One Night Stand With Me

One Night Stand With Me
BAB 25



Waktu sudah hampir tengah malam saat Anita belum bisa merebahkan tubuhnya karena belum mendapat kabar apapun tentang suami yang tidak dicintainya. Jangankan tidur, mengantuk saja tidak.


Entah apa yang ditunggu wanita itu hingga ia melamun sendiri diruang tamu seolah tengah menunggu Andy pulang ke rumah.


“Andy, bagaimana kalau dia…? Apa aku harus menjadi janda? Apa anak ini lahir tanpa ayah?” gumam Anita dengan pikirannya yang kusut. “Lalu bagaimana nasibku nanti?”


Anita mengusap kasar wajahnya dengan rentetan kisah hidupnya yang sangat tidak masuk dalam hitungannya. Menjadi istri seorang pria kaya yang begitu dibencinya, mengandung anak yang tak diinginkannya, semua berkecamuk menjadi satu.


“Andy….” Anita terus menyebutkan nama yang bahkan tak sudi ia sebutkan sebelumnya.


Perhatian-perhatian kecil Andy padanya kini seolah berputar kembali. Bagaimana pria itu mungkin berusaha memperbaiki kesalahannya entah demi menyenangkan sang nenek atau apa.


Anita kembali menggeleng cepat dan mengusir pikirannya sendiri. Semakin lama ia merenung ditempat ini, pikirannya makin tak karuan.


Pukul dua belas malam lebih, pertanda hari sudah berganti. Handle pintu utama berbunyi hingga mengagetkan Anita yang seorang diri di malam yang tanpa suara.


Anita refleks berdiri waspada meski sedikit takut, Di rumah dengan system pengamanan yang luar biasa, wanita itu paham tidak semua orang bisa mengakses tempat ini.


Pintu terbuka dan langsung menampakkan sosok pria tinggi dengan siluet yang tak asing lagi.


“Belum tidur?” Tanya Andy dengan suara yang memang benar itu miliknya. Andy membuka topi dan kacamata hitamnya.


“Andy…” ucap Anita lirih dengan bibir bergetar hingga kedua pelupuk matanya sudah basah.


Andy yang ia khawatirkan nyatanya kini berdiri tegap dihadapannya.


“Ka-kamu…?”


“Ya, aku selamat”


Anita terisak. Entah mengapa ia malah menumpahkan air matanya meski tak ingin. Apa yang ia rasakan saat ini Anita juga tak paham.


“Kenapa kamu menangis, Anita?”


Andy mendekatkan tubuhnya lalu mengulurkan tangannya ke wajah Anita yang sudah teraliri bulir air mata. Wanita itu segera menampiknya dengan keras sambil masih terisak.


“Mengapa aku bisa menangis saat membayangkan kamu mati? Mengapa aku bisa sekhawatir ini! Bukankah seharusnya aku senang, kamu sudah menerima karma!”


“Kamu…mencemaskanku, Anita?”


Anita tak menjawab, ia sibuk terisak, Saat tubuh mereka berhadapan sangat dekat saat ini, saat wajah Andy dengan garis wajah yang begitu tegas dan mendominasi hanya berjarak tak lebih satu jengkal di depannya, Anita makin tak bisa membendung emosinya.


“Kalau kamu selamat, mengapa kamu sulit dihubungi, Hahh!” erang Anita makin tak mengerti mengapa ia sekhawatir ini pada pria yang dibencinya.


“Anita, A-Aku…”


Anita lantas menghapus air mata diwajahnya. Bodoh sekali ia sampai menumpahkan air mata sia-sia seperti ini.


Andy kembali mengulurkan lengannya namun lagi-lagi Anita menampiknya hinggan kedua tangan Andy kini menggantung diudara.


“Bagus kalau memang tidak mati!” tekan Anita di akhir kalimatnya lalu berbalik pergi.


Namun sebuah genggaman tangan dilengannya kini menahan langkah Anita sampai wanita itu refleks membalikkan tubuhnya kembali.


“Maaf, sudah membuatmu khawatir, Lain kali aku tidak akan ceroboh. Kamu tidak apa? Ada yang sakit?”


“Ya, sudah tidurlah” Andy melepaskan genggamannya dan membiarkan Anita kembali ke kamarnya “Ponselku hilang, aku bawa milik Jimmy ini. Nanti aku kirim nomornya ke ponselmu”


Anita tak menyahut dan langsung memasuki kamarnya. Dielusnya lengannya bekas jemari Andy yang terasa masih menempel di sana. Sentuhan yang begitu berbeda dari yang dilakukan Andy saat pertama kali mereka bertemu.


“Kenapa aku ini? Cengeng sekali. Baru melihat dia selamat saja sudah menangis. Harusnya kan aku bersyukur dia sudah kena balasan karena sudah jadi manusia yang kejam”


Anita memukul kepalanya sendiri karena memikirkan hal yang tidak-tidak. Terlebih ucapan pedas opa Hardi kemudian menggaung ditelinganya. Anita memilih merebahkan diri dikasur lalu memejam setelah merasa lega karena Andy pulang dengan selamat.


Pagi harinya, Anita yang baru saja mendapat serangan pagi dengan bentuk penyiksaan lain yang harus dialami dan dijalaninya setiap hari. Tak ingin mengurung diri, Anita berencana keluar hanya sekedar menghirup udara bebas dari balkon.


Namun baru saja membuka pintu, ia melihat Andy bersama beberapa pria berbaju hitam tengah berunding di ruang tamu, Anita memundurkan lagi langkahnya agar tak terlihat oleh siapapun.


Bi Umi kemudian memasuki kamar mengantar sarapan seperti biasanya.


“Bi, mulai nanti tidak perlu repot membawa makan ke sini, ya. Biar saya yang keluar” ucap Anita sungkan.


Tak terbiasa hidup penuh dengan pelayanan seperti ini membuat Anita merasa asing, Terlebih wanita yang terbiasa bekerja keras itu kini hampir disebut sebagai pengangguran. Raganya seolah meminta dirinta untuk bergerak andai tidak ada makhluk hidup bernama janin yang tumbuh di rahim nya.


“Tidak apa, Nyonya. Saya kan juga perlu memastikan vitamin dan obat yang perlu nyonya muda minum”


Anita menerima nampan itu lalu meletakkannya sendiri ke meja kamar “Tolong ingatkan saya saja kalau waktunya minum Vitamin, Nanti saya yang ke tempat bi Umi, oke”


Bi Umi nampak senang Anita sudah tidak lagi menutup diri padanya.


“Oh,ya Tamu di depan masih ada?”


“Baru saja pergi, Nyonya. Tuan Muda juga sudah masuk kamarnya”


Anita mengangguk lalu segera melahap sarapan paginya.


Semenjak mendengar kabar Andy yang mengalami kecelakaan, entah mengapa nafsu makan Anita mendadak hilang. Pagi ini setelah sarapan dan meminum obat, Anita membawa sendiri piring kotornya keluar dan mencucinya.


“Lho, Nyonya. Sedang apa? Biar bibi saja.Aduhh! Nanti bibi kena marah Tuan Muda!”


Bi Umi langsung menyahut piring dari tangan Anita dan meletakkannya kembali ke bak cuci piring.


“Kena marah? Apa dia juga kejam sama BI Umi?”


Bi Umi jelas menggeleng lalu membalikkan badan Anita menjauh dari dapur “Nyonya mau saya kupasin buah?”


“Tidak, terima kasih, saya… kesana saja” Anita menunjuk ke meja kerja barunya yang belum dia sentuh.


Menuju ke sebuah sudut yang menjadi miliknya saat ini, tak peduli opa Hardi yang membelikan untuknya entah dengan maksud apa, kini Anita mendudukan dirinya.


Sebuah layar tab baru dibukanya dan langsung menampilkan aplikasi desain yang canggih. Sebuah mesin jahit elektrik keluaran terbaru juga dielus Anita dengan haru. Benda-benda ini dulu menjadi makanan sehari-hari waktu masih kuliah jurusan seni rupa.


Namun, karena perekonomiannya memburuk, akhirnya Anita harus mengubur dalam-dalam impiannya untuk menjadi seorang desainer pakaian.


Anita menggeser jendela kaca yang ada di samping tempat duduknya. Udara pagi dengan seberkas sinar matahari yang menghangatkan tubuh kini menyapu tubuhnya, Anita menghirup dalam-dalam oksigen yang menyehatkan.


Bagaimana kelanjutan cerita ini?


Nantikan di bab selanjutnya yaahh…..