
“Pokoknya apa yang terjadi tetap bermuara pada opa!” Harlina kembali meninggi dan menyalahkan suaminya “Punya anak dua saja selalu dibedakan! Jadi apa salah kalau Abraham hanya menuntut hak yang sama dengan Lukman?” Wanita tua itu kembali memutar memori puluhan tahun yang menyakitkan di depan suaminya.
“Jangan samakan Abraham dengan Lukman!”
Sementara Andy yang kehilangan obat penenangnya kini merasa pusing dengan suara adu mulut antara nenek dan kakeknya. Terlebih lagi silang pendapat antara keduanya kembali membuka luka lama yang sudah berusaha keras dilupakan oleh Andy yang rela bertahun-tahun mengkonsumsi obat penenang agar hanya bisa tidur nyenyak.
“Hakkhh!” erang Andy hingga menggema.
Dengan kekesalan sampai ke ubun-ubun, Andy keluar dari kamar tanpa berpamitan dan wajah yang menyeringai murka.
“Jimmy, siapkan sirkuit!” perintah Andy hingga membuat asistennya terperanjat.
“Ta-tapi Tuan, diluar sedang hujan deras, sirkuit pasti licin”
“Bodo amat! Siapkan sekarang juga!”
Jimmy mengangguk saat telapak tangan Andy menjepit lehernya dengan tatapan mengkilat marah.
“Sa-saya antar, Tuan Muda”
“Gak usah!”
Dengan langkah besar Andy keluar menaiki sendiri kendaraannya menuju ke sebuah tempat yang selalu ia gunakan untuk melampiaskan amarahnya.
“Halo, siapkan kendaraan Tuan Andy, Tapi tolong perlambat situasi karena Tuan Andy sedang marah besar!”
Jimmy kini bingung harus apa karena Andy bisa saja menyakiti dirinya sendiri saat ini, Terpaksa dia pergi menemui Anita sementara Andy sudah meluncur dengan kecepatan tinggi menuju ke sirkuit yang berjarak hampir dua puluh kilometer dari rumah kakeknya.
**
“Apa? Balap mobil?” Anita mengernyit tak paham saat Jimmy memintanya menghentikan Andy sore ini.
“Tuan Andy selalu melakukan itu kalau sedang emosi berat. Saya takut terjadi sesuatu. Kondisi sirkuit sedang basah dan licin. sangat membahayakan untuk aktifitas balap”
“Andy tidak akan mendengarkan saya. Memangnya saya ini siapa?” Anita menolak tegas lalu mengelus kedua pundaknya meski tak dipungkiri ia pun mencemaskan suaminya.
Akhirnya dengan perundingan cukup alot, Jimmy berhasil membawa Anita menuju sirkuit dengan kondisi jalanan yang gelap di sore ini ditambah mendung dan hujan yang mengguyur hampir seharian.
Sesampainya di arena balap yang begitu luas, langit sudah menggelap dan rintik gerimis masih membasahi siapa saja yang ada dibawahnya. Jimmy menuntun Anita menuju arena dimana mobil balap Jimmy sudah siap dengan pemiliknya yang berpakaian lengkap di dalamnya.
Dengan pandangan tajam tak peduli permukaan sirkuit yang bahaya karena licin, Andy sudah menyalakan mobilnya dengan erangan mesin yang terdengar menakutkan. Jemari pria itu sudah berada di atas setir dengan cengkraman yang rapat.
“Tuan, kondisi sirkuit tidak aman. Tolong pending dulu” Jimmy mengetuk kaca mobil namun tak diindahkan oleh Andy yang sudah ingin meluapkan amarahnya.
Sementara Andy malah mengeraskan tuas mesinnya hingga berderu memekikkan telinga, Andy tak peduli beginilah cara pria menuntaskan emosinya.
Jimmy sudah geleng kepala cemas karena Andy bisa saja melukai dirinya sendiri. Hingga sejurus kemudian Anita maju dan merentangkan kedua tangan tepat di depan mobil Andy.
Lampu sorot mobil yang terang jelas menyorot tubuh Anita yang tanpa takut mencegah suaminya berbuat nekad.
“Minggir atau aku tabrak kamu!” teriak Andy memaksimalkan suaranya
“Tabrak saja!” balas Anita tak gentar meski tubuhnya sudah basah oleh rintik gerimis. Ia tetap berdiri tanpa mundur sejengkal pun.
Andy pun makin mengeraskan erangan knalpotnya sampai membuat semua orang ketakutan.
“Nyonya, tolong minggir saja” kali ini Jimmy yang ketakutan melihat Anita yang makin menantang suaminya.
“Biar kita mati sama-sama!”
“Minggir!” bentak Andy sekali lagi.
Makin murka karena amarahnya tak tersalurkan, Andy akhirnya mengerang kuat lalu membuka pintu mobilnya. Perasaan Anita sebenarnya berdebar takut, Andy melakukan kekerasan lagi padanya.
Dengan nafas terengah naik turun Andy keluar menatap Anita nyalang, Membuka penutup kepalanya dan membuang helmnya begitu saja, Andy menghampiri Anita yang kemudian menurunkan kedua tangannya.
“Andy….”
Tiba-tiba tubuh Anita bergetar merasakan aura penindasan dari pria yang makin mendekatinya dengan wajah ganas. Sesaat kemudian hal yang tak terduga terjadi.
Kedua tangan Andy terulur menahan tubuh Anita lalu memeluknya dengan erat. Anita sontak membelalak tak siap saat Andy memeluknya tiba-tiba.
Melampiaskan emosi jiwa dengan memeluknya.
Hingga kemudian wajah Anita memerah dan bulir air mata keluar begitu saja merasakan Andy yang melampiaskan amarah pada dirinya saat ini.
“Hahhkhh!”
Andy melepaskan pelukannya saat Anita hampir sesak nafas namun tak bisa berbuat apapun, Ia hanya menatap Andy dengan isak tertahan. Andy menyakiti dirinya dengan cara lain saat ini.
“Maaf…” ucap Andy lirih dan tetiba tubuhnya yang tadinya menegang kaku akhirnya lunglai.
Buru-buru Jimmy meminta timnya untuk mematikan mesin mobil setelah tuannya tidak emosi lagi.
Andy dan Anita masih berdiri saling menghadap ditengah rintik gerimis yang belum berhenti sejak siang.
“Sudah puas, Andy?” Tanya Anita sarkas
Wanita itu tidak tahu apa yang dirasakannya pada Andy pada saat memeluknya tadi.
“Maaf” ucap Andy sekali lalu beranjak pergi dengan sisa amarahnya.
Ingin sekali Anita menangis ditempat ini, namun mengingat ada beberapa orang disekitarnya, akhirnya Anita pun malu.
Jimmy datang membawa payung dan menutupi tubuhnya dengan gemetar “Silahkan, Nyonya”
Anita bergeming di tempatnya berdiri, ia malu pada Jimmy, meski berhasil menghentikan Andy yang akan mencelakai dirinya, tapi ia sangat tak punya muka karena berpelukan romantis ditengah hujan.
“Hatciihhh!”
Anita menutup hidungnya pasca bersin dan merasakan tubuhnya dingin, Ia menggigil namun tak ingin terlalu dirasakan. Jimmy masih memegang payung untuknya dan Anita meraih pegangan payung itu hingga sebuah tangan menggamit jemarinya kini.
Anita berbalik dan mengangkat wajahnya. Andy yang semula beralih pergi begitu saja kini kembali menyahut payung dari tangannya lalu menggandengnya pergi menuju ruang rehat khusus.
Dan wanita itu menurut saja saat andy kini melindunginya dari air hujan meski terlambat dan ia kembali bersin-bersin. Didudukan Anita ke ruangan dengan fasilitas seperti kamar pribadi itu.
Tim sirkuit Andy lantas dengan sigap memberikan baju ganti dan handuk pada Andy untuk Anita.
Anita kini duduk tertunduk tak berani mengangkat wajahnya pada Andy yang mengusap kepalanya yang basah dengan handuk. Ia tahu Andy masih diselimuti emosi yang masih menyala meski tak lagi berkobar.
“Mengapa kamu datang?”
Anita hanya menggeleng kecil. Ia sendiri tak paham mengapa dirinya mau-mau saja dibujuk Jimmy untuk ikut dengannya ke tempat ini.
“Silahkan, Tuan Muda” Jimmy kemudian datang dengan membawa dua gelas teh panas yang masih mengepul lalu bergegas pergi untuk mengembalikan mobil.
Bagaimana kelanjutan ceritanya?
Nantikan di bab selanjutnya…stay tuned