
“Mengapa Tuan Victor meresahkan patah hatinya anak muda kita? Anna saja saya minta cari pria lain, padahal jelas-jelas juga di tolak oleh cucunya si tua bangka itu”
“Persetan Andy mau menikah dengan siapa! Goblokk! Ratih kena beban mental karena ia mendapat banyak pesan mental yang mengira Andy telah menikahinya. Kamu pikir itu patah hati biasa, Hahhh!”
Victor sudah menyiapkan tinjunya tepat di depan wajah Ivan yang kemudian mengangkat tangan tanda mengalah.
“Maaf tuan”
“Aku akan selidiki siapa gadis itu. Awas saja kalau ternyata dia ada hubungannya denganmu dan juga Ratih” ancam Victor ini dengan suara pelan namun menusuk hingga membuat jantung Ivan berdebar yang kemudian dihalaunya dengan meminum softdrink.
“Mengapa kita tidak fokus mencarikan anak-anak kita pria lain, Tuan? Lagi pula keluarga mereka tidak mungkin menikahkan Andy dengan sembarang wanita”
Victor yang sudah akan beranjak membalikkan tubuhnya “Kenapa? Kamu takut?”
Ivan tertunduk tak berani menjawab lagi. Diliriknya Victor sudah pergi dari tempat ini meninggalkan dirinya dalam keresahan “Bagaimana ini?”
**
Andy baru pulang ke kediamannya saat hari sudah berganti meski langit juga masih terlalu gelap. Mengusap tengkuknya yang berat, Andy berjalan pelan menuju kamarnya.
“Tuan Muda, baru pulang”
“Hahh!” Andy terperanjat saat Bi Umi tetiba muncul dari arah dapur ‘Bi Umi ngagetin saya!”
“Maaf, mau dibuatkan minuman hangat?”
“Tidak usah! Bi Umi Istirahat saja, ngapain jam segini belum tidur?” Usir Andy mengibaskan tangannya pada wanita itu.
Andy sendiri lupa kalau Bi Umi selalu menantinya pulang malam dengan membawa gadis seperti dulu saat ia belum menikah.
Memasuki kamarnya, Andy merasakan kehampaan, Anita tidak lagi tinggal di kamarnya meski Oma Harlina sudah berpesan padanya. Tempat tidurnya masih rapi dan tidak ada jejak manusia lain di dalamnya.
Setelah membersihkan dirinya, Andy yang merebahkan diri di tempat tidur itu kini resah.
Teringat ucapan nenek yang berpesan padanya, Andy lantas menurunkan tubuhnya lalu bergegas menuju kamar tidur Anita yang menempati kamar lain.
Dilihatnya Anita yang tidur sudah menendang selimut dengan posisi yang tak nyaman.
“Pasti kamu setiap malam seperti ini”
Entah dorongan dari mana yang membuat Andy kemudian mengulurkan kedua tangannya ke bawah tubuh Anita lalu menggendongnya.
Sebuah senyum tipis tersungging melihat wajah wanita yang meringkuk dalam gendongannya saat ini.
“Kasihan kamu. Sepertinya hidupmu tidak pernah bahagia.Mudah-mudahan aku bisa mencintai kalian suatu saat nanti”
Andy lantas menggeser langkahnya menuju kamarnya sendiri. Namun baru sampai ambang pintu, Anita membuka matanya dan langsung membelalak menyadari tubuhnya sudah melayang dalam rengkuhan Andy yang menguarkan aroma memabukkan.
“Mau apa kamu!”
“Diam!”
“Diam!” bentak Andy hingga membuat Anita terperanjat lalu membuang nafasnya kasar. Hidungnya tetiba menghangat dan bibirnya bergetar.
Anita memukul dada Andy dengan tinjunya.
“Orang jahat!” teriak Anita tak kalah geram.
Hingga kemudian Andy menghentikan langkahnya di tepi tempat tidur “Maaf, tidurlah di sini seperti kemarin”
Andy kemudian meletakkan Anita dengan pelan diatas tempat tidur. Anita yang nyawanya belum terkumpul genap kini mengusap wajahnya. Ia benci menangis tidak jelas seperti ini. Terlebih suara Andy yang membentak sungguh langsung menusuk perasaannya.
‘Maaf, tidurlah. Bagaimana kalau tiba-tiba besok pagi oma datang dan melihat kita tidak sekamar?” kilah Andy menjadikan nama sang nenek sebagai alasan.
“Mengapa kamu begitu takut dengan oma!”
“hey!” Andy malah mengunci tubuh Anita saat wanita itu akan bergerak turun.
Hingga kemudian Anita menahan nafas saat Andy mendekatkan wajahnya. Kedua bola mata mereka saling menyisir satu sama lain.
“Oma yang membesarkan aku dari kecil. Jika bukan pada beliau, lalu dengan siapa lagi, Anita?” ucap Andy berhembus hangat tepat di depan wajah Anita yang kemudian sedikit menurunkan kelopak mata merasakan suara ******* pria itu yang entah mengapa seperti memabukkan di telinganya.
“Lalu dengan opa?”
“Lebih lagi”
Deg!
“Opa itu kiblatku dalam segala hal”
“Termasuk kekejamannya?” Batin Anita meracau. Disadarinya kini bahwa bibit kekejaman Andy memang berasal dari kakeknya yang meski sudah setua itu namun aura penindasannya begitu menyerang mental.
“Kalau begitu jangan minta aku tidur di sini!” tegas Anita lalu menurunkan kakinya. Wajah Anita seketika berubah dengan rahang menggertak dan pandangan yang aneh.
Andy membaca ada sebuah ketakutan dalam wajah Anita yang tergambar jelas hingga membuatnya merasa bersalah setiap hari. Kini pria itu menundukkan dirinya menyamakan kepala mereka.
Namun siapa sangka Andy yang tak membiarkan Anita turun itu makin mengunci rapat tubuhnya.
“Kamu kenapa, Anita? Apa ada yang membuatmu tidak nyaman? Atau butuh sesuatu? Kamu…seperti ketakutan”
Anita menjadi gusar saat ini. Meski ia sudah menasbihkan diri untuk membenci pria ini, namun setiap hari mereka bersama tinggal dan Andy cukup beritikad baik dengan tidak menyentuhnya, Anita di landa kebingungan dengan perasaannya sendiri.
Anita masih berusaha mengangkat sikunya menghalau tubuh Andy yang mendesaknya. Seperti sedang putus asa karena pada siapa lagi ia mengadu jika Andy saja satu frekuensi dengan Hardianto yang jelas mendoktrin banyak hal padanya.
“Tidurlah, kamu tadi gusar di sana, makanya aku bawa kamu ke sini”
Anita kembali menggeleng cepat dan masih berusaha keluar dari kamar ini “Tidak bisa!” Anita meringsekkan tubuhnya dan menerobos tubuh Andy dan membuang semua kegusarannya.
“Kenapa?” Andy masih berusaha mengejar saat Anita sudah berhasil turun.
“Kalau aku bilang tidak bisa, ya tidak bisa! Kenapa kamu masih memaksa!” bentak Anita malah jadi emosi. “Mau kamu apa sebenarnya, hahh!”
“Aku mau berubah! Puas!” bentak Andy tak kalah keras hingga membuat Anita makin sakit hati lalu menutup wajahnya menangis sejadinya.
Berada di sisi pria dengan tempramen seperti ini malah membuat Anita begitu stress dan mental Anita yang benar-benar diuji. Tidak gila saja sudah syukur.
Menyadari kesalahannya, tak ada cara lain bagi Andy untuk kemudian memeluk tubuh ringkih Anita yang jelas terguncang.
“Maaf, bukan maksudku membentakmu, maaf…”
Meski beribu maaf pun yang Andy lontarkan, tak mampu menutup luka hati seorang Anita yang harus mengorbankan hidupnya seperti ini.
Anita masih terguncang saat Andy semakin erat memeluknya. Perasaannya sebagai ibu hamil muda semakin sensitive terhadap apapun yang menyentuh permukaan hatinya.
“Kamu kenapa sih, Anita? Tolong beri aku ruang untuk memperbaiki semua dosaku, katakana apa yang membuatmu…”
“Kondisi ibuku semakin parah dan aku tidak bisa melihatnya, Andy!” racau Anita dengan suara lirih dan tersengal lalu kembali menangis merasakan tak bisa berbuat apa-apa saat ini.
Bagaimana kelanjutan ceritanya?
Nantikan di bab selanjutnya….