One Night Stand With Me

One Night Stand With Me
BAB 55



Anita yang terkaget lantas refleks meletakkan tangan Andy sembarangan “ Sudah pagi, pesawat mu jam berapa?”


“Jam berapa saja bisa” jawab Andy lalu mengecek ponselnya saat Anita menurunkan tubuhnya lalu menuju ke kamar mandi.


Merasakan kepalanya yang masih berdenyut dengan jam tidur yang kurang. Andy yang masih mengenakan pakaian kemeja yang sudah kusut itu bangun lalu menuju ke kamar mandi padahal di sana masih ada Anita yang mencuci wajah.


“Ngapain kamu?”


“Numpang mandi! Kenapa? Gak boleh?”


Anita lantas mengerutkan alisnya dan buru-buru mengeringkan wajahnya saat Andy dengan seenaknya melepas baju di hadapannya.


“Kemana, Anita?” Tanya Andy dengan senyum liciknya melihat Anita yang tergopoh keluar dan menutup pintu kamar mandi “Anita, tolong ambilkan handukku!” pinta Andy dengan suara dikeraskan.


“Seenaknya saja main masuk! Mana langsung buka baju!” grundel Anita sebal melihat Andy yang dikasih hati malah setiap hari meminta ampela dan lama-lama menggergoti ususnya.


“Bi Umi, tolong temani saya ke kamar Tuan Muda ini, Dia minta diambilkan handuk”


Bi Umi jelas melongo karena setahunya Andy sedang berada diluar kota untuk beberapa waktu.


“Dia semalam pulang dan sekarang mandi di kamar saya” Anita segera menyeret lengan Bi Umi lalu memasuki kamar Andy dan memintanya menunjukkan dimana Andy meletakkan handuk dan pakaiannya meski Anita sudah tahu dimana letak lemari pakaian milik Andy yang terpampang besar di sudut kamar.


Bi Umi yang mengikuti Andy sudah sejak lama itu kemudian menunjukkan Anita letak setiap baris pakaian Andy di dalam lemarinya, Anita hanya melongo saja karena untuk ukuran pria saja Andy terhitung memiliki banyak sekali pakaian yang tidak bisa sembarang disentuh.


Selembar handuk tebal dan satu stel pakaian lengkap beserta pakaian dalam diberika Bi Umi untuk Anita yang kemudian tertegun.


“Emm. Bi. Minta tolong Bibi saja yang ngasih ini , gimana?”


“Anitaaa! Mana handuknya!” teriak Andy begitu menggema sampai ke kamarnya sampai Anita lagi-lagi terjingkat karenanya.


“Hishh! Dasar arogan! Apa dia sering begitu, BI?” dengus Anita kesal. “Aku kasih telor semut baru tahu rasa!” sebal Anita lantas menghentakkan kakinya membawa pakaian itu.


Bi Umi sampai geleng kepala melihat tingkah mereka “Semoga tuan dan nyonya hidup bahagia”


Anita mengetuk pintu kamar mandinya dan berharap Andy mengulurkan tangannya keluar.


“Masuk, Anita!”


“Hah, masuk? Enak saja!” Anita hanya membuka pintu sedikit saja lalu mengulurkan handuk tanpa tubuhnya ikut masuk, Hanya lengannya saja yang dia ulurkan dengan selembar handuk di ujung jarinya.


Namun siapa sangka kini Andy begitu usil dengan mengeluskan tangannya yang basah ke lengan Anita yang terulur.


“Andy! cepat ambil atau aku lempar!”


Andy dengan wajah nakalnya kini malah tertawa saat melihat sebuah tangan yang terulur sementara Anita berusaha mengayun ayunkan handuk itu tanpa Andy berniat menerimanya.


“Andy, jangan aneh-aneh!” bentak Anita yang merasakan lengannya kebas karena menggantung di udara.


Akhirnya karena jengkel Andy terus menggodanya dengan sentuhan tangannya yang basah, Anita melempar handuk itu sebisanya lalu memaksa menarik tangannya keluar.


Namun apes, siku Anita malah terpentok handle pintu karena ia terlalu memaksakan menarik tangannya.


“Awhh!” Anita memekik mengelus sikunya yang terasa nyeri “Hishh! Nyebelin!”


Mendengar suara benturan sesuatu, Andy langsung buru-buru memakai handuk lalu keluar saat Anita masih mengernyit mengelus sikunya.


“Anita, kamu gak papa?”


“Gak papa kepalamu!” sembur Anita semakin kesal karena Andy pun kini berani-beraninya keluar hanya dengan tubuh masih basah dan handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya.


“Gak usah! Ganti baju sana!” Anita sudah menunjuk satu stel baju yang ada diatas tempat tidurnya “Lama-lama jengkelin banget!” gerutu Anita yang lantas memilih keluar kamar dan menutup pintu daripada Andy menunjukkan hal yang tidak ingin dilihatnya.


Anita kemudian memilih ke meja makan dan membantu Bi Umi apa saja di dapur untuk menyibukkan diri daripada melihat wajah Andy yang semakin menyebalkan dimatanya.


“Bikin apa, Bi? Sini saya bantu boleh,ya? Please!”


“Jangan, Nyonya, Nanti bibi yang kena marah sama tuan muda”


Terpaksa Anita hanya bisa duduk cemberut karena tenaganya seolah tidak ada artinya lagi. Padahal Anita tipe wanita pekerja keras yang terbiasa membanting tulang siang dan malam.


Tak lama Jimmy datang untuk menjemput Andy yang belum selesai berganti baju.


“Langsung berangkat, Jimmy?”


Jimmy mengangguk lalu menunjuk jam tangannya pertanda tidak ada waktu lagi untuk Andy sekedar memakan sarapan pagi.


“Kalau begitu buat bekal saja ya”


Anita yang memperhatikan Bi Umi menyiapkan bekal untuk Andy lantas tidak betah hanya duduk diam.


“Bi, saya bantuin yah?” tawar Anita dengan kerlingan mata bak mata kucing yang meminta sesuatu pada tuannya.


Bi Umi pun mengijinkan dan dengan cekatan Anita sudah tahu apa yang harus dia perbuat. Terbiasa hidup mandiri dan tidak pernah dilayani membuat Anita tumbuh menjadi gadis yang serba bisa.


“Sudah ready, Jimmy?”


Suara Andy dari arah kamarnya membuat Anita mempercepat gerakannya dan memasukkan bekal ke dalam kotak bekal.


“Ini!” Anita mengulurkan kotak bekal itu pada Andy yang nampak terburu.


“Bekal Tuan Muda, Nyonya Anita sendiri yang membuatnya barusan” info Bi Umi sampai membuat Anita kemudian tertunduk malu.


“Terima kasih, ya” Andy menerima kotak bekal itu lalu menimangnya. Terasa lucu sekali Andy yang terkenal ganas itu malah makan dari sebuah kota kecil seperti ini.


“Nanti malam tidak usah bolak balik pulang!” ucap Anita saat Andy sudah akan pergi “Aku bisa tidur sama Bi Umi. Jadi tidak perlu bolak balik seperti ini”


Anita memberanikan diri memerintah Andy dan berani mengatur pria itu.


“Memangnya kenapa kalau aku pulang setiap malam? Kamu tidak suka? Mau aku pulang pergi dari Eropa sekalipun tidak masalah, kan?”


“Sombong sekali, Tiket pesawat mahal, kamu bolak balik setiap hari sudah habis uang berapa?”


Mendengar ucapan polos yang meluncur dari bibir lugu Anita, Andy sontak melebarkan tawanya.


“Hahaha! Kamu lucu banget sih, Anita” Andy bahkan kini tak tahan mengacak rambut Anita dengan gemas karena bukannya mengkhawatirkan kondisi kesehatannya yang harus bolak balik malah mencemaskan kondisi keuangannya.


Anita belum tahu saja siapa Andy Hardiputra yang ada didepannya ini, Hingga sudah akan memasuki mobil pun, Andy tak berhenti tertawa. Hal yang amat sangat jarang dilakukan oleh Andy yang dimana-mana selalu memasang wajah serius.


Jimmy bahkan sampai melirik heran ke arah Andy yang sampai geleng kepala mengingat keluguan istrinya.


…….


...Bagaimana kelanjutan ceritanya? ...


...Tetap dukung othor yah dengan mengikuti cerita di bab selanjutnya….salam hangat selalu...