
Jimmy bahkan sampai melirik heran ke arah Andy yang sampai geleng kepala mengingat keluguan istrinya.
Andy tiba di bandara sambil terus memegang kotak bekal yang belum dia buka. Bahkan sampai berada di dalam pesawat yang akan membawanya ke kota tujuan, Andy baru ingat dan membuka bekal itu.
Sebuah roti bakar dengan selai kacang dan meises kini ditimangnya dengan sudut bibir yang terangkat. Digigitnya sepotong lalu memasukkan sisanya hingga mulut Andy kini kepenuhan.
“Ada laporan apa, Jimmy?” Tanya Andy kemudian baru bisa memulai agendanya hari ini setelah memakan semua sarapannya hingga habis.
“Ada proses pelimpahan asset milik tuan besar”
“Pemindahan asset? Untuk apa?
“Masih belum jelas, Tapi ada satu hal yang terlihat menurut saya aneh”
Andy lantas kembali ke mode serius.
“Tuan besar mengalihkan hampir semua asetnya atas nama nyonya Anita Celine”
Degh!
“Apa? Atas nama Anita?” Andy sampai memutar bola matanya tak paham “Siasat apa lagi ini?”
“Ada apa ini sebenarnya?”
Tiba-tiba perasaan Andy makin tidak karuan . Membayangkan siapa dan dimana ayah kandung Anita saja sudah membuatnya pusing. Tak satupun data tersisa dari pria bernama Irvian Winata.
Kalaupun ia pergi meninggalkan Anita kecil dan ibunya, harusnya jejak apapun itu masih bisa tersisa meski hanya sedikit.
“Mengapa tiba-tiba Opa memberikan semuanya untuk Anita. Memangnya apa yang Anita berikan? Tidak masuk akal!”
Andy segera menepuk jidatnya dengan langkah opa Hardi yang baru diketahuinya setelah sudah hampir melalui proses pengesahan di pengadilan.
“Apa opa masih punya musuh bisnis, Jimmy?”
“Akan kami selidiki, Tuan Muda”
“Kalau memang ada, berarti Anita bisa dalam bahaya. Dia tidak tahu apa-apa bisa jadi target sasaran orang-orang yang tidak menyenangi opa”
Jimmy yang setia mendampingi Andy kemanapun berada kini mencatat beberapa hal yang akan segera dilakukan ketika sampai di kota tujuan.
Andy pun tiba di lokasi proyek pembangunan manufaktur otomotif dengan tanpa istirahat terlebih dahulu di hotel yang sudah disewa khusus di kota ini selama proyek berlangsung.
“Hai, Mr Andy. Akhirnya tiba juga, Apa perjalanan ke sini ditempuh selama satu hari?”
Anna yang menjadi pemimpin utama proyek ini langsung menghampiri Andy yang menjadi mitra kerjanya.
“Bagaimana? Semua masih terkendali?”
“Lancar, Andy” Anna yang berpenampilan super meyakinkan dengan style pakaian lapangan lengkap dengan helm dan sepatu boots tinggi itu kini mendekati Andy yang berkacak pinggang dengan gagahnya.
“Bagus, setelah ini ada tim supervisor yang akan menetap dikota ini”
Anna lantas mengerutkan keningnya lalu menatap Andy yang tengah serius dan angkuh seperti biasanya.
“Tim supervisi? Termasuk kamu?”
“Tidak!” jawab Andy tegas hingga membuat Anna berjalan mendekatinya kali ini.
“Terburu sekali, Opa Hardi bilang kamu akan stay di sini selama proyek berlangsung. Apa kamu tidak betah di sini,Andy?” Anna lantas mendekat dan mendongak kearah Andy yang jauh lebih tinggi darinya.
“Aku ini pucuk pimpinan, Anna. Fokusku tidak hanya di tempat ini”
“Boleh aku kecewa, Andy? Aku pikir kita akan bertemu setiap hari di sini” ucap gadis cantik yang kemudian tanpa malu menempelkan jarinya ke dada Andy yang lalu meliriknya aneh.
“Bertemu juga untuk apa? Kalau ada urusan bisnis langsung saja ke tim supervisi nantinya”
“Kalau…aku maunya dengan kamu?” imbuh Anna dengan nada bicara yang menggoda. Tak dipungkiri, penampilan gadis itu hampir sempurna dan tanpa cela.
Lelaki mana yang sanggup menolak aroma tubuh Anna yang begitu menyeruak. Belum lagi wajahnya yang begitu cantik dengan polesan makeup yang memukau. Hampir sebelas dua belas dengan Claire yang malah berhasil mendekati Andy dulu.
“So?”
Andy memundurkan langkahnya sekali lalu memilih berbalik tanpa menyentuh tangan gadis itu yang menempel di dadanya.
“Hehh! Jual mahal!”
Sore hari menjelang malam, Andy sudah bersiap kembali pulang. Pria itu berjalan cepat sambil mendengar laporan dari Jimmy terkait beberapa hal di kota asal yang terpaksa harus dia tinggal sementara waktu karena mengurus proyek baru ini.
Di Lobby hotel tempatnya rehat tanpa menginap, Andy yang masih sibuk melakukan panggilan telepon sana sini itu dikejutkan dengan sebuah sentuhan lembut di punggungnya.
Andy lantas membalikkan tubuhnya saat melihat Anna sudah menyandarkan tubuhnya “Aku ikut kembali ke kota yah, Ada hal mendadak. Boleh, ya , Andy?”
Walhasil, Anna kini sudah duduk manis di kabin pesawat bersama Andy yang masih bersikap dingin padanya.
“Andy, kamu pulang kemana malam ini?”
“Tentu saja di rumahku sendiri, Anna” jawab Andy masih berusaha ramah mengingat gadis itu adalah rekan kerja sekaligus adik almamaternya dulu.
“Bersama istrimu yang kemarin?”
“Tepat sekali”
“Sampai kapan?” cecar Anna dengan posisi duduknya yang begitu Anggun berkelas namun juga menggoda. Jimmy saja sampai berulang kali menelan ludah melihat begitu sempurna makhluk bernama Anna ini sebagai wanita.
“Maksud kamu sampai kapan?”
Andy mulai menyipitkan mata lalu mengangkat dagunya pada Anna yang harusnya sebagai pria normal, Andy saat ini sudah tergoda.
“Bukannya pernikahan kamu hanya sementara, Andy?”
Degh!
Andy menghentikan sementara kesibukannya mengerjakan laporan dari asistennya. Jimmy pun tak kalah terbelalak.
Andy lantas ,menunjukkan seringai wajahnya yang kurang bersahabat meski sebelumnya mereka jadi akrab hanya karena pernah kuliah di tempat yang sama dengan angkatan yang sangat jauh.
“Kata siapa! Kamu dapat ucapan dari mana, hemm?”
**
Andy sampai di kediamannya di waktu hampir tengah malam. Ia melirik jam tangannya sudah menunjukkan jam setengah dua belas malam, Sambil menggosok tengkuknya, Andy membuka pintu rumah dengan menekan kombinasi angka lalu menempelkan sidik jarinya.
Jglekk!
“Sudah pulang”
“Hahh!” Andy terperanjat bukan main saat melihat siluet tubuh mungil yang menyambutnya dari balik pintu. “Anita!”
“Kenapa kaget?” Anita malah mendelik bingung saat Andy malah seperti melihat hantu saja.
“Kenapa belum tidur? Sudah jam berapa ini?” Antara senang dan tentu saja terkejut bahwa Anita malah menungguinya pulang seperti ini.
Daripada nanti aku yang kaget seperti semalam” Anita langsung berbalik badan lalu memasuki kamarnya tanpa bicara apapun lagi.
“Kamu sengaja menungguku, Anita?” Andy kini mengikuti langkah istrinya yang memasuki kamar lalu menguap letih.
“Tidak juga! Kenapa pulang? Kalau kamu nanti terlalu lelah, gimana? Toh aku juga tidak akan kemana-mana. Lagipula kamu justru membuatku takut kalau tetiba muncul, Kalau ada orang jahat atau pencuri yang masuk ke sini juga bagaimana? Setidaknya beritahu dulu kalau akan pulang”
Panjang lebar Anita mengoceh lalu menyingkap selimut dan Andy yang merasa besar kepala karena ditungguin itu membalikkan tubuh Anita menghadapnya.
…….
...Bagaimana kelanjutan ceritanya? ...
...Tetap dukung othor yah dengan mengikuti cerita di bab selanjutnya….salam hangat selalu...