One Night Stand With Me

One Night Stand With Me
BAB 23



Anita mendelik waspada saat entah dengan maksud apa Hardianto berucap baik untuknya.


Pria tua itu nampak menghubungi seseorang dan tak lama datang tiga orang dengan barang bawaan yang tidak sedikit.


“Apa-apaan ini, Opa?”


“Perlengkapan desain, Kamu suka desain baju, kan Anita?” Tanya Hardianto hingga membuat Anita tercengang “Banyak melakukan aktivitas fisik dan hobi bisa menyehatkan mental”


“Opa lama-lama sudah seperti dukun, tahu apa saja yang diperlukan oleh Anita” ujar Harlina tak tahu saja bahwa suaminya sudah menyelidik Anita sebelumnya.


Sebuah meja besar lengkap dengan mesin jahit elektronik keluaran terbaru. Juga beberapa kertas kerja lengkap dengan atribut pendukung dan manekin kini ditempatkan di salah satu sudut rumah yang kosong. Sebuah computer tablet canggih khusus untuk aplikasi desain juga sudah diletakkan di atas meja.


Kini Anita sudah seperti memiliki ruang kerja pribadi agar dia tidak mengurung diri terus di dalam kamarnya Namun bukannya senang karena kecintaannya akan dunia seni rupa di bantu oleh Hardianto, Anita malah makin ketakutan.


“Sudah, Oma. Kita masih ada perlu, Biarkan Anita sendiri” pinta Hardi diiringi hembusan nafas lega oleh Anita tak perlu ketakutan dua kali karena akhirnya mereka akan pergi “Oma duluan saja, opa ke kamar mandi dulu”


Degh!


Sudah berapa kali pria tua ini membuat jantung Anita terasa copot. Harlina lantas berpamitan dulu dan meninggalkan Hardi yang kini berdiri tegap di depan Anita.


“Masih ingat batasanmu? Sudah tahu konsekuensinya? Tetap hidup terpisah seperti ini dengan Andy. Jangan menghambat karirnya hanya karena dia akan memperhatikanmu. Ingat, jangan sampai kalian tinggal satu ranjang karena Andy akan menikahi wanita lain setelah kalian bercerai”


Jlebb!


Anita mengatur nafasnya yang berat seperginya opa Hardi yang terus memantau apa yang dia lakukan ditambah dengan ancaman yang tidak main-main. Ingin sekali menangis namun Anita harus mengingat kehamilannya. Dokter pun berkata ia tidak boleh stress yang bisa mengganggu pertumbuhan janinnya.


Demi sang ibu, Anita harus menahan diri selama beberapa bulan ke depan, Dihubunginya nomor sang ibu dan Anita lega Ibunya mendapat perawatan terbaik di negeri Singapura.


**


Hardianto Santoso dan istrinya beralih ke tempat lain selepas menjenguk Anita. Di sebuah gedung pameran kini mereka akan menghadiri pameran otomotif dimana Andy menjadi salah satu investor dalam acara ini.


“Selamat malam, Tuan Hardi, silahkan”


Hardianto mengangguk sekali lalu memasuki salah satu sudut arena pameran yang dihadiri pula oleh beberapa pengusaha yang bergerak di dunia yang sama. Meski Andy yang terjun langsung dibidang ini, Hardianto pun selalu memberi support atas kesuksesan cucunya.


“Tuan dan Nyonya Hardi, selamat malam” seorang pria paruh naya mengulurkan tangan ke arah Hardi yang hanya melirik sinis.


“Hadir juga kamu, mencari investor baru?” ejek Hardi lebih tepatnya mencemooh karena perusaahan Victor sempat oleng karena disentil sedikit oleh Andy akibat ulah putrinya yang menyinggung Andy tanpa ampun.


Victor Susanto mengangguk lalu menarik tangan putrinya yang juga ambil bagian dalam pameran ini.


“Ratih, beri salam hormat ke Tuan dan Nyonya Hardi!”


Ratih yang mengenakan pakaian semi formal namun bergeming gengsi dan malah menyisir sekitar.


“Ratih!” bentak Victor kemudian gadis itu terpaksa mengangguk pelan pada kedua orang tua itu.


Harlina mengerutkan kedua alisnya lalu menyenggol pelan lengan suaminya yang langsung ditangkap dengan pikiran yang sama saat menatap gadis yang telah mengubah warna rambutnya.


‘Oh,ya..Ngomong-ngomong dimana Tuan Andy? Sedari tadi belum terlihat di sini?” Tanya Victor berbasa basi.


“Sedang dinas ke luar kota!” sahut Harlina cepat dengn tatapan tak berkutik dari Ratih yang secara sikap dan kelakuan kalah jauh dari Anita, cucu menantu yang ia sayangi.


“Ohh,iya. Kebetulan saya mengajak Ratih ke sini agar dia bisa belajar seluk beluk bisnis. Kalau bukan dia siapa lagi yang akan meneruskan usaha saya”


“Ratih anak kami satu-satunya. Nyonya Hardi, ada apa ya?”


“Oh, tidak ada. Kami bergeser ke tempat lain dulu” sahut Hardianto kemudian memasang lengannya sebagai tempat tangan istrinya bertaut.


“Papi, aku ingin mendapatkan Andy bagaimanpun caranya!” sewot Ratih yang kecewa lantaran tidak bisa bertemu dengan Andy di tempat ini.


“Jangan gila kamu, Ratih! Record kamu sudah jelek. Tidak lihat, mereka cuek dengan kita? Gara-gara kelakuan kamu papi yang jadi susah. Jangan berbuat macam-macam ditempat ini”


“Claire bisa dekat dengan Andy, apa hebatnya dia? Mengapa Andy melirikku pun tidak!”


“Kalau begitu kamu bercermin! Perbaiki sikap kelakuanmu!” bentak Victor jengkel lalu meninggalkan putrinya yang sangat kecewa karena gagal tebar pesona pada Andy yang diincarnya.


“Jangan sebut aku Ratih kalau tidak bisa membuatmu bertekuk lutut, Andy!”


“Opa, percaya kalau si Victor itu hanya punya satu anak? Kenapa feeling oma bicara kalau Anita itu ada hubungannya dengan dia, Mereka sangat mirip” ucap Harlina masih memikirkan hal yang sedari tadi mengusiknya.


“Victor jadikan anaknya tumbal pesugihan mungkin!” sahut Hardianto asal dengan pandangan yang mencari sesuatu di pameran ini.


“Opa! sembarangan kalau bicara!”


Kedua orangtua itu kemudian menuju ke salah satu meja bundar dengan arahan salah satu EO.


“Silahkan, Tuan James sudah menunggu”


“Opa masih ada urusan?” bisik Harlina bingung saat suaminya kini malah akan berunding dengan salah satu pengusaha yang juga membawa anak dan istrinya.


“Tuan Hardi, silahkan, silahkan! Senang sekali akhirnya kita bisa bersua di sini”


“Ini anakmu? Sudah besar?” Harlina makin mengerutkan wajahnya tak paham dan perasaannya juga mulai tak enak.


“Iya, perkenalkan ini istri saya dan ini, Anna, putri bungsu kami. Baru saja pulang dari Jepang, sekarang merintis usaha juga di sini”


Anna langsung berdiri dan memberi hormat dengan sopan pada keduan orantua itu hingga Hardi pun mengangguk dan tersenyum senang.


“Anna ini satu almamater dengan Tuan Andy lho di Jepang, Oh ya, ngomong-ngomong dimana Tuan Andy? Anna sudah penasaran waktu saya ceritakan tentang beliau”


Harlina mulai sedikit kesal saat obrolan kedua pria ini mengarah ke hal yang tak selayaknya. Terlebih lagi suaminya yang secara eksplisit malah seperti menyodorkan Andy pada gadis didepannya ini.


“Maaf, Andy, cucu kami sudah punya—“


“Punya kesibukan yang luar biasa “ sahut Hardi lantas mengetukkan pangkal tongkatnya ke lantai.”Jadi dalam beberapa bukan kegiatan Andy sangat padat”


Harlina menatap sinis suaminya saat perjalanan kembali pulang dari gedung pameran.


“Kenapa? dari tadi mendengus saja”


“Opa ini kok seperti mau menjodohkan Andy dengan wanita lain, Apa maksudnya?”


Bagaimana kelanjutan cerita ini?


Apa maksud dari opa Hardi?


Nantikan di bab selanjutnya…stay tuned