One Night Stand With Me

One Night Stand With Me
BAB 30



Anita kini tertegun. Bagaimana seorang anak bisa menyalahkan orang tuanya sendiri atas apa yang terjadi saat ini. Bahkan di usia Andy yang tak lagi muda, ia masih menempatkan orang tuanya pada posisi yang paling bersalah.


“Kalau di masa depan anakmu nanti menyalahkan dirimu atas apa yang menimpa dia, apa kamu terima?”


Jlebb!


Andy menoleh cepat ke arah Anita yang menatapnya bengis “Aku tidak ada bayangan apapun soal masa depan, karena orang tuaku sudah cukup memberikan bayangan yang menyakitkan di masa lalu, Anita”


“Berhentilah menyalahkan orang tuamu, Andy!” berang Anita kini tidak tahan lagi kalau harus berlama bicara dengan Andy yang hanya akan membuatnya lebih emosional. “Kamu pikir hanya kamu satu-satunya anak yang dikecewakan orang tua lalu kamu bertumbuh besar dengan beban masa lalu yang akan kamu bawa sampai kapan, Hahh?”


Andy kini kembali menahan tubuh Anita yang akan pergi. Dipegangnya erat kedua lengan Anita dengan pandangan penuh misteri.


“Apa kamu juga mengalaminya, Anita?”


Kedua pelupuk mata Anita sudah basah kini dan ia pun berusaha menghapusnya namun tak bisa. Kedua tangannya sedang dikunci oleh Andy yang menatapnya dalam saat ini.


“Aku dibesarkan hanya oleh seorang ibu yang bekerja keras, Andy. Aku bahkan tidak tahu dimana dan seperti apa ayahku saat ini. Apa aku mendendam terhadap orang tuaku? Apa aku menyalahkan mereka ?” Anita menggeleng sinis dengan suaranya yang lirih tertahan oleh dadanya yang sesak.


“Hidupmu kamu sendiri yang tentukan, Andy! bukan karena kesalahan orangtua lantas kamu jadikan alasan untuk menjelma jadi orang jahat dan kejam!” bentak Anita penuh dengan penekanan di akhir kalimatnya sampai ia kini menghardik kedua tangan Andy dan melepaskan dirinya.


Setengah berlari kini Andy memilih meninggalkan Andy yang masih berdiri mematung dengan ucapan Anita yang memukul sanubarinya.


Melihat Anita yang berlari, Bi Umi yang memantau keduanya lantas keluar dari mobil dan menghampiri Anita dengan panik.


“Hati-hati, Nyonya muda!”


“Tolong, bawa saya pergi jauh dari dia, Bi” mohon Anita saat memeluk raga Bi Umi erat.


“Nyonya, tolong ingat kandungannya. Semarah apapun dengan Tuan Muda, tolong hati-hati. Janin itu bisa merasakan kesedihan ibunya”


Anita segera menarik lengan Bi Umi untuk memasuki mobil dan memaksa wanita itu untuk duduk bersamanya dikursi belakang.


Andy yang berjalan lunglai kini melirik ke arah Bi Umi yang dipeluk oleh Anita yang menenggelamkan wajahnya ke tubuh wanita dengan postur gemuk itu. Bi Umi mengangguk dan segera dipahami oleh Andy yang mengalah dengan naik ke samping kemudi.


Sejenak suasana di dalam mobil sangat hening dengan Anita yang memegangi perutnya saat dirasa goncangan kendaraan membuat perutnya tidak nyaman. Sampai kemudian ponsel Andy berdering.


“Halo, ada apa? Hemm, apa? Di kantor? Mau ngapain?” Andy menghembuskan nafasnya berat lalu mencoba berpikir sejenak “Tahan di tempat parkir dalam saja!”


Tangan kanan Andy lantas mencengkram erat sampai menyembulkan gurat otonya “Kita ke kantor sebentar!” perintahnya pada supir.


Sesampainya di perusahaan yang ia dirikan dibawah pengawasan sang kakek, kendaraan langsung meluncur ke parkir eksekutif area basement yang langsung terhubung dengan pintu lift eksekutif pula.


Seorang wanita paruh baya dengan rambut diikat ke belakang nampak berdiri dengan diawasi petugas keamanan gedung.


“Nyonya?” gumam Bi Umi hingga membuat Anita kemudian mengangkat wajahnya dan melihat pemandangan yang tak ia mengerti.


“Tidak usah turun!” pinta Andy pada Anita dan Bi Umi.


“Siapa, Bi?”


“Nyonya Yeni, ibu mertua Nyonya Anita”


Degg


“Itu mamanya Andy?”


“Andy, kamu selamat, nak? Kamu tidak apa kan, sayang? mama mencemaskanmu”


Yeni mengulurkan kedua tangannya ke wajah putra satu-satunya namun Andy dengan cepat menangkisnya.


“Astaga!” pekik Anita kaget dengan sikap Andy terhadap ibu kandungnya. Baru saja dibahas bagaimana Andy yang membenci orang tuanya dan kini ditunjukkan langsung olehnya “Kenapa Andy seperti itu,Bi?”


Bi Umi yang melihat dengan waswas lantas mengelus lengan Anita pelan “Nanti bibi ceritakan di rumah”


“Sudah lihat Andy masih hidup, kan? Lalu mau apa?” ucap Andy dengan wajah datar dan suara dingin yang menusuk kalbu seorang ibu yang sudah berapa lama merindukan putranya.


“Andy, tolong maafkan—“


“Jangan mimpi!” potong Andy segera tahu apa yang akan diucapkan ibunya “Pergi dan jangan pernah mencari lagi!”


“Andy!”


Andy segera berbalik badan dan memasuki mobil lalu membanting pintunya dengan keras hingga Anita terjingkat tak karuan.


Kendaraan kembali berlalu meninggalkan Yeni yang masih memohon. Anita yang berada di dalam mobil pun menyapu wajah melas seorang ibu yang ditolak mentah-mentah oleh anaknya sendiri.


Sampai dengan kendaraan sudah melaju pun, Anita masih memutar tubuhnya menatap bagaimana Yeni akhirnya digelandang oleh petugas keamanan, Anita sampai menelan ludah dengan susah payah membayangkan ibunya sendiri saat ini.


“Kenapa, Nyonya?” Tanya Bi Umi khawatir saat melihat Anita yang berkeringat dingin.


“Tidak apa” Anita menggeleng cepat lalu mengambil ponsel dan menghubungi nomor ibunya .


“Halo, Ibu. Ibu baik-baik saja kan di sana? Anita rindu, Ibu…” lirih Anita kini mengigit ujung jarinya sendiri dengan menahan tangisnya jangan sampai tumpah. “Anita sayang Ibu, Ibu cepat sembuh dan segera pulang, Anita ingin bersama ibu”


Anita segera menghambur ke pelukan Bi Umi setelah mengakhiri panggilannya. Hatinya terluka saat melihat Andy mengacuhkan ibunya. Punggungnya terguncang menangisi dirinya yang harus terpisah dengan ibunya saat ini.


Mengingat dirinya yang sedang hamil saat ini, Anita membayangkan jika suatu saat nanti ia akan berada di posisi Yeni yang dibenci oleh anaknya sendiri karena tak menginginkannya sejak kecil.


“Sudah, Nyonya, sabar Ibu Nyonya Anita pasti akan sembuh”


“Bi, apa suatu hari nanti saya juga akan dibenci oleh anak ini karena tidak menginginkannya?”


“Kalau tidak menginginkannya, untuk apa kamu mempertahankannya?”


“Tanyakan itu pada opamu sendiri, Andy!” batin Anita kesal saat Andy dengan nada suara menjengkelkan tetiba menyahuti ucapannya.


Anita kemudian memilih diam saat Bi Umi yang untungnya bersamanya saat ini, Wanita itu selalu bisa meredam hawa panas yang menderanya.


“Sabar, Anita. Hanya beberapa bulan saja. Setelah itu kamu bisa bebas!” ucap Anita pada batinnya sendiri. Toh hal ini juga yang diinginkan oleh Hardianto agar Anita dan Andy bisa saling membenci selama mereka menjalani rumah tangga palsu ini.


Andy menurunkan Anita dan Bi Umi ke rumah, sementara Andy masih duduk di dalam mobil.


“Saya ke rumah oma dulu, Bi” ucap Andy lalu menutup jendela kacanya tanpa menoleh ke arah Anita lagi.


Bagaimana kelanjutan ceritanya?


Kira-kira Andy bakal berbuat apa dirumah oma?


Nantikan di bab selanjutnya…stay tuned