
“Tidak perlu. Opa Mu sudah seperti robot disitu. Oma pulang dulu, ya Anita…”
Anita yang masih dengan wajah bantal lantas mendekat meski ia sekilas melirik Hardianto yang menatapnya tajam.
“Oma pulang dulu. Jaga cicit oma baik-baik ya. Pagi ini tidak mual?”
Deg!
Anita tertegun. Ia juga baru ingat bangun tidur tadi ia tidak lagi mendapat serangan pagi seperti biasanya “Tidak, oma”
“Nah, itu pasti karena anak kalian tidur dengan ayahnya, jadi merasa nyaman. Kalau begitu kalian jangan terpisah kamar lagi. Dengar, Andy?”
Andy tak menjawab. Ia lantas merangkul oma menuju pintu keluar.
“Oma duluan sebentar, opa ingin menumpang kamar mandi dulu” ucap Hardi kemudian membiarkan Andy dan istrinya keluar lebih dahulu.
Sementara itu, Anita berdiri dengan tubuh gemetar saat suara ujung tongkat Hardianto terketuk bertalu di lantai. Dengan tatapan nyalang, pria tua itu mendekati Anita yang sudah kelewat batas dan tidak mengindahkan peringatannya waktu itu.
“Sepertinya kamu ingin melihat ibumu mati perlahan di sana”
Anita menggeleng cepat dengan wajah memerah “ Tidak,jangan!”
**
“Kenapa tidak diangkat, ya?” gumam Anita resah saat menghubungi nomor ibunya namun hingga panggilan ketiga tak jua ada pergerakan.
Perasaan Anita mulai tak enak. Ancaman Hardianto kembali menggema di gendang telinganya. Pria tua itu benar-benar berhasil membuat mental Anita terpukul saat ini.
Anita semakin resah, Akhirnya ia memberanikan diri menghubungi nomor rumah sakit dan menanyakan kabar ibunya lantaran di sana tak ada orang lain yang bisa Anita hubungi.
“Apa? ICU?” desah Anita langsung lemas sampai ponsel yang dipegangnya hampir terjatuh.
Ingin sekali Anita menghilang dan langsung muncul di rumah sakit Singapura. Namun ia bisa apa saat ini? Anita kemudian terisak sendiri dikamarnya.
Dalam benaknya, kondisi Dewi yang memburuk adalah efek ancaman opa Hardi yang menunjukkan kuasanya agar wanita itu tidak main-main dengan perasaannya terhadap Andy.
Ditengah kalutnya, Anita teringat Andy pernah memberinya sebuah kartu kredit yang bisa ia gunakan untuk apa saja.
“Apa aku harus ke sana?” racau Anita kini menimang kartu berwarna hitam pekat itu.
Bi Umi membawa cemilan siang saat Anita masih dirundung sedih. Buru-buru ia mengusap wajahnya dan tak ingin menampakkan apapun di depan wanita itu.
“Silahkan, kue dan susunya, Nyonya muda”
Bi Umi jelas bisa membaca kesedihan Anita namun tak ingin bertanya lebih jauh.
“Bi….”
Bi Umi membalikkan tubuhnya dan menundukkan sedikit tubuhnya.
“Apa orang hamil seperti saya boleh naik pesawat?”
“Kehamilan trisemester pertama masih sangat rawan. Goncangan pesawat itu bisa menimbulkan beberapa resiko masih riskan”
Anita kini mencebikkan bibirnya karena tak bisa berbuat apapun dalam sangkar emas yang dikunci rapat oleh pria tua bernama Hardianto.
**
“Victor Susanto sejak kuliah sampai menikah tinggal dan menetap di Belanda, Baru kembali ke Indonesia setelah perusahaan warisan orangtuanya berhasil mengakuisisi perusahaan otomotif dan dia jadi pemegang saham terbesar di sana”
Jimmy menyodorkan sebuah laporan hasil penelusurannya terhadap profil Victor yang diminta Andy beberapa hari yang lalu. Andy hanya melirik sekilas folder lumayan tebal dengan prestasi Victor yang banyak di dunia bisnis.
“Menikah hampir dua puluh delapan tahun lalu. Itu artinya lima tahun menikah dia baru memiliki Ratih dan setelah itu tidak lagi memiliki anak. Ratih anak tunggal”
Andy mengangkat dagu lalu menyipitkan mata saat Jimmy yang menjadi juru baca laporannya. Diingatnya lagi identitas profil Ratih yang tertera lahir di Belanda.
“Apa saat kembali ke Indonesia, Ratih sudah ada?”
“Laporan perjalanan Victor dari pihak imigrasi. dia kembali tiga bulan sebelum Ratih lahir”
Andy mulai mengerutkan wajahnya membaca rangkaian perjalanan yang sudah disusun Jimmy dalam sebuah grafik namun belum menemukan benang merahnya.
“Berarti Ratih lahir disini? Lalu Victor mamalsukan data kelahirannya, atau bagaimana?”
Andy mulai pusing dengan laporan Jimmy yang berbelit. Jimmy sendiri masih mendengar reaksi atasannya yang juga mulai uring-uringan.
“Langsung saja, Jimmy, Anita itu anaknya Victor atau bukan? Kalau iya mengapa Anita dibiarkan hidup susah sementara Ratih hidup bermewah?”
“Di tanggal kelahiran nona Ratih tidak ada pasien atas nama Nyonya Susanti yang tercatat melahirkan di seluruh rumah sakit dikota ini, Tuan”
Deg!
Banyak gambaran dan spekulasi muncul di benak Andy untuk ia artikan dengan pikirannya sendiri. Di ruangan kebesarannya saat ini, Andy sampai sengaja mengosongkan waktu setengah hari tanpa pekerjaan lain demi menguak masa lalu keluarga Susanto.
Jika saja Ratih tidak memiliki kesamaan tanggal lahir dengan Anita, mungkin Andy tidak perlu repot curiga seperti ini.
“Ada satu yang menarik di sini, Tuan Muda”
Jimmy lantas membalikkan halaman berikutnya “Victor Susanto melakukan terapi di tiga rumah sakit di Belanda dengan keluhan gangguan kesuburan. Bahkan setelah kembali ke Indonesia, dia masih melakukan pengobatan alternative dengan keluhan yang sama”
“Gangguan kesuburan?” Andy melirik Jimmy dengan tatapan tajam.
Jimmy mengangguk yakin “Victor Susanto dinyatakan mandul!”
**
Sementara itu ditempat lain.
“Bagaimana kabar Ratih?”
“Semalam dia demam lalu mengigau. Asma nya sampai kambuh, Brengsek memang Andy sialan itu, sombong sekali!” umpat Victor dengan seringai marah lalu menenggak minuman dalam kaleng kemudian membantingnya kasar.
“Persis seperti opanya itu!” sahut Ivan menimpali dengan sekaleng bir ditangannya.
Victor lantas menyisir Ivan yang masih mengenakan setelan jas lengkap diwaktu hampir dini hari itu.
“Kamu kesini tadi ada yang mengikuti atau tidak?”
“Aman!”
Kedua pria paruh baya yang tengah duduk menikmati malam dengan minuman kini saling melihat ke sekitar.
Tanpa basa basi lagi, Victor yang tidak terima Ratih sampai jatuh sakit karena patah hati itu lantas berdiri dan menarik ujung kerah baju Ivan tanpa pria itu siap.
Ivan sampai membelalak saat Victor kini menatapnya tajam “Cepat katakan, siapa gadis yang dinikahi Andy si sombong itu?”
Ivan menggeleng cepat “Ada banyak orang yang memiliki kesamaan wajah didunia ini, mengapa heran?”
“Heran matamu buta!” bentak Victor lantas mendorong cengkraman nya hingga Ivan hampir terhuyung ke belakang “Apa ada yang kamu sembunyikan dariku, hemm?”
Victor sudah mengangkat dagunya lalu menatap Ivan nyalang, Namun pria itu masih bergeming dengan wajah sok polos.
“Ivan, dengar. Jangan sampai ada yang sudah aku berikan banyak untuk kamu jadi berantakan hanya karena kemunculan gadis yang dinikahi Andy itu”
Victor membenarkan posisi duduknya kembali ke kursi tinggi lalu memesan minuman untuk kesekian kalinya.
“Mengapa Tuan Victor meresahkan patah hatinya anak muda kita? Anna saja saya minta cari pria lain, padahal jelas-jelas juga di tolak oleh cucunya si tua bangka itu”
Bagaimana kelanjutan ceritanya?
Nantikan di bab selanjutnya….