One Night Stand With Me

One Night Stand With Me
BAB 63



“Jangan sekali-kali menganggap kebaikan Andy sebagai senjata mu untuk mengingkari perjanjian itu. Surat cerai akan langsung dilayangkan satu hari setelah kamu melahirkan, Dan Andy akan segera menikahi wanita lain yang lebih pantas bersanding dengan dia! Sudah ada yang menunggu perceraian kalian!”


Anita sedikit menggeser kakinya saat Hardianto dengan tongkat kayunya itu kini melangkah menuju pintu keluar.


Anita terguncang hebat, ingin sekali ia menangis namun hatinya begitu sakit bercampur ketakutan luar biasa,


“Jadi Andy tidak benar-benar tulus? Dia hanya bertanggungjawab?” lirih Anita berjalan pelan. Sejurus kemudian Anita mengangguk dan mengusap wajahnya “Ya, aku memang harus tetap tahu diri!”


**


Sementara itu ditempat lain, Harlina yang sore ini mempunyai waktu untuk pergi lantaran suaminya juga pergi ke tempat lain kini sudah duduk dengan perasaan tak karuan.


Di sebuah ruang besuk tahanan dengan sebuah meja kayu ukuran sedang dan dua bangku panjang berhadapan, kini Harlina duduk dengan anggun, meski menyimpan pikiran yang kalut.


“Mama?”


Harlina mendongak saat melihat putra bungsunya datang dengan pakaian tahanan dan kedua tangan terikat rantai borgol.


Hati ibu mana yang tak runtuh melihat putra yang kini tinggal satu-satunya itu menjadi pesakitan di tahanan. Harlina membuang napasnya berat. Meski terbukti bersalah, namun hatinya terlalu perih mengakui kejahatan yang diperbuat anaknya sendiri.


Abraham pun mengambil duduk didepan ibu yang menatapnya miris.


“Mama sehat?”


“Abraham , mengapa kamu tega melukai keponakanmu sendiri?” Harlina langsung ke pokok tujuannya datang ke rumah tahanan ini “Apa salah Andy ke kamu? Mengapa dia yang kamu jadikan sasaran?”


“Hehh!” Abraham mengangguk lalu menaikkan salah satu sudut bibirnya sinis “Tanyakan hal itu pada suami mama yang angkuhnya tidak pernah runtuh itu”


“Abraham, biar bagaimana dia tetap orang tuamu!”


“Orang tua mana yang selalu pilih kasih pada anaknya sendiri? Orang tua yang hanya ingin dituruti tapi tak ingin mendengar? Orang tua yang sudah tidak menganggap anaknya sendiri masih hidup? Kalian sudah terlalu menjunjung tinggi Lukman bahkan di saat dia sudah mati pun kalian tetap tidak menganggap Abraham ada!”


Pria itu sampai menunjuk dirinya sendiri dengan emosi yang luar biasa di ujung kepalanya. Napas Abraham kini menderu kasar, Bahkan ia tak leluasa meluapkan amarahnya meski di depan sang ibu yang lebih melunak ketimbang seorang Hardianto yang sudah membuangnya sebagai anak sejak lama.


“Kalau kamu marah sama orang tuamu, lalu mengapa Andy yang harus jadi sasaran?” Menahan isaknya, Harlina kini semakin pedih merasakan suami, anak dan cucunya kini saling berseteru.


“Hehh! Kalian bahkan lebih mencintai anak itu ketimbang anak kalian sendiri, Memberikan semua yang kalian miliki pada Andy ketimbang aku yang anak kandung kalian sendiri, Apa itu adil? Puluhan tahun Abraham diam! Puluhan tahun pula Abraham dicap sebagai anak pembangkang! Lalu saat Andy bisa menikmati semua yang kalian berikan, kenapa Abraham tidak!”


Braakkk!


Pria itu sampai menggebrak permukaan meja kayu dengan pergerakan tangannya yang terbatas, Harlina sampai terjingkat lalu mengelus dadanya merasakan hawa panas yang diciptakan anak bungsunya pada orang tuanya sendiri.


“Mama ingat ucapanku! Kemarin baru Andy yang kusentil. siap-siap saja siapapun yang papa berikan harta berikutnya, dia yang akan jadi sasaran!” ancam Abraham lalu beranjak pergi meninggalkan sang ibu yang duduk pilu.


Harlina tak bisa mencegah apapun saat sang suami, anak lelaki dan cucu satu-satunya berlomba mengeraskan hati dan kepala mereka masing-masing.


**


Sementara itu disebuah hotel bintang lima ditengah kota, Andy yang mendapat undangan dinner meeting dari salah satu kolega kini duduk di salah satu sudut Fine Dining Restaurant.


Meski tak mengenakan suite resmi layaknya tamu lain, justru penampilan Andy dengan kemeja tanpa jas yang membuat dirinya jadi terlihat berbeda dari tamu lainnya.


Acara berlanjut dengan suasana lebih santai berteman dengan sajian wine mahal dan full service entertainment. Pelayan restoran sudah berkeliling membawa botol wine untuk dituangkan kepada saja yang memesan.


“Bapak Andy, sebelumnya saya ucapkan selamat atas pernikahannya, meski sangat terlambat sekali” ucap salah seorang pengusaha padanya.


Dan Andy hanya membalasnya dengan senyum tipis yang menjadi ciri khasnya.


“Istrinya belum ditampilkan ke depan publik, Tuan Andy? Kami juga banyak yang penasaran siapa yang berhasil mengambil hati Tuan Muda ini” Kelakar pengusaha lainnya yang sangat tidak enak didengar oleh Andy yang tak ingin berbasa basi itu.


Kalau karena bukan tujuannya mengakuisisi salah satu perusahaan, Andy tidak sudi datang ke acara super basa basi seperti ini, Bahkan setiap kali berbicara dari satu orang ke orang lainnya, ia harus mengetukkan ujung gelas wine hingga sudah tak terhitung lagi banyak wine yang sudah diminumnya.


Andy kini merasakan kepalanya sudah agak berat dan ia pun memilih melipir ke toilet dengan tubuh yang sudah sempoyongan.


“Sialan, aku habis minum wine apa anggur oplosan? Kenapa sakit sekali di kepala?” keluh Andy merasakan kepala bagian belakangnya yang seperti dihantam batu bata besar.


Andy menundukkan tubuhnya di toilet dengan harapan memuntahkan minumannya, namun entah mengapa ia tidak bisa, Ponselnya berdering saat Andy memilih mencuci wajah saja di meja wastafel.


“Halo, iya, Jimmy. Iya, saya mau pulang saja, Kepala saya pusing. Mabuk? Tidak, saya baik-baik saja. Iya, kamu tunggu sepuluh menit lagi”


DIlihatnya waktu sudah hampir tengah malam dan ia memilih menghubungi nomor Anita memastikan istrinya itu sudah tidur atau belum.


“Halo, Anita? Kenapa belum tidur?”


“Tidak apa, sedang belajar saja, Andy. kamu mabuk?” Tanya Anita saat mendengar suara Andy yang tak biasa dan sudah bergoyang.


“Mabuk? Tidaklah, hanya minum sedikit wine saja, setelah ini aku pulang”


“Bawa mobil sendiri? Jangan buat aku khawatir!”


Andy masih bisa menahan tawanya sendiri saat Anita dengan lugas bicara mengkhawatirkan dirinya.


“Tidak, aku menunggu Jimy. Kamu tenang saja”


Andy mematikan panggilannya dan kembali berusaha memuntahkan isi perutnya namun lagi-lagi gagal. Sampai kemudian ia merasakan ada seseorang memasuki toilet dan berdiri tepat dibelakangnya.


Andy melirik dari kaca toilet, seorang pria yang mengayunkan sesuatu dibelakang namun belum sempat Andy berbalik.


Bughh!


Pria itu sudah memukul tengkuk Andy hingga ia tak sadarkan diri, Andy pun terjatuh pingsan di lantai toilet. Pria itu dengan segera menangkap tubuh Andy.


...Bagaimana kelanjutan ceritanya?...


...Apakah Jimmy berhasil menemukan dan menyelamatkan Andy? ...


...Ataukah Anita merasakan ada sesuatu yang buruk terjadi dengan Andy?...


...Nantikan di bab selanjutnya…tetap dukung othor yah..salam hangat selalu...