One Night Stand With Me

One Night Stand With Me
BAB 59



“Selamat sore, Ibu Anita Hardiputra, Perkenalkan saya Savana Manajer Program Akademi Esmode, Silahkan saya ajak berkeliling”


Anita mendongak kearah suaminya yang kemudian mengangguk saat Anita lantas menurut untuk diajak berkeliling ke beberapa ruangan di gedung ini.


“Emm, maaf, Bu Savana. Panggil saya Anita saja. Tidak perlu embel-embel nama lainnya, Saya ingin jadi diri saya sendiri di sini?”


“Baik. tidak masalah”


Anita benar-benar terasa masuk ke dunia yang selama ini diidamkannya. Sekolah mode ini adalah impiannya yang hanya mampu kuliah di jurusan seni rupa.


Puas berkeliling, Anita sudah tidak sabar menanti hari esok. Ia belum pernah sesenang ini selama setelah menikah. Entah ia harus membayar dengan apa saat masa depan akan merenggutnya tiba-tiba.


Bahkan Anita sampai ketiduran saat perjalanan pulang karena kelelahan berkeliling. Sesampainya dikediaman mereka, Anita masih terlelap dengan posisi kepala sampai miring ke kiri. Andy yang sudah menghentikan kendaraan dengan sempurna di parkir kini memandang Anita dengan lekat.


“Kenapa kamu masih menutup diri, Anita? Padahal aku sudah berusaha membuatmu senyaman mungkin” ucap Andy seakan tak berhenti dihantui penyesalan atas gadis yang kini berada di sisinya sebagai seorang istri yang masih belum sepenuhnya menganggap pernikahan mereka ini nyata.


Kini Anita sudah melayang dalam gendongan Andy menuju rumah mereka. Andy yang kesulitan membuka kunci pintu membuat Anita akhirnya terbangun dan menyadari aroma tubuh Andy yang mengusik indra penciumannya.


“Awhh! Turunkan aku!”


Anita langsung memerosotkan dirinya lalu berdiri canggung sambil mengumpulkan nyawanya.


Mengingat Andy yang memeluknya dengan ganas tadi sore, Anita jadi salah tingkah lalu berjalan cepat menuju kamarnya dan langsung menutup pintu sebelum Andy mengikutinya masuk ke kamar ini.


Anita menyadarkan punggungnya ke pintu dengan deruan napas yang menderu hebat. Berkali-kali dibuat melayang dengan perlakuan Andy padanya, Anita sadar ia telah salah.


Waktu sudah malam saat Anita yang sudah mandi dan berada di tempat tidurnya kini tertunduk dengan posisi kedua kakinya tertekuk. Beberapa kali mencoba menghubungi sang ibu, Anita belum juga mendapat jawaban.


Bahkan saat Jimmy memberi nomor salah seorang perawat ibunya, Anita juga belum mendapat kabar apapun.


“Ibu, Anita kangen, Bu” lirih Anita begitu merasa sendiri saat jauh dari sang ibu.


Masih menggenggam ponselnya, Anita menenggelamkan kepala di antara kedua kakinya. Rasa khawatir langsung membuncah saat ia tak bisa melihat dan mengetahui kondisi ibunya secara langsung.


Betapa tujuan hidupnya kini tercurah hanya demi kesembuhan sang ibu meski Anita harus sedikit mengingkari apa yang harusnya tidak ia lakukan saat ini.


“Anita, kenapa?” Tanya Andy cemas begitu memasuki kamar Anita dan mendapati istrinya menunduk seperti itu.


Anita langsung membuang pandangan lalu mengusap wajahnya, Andy menangkap tangan Anita yang akan kembali menutupi wajahnya.


“Kamu menangis, Anita? Ada apa?”


Anita hanya menggeleng kecil lalu memilih menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur. Ia sadar bahwa ia tidak akan bisa melarikan diri dari seorang Andy yang kini intens mendekatinya.


“Katakan, ada apa? Apa aku menyakitimu lagi?”


Anita kembali menggeleng saat Andy kini mendesakkan tubuh ke sampingnya, Ada sebuah desiran halus yang selalu datang tiap kali Anita merasai aroma tubuh Andy yang memabukkan.


“Aku hanya kangen ibuku” jawab Anita akhirnya mau mengaku.


“Ibumu di sana baik saja, Anita. Aku kan sudah cek langsung ke sana”


Anita memutar tubuhnya menghadap Andy yang mengulurkan tangan ke perutnya dan Anita tak menampik sentuhan itu.


“Ke Singapura? Kapan? Kamu tidak bilang apapun. Kenapa aku tidak tahu? Aku kan juga—“


“Sstt! Kandunganmu masih rawan. Lain kali aku ajak ke sana” bujuk Andy hingga membuat Anita mendesah kecewa karena kehamilannya ini membuat Anita tak leluasa berbuat apapun.


“Bagaimana kondisi ibuku di sana?” Tanya Anita lirih lalu merebahkan dirinya masih di posisi ternyaman dengan punggung yang lebih tinggi.


“Aku hidup hanya demi ibuku, Andy. Hanya ibu! Aku tidak punya yang lainnya”


Andy pun hanya mengangguk tanpa mengganggunya meski ia ingin sekali mengingatkan wanita itu bahwa ia masih punya suami dan calon anak yang bahkan Andy sendiri belum pernah melihat Anita mengelus perutnya.


“Kalau…soal ayahmu. Dulu bagaimana dia pergi, Anita?”


Anita hanya mengendikkan bahunya cuek “Ayahku pergi lama sekali, Aku bahkan tidak bisa mengingat wajahnya, merasakan gendongannya, Hehh! Bayi umur delapan bulan bisa apa”


Anita sampai mengangkat sudut bibirnya untuk mentertawai nasibnya sendiri “Tapi kata ibu, ayahku orang yang baik, Mana ada orang baik yang menelantarkan anak dan istrinya”


“Dan ibumu memintamu untuk mencari beliau?”


“Aku sudah mencari, tapi mencari kemana juga, Kota ini begitu luas, Kalaupun seumur hidup aku tidak bertemu dengannya lagi…aku ikhlas. Yang terpenting aku masih bisa bersama ibu”


“Apa kamu membenci ayahmu, Anita?”


“Sudah aku bilang aku mengikhlaskan semuanya, Andy”


“Hatimu begitu luas, Anita. Andai aku bisa sepertimu” Andy pun mengelus perut Anita dengan pandangan menerawang “Nasib kita hampir sama”


“Tidak!” tampik Anita dengan tegas. “Kamu masih bisa memeluk dan mencium ibumu kalau kamu mau. Kamu saja yang masih pendendam!”


Andy pun mengakuinya. Sama-sama saling menceritakan masa lalu mereka membuat mereka semakin dekat. Bahkan saat Andy menyandarkan kepalanya ke lengan istrinya, Anita nampaknya tidak merasakan apalagi menampiknya.


“Menurutmu, apa yang harus aku lakukan pada mama, Anita?”


“Temui saja, beres kan. Toh beliau juga sudah berusaha menemuimu di sini”


“Disini?” Andy langsung menegakkan duduknya “Mama ke sini? Kapan? Kok kamu tidak bilang?” giliran Andy yang mencecar istrinya.


“Dua hari yang lalu. Aku bertemu mama di luar. Dia mencarimu”


“Kalian bicara apa saja? Dia tidak macam-macam,kan?”


Anita jelas mendelik heran pada suaminya yang bereaksi terlalu berlebihan “Kamu ini kenapa sih? Beliau memintaku membawamu bersamaku, itu saja”


Mengingat sang ibu, entah mengapa perasaan Andy selalu sakit, Sampai kini ia mendekap tubuh Anita dan meletakkan kepalanya bersandar ke pundak istrinya.


Namun, Anita kini jelas mendorong tubuh Andy yang membuatnya sesak nafas “Geser sedikit, andy. Aku mau tidur, Jangan mendekapku seperti ini” pinta Anita sambil berusaha mengeluarkan tangannya dari dekapan Andy yang malah mengeratkan pelukannya.


Sambi memejam kini Andy bahkan merasai aroma tubuh Anita di area belakang lehernya sampai Anita harus merasa kegelian.


“Anita, boleh aku minta izin?”


Anita tak menjawab, ia sibuk menyingkirkan tubuh Andy yang memeluk raganya.


“Anita, sampai kapan hubungan kita akan sebatas ini? Kamu terus menghindariku”


“Andy, tolong!”


“Aku mohon Anita, bolehkah…?”


“Aku tidak bisa, Andy!” Anita sampai membuang napasnya kasar merasakan hembusan napas Andy yang meniup sekitar telinganya.


...Bagaimana kelanjutan ceritanya?...


...Nantikan di bab selanjutnya…tetap dukung othor yah..salam hangat selalu...