
Pria itu sudah memukul tengkuk Andy hingga ia tak sadarkan diri, Andy pun terjatuh pingsan di lantai toilet. Pria itu dengan segera menangkap tubuh Andy.
“Masukkan ke sana, cepat!”
Beberapa pria membawa tubuh Andy yang lunglai ke dalam kamar hotel dengan kaki terseret lalu membantingnya ke atas tempat tidur,
“Sudah sana pergi!”
Seorang gadis memberikan uang tip ke mereka lalu menutup pintu dengan keras, Dilihatnya raga Andy yang tak sadarkan diri terlentang menggoda,
“Akhirnya aku kembali mendapatkan mu, Andy”
Tanpa membuang waktu, Anna langsung membuka kancing kemeja Andy hingga menyembulkan gurat otot perut yang dirindukannya selama ini, Gadis tu meletakkan ke dua telapak tangannya ke dada bidang Andy lalu menghirup aroma parfum Andy yang sungguh menggoda.
“I miss you Andy, Really miss you” desah Anna menumpukkan tubuhnya ke atas raga Andy tak peduli aroma alkohol masih menyeruak dari tubuh Andy yang setengah mabuk.
“Mengapa kamu meninggalkanku begitu saja hanya demi wanita lain? Kamu bahkan menikahinya, Apa dia melayanimu sebaik aku, Andy?” Anna pun tak kalah melepaskan pakaian atasnya.
“Kalau dia bisa hamil karenamu, kenapa aku tidak, Andy, bangunlah, sayang”
Anna menampar pipi Andy dengan keras lalu beringsut melonggarkan ikat pinggang pria yang masih terkapar itu lalu membuka kancing dan resleting celana panjangnya, Dengan napas menderu hebat, Anna yang bahkan hanya menyerahkan dirinya untuk Andy seorang itu kini sudah tidak sabar bermain bersama pria itu.
“Andy, bangunlah, Lihat aku!” Dengan ganasnya, Anna kini mencium raga Andy yang memukau hingga sebuah sentuhan di area sensitifnya kini membangunkan Andy yang lantas mendesis kesakitan.
“Shh!” Andy merabai tengkuknya yang sakit saat Anna tengah memberikan stimulasi untuknya. Merasakan ada yang berat ditubuhnya, Andy lantas mengangkat kepalanya.
Dilihatnya Anna sudah hampir telanjang tengah menggodanya.
“Anna? Ngapain kamu?”
“Aku merindukanmu, Andy, Aku tidak bisa kamu abaikan. Mari kita bermain lagi” pinta Anna dengan suara yang menggoda sementara Andy yang berupaya bangun tapi kepalanya seperti membawa beban ratusan kilo.
“Shhh! Awas Anna. Aku tidak ingin bermain, Carilah pria lain” Andy masih mengernyit merasakan kepalanya yang sangat berat akibat terpukul sesuatu di area tengkuknya tadi.
“Tidak, malam ini kita harus berhasil. Aku juga bisa hamil seperti istrimu itu!”
“Anna, awas! Aku terkena hepatitis, kamu mau aku tulari?”
Degh!
Seperti ada tombol pause yang menghentikan gerakannya, Anna yang bahkan sudah siap dihamili oleh Andy itu mendongak tak percaya,
“A-apa? He-Hepatitis? Ba-bagaimana bisa? kamu pasti berbohong? Sialan kamu, Andy”
Antara bingung dan takut, Anna lantas berdiri dan merasakan perutnya yang tetiba mual membayangkan terkena sebuah penyakit yang menjijikan, Anna malah berteriak histeris.
Bruuakk!
Pintu kamar hotel terdobrak dari luar saat Anna masih dalam posisi terduduk itu diatas tubuh Andy, Gadis itu sontak menoleh.
“Tuan Muda!”
“Jimmy! Kamu!” desau Anna tak percaya bahwa Jimmy datang tetiba mengganggu dan mendobrak paksa pintu kamar itu.
“Nona Anna, tolong menyingkir!”
**
“Tuan Muda, Anda benar tidak apa? Kita ke rumah sakit dulu, bagaimana?”
Andy menggeleng cepat seraya memijat pangkal hidungnya “Tidak usah, kita langsung pulang saja. Sudah malam, Anita pasti menungguku”
“Tapi kondisi anda…”
Jimmy mengangguk lalu menepikan kendaraan memasuki sebuah minimarket yang buka di tengah malam, Sementara Andy memilih turun lalu duduk di tepian jalan untuk meraup oksigen sepuasnya.
Perutnya sudah terasa tidak enak sejak tadi, Jimmy lalu datang memberinya satu kaleng susu siap minum dan Andy pun meminumnya hingga habis.
Menunggu beberapa saat. Andy pun merasakan perutnya mual lalu segera memuntahkan isi perutnya ke tepian jalan raya.
Jimmy segera memberinya air mineral dalam botol yang digunakan Andy untuk mengguyur wajah dan sebagian rambutnya.
“Ambilkan baju gantiku!” perintah Andy yang segera dipahami Jimmy yang kemudian mengambil kaos dari dalam mobil.
Setelah merasa tubuhnya lebih ringan, Andy meminta Jimmy segera membawanya pulang.
“Kamu tahu darimana aku ada dikamar itu?” Tanya Andy pada asistennya yang serba bisa
“Nomor Tuan Muda kan terhubung ke ponsel saya”
Saking pusingnya, Andy sampai lupa bahwa Jimmy selalu tahu dimana letak posisinya dengan mengandalkan aplikasi yang menghubungkan letak linimasa dirinya yang terhubung dengan ponsel Jimmy selama dua puluh empat jam.
“Kalau begitu hubungkan sekalian nomor Anita ke ponselmu, Jangan lupa ke ponselku juga”
“Baik Tuan Muda”
“Lebih cepat sedikit, Jimmy” pintanya saat jam tangannya sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
Membayangkan Anita yang tidak bisa tidur tanpanya, Andy pun gelisah dan mengutuk dirinya sendiri yang begitu ceroboh sampai Anna berhasil hampir mendapatkannya lagi.
Dan benar saja, saat Andy membuka pintu rumah, Anita sudah berdiri menyambutnya dengan pakaian piyama panjang,
“Anita, kenapa tidak tidur?”
Andy yang terkejut Anita berdiri dengan tatapan datar itu kini mendekatinya, Namun Anita memundurkan langkahnya karena aroma alkohol menguar dari tubuh suaminya, Anita melihat Jimmy yang mengantar Andy sampai depan pintu lantas mengangguk dan undur diri.
“Sudah sampai dengan selamat, Aku tidur” ucap Anita datar hingga membuat Andy jadi tak enak hati,
Merasakan aroma yang tidak enak, Andy lantas pergi menahan lengan Anita yang akan berbalik pergi.
“Anita, katakan kamu ada apa?”
“Tidurlah, sudah larut, Aku tadi bisa tidur kok tanpa kamu, Aku hanya memastikan kamu bisa pulang dengan selamat sampai rumah, itu saja”
Membiarkan Anita pergi terlebih dahulu, Andy akhirnya mengalah sementara karena sadar tubuhnya masih menguarkan aroma alkohol bercampur bekas muntah yang pasti membuat siapapun tidak nyaman.
Anita kini kembali ke kamarnya menenggelamkan tubuhnya ke bawah selimut, memiringkan tubuhnya ke kanan, memeluk sebuah guling berharap ia bisa langsung terlelap,
Mengetahui suaminya yang tak kunjung pulang membuat Anita tak bisa memejam sejak tadi. Padahal dia harus berangkat besok pagi ke sekolah fashionnya, Namun entah mengapa kedua mata Anita seakan masih terang benderang.
Anita mencoba memejam sebisanya sampai ia merasakan ada seseorang yang memasuki kamarnya, lalu menaiki tempat tidur yang sama lalu mengulurkan tangan sebagai bantalan Anita yang memunggunginya.
Aroma harum sabun mandi langsung memanjakan hidung Anita yang merasa tenang ditambah lengan Andy yang terulur dingin di lehernya.
“Menghadaplah kemari, Anita. Aku tahu kamu belum bisa tidur, Maaf, ya” ucap Andy setengah berbisik di belakang Anita lalu menyingkap helaian rambut istrinya hingga menampilkan sebagian wajah Anita hingga lehernya yang menggoda.
Anita yang tak ingin Andy terlalu kelepasan terbiasa dengan keberadaan mereka tinggal bersama itu kini menyingkirkan tangan kiri suaminya dengan sembarang.
...Bagaimana kelanjutan ceritanya?...
...Apakah Anita marah dengan Andy karena pulang terlalu malam?...
...Nantikan di bab selanjutnya…tetap dukung othor yah..salam hangat selalu...