One Night Stand With Me

One Night Stand With Me
BAB 65



Anita yang tak ingin Andy terlalu kelepasan terbiasa dengan keberadaan mereka tinggal bersama itu kini menyingkirkan tangan kiri suaminya dengan sembarang.


“Aakkh! Shhh!” pekik Andy langsung merasa lehernya nyeri karena Anita melempar lengannya begitu saja.


Anita segera berbalik dan mendapati Andy yang mengernyit merabai kepala bagian belakangnya.


“Kenapa? Ada apa?” Anita pun panik melihat Andy yang kesakitan.


Menyalakan lampu kamarnya hingga terang, Anita membangunkan dirinya , lalu membalikkan tubuh Andy dan mengecek bagian belakang kepalanya.


“Astaga, memar! Kenapa ini? Kamu habis berantem? Sudah ke dokter?”


“Gak papa, aku tidak apa”


“Tidak apa apanya! sampai bengkak seperti itu!” gerutu Anita langsung turun dari ranjang, dan pergi ke gudang tempat penyimpanan obat.


Diambilnya sebuah ice bag dan kotak obat lalu setengah berlari ia kembali ke kamar saat Andy sudah mendudukkan dirinya ditepi tempat tidur.


“Jangan lari, Anita, Kamu selalu lupa kalau sedang hamil”


Anita jadi tidak enak sendiri dengan Andy yang memperhatikan setiap pergerakannya, Anita sendiri yang sampai detik ini mencoba tidak memiliki perasaan apapun pada kehamilannya itu hanya tertunduk dan mengangguk.


Ia paham Andy hanya mencemaskan kehamilannya, bukan dirinya.


Anita menempelkan kompres dingin ke leher Andy yang menahan perih, lalu mencari obat pereda nyeri dan memberikannya pada Andy yang langsung meminumnya.


Melihat luka memar di tengkuk suaminya, Anita yang akhir-akhir ini memiliki perasaan super sensitive itu malah tidak bisa menahan sedihnya,


Anita malah terisak meski sekuat mungkin coba ia tahan.


“Anita, kamu…tolong jangan menangis, Anita. Aku….aku minta maaf sudah membuatmu khawatir”


“Aku tidak khawatir!” tampik Anita mencoba membohongi perasaannya sendiri.


Wanita itu lantas menata bantal dengan menumpuk beberapa bantal lalu meminta Andy menyandarkan punggungnya dengan nyaman di tumpukan bantal itu dengan kompres yang masih menempel di area leher belakangnya.


“Terima kasih” ucap Andy tulus dengan menarik tangan Anita agar tidak menjauh darinya.


Akhirnya Anita pun ikut duduk dan tidak jadi tidur padahal hari sudah berganti.


“Tidurlah, besok pagi tidak perlu ke Esmode dulu, biar aku panggilkan pengajar untuk ke sini agak siangan”


Anita yang tak menolak usulan Andy yang lumayan masuk akal karena besok pagi Anita pasti akan payah karena begadang seperti ini.


“Habis minum, lalu berantem dengan siapa?” Anita yang juga meninggikan bantalnya itu bertanya dengan wajah datar meski perasaannya begitu khawatir dengan luka memar memerah yang memenuhi leher suaminya.


“Tidak berantem dengan siapa-siapa, hanya insiden kecil. Maaf ya, kamu jadi repot, Lain kali aku akan lebih berhati-hati”


Anita tetap duduk bersandar di posisinya saat Andy kini mengulurkan tangan seperti biasa ke bagian perutnya yang sudah terasa sedikit mengeras di bagian bawah, Andy merasa lucu bahwa yang dirabanya saat ini akan terus tumbuh besar nantinya.


Merasakan Andy yang begitu mencintai calon anaknya, hidung Anita kembali menghangat dan sejurus kemudian malah menghasilkan bulir air mata kembali diwajahnya.


“Anita, tolong jangan menangis” Andy pun menegakkan posisinya menghapus air mata yang menghiasi wajah cantik Anita.


Andy mendorongkan dirinya mendekati Anita yang diliputi kekalutan dalam jiwanya “Anita, mengapa kamu menangis?”


Anita menggeleng lalu mengusap wajahnya namun tangan Andy segera menahannya dan mengganti dengan jemarinya kini yang mengusap pelan wajah Anita dan memainkan ibu jarinya di pipi Anita yang mulus.


Anita merasakan hembusan napas Andy yang menderu hebat diwajahnya, Betapa ucapan dan wajah Andy begitu memabukkan kini Anita jelas berperang dengan melawan logikanya sendiri.


Sampai kemudian Andy menempelkan pipinya ke pipinya Anita lalu menahan nya sampai deruan napas Andy kembali menghangat.


Namun sialnya, Andy segera menahan kepala Anita agar tidak menjauh dan mendorongnya kembali, “Anita, virus kita itu tidak akan membelah diri dan beranak pinak hanya karena aku mencium pipimu, kan?”


**


Sementara itu ditempat lain..


Plakk!


“Keterlaluan kamu, Anna” murka Ivan saat pagi-pagi sudah mendapatkan kabar bahwa nilai saham di perusahaannya hari ini anjlok.


Terlebih penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah Anna yang menyinggung Andy semalam. Anna sendiri yang mendapat tamparan dari ayahnya kini meminta perlindungan sang ibu yang langsung memeluknya.


“Sudah berapa kali papa peringatkan kamu! Kenapa kamu masih nekat!”


Anna masih mengelus pipinya yang panas dalam dekapan ibunya yang tidak berani menginterupsi kemarahan suaminya.


“Papa membebaskan kamu hidup senang diluar sana bukan berarti kamu jadi ngawur! Lihat sekarang akibatnya! Puluhan tahun papa menjaga perusahaan ini baru sekarang goyah karena ulah kamu!”


“Tapi, Pa –“


“Sttt!” Alina membungkam mulut anaknya agar tidak menyahut saat Ivan sedang murka.


“Dengar, Anna. Hubungan papa dengan keluarga Hardi sebelum ini tidak ada masalah, dan sekarang kamu sudah merusak semuanya hanya karena cinta butamu itu!”


“Anna hanya ingin mendapatkan Andy kembali, Pa..” Sambil terisak Anna mencoba melunakkan hati ayahnya yang sangat jarang memarahinya itu.


“Kalau papa bilang jangan ya jangan! Andy sudah memilih orang lain dan kamu jangan jadi wanita yang tidak punya harga diri!” Ivan sampai menunjuk tajam ke depan Anna dengan napas yang tersengal besar.


Hingga kemudian sang istri bingung lalu mengelus punggung suaminya agar tidak terlalu keras pada putri mereka.


“Papa, sudah! Jangan terlalu emosi, nanti tensinya naik lagi”


“Terakhir kalinya papa peringatkan kamu, Anna. Mulai hari ini papa tutup semua akses kebebasan kamu! Tidak ada lagi yang bisa kamu suruh-suruh melakukan hal konyol lagi seperti semalam”


Anna jelas mendelik kesal dengan hukuman ayahnya yang meski terlihat sepele namun membuat gadis yang terbiasa hidup bebas dan senang itu kini menghentakkan kakinya jengkel.


Anna yang memanfaatkan koneksi ayahnya untuk bisa masuk ke area dinner meeting khusus para pengusaha itu kini harus gigit jari, terlebih lagi ia sudah tidak bisa meminta tolong pada orang-orang Ivan yang ia suruh semalam untuk memuluskan rencananya menggiring Andy padanya.


Sementara Ivan yang kini memasuki kamarnya masih terbawa emosi belum bisa mengendalikan situasi mencekam diperusahaan, Andy sengaja memberi peringatan keras pada siapa saja yang berani menyinggungnya.


“Sabar, Pa. Tenangkan pikiran dulu supaya tidak salah langkah, Tidak apa, hanya anjlok sedikit, Kita pasti bisa menaikkannya kembali, Papa fokus ke perusahaan saja, biar Anna, mama yang urus”


Alina masih berusaha menenangkan suaminya yang terlampau emosi karena Anna tak mengindahkan peringatannya.


...Bagaimana kelanjutan ceritanya?...


...Apakah Anna mengikuti peringatan dari ayahnya atau malah membangkang demi cinta pada Andy?...


...Nantikan di bab selanjutnya…tetap dukung othor yah..salam hangat selalu...