
Anna lantas menghubungi ayahnya untuk mengadukan sakit hatinya. Namun suara dering ponsel malah terdengar di sekitarnya. Anna membalikkan badan dan mendapati sang ayah memasuki rumah masih dengan pakaian kerja dengan langkah pelan cenderung gontai.
“Lho, Papa! tumben sudah pulang? Papa sakit?”
Ivan menggeleng dan menyambut putrinya yang setengah berlari menghampirinya.
“Paa, sudah dengar berita? Andy sudah menikah” rengek Anna pada sang ayah hingga bergelayut manja “Anna tidak terima, Pa. Jelas-jelas baru berapa lama kita dijodohkan, kok tiba-tiba Andy menikah, Ada apa ini?” adu Anna jelas kesal karena mendapat penolakan yang tidak hormat oleh Andy yang membuangnya begitu saja meski mereka tidak pernah ada komitmen dalam hubungan apapun.
“Emm, Anna, kamu mau berangkat, kan? Papa mau istirahat dulu, boleh?”
Anna lantas cemberut karena aduannya tak berarti dan ia tak ingin memaksa.
“Anna biarkan papamu istirahat. Kamu berangkat sana! Ditinggal Andy menikah saja, sudah patah hati, memangnya tidak ada pria lain?” ucap Meni yang lantas mengantar suaminya ke depan rumah saat sang manajer sudah menjemputnya.
Ivan kemudian memasuki kamarnya dengan keresahan yang tak ingin ia tunjukkan ke anak dan istrinya. Ponselnya menyala dengan nama Victor Susanto dilayar.
Ivan mendesah lirih, Dibukanya jas dan melonggarkan kacing kemeja untuk merehatkan tubuh dan pikirannya. Dibiarkan Victor yang terus memanggilnya sampai layar itu mati dengan sendirinya.
“Papa mau teh hangat?” tawar Meni saat mengintip suaminya yang merebahkan tubuhnya di sofa.
“Tidak perlu, papa mau sendiri dulu sebentar”
Meni segera mengangguk lalu menutup pintu kamar membiarkan suaminya yang ingin sendiri. Sebuah pesan masuk dari Victor yang membuatnya makin gelisah saat ini.
“Pasti sudah dengar berita yang menghebohkan hari ini. Ratih dibuat malu karena orang-orang mengira Andy yang menikahinya. Ada apa ini? Kamu pasti tahu. Aku tunggu jawabanmu segera!”
Bak sebuah ultimatum keras untuk dirinya, Ivan kini menengok kembali ponselnya ke sebuah gambar yang mengguncang dunia bisnis otomotif dengan pernikahan seorang pebisnis muda yang di kenal tidak mudah disentuh.
Namun bukan Andy yang menjadi perhatian pria itu saat ini, Meski ia tahu Anna mengenalnya dan memiliki hubungan tanpa status dengan pria itu. Ivan tidak peduli. Budaya kebaratan yang dijalani putrinya tidak terlalu diambil pusing.
Namun sosok wanita yang mampu bersanding dengan Andy lah yang saat ini mengusik pikiran Ivan yang telah bertahun-tahun seakan sirna dari belahan memorinya.
“Anita? ini benar kamu, Anita?”
**
“Apa-apaan ini, Oma? ,Mengapa oma mengambil langkah besar tanpa berunding dulu dengan Opa?” giliran Hardianto kini melakukan siding tunggal pada istrinya yang tanpa persetujuannya tiba-tiba mengumumkan pernikahan Andy pada khalayak.
“Salah oma dimana? Sampai kapan pernikahan ini akan disembunyikan?”
“Sudah banyak yang bertanya cucu menantu kita ini anaknya siapa? Dari perusahaan mana? Oma mau jawab apa? Apa mau dijawab dia anaknya siapa juga tidak tahu bapaknya kemana!”
“Ohh, jadi sebenarnya Opa belum rela, Andy menikah dengan Anita yang bukan siapa-siapa, hem?”
“Oma tidak paham apa yang akan terjadi setelah ini!” Hardi kembali mengetukkan ujung tongkatnya ke lantai pertanda ia sudah murka. Namun dengan tubuh tuanya yang sudah digerogoti beberapa penyakit, Hardianto jelas tidak bisa seperti dulu mengungkapkan rasa amarahnya.
“Anggap oma memang tidak pernah paham apa yang Opa sudah rencanakan. Oma hanya ingin Andy lebih bertanggungjawab terhadap keluarganya dan ingat dia sudah menikah!”
Balasan Harlina kini tak kalah sengit. Tak ingin lebih lama berdebat, wanita itu memilih pergi menemui Anita saja daripada menuruti kemarahan suaminya.
Menghentakkan kakinya saat melangkah, Harlina mendengus kesal melirik suaminya yang mematung dengan tatapannya. Wanita itu paham suaminya tengah marah-semarahnya.
“Halo, Andy. Malam ini oma bermalam di rumah kamu, siapkan kamar!”
Dan baru saja Andy menengok grup pecinta sport mobil yang sudah penuh dengan puluhan chat saat ia menjadi bahan ejekan oleh teman-temannya yang jelas mengenali Anita sebagai gadis pemandu karaoke yang dibawanya kabur malam itu.
“Haha, cemen loe, Andy. Ujung-ujungnya loe kawinin juga. Jangan-jangan udh hamil duluan”
“Iya, nih! Andy udah kagak punya taring sekarang. Wajah aja sangar tapi hatinya Barbie”
“Kalau gitu kasih aja Anna buat gue aja, Andy!”
Dan puluhan chat lainnya yang membuat otak Andy jelas mendidih. Tanpa berkomentar apapun, Andy langsung keluar dari grup itu.
“Brengsek! Hilang harga diriku di depan mereka, Sialan!” umpatnya kemudian memasuki kamar dengan kesal meski ia juga bersyukur terbebas dari lingkaran yang akhirnya membuat hidupnya tidak penting.
Sementara Anita yang tidak tahu menahu soal pengumuman besar hari ini memekik girang mengetahui Harlina datang mengunjunginya malam ini.
“Bagaimana kabar kalian? Masih rewel ?” Wanita tua itu mengelus perut Anita yang belum terasa apa-apa.
“Baik, Oma, Masih tapi Anita sudah mulai bisa kendalikan”
“Bagus, kamu memang cucu oma yang baik” Harlina menangkupkan kedua telapak tangannya bangga pada sosok Anita yang begitu penurut dan tidak pernah menuntut. “Oh ya, Oma mau menginap di sini malam ini, boleh?”
“Silahkan, oma, Anita malah senang!”
Andy kemudian datang menghampiri nenek dan istrinya di ruang tengah.
“Kamu baik-baik saja kan hari ini, Andy? Tidak ada yang aneh-aneh, kan?”
Andy hanya menggeleng datar dan tak peduli meski kelopak matanya berdenyut karena banyak yang membicarakannya hari ini.
“Bagus, kamu sudah siapkan kamar oma? oma mau tidur di kamar itu” Harlina menunjuk ke kamar yang ditempati Anita setiap hari.
“Oma mau tidur sama Anita? Boleh dengan senang hati!” jawab Anita dengan polosnya lalu menarik pelan pergelangan tangan Harlina yang jelas menahannya.
“Tidur sama Anita? Tidak salah? Oma mau tidur sendiri. Anita yang tidur sama Andy sana di kamar utama!”
“Apa!Andy tidak salah dengar,Oma!”
“Mulai malam ini kalian harus terbiasa tidur satu kamar! Suami istri macam apa yang tidur terpisah!” titah Harlina beranjak tanpa bisa dibantah meninggalkan Anita dan Andy yang kemudian saling pandang.
“Tidurlah. Biar aku di sofa”
Anita yang masih duduk canggung ditempat tidur tidak berani bergerak. Untung saja ini adalah kamar baru dengan tatanan yang berbeda dari kamar Andy ditempat yang lama. Jadi ia tidak perlu merasa trauma berada di tempat yang digunakan untuk menyiksanya dulu.
Wanita itu melirik Andy yang menenggak sebuah pil berwarna putih lalu membentangkan selimut dan merebahkan dirinya di sofa panjang.
“Obat apa itu?” Batin Anita ketika melihat Andy menenggak pil penenang.
Bagaimana kelanjutan ceritanya?
...Nantikan di bab selanjutnya…...