
Dengan sekali anggukan istrinya, Hardianto dengan tubuh tuanya berjalan pelan menghampiri istrinya lalu mengikuti menuju kamar mereka yang terletak di lantai satu rumah mewah dengan banyak asisten itu.
“Apa lagi? sudah mau akad mulai masih ngajak berunding”
Harlina jelas menghela nafasnya besar “Pernikahan macam apa ini? Kok seperti mainan saja? Tidak ada satupun tamu yang diundang. Opa ini niat menikahkan cucu kita atau hanya menghibur oma?”
Wanita itu sudah mengangkat dagunya saat mengeluarkan jurus cerewetnya meski usia sudah tidak muda lagi namun semangat mengomel masih menyala.
Hardi sampai geleng kepala merasakan kekesalan istrinya “Opa masih menjaga perasaan Andy, Oma. Dia masih belum bisa mencerna apa dan bagaimana pernikahan itu. Hal ini terjadi begitu mendadak dan opa tahu Andy belum siap”
“Hehh!” Bibir Harlina sampai mencebik sewot “Itu hanya karena Andy menikahi Anita kan? Coba kalau yang dinikahi Andy itu Claire, pasti beda ceritanya. Justru opa yang tidak siap dengan pernikahan ini”
Jlebb!
Hardi mengangkat salah satu alisnya memuji kepiawaian istrinya ini dalam menebak pikirannya yang selalu tepat sasaran. Namun bukan Hardianto kalau tidak bisa berkilah atas nama apapun untuk menutupi rencana terselubungnya.
“Omaa….Oma,Bukannya senang kalau begini. Coba saja kalau kita mengadakan acara besar-besaran. Oma mau si Yeni tidak tahu diri akan datang ke sini dengan alasan anaknya menikah. hemm?”
Harlina menggoyang kepalanya seraya melirik masih sewot ke suaminya “Gak, sih! oma tidak mau melihat dia lagi, bahkan dengan alasan Andy menikah” jawab Harlina kemudian kesal bercampur sedih
“Nah!” Hardi mengetuk pangkal tongkatnya ke permukaan lantai. “Biar saja dia seumur hidup tidak usah tahu kalau Andy menikah. lagipula kalau si Yeni itu ke sini, pasti Abraham juga nongol di belakangnya. Anak yang tidak tahu diuntung itu lagi-lagi membuat onar. Opa sudah tidak ingin melihat wajahnya lagi”
Harlina yang tadinya berdiri kesal ini menghampiri suaminya dan duduk disebelahnya “Opa jangan terlalu keras, Biar bagaimana Abraham juga anak kita”
“Anak yang sukanya menggerogoti orang tuanya? Anak yang tega menyakiti kakak kandungnya sendiri sampai mati?”
Harlina diam tak berkutik dengan suara suaminya yang meninggi mengungkit kelakuan anak bungsu mereka. Kenangan soal pria itu memang bisa di bilang catatan buruk bagi keluarga Hardianto yang sangat menjunjung kehormatan mereka.
“Ya sudah. Oma mau menemui Andy. Opa segera ke depan” Harlina bangkit lalu berjalan cepat menuju kamar cucunya.
Sementara Hardi kini menyunggingkan senyum tipis penuh kelicikan dan kemenangan karena Harlina sudah berhenti mengkonfrontasi nya.
Di dalam kamar Andy saat ini, Harlina menghampiri pria yang sedari tadi hanya berdiri memandangi kaca jendela kaca kamarnya yang mengarah langsung ke halaman samping tempat ia akan menikah hari ini.
“Andy, sayang. mengapa masih berdiri melamun. Sini, oma bantu pakai jas”
Dengan sukacita karena cucunya sudah mau menikah. Harlina membentangkan tepian keras jas ke arah cucunya yang berbalik badan dan memandang lekat ke arahnya.
“Oma sudah baikkan hari ini?”
“Sangat baik! Terima kasih ya, Andy, kamu memang pria sejati. berani berbuat, harus berani bertanggungjawab” ucap Harlina dengan senyum teduh khas seorang ibu. Andy memanjangkan lengannya memakai jas putih dengan bantuan sang nenek hingga wanita itu kemudian menepuk pelan dada bidang cucunya.
“Sangat tampan” Harlina mengecup singkat dahi Andy yang sangat tinggi itu sampai ia harus menarik bagian kepala Andy untuk menunduk didepannya.
Meski pernikahan ini tidak dilandaskan atas dasar cinta, namun memperhatikan kesehatan neneknya yang sampai memohon kepadanya, Andy akhirnya luluh,
Andy mengangguk dengan sekali matanya memejam singkat. Sugesti demi sugesti dilancarkan Harlina dengan lembut pada cucunya yang memiliki trauma luar biasa dengan istilah pernikahan dalam hidupnya.
“Bagaimana kalau ditengah jalan nanti Andy tidak kuat?”
Harlina mengerutkan wajahnya “Tidak kuat kenapa? Oma akan selalu ada untuk kalian. Kamu akan segera menjadi seorang suami sekaligus ayah, Andy. Kebahagiaan keluarga ada di sini sekarang”
Harlina menepuk kedua pundak cucunya untuk menunjukkan tempat dimana Anita menggantungkan hidup padanya mulai hari ini “Jangan pernah berpikir mengakhiri pernikahan meski dengan alasan apapun”
“Tapi Andy tidak mencintai dia, oma” Kilah Andy masih berusaha mencerna dengan logikanya, bahwa hal yang selama ini ia benci dan tak ingin dipercayai kini malah akan ia lakukan hari ini juga.
“Cinta bisa tumbuh saat kalian sering bersama , Nak. Percaya sama oma, Anita itu gadis yang baik, bahagiakan dia”
Sementara itu di sisi lain, Anita yang mengenakan gaun putih itu sudah duduk siap di kursi akad nikah, ia menolak saat tim make up artis akan mendandaninya dengan riasan khas pengantin dengan alasan aroma wangi apapun membuatnya mual saat ini. Akhirnya Anita hanya bertabur riasan natural dan flawless saja hari ini.
Padahal didalam hatinya ia tidak ingin dan tidak sudi bersanding dengan Andy saat ini. Tujuannya hanya sekedar menikah demi terjaminnya ibu di negeri singa sana.
Hardianto kini menghampiri Anita yang nampak gemetar. Meski sudah berusia lanjut, namun aura Hardi begitu mengintimidasinya.
“Tetap anggap pernikahan ini tidak nyata. jangan coba memanfaatkan Andy karena kalian hanya suami istri di atas kertas. Segala yang kamu lakukan nantinya tetap ada di bawah kendaliku. Sekali saja kamu berbuat kesalahan dengan bayi itu, maka ibumu yang akan jadi taruhannya”
Dengan suara dingin dan menusuk perasaannya, Hardi begitu dalam menancapkan senjata tajam ke jiwa Anita saat ini. Namun gadis itu hanya diam dan bergeming. Satu-satunya hal yang ada di pikirannya saat ini adalah ibunya yang akan sembuh dan mereka akan hidup bahagia nantinya. Ya, nanti setelah Anita memberikan anak yang dikandungnya pada keluarga Andy.
Tak lama Andy yang mengenakan setelan jas serba putih turun denga digandeng Harlina dan Hardi yang sudah duduk ditempatnya sebagai pihak saksi mempelai pria.
Melihat Anita yang tertunduk dengan tampilan ala mempelai, Andy refleks menyapukan pandangannya lalu tertegun, dan sejurus kemudian berpaling.
Harlina menjadi satu-satunya orang yang bahagia di pernikahan ini lantas mengulurkan jarinya menjepit dagu Anita untuk diangkat dan tidak menunduk lagi.
Sebuah senyum meneduhkan dan sekali anggukan ditunjukkan wanita itu untuk memberi kekuatan pada Anita saat ini.
“Saya terima nikahnya Anita Celine binti Irvian Tanjung, dengan mas kawin tersebut, TUNAI!”
Dengan satu tarikan nafas Andy mengucapkan ijab Kabul tanpa salah dan sangat lantang.
“Bagaimana saksi?”
Bagaimana kelanjutan cerita ini?
Kira-kira apakah pernikahan antara Andy dan Anita sah menurut saksi?
Nantikan di bab selanjutnya…stay tuned