
Dan Anita pun memaklumi karena Andy memang punya koleksi minuman yang tersimpan rapi di lemari kaca.
“Tidak boleh mendekat?”
“Iya!” balas Anita tanpa berpikir lalu ia pun teringat terakhir ada di meja kerjanya dan tiba-tiba sudah ada dikamar ini.
“Kalau…aku ingin mendekat?” goda Andy lantas mendekatkan tubuhnya kembali, namun Anita malah memberinya siku untuk menjauh.
Krucccuk! Kruuccuukk!!
Anita sontak menoleh saat terdengar suara perut keroncongan dan bisa dipastikan itu bersumber dari Andy yang kini memasang wajah memelas.
Sangat kontras dengan Andy yang kejam dan tidak memiliki perasaan seperti yang Anita sematkan dalam otaknya setiap saat.
“Kenapa sampai kelaparan?”
“Aku kan gila kerja, Anita”
“Kamu kan bukan orang susah, Andy!”
Anita lantas membangunkan tubuhnya beranjak pergi.
“Mau kemana, Anita?”
“Mau makan apa tidak!”
“Biar aku bangunkan Bi Umi saja!”
Anita sampai geleng kepala saat Andy sangat ketergantungan dengan wanita itu “Meski kamu bisa menggaji Bi Umi berapapun, kamu tidak akan bisa mengembalikan kesehatannya, Andy”
Anita segera masuk dapur diikuti oleh Andy dibelakangnya. Membuka lemari es dan mencari apa yang bisa dimakan dengan cepat malam ini.
“Wah, koleksi mie instan Bi Umi banyak sekali!” pekik Andy baru tahu dan baru melihat isi dapurnya.
“Kamu mau?”
“Boleh”
“Duduk situ! Ngapain kamu di belakangku?” perintah Anita begitu ketus namun Andy yang begitu sangar dihadapan orang lain itu malah menurut saja pada seorang wanita bernama Anita.
Anita menyalakan kompor dan mengambil panci berisi air. Sementara Andy mengambil sebuah jeruk sebagai pengganjal perut.
Anita berjalan cepat dulu ke kamarnya mengambil tali rambut dan mengikat mahkotanya berbentuk cepol ke atas, lalu mengenakan masker sekali pakai agar aroma mie yang menyengat tak menghantam indra penciumannya.
Kembali memasak mie, Anita kini mencari bahan lain sebagai campuran. Andy melirik kecepatan tangan istrinya yang lumayan juga saat sedang memasak.
“Kamu jago juga masak, Anita?”
“Tidak jago, Hanya terbiasa hidup susah! Jadi segala hal aku harus bisa”
“Terbiasa hidup susah?” ulang Andy dalam pikirannya. ‘Sedang Ratih terbiasa hidup mewah dan dimanja, Kalian bagai langit dan bumi” batin Andy kembali meracau bahwa saat ini bersyukur Anita yang ada di hidupnya.
Bukan gadis bernama Ratih yang andai malam itu dia yang hamil, Andy pasti akan mengalami bencana paling besar sepanjang hidupnya.
Semangkuk mie sudah siap dengan segala isian sayur dan potongan sosis dan telur didalamnya Anita letakkan tepat dihadapan suaminya.
Anita sudah berkali-kali menahan nafas karena aroma mie ini meski sudah terhalang oleh selembar masker, tetap saja menusuk dihidungnya.
Segelas cokelat hangat juga disajikan tanpa Andy meminta. Sebuah senyum kini tersungging bahagia di sudut bibir Andy yang baru pertama kali dilayani seperti ini selain oleh Bi Umi dan Harlina
“Makan saja, aku mau tidur”
“Lho, kamu gak nemenin? Aku makan sendiri?”
“Gak usah manja!” sembur Anita sambil berlalu.
**
Sementara itu….
“Para investor banyak yang menarik saham mereka dari perusahaan?” Ivan nampak mengerutkan wajahnya membaca berita berantai yang tengah hangat didunia bisnis.
Sebuah fasilitas mewah yang dinikmatinya selama bertahun-tahun lamanya. Pria itu menghubungi beberapa orang yang terlibat dalam penarikan diri secara massal itu.
Sekian lama tak mendapat jawaban yang memuaskan, Ivan tidak menyerah. Spekulasi demi spekulasi coba ia gambar.
“Padahal beberapa waktu lalu, Victor juga hampir kolaps, sekarang kejadian lagi” Ivan terpaku sejenak “Jangan-jangan masih ada hubungannya dengan Andy Hardiputra”
Ivan kembali berselancar dan benar saja. Beberapa investor itu berbondong beralih ke Hardiputra Corporations. Ivan lantas mengingat kembali ancaman Victor padanya waktu itu.
“Luar biasa di Andy itu. Dua kali sudah bikin si Victor itu tumbang, Hehh, aku jadi tidak perlu repot mengotori tanganku”
Pintu ruang direktur terbuka begitu saja dari luar tanpa diketuk. Ivan mendongak dan sudah bisa ditebak hanya seorang Claire Angelina Winata yang berani melakukan itu.
“Papa” sapa Claire begitu ceria siang ini dan langsung menuju manja ke pangkuan ayahnya.
“Pasti ada maunya ini” ucap Ivan yang sudah hafal tabiat Claire yang tetiba manja padahal gadis itu jarang sekali bermanja pada orang tuanya.
Claire tak sengaja menyapu layar tab milik sang ayah dan membaca apa yang baru saja dibuka.
“Ngapain papa buka artikel soal keluarga Susanto. Memangnya papa mengenal mereka?”
Ivan langsung mematikan layar tabnya agar Claire tidak bertanya lagi “Papa tidak kenal”
“Tapi anaknya itu terkenal sekali, lho. Terkenal sombong!”
Ivan memejam sejenak mendengar ucapan Claire yang entah mengapa mengusik sudut terkecil sanubarinya.
“Kamu juga kenal sama dia? Tahu dari mana dia sombong?”
Ivan mengusap rambut panjang Claire yang terurai lurus hingga punggung.
“Buktinya, Andy juga begitu membenci dia. Kasihan juga dia ingin sekali tidur dengan Andy tapi tidak pernah berhasil” Claire sampai terkekeh sendiri hingga lupa tujuan awalnya ke perusahaan milik orangtuanya ini.
“Ahh, kamu juga sama. Cuma hubungan tidak jelas, tapi Andy itu malah menikah sama wanita lain”
“Nah!” Claire menjentikkan jarinya “Itu yang mau Claire bicarakan dengan papa. Claire tidak terima Andy sampai menikahi siapa dia? Anak dari perusahaan mana? Tidak jelas! Jangan-jangan dia sudah hamil duluan!”
Ivan berusaha menelan ludahnya susah payah dan tetap menunjukkan wajah tak terpengaruh apapun yang diucapkan putrinya.
“Lalu kamu mau apa, Claire? Pria diluar sana sangat banyak, kenapa kamu tidak move on saja?”
“Tidak bisa! Claire mau merebut Andy bagaimanapun caranya!”
“Claire..jangan merusak karirmu hanya karena seorang pria. Nanti kamu dicap sebagai pelakor diluar sana”
“Claire tidak peduli!”
**
“Sudah selesai bajunya?”
“Sedikit lagi, tinggal finishing di beberapa bagian” Dengan serius Anita menggarap sendiri dua baju yang akan dia berikan esok hari sampai-sampai beberapa hari ini Anita rela begadang sampai larut malam.
“Ada yang bisa dibantu?”
“Tidak!” jawab Anita tegas sampai tidak memperhatikan keberadaan Andy yang berulang kali menggeser posisinya agar terlihat oleh istrinya.
“Anita,aku ada sesuatu buat kamu”
“Ohh!” jawab Anita singkat dan masih terus menarik jarum dan benangnya menambahkan aksen border di beberapa sisi baju.
Andy sampai jengkel lalu melempar lembaran pamphlet yang dibawanya ke meja kerja Anita yang lebar.
Anita masih belum berkutik . Dikejarnya waktu hanya sampai esok hari membuatnya tegang harus menyelesaikan dua baju sekaligus.
Sampai-sampai baju yang dia janjikan untuk Bi Umi harus mangkrak sementara.
... Bagaimana kelanjutan ceritanya? ...
...Tetap dukung othor yah dengan mengikuti cerita di bab selanjutnya….salam hangat selalu...