
“Kamu mau buat anak kita sesak nafas didalam sana dengan celana yang kamu pakai? Itu kan ketat sekali” Andy menegurnya dengan nada yang begitu menyakitkan di telinga maupun dihatinya.
Terlebih saat Anita melihat wajah Andy yang menatapnya bengis.
“Hehh, jangan-jangan memang sengaja membunuh anak kalian pelan-pelan. Istrimu kan tidak menginginkan anak itu sejak awal bukan?” ucap opa Hardi menimpali namun tanpa melihat ke arah Anita karena dia sedang menikmati makan malamnya.
Andy lantas melirik sang opa lalu sedikit menyipitkan matanya.
Merasa diserang oleh dua pria didepannya, air mata Anita pun seperti tumpah secara otomatis hingga kemudian Harlina kembali menjadi pihak penengah.
“Kalian para pria mana tahu rasanya hamil? Mengapa tidak memaklumi Anita yang baru pertama kali merasakan kehamilan? Sembarang bicara!”
Dada Anita terasa sesak saat acara makan malam yang sudah ia nantikan ternyata berbuah adu mulut antar keluarga seperti ini.
Membuang nafasnya kasar, Anita bahkan kini mengusap wajahnya yang begitu mudah mengeluarkan air mata.
“Maaf….” lirihnya kemudian pergi tak peduli lagi ia setengah berlari ke kamar Andy dengan sejuta kesedihan melanda jiwanya.
Anita terisak dan semakin sesak “Ibu…tolong Anita, bu…"
**
Andy mengikuti Anita ke kamar hampir satu jam setelah membiarkan Anita sendiri menumpahkan kesedihannya. Dilihatnya Anita yang meringkuk di sofa dengan melepas pakaian santainya dan kembali mengenakan dress biru langitnya.
Kaki putihnya terhampar lurus karena dress itu tersingkap ke atas pahanya, Wanita itu memunggunginya, Andy tahu bahwa Anita belum tertidur.
DIlihatnya makanan yang akhirnya dibawakan ke kamar tak disentuh, Hanya segelas susu yang baru berkurang setengahnya.
“Belum makan, Anita. Mau aku suapin?”
Anita tak menjawab dan tak menoleh meski perutnya kini terasa makin kelaparan.
“Anita, aku minta maaf, Ada hal yang belum bisa aku ungkapkan--"
“Dengan menjadikanku lelucon di hadapan mereka?”
“Bukan begitu, Anita, Emm, maaf aku sudah bicara kasar”
Andy mendekati Anita dengan duduk di ujung sofa dengan mengangkat kaki Anita untuk berada di pangkuannya, Namun dengan gerakan cepat Anita segera menekuk kakinya lalu membangunkan dirinya.
“Aku memang bukan siapa-siapa dihadapan keluarga ini. Kamu hanya khawatir dengan anak ini, kan? Aku bisa saja menjaganya tanpa harus hidup denganmu”
“Anita, apa yang kamu pikirkan?"
“Apa yang aku pikirkan apa masih penting buat kamu, Andy!” sembur Anita didera emosi.
Dipikirnya hampir ada saja yang membuatnya bicara dengan keras seperti ini hingga menguras emosinya, Anita sangat benci berada di situasi seperti ini.
Meski kemudian Andy kini memutar tubuhnya menghadap ke depannya, Anita semakin tidak suka kalau harus sering-sering berdebat dengan Andy seperti ini.
“Anita, tolong, ini…tidak seperti yang—“
“Tidak seperti yang aku pikirkan karena pemikiranku sangat berbeda dan aku cuma wanita bodoh yang sangat tidak bisa berbaur dengan pergaulanmu! Kalau begitu biarkan aku menjaga ibuku saja supaya kamu juga bisa bebas bergaul dengan wanita manapun yang kamu mau, Aku tidak akan peduli!”
Andy menangkap kedua pundak Anita yang bergetar, Andy pun tak ingin Anita bereaksi terlampau keras seperti ini.
“Anita, apa…kamu cemburu?”
Dengan suara bergetar pulan Anita kemudian mengambil tas kecilnya lalu bersungut pergi tak peduli ia harus merasa tidak sopan karena pergi begitu saja dari rumah ini.
“Anita, tunggu, Tolong jangan pergi!”
Andy meraih tubuh Anita saat wanita itu kembali tertunduk mengigit bibir bawahnya merasakan perutnya yang semakin perih.
Ingin sekali Anita mengumpati Andy dengan kata-kata kasar saat ini, namun ia sudah terlampau letih, Beberapa kali beradu debat dan pertengkaran dengan pria itu membuatnya jengah.
Tak sabar lagi dengan penolakan Anita yang masih mengangkat sikunya, Andy akhirnya mengangkat tubuh Anita untuk diletakkan diatas ranjang.
“Diam di sini dan jangan memberontak!” ucap Andy meski tak meninggikan suaranya, namun dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya membuat Anita ingin sekali mencabik-cabik wajah pria itu.
Seumur-umur tinggal dengan sang ibu yang selalu sabar padanya, kini Anita bak masuk ke neraka saat merasakan duet maut antara Andy dan Opa Hardi yang setiap hari selalu menggerus mentalnya.
“Kamu sudah kelaparan, jangan marah-marah lagi dan buka mulut”
Andy kemudian datang dengan nampan yang disajikan namun belum disentuh oleh istrinya.
Anita masih bergeming saat Andy yang sudah duduk ditepi ranjang menggeser sebuah kursi untuk meletakkan nampan itu dan mengambil makan dengan sendok.
“Anita, tolong_"
Ujung sendok itu sudah mendekati bibir Anita saat wanita itu mengusap kasar wajahnya lalu menyahut gagang sendok namun Andy segera mengangkatnya dan tidak mengijinkan Anita makan dengan tangannya sendiri.
“Aku bisa makan sendiri!”
“Buka mulut!”
Dengan kondisi perutnya yang sudah perih, Anita terpaksa membuka mulutnya dan menerima suapan itu meski kerongkongannya terasa tertutup oleh emosi dan kesensitifan hormone ibu hamilnya.
Anita berusaha menahan isaknya meski bibirnya berusaha mengunyah. Semua yang ia jalani kini terasa di bawah keterpaksaan meski hanya soal makanan saja.
Meski hanya menghabiskan beberapa suap saja, Anita kemudian menghabiskan susu hangat yang baru saja diisi ulang saat Andy memanggil Asisten rumah tangga untuk membuatkannya lagi.
“Tidurlah, Aku…masih ada perlu dengan opa soal pekerjaanku diluar kota nanti”
“Jadi pergi?” Anita nampak kecewa karena Andy mungkin akan pergi selama ia menghabiskan masa kehamilannya mungkin di bawah tekanan opa Hardi.
Sayangnya Andy malah mengiyakan dengan anggukannya, dan Anita kini menurunkan kakinya dari ranjang dengan sedikit kesal.
“Mau kemana, Anita?”
Anita tidak menjawab dan terus menuju kamar mandi. Andy jadi khawatir Anita akan memuntahkan makanan yang baru saja dia telan.
Memasuki kamar mandi dan menguncinya dari dalam, Anita kembali menangis meski berusaha kuat agar jangan sampai timbul isakan yang bisa didengar Andy dari luar.
“Anita, kamu tidak apa?” Andy mulai mengetuk pintu dan tidak mendapat jawaban “Apa aku harus mendobrak pintu lagi, Anita? Tolong jawab aku sedikit saja”
Andy mulai resah karena Anita tak menjawabnya sama sekali, Bahkan suara muntahan pun tak didengarnya. Saat Andy kembali dengan sebuah alat pencongkel ditangannya, Anita ternyata sudah keluar dengan wajah setengah basah dan sembab.
Rupanya Anita habis mencuci wajahnya hingga menunjukkan wajah polos Anita yang putih kemerahan. Kembali ke tempat tidur, Anita yang menjalankan aksi tutup mulut itu mengambil posisi di sisi kiri ranjang lalu menutup diri dengan selimut meski dressnya sungguh tidak nyaman dipakai untuk tidur.
... Bagaimana kelanjutan ceritanya? ...
...Tetap dukung othor yah dengan mengikuti cerita di bab selanjutnya….salam hangat selalu...