One Night Stand With Me

One Night Stand With Me
BAB 45



“Eumm, tolong madep sana Bi. saya mau ukur punggungnya”


Kedua tangan Anita memegang pundak Bi Umi untuk membalikkan tubuh wanita yang masih berusaha mencerna ucapan Anita barusan.


Anita memanjangkan meteran kain ke punggung Bi Umi sampai ke ujung kaki lalu mencatat ukurannya.


“Bi, di sampingnya mau dikasih layer,tidak? Biar terlihat lebih muda” Tanya Anita sambil menggoreskan pensilnya ke atas kertas untuk memberi sentuhan aplikasi layer di kanan dan kiri baju terusan panjang untuk Bi Umi.


“Tinggal bahu yang belakang, BI” ucap Anita masih melempar pandangannya pada gambar saat kemudian tangannya kembali terangkat mengulur meterannya.


“Hahh!” Anita terjingkat luar biasa saat Bi Umi berubah menjadi sosok pria yang tinggi tegap sampai Anita mendongak tinggi.


“Aku juga mau diukur” Andy tetiba datang membusungkan dada dengan wajah yang sulit dimengerti.


Mengingat tadi pagi pria ini begitu murka tanpa Anita tahu persis alasannya, tangan Anita yang masih menggantung memegang tali meteran itu gemetar. Anita bahkan jadi salah tingkah bercampur takut, hingga kemudian Andy memegang tangannya agar tidak menggantung di udara.


“Maaf tadi pagi sudah membuatmu takut. Lain kali aku tidak akan membawa permasalahan kerja di rumah”


Anita mengangguk lalu menarik tangannya dan baru teringat mencari keberadaan Bi Umi yang tetiba menghilang dari pandangannya. Anita yang masih salah tingkah itu kemudian memilih membuang pandangannya dari Andy dan mengalihkan pada lembaran sketsa.


“Hei, ayok ukur aku juga. Masa cuma Bi Umi yang dibuatkan baju. Aku juga dong. Cepat ukur!”


“Jahitanku jelek! Aku kan Cuma bekas mahasiswi yang gak lulus”


“Kenapa selalu merendahkan diri, sih! Atau kamu mau lanjut ke sekolah fashion saja. Di sini banyak sekali pilihannya. Tidak perlu menunggu sampai kamu lahiran”


Anita jelas menggeleng cepat meski ia ingin sekali. Tawaran Andy begitu menggiurkan andai hubungan mereka tidak aneh seperti ini.


“Mau model apa?” terpaksa Anita mengalihkan perhatian dengan membuat kolom di kertas kosong untuk mencatat ukuran tubuh Andy.


“Apa saja ngikut”


Anita mulai memanjangkan meteran ke arah lebar dada, lalu panjang lengan Andy yang ia samakan dengan kemeja yang dikenakannya. Tak dipungkiri pesona Andy dengan pakaiannya seperti ini sungguh membuat siapa saja yang ada didekatnya jadi melayang.


Entah Anita harus merasa beruntung atau malah sial. DI saat banyak sekali wanita yang berusaha mendekatinya dengan harapan menjadi ratunya, kini malah Anita yang bukan siapa-siapa itu tiba-tiba bersanding resmi dengannya.


“Tolong menunduk, aku ukur lingkar lehernya” pinta Anita yang jelas tidak bisa menjangkau tinggi badan Andy yang jauh lebih tinggi darinya.


Saat memutar meteran ke leher Andy, gerakan Anita terhenti sejenak saat melihat ada sebuah bercak merah menempel di kerah baju Andy saat ini.


Anita memicing dan memastikan bahwa noda merah itu adalah pewarna bibir yang membentuk lekuk bibir dengan sempurna.


“Kenapa Anita?”


Andy sampai menaikkan dahinya saat ia sudah menunduk namun Anita malah terpaku tak melakukan apapun. Tidak tahu harus merasakan apa saat ini, Anita malah tidak jadi mengukur dan memundurkan tubuhnya.


‘Pergilah!”


“Lho, sudah selesai? Punggungku juga belum?”


“Sudah aku kira-kira!”


Anita kemudian malah duduk dan kembali sok sibuk. Hingga kemudian Andy pergi dengan pertanyaan dan keheranan di benaknya.


Anita melirik tajam ke punggung Andy yang berlalu “Dasar brengsek! Sekali brengsek memang akan tetap brengsek! Mudah-mudahan aku tidak gila karena ulahmu!” gerutu Anita dengan suara super pelan di dalam hatinya.


Sementara Bi Umi kini memasuki kamar majikannya dengan segelas kopi pesanan Andy yang sedang melepas pakaian atasnya.


“Silahkan kopinya, Tuan Muda. Tumben masih sore sudah pulang”


Bi Umi mengangguk saja karena memang tidak paham meski Andy sering mencuri curhat padanya soal beberapa hal yang terjadi di perusahaannya.


“Sekalian baju kotornya bibi bawa keluar Tuan Muda”


Andy mengulurkan kemeja dan kaos dalam yang baru saja ia pakai pada Bi Umi. Dan seperti biasa wanita itu lantas merogoh saku baju takut ada sesuatu yang tertinggal dan ikut tercuci. Bi Umi kemudian mengerutkan keningnya saat mendapati bercak memerah di kerah leher.


Wanita itu sampai menggeleng lalu memberanikan diri bertanya karena Harlina berpesan padanya untuk menegur Andy apabila ia sering lupa kalau saat ini sudah memiliki istri dan akan menjadi seorang ayah.


“Maaf, Tuan muda” Bi Umi langsung menunjukkan noda itu pada pemiliknya.


“Lipstik?”


“Apa nyonya muda tahu ini, Tuan?”


Andy lantas berpikir kenapa Anita tetiba sewot padanya “Nanti saya yang jelaskan ke dia”


Selesai mandi, Andy buru-buru keluar kamar dan masih mendapati Anita yang sudah tidak terlihat lagi di meja kerjanya. Andy lantas mengetuk pintu kamar Anita dan pasti mengira istrinya itu ada di dalam sana.


“Anita bisa keluar sebentar? Aku ada perlu”


Dan benar saja, sang empunya kamar keluar dengan wajah yang tidak bersahabat.


“Jadi kamu tidak jadi mengukur karena ada noda lipstick di bajuku? Maaf, tadi itu Anna yang –“


“Bukan urusanku, Andy!” potong Anita segera sebelum Andy selesai dengan penjelasannya “Mau kamu dekat dengan siapapun, aku tidak peduli. Kamu mau nikahi siapa setelah anak ini lahir juga tidak ada urusannya denganku jadi kamu tidak perlu menjelaskan apapun!”


**


“Anita,Sabtu depan ulang tahun pernikahan opa sama oma” Andy main masuk saja ke kamar Anita setelah wanita itu mengabaikannya sore tadi.


Anita sendiri tak menggubris dan masih asik duduk di tempat tidur dengan ponselnya melihat video fashion week dari internet.


Andy yang masih berdiri memegang handle pintu itu malah seperti manusia tidak berguna lantaran diacuhkan oleh Anita yang menyemburnya tidak jelas hanya karena ada noda merah di bajunya.


“Sebentar lagi oma pasti menghubungimu, Anita”


Anita masih tetap pura-pura tak menganggap keberadaan Andy di kamarnya sampai kemudian ponselnya berdering dengan nama oma Harlina di layarnya.


Buru-buru Anita mengusap layar ponselnya ke atas dan langsung menampakkan wajah Harlina dengan rambut berubannya.


“Ya, Oma”


‘Gimana kabar cucu dan cicit oma? Kalian sehat kan, nak?”


“Sehat.oma’ jawab Anita tak ingin bicara terlalu banyak malam ini.


Melihat latar belakang posisi Anita berada. Harlina malah mengerutkan keningnya “Anita,sayang. Kalian terpisah kamar lagi?”


Mulut Anita terkunci seketika. Namun disisi lain ada sosok yang malah menahan tawa saat Anita tergagap tidak tahu harus menjawab apa.


‘Siapa bilang? Kami satu kamar kok” Suara Andy bersamaan dengan raganya yang tetiba melesak di samping Anita hingga ikut muncul di layar panggilan hingga mengagetkan wanita itu.


...Bagaimana kelanjutan cerita nya?...


...Apakah Anita datang ke pesta ulangtahun pernikahan oma dan opa atau tidak?...


...Nantikan di bab selanjutnya yaah….....