kamarnya.


“Abraham tidak akan berbuat seperti itu kalau saja Opa memberikan apa yang menjadi haknya sejak dulu!”


Andy mulai memijit pelipisnya merasakan hawa panas yang kembali menyerang keluarganya.


“Hak apa! Dia sudah bukan anakku, Sampai mati dia tidak akan mendapatkan apapun, Mati saja dia dengan wanita itu!” ucap opa Hardi lebih ke mengutuk dengan pandangannya yang menggelap.


“Opaaaa…..”


Andy refleks menyahut saat tahu yang dimaksud wanita itu adalah sang ibu, Yeni. Wanita yang selepas suaminya meninggal lantas beralih ke adik iparnya sendiri lalu meninggalkan Andy kecil demi bisa bersama Abraham hingga kini.


Meski hubungannya dengan sang ibu sedang tidak baik, namun mendengar Yeni di jelekkan oleh Hardianto, hati kecil Andy tetap merasa tidak terima, Bagaimanapun ia tetaplah seorang anak yang atas hubungan darahnya terikat dengan Yeni.


“Pokoknya apa yang terjadi tetap bermuara pada opa!” Harlina kembali meninggi dan menyalahkan suaminya “Punya anak dua saja selalu dibedakan! Jadi apa salah kalau Abraham hanya menuntut hak yang sama dengan Lukman?” Wanita tua itu kembali memutar memori puluhan tahun yang menyakitkan di depan suaminya.


Bagaimana kelanjutan ceritanya?


Nantikan di bab selanjutnya…stay tuned