
“Eh teman-teman!” Seorang wanita muda teman satu kelas Anita yang baru memasuki ruangan kini berseru di depan semua yang ada di kelas “ Di luar situ ada cowok super cool yang ngeliatin ruangan ini lho!"
Deghh!
Anita memejam erat lalu sudah bisa menebak pasti yang dimaksud wanita itu adalah Andy, suaminya.
“Oh ya,? Se cool apa?”
“Ganteng banget pokoknya, Bodynya duhh. jangan-jangan dia nyari pacar di sini”
“Mana, mana?”
Riuh rendah suara setengah berbisik membicarakan Andy yang mungkin belum pergi itu jelas mengusik telinga Anita hingga ia memutuskan ijin sebentar ke kamar kecil.
Berjalan dengan cepat dan menghentakkan langkahnya, Anita kini melabrak suaminya yang malah terkekeh tak berdosa.
“Hati-hati, jangan terlalu cepat jalan”
“Ngapain kamu masih disini! Orang-orang membicarakanmu di dalam, Sengaja nampang? Aku kan sudah bilang aku tidak mau ada bayang-bayang siapapu di sini!”
“Terus?” goda Andy makin senang melihat raut cemberut Anita yang nampak lucu.
“Hihh! Nyebelin! Aku gak kenal kamu!”
Anita kembali berbalik badan dan berjalan kesal memasuki ruang kelasnya, Akhirnya setelah lelah sendiri berdiri tak jelas, Andy pun pergi.
Sore harinya di pintu keluar gedung perusahaan , Andy yang sengaja pulang kerja lebih awal demi bisa menjemput istrinya pulang itu keluar dari portal perusahaannya dengan mengendarai sendiri kendaraannya.
“Itu dia! Cepat ikuti!” perintah seorang pria pada supirnya untuk membuntuti kendaraan mewah milik Andy dari pintu keluar perusahaan sampai ke jalan raya “Rapat sekali dia menyembunyikan istrinya”
Sekitar tiga puluh menit kendaraan Andy kemudian berbelok ke Esmode dan benar saja, Anita sudah menunggunya di lobby agar bisa langsung naik mobil tanpa terlihat berjalan bersama siapapun.
“Anita? Itu benar kamu, Anita?”
Jantung Ivan terasa bergedub kencang saat hanya bisa menyaksikan seorang wanita dengan dress casual warna army dan rambut tergerai nampak membuang wajah ke segala arah lalu tertunduk dan memasuki mobil milik Andy yang langsung berhenti didepannya.
Meski hanya bisa menyaksikan dari dalam mobilnya dengan jarak yang tidak dekat, namun Ivan yakin yang ia lihat itu memang Anita . Mengingat pula Ratih yang sering ia lihat, Ivan yakin seribu persen bahwa Andy memang menikah dengan Anita.
Anita terakhir yang ia lihat lebih dari dua puluh tahun lalu saat usianya masih dalam hitungan bulan.
Ivan mengusap wajahnya kasar dengan seruan napas naik turun hingga ia tak paham apa yang harus dilakukannya saat ini.
“Bagaimana ini? Dimana Dewi? Hehh. dunia begitu sempit, Sudah puluhan tahun, hari ini pasti akan datang”
Ivan masih berdiam diri di mobilnya meski kendaraan Andy yang tadi dibuntutinya sudah pergi. Pria itu masih memijit pelipisnya saat ponselnya berdering saat ini.
“Iya, Claire. Sayang. Sudahlah, move on Claire, Seribu Andy pasti bisa kamu dapatkan dengan mudah, atau papa carikan yang lebih segalanya dari dia, gimana? Jangan cari masalah, Claire. Kamu anak papa satu-satunya. Kalau ada masalah seperti keluarga Susanto yang dibuat kalang kabut sama Andy itu, apa kamu tidak kasihan dengan papa? Sudah, sudah! Papa tidak mau dengar lagi kamu masih mengejar-ngejar dia!”
Ivan kembali mengusap wajahnya lalu meminta supirnya pergi dari tempat ini.
Sementara Andy yang menjemput sendiri istrinya kini melihat Anita yang masih sibuk membaca catatannya.
“Hey, apa tidak pusing membaca di mobil?”
Anita hanya menggeleng sambil terus membolak balik buku catatannya.
“Setelah ini aku drop kamu saja ya, anita. Aku masih ada undangan dinner meeting diluar”
“Tidak bisa! Aku harus tetap memastikan kamu aman dimanapun berada” tolak Andy tegas dan tak membiarkan Anita yang tengah menjadi incaran banyak orang itu pergi kemanapun sendiri.
“Tapi aku tidak bisa mendengar banyak orang yang membicarakanmu didepanku. Ternyata kamu begitu tenar, atau aku saja yang tidak tahu kamu setenar itu?”
Anita kini melirik suaminya yang memang secara penampilan, wanita mana yang tidak terkesima dengan fisik Andy yang sempurna, seperti yang banyak orang bilang di depan telinga Anita sendiri.
“Iya, memang kamu yang paling tidak tahu, Tapi cuma kamu yang berani membentak dan mengusirku, berani muntah ditubuhku dan berani..”
“Berani apa!” hentak Anita dengan suara keras karena Andy selalu senang mengingatkan soal awal pertemuan mereka yang begitu membuat kenangan buruk. Terlebih lagi insiden muntah ditubuh Andy.
“Berani…mengambil sesuatu yang selama ini tidak aku berikan ke wanita manapun”
Degh!
Anita mulai gentar karena wajah Andy kini berubah serius, dan wanita itu tidak berani lagi melanjutkan bentakannya, Seketika suasana mobil ini begitu dingin dan Anita kini tertunduk tak berani bergerak.
“Kamu tidak tanya apa itu, Anita?”
Anita menggeleng kecil tak ingin Andy melanjutkan ucapannya.
“Anita. apa kamu sadar, kamu sudah..mengambil hatiku?”
**
“Aku langsung pergi, ya.Kamu istirahatlah cepat, jangan begadang. Aku usahakan sebelum tengah malam sudah pulang”
Anita mengangguk saja saat Andy kemudian mengacak rambutnya lalu keluar mobil sambil menunduk menahan debar di dadanya.
Membawa buku catatan tebal dalam pelukannya, Anita bahkan tersipu saat akan memasuki rumah mereka,
“Mengambil hatinya?” batin Anita mengulang kembali ucapan Andy padanya.
Bersandar pada dinding, Anita bahkan tak berhenti tersipu dengan wajah memerah. Bagaimana kehidupannya begitu berjalan drastis. Tak pernah terlintas dalam benaknya bahwa seorang Andy yang begitu keji dan dibencinya, kini malah menunjukkan kelembutan perasaan padanya.
Anita berjalan memasuki rumah dengan tersenyum sendiri hingga dia terkejut.
“Hahh!” pekik Anita terjingkat luar biasa sampai buku catatan yang dibawanya terjatuh hingga membuat tubuhnya seketika gemetar.
Sepasang mata tajam kini menghadangnya dengan pandangan yang menusuk menakutkan.
“Sudah sangat terlena ya dengan perlakuan Andy yang sangat baik ke kamu. Jangan dikira Andy mencintaimu, dia hanya terbiasa karena kalian tinggal bersama. Andy hanya bertanggung jawab atas kehamilanmu, tidak lebih! Ingat tujuan awalmu dinikahi oleh pria yang sama sekali tidak sepadan denganmu”
Anita mengangguk takut dan tak berani mengangkat wajahnya saat ini, Tubuhnya bahkan terasa tak memiliki tulang dan ingin jatuh saat opa Hardi meski dengan tubuh tuanya begitu mengintimidasi dirinya.
“Jangan jadikan penyakit yang dibawa Andy untuk kamu tidak menjaga calon anak Andy dengan baik. Sedikit saja terjadi sesuatu pada bayi itu, kamu sudah tahu akibatnya”
Anita lagi-lagi tak berani menjawab, Ia begitu tertekan sampai ingin menangis saja ia sudah tidak sanggup.
“Jangan sekali-kali menganggap kebaikan Andy sebagai senjatamu untuk mengingkari perjanjian itu. Surat cerai akan langsung dilayangkan satu hari setelah kamu melahirkan, Dan Andy akan segera menikahi wanita lain yang lebih pantas bersanding dengan dia! Sudah ada yang menunggu perceraian kalian!”
...Bagaimana kelanjutan ceritanya?...
...Nantikan di bab selanjutnya…tetap dukung othor yah..salam hangat selalu...