One Night Stand With Me

One Night Stand With Me
BAB 6



Bermodal dengan uang pinjaman dari manajer karaoke, Anita memberikan semua uang pinjaman ke pihak administrasi rumah sakit meski jumlahnya kurang untuk menutupinya.


Disebuah rumah kontrakan kecil yang berada di gang sempit terhimpit gedung pencakar langit, Anita dan ibunya tinggal sudah hampir setahun. Memutuskan hijrah dari kampung menuju kota, Anita terpaksa harus berhenti kuliah semenjak ibunya dinyatakan sakit dan tidak bisa lagi mencari uang untuk putrinya


“Ibu, hari ini Anita pergi kerja, nanti siang sebelum kerja sore, Anita pulang dulu. Kalau perlu sesuatu, ibu telepon saja Anita, ya”


Dewi mengangguk nelangsa saat putrinya kini harus bekerja banting tulang dari pagi hinggan tengah malam demi mengobatinya. permintaan wanita itu pada Anita untuk mencari keberadaan ayahnya di kota ini juga tidak seberapa ditanggapi olehnya. Anita hanya berusaha menghibur ibunya sambil mencari pengobatan terbaik di kota ini.


Sesampainya di tempat kerja, Anita sudah siap dengan kaos seragamnya mendadak kaget dan langsung lemas.


“Kamu dipecat! Silahkan ambil gaji terakhir kamu!”


“Ta-tapi kan saya sudah bilang kemarin bahwa ibu saya sedang sakit” kilah Anita masih mencoba membela diri meski tubuhnya gemetar saat ini,


“Kamu kira tempat ini milik nenek moyangmu! Masih banyak yang mau kerja! Pergi sana!”


Anita memejam menahan gempuran perasaan yang begitu sakit, sampai akhirnya ia sadar tidak bisa terus pasrah, ia harus bertahan. Pergi dari tempat bekerja dan melepas semua atributnya, gadis itu kemudian berjalan dari satu pintu ke pintu tempat usaha menawarkan jasa apapun agar dapat tetap bisa mendapatkan penghasilan,


Sampai dengan waktu sudah menjelang sore, Anita berangkat ke sebuah gedung dengan pelayanan karaoke, café dan club malam.


Sudah beberapa bulan gadis itu bekerja sebagai cleaning service area karaoke dan beruntungnya sang manajer memberinya pinjaman puluhan juta hingga Anita harus bekerja ektra untuk membayar semua hutangnya.


Berhari-hari bekerja sambil merawat sang ibu, Anita tak putus semangat sambil terus mencari pekerjaan yang bisa dilakoninya setengah waktu, meski sudah merawat sang ibu di rumah, namun kewajiban kontrol rawat jalan tetap harus ia laksanakan dengan rutin.


“Manajer Ling, terimakasih sudah memberikan saya pinjaman. Silahkan pakai gaji saya penuh untuk mencicilnya” Dengan bibir bergetar, Anita kini menghadap pimpinannya untuk memastikan dirinya masih bisa bekerja dengan baik meski sangat perih bahwa dirinya tidak bisa menerima gaji untuk melunasi hutangnya.


“Ibu kamu sudah baikan?”


Anita mengangguk kecil. Entah ia harus senang atau semakin berat saat ini. Pikirannya masih berputar untuk mencari uang tambahan sebagai bekal hidup sehari-harinya.


“Masih dalam perawatan” jawab Anita tanpa perlu menjelaskan secara rinci.


“Radang otak. Sakit seperti itu pasti masih membutuhkan biaya yang tidak berhenti sampai di sini, bukan?”


Manajer wanita yang berdarah Tionghoa itu kini menyisir tubuh Anita yang secara fisik tidak cocok bekerja sebagai tukang bersih-bersih sebenarnya.


“Kamu bisa mendapatkan uang yang lebih disini. Kalau kamu mau”


Anita sudah bisa mencerna kemana arah pembicaraan wanita di depannya. Bekerja di tempat seperti ini memang rawan bagi dirinya yang harus pulang hampir pagi setiap harinya. Namun membayangkan ia bisa saja menjadi gadis penuang minuman untuk tamu, atau melayani jam karaoke plus-plus, Anita kemudian bergidik ngeri.


Anita menggeleng cepat dan ia bertahan untuk menjadi tukang pel saja daripada berjajar dengan para wanita penjaja kesenangan tambahan bagi setiap tamu yang meminta di tempat ini.


Gadis itu masih menjalankan tugas membersihkan ruangan demi ruangan yang telah digunakan untuk bersenang-senang. Lelah pun tak mengapa.


Mengingat hutangnya, Anita kini seolah tak memiliki rasa lelah. Ia terus bekerja dengan seragam cleaning service dan berbagai alat kebersihannya.


Membersihkan toilet bekas orang mabuk juga sudah biasa ia kerjakan, Termasuk malam ini saat di toilet khusus pria ada beberapa tamu yang mengotori dengan muntahan mereka yang tak karuan.


“Hei, cantik. Kamu ini LC yang merangkap jadi babu, ya? Hahahaha?” tawa seorang tamu pria yang tubuhnya menguarkan aroma alcohol yang menyengat menertawai Anita yang masih tertunduk membersihkan lantai toilet dengan alat pel nya.


Tak menggubris dan terus bekerja, Anita yang menguncir rambutnya ke belakang itu hanya mengangguk sopan tanpa mengangkat wajahnya.


Pria satunya lagi dengan nada suara yang sedikit ngawur dan suara bergoyang karena mabuk, lantas mengulurkan lengannya pada Anita, untung saja gadis itu dengan sigap lalu dengan cepat menghindar dan keluar dari toilet.


“Hehh! Baru jadi babu aja sombong sekali!”


Anita baru merebahkan punggungnya saat manajer memanggil semua petugas cleaning ke ruangannya.


“Ada apa, ya?” Tanya teman satu bagian Anita yang gugup bercampr takut saat berjalan menuju ruangan manajer.


Anita jelas mengedikkan bahu meski biasanya ada sesuatu yang terjadi jika manajer sudah memanggil seperti ini.


Lima orang petugas kebersihan yang bertugas mala mini memasuki ruangan berhawa dingin menusuk. Pandangan gadis itu langsung tertuju ke dua pria yang ia jumpai di toilet tadi.


“Tamu ini kehilangan jam tangan mahal saat berada di toilet. Apa ada diantara kalian yang menemukan?”


Kelima petugas kebersihan itu kemudian saling pandang dan mengedikkan bahu,


“Atau ada yang mengambil?”


Salah satu tamu pria itu kemudian menyahut.


Anita langsung memasang wajah waspada meski ia tak merasa mengambil atau menemukan apapun yang tertinggal di dalam toilet.


“Oke, karena semua tidak ada yang mengaku…terpaksa kami akan geledah loker dan tas kalian”


Satu persatu loker diperiksa oleh tim manajer gedung karaoke ini, Dari keempat petugas kebersihan semuanya clear. Giliran loker milik Anita kini diperiksa dan gadis itu masih berdiri dengan tenang.


“Ketemu! Apa ini barangnya?”


Deghh!


“Masih mau mengelak?”


Anita jelas menggeleng dengan tuduhan yang tidak dia lakukan namun barang bukti jelas ada di dalam lokernya. Gadis itu menahan tangisnya dan tidak bisa mengelak lagi terlebih tidak ada yang membelanya saat ini.


“Lihat, kacanya sudah pecah seperti ini. Mau ganti rugi kamu?”


“Saya tidak mencurinya dan saya tidak tahu mengapa benda itu ada di dalam loker saya!” kilah Anita masih mencoba membela diri saat pengunjung pria itu ngotot dengan suara keras menunjuknya yang telah mencuri jam tangan mahal itu.


Akhirnya manajer tempat karaoke itu berdiri dan menghampiri Anita yang masih terdiam mematung ditempatnya.


“Katakan kamu bisa ganti rugi dengan apa sementara gaji kamu di sini sudah buat bayar hutang?”


Anita menunduk dan memejam perih merasakan kesialan demi kesialan yang menimpanya sejak pindah ke kota ini.


Bagaimana kelanjutan cerita ini? Apakah Anita sanggup mengganti rugi?


Nantikan di bab selanjutnya…stay tuned