One Night Stand With Me

One Night Stand With Me
BAB 16



“Saya terima nikahnya Anita Celine binti Irvian Tanjung, dengan mas kawin tersebut, TUNAI!”


Dengan satu tarikan nafas Andy mengucapkan ijab Kabul tanpa salah dan sangat lantang.


“Bagaimana saksi?”


“SAHHH!”


“Anita sayang, Mulai detik ini, kamu tidak lagi sendiri, Ada opa dan oma yang akan menjadi orangtuamu. Ada Andy yang akan melindungi mu dan calon anak kalian”


Anita tetap tertunduk sedih meski Harlina dengan sentuhan lembutnya sekuat tenaga mencoba memberi kebaikan demi kebaikannya. Anita tahu Harlina tulus padanya. Namun baru membayangkan menjadi istri pria yang dibencinya sudah membuat Anita mual.


Merasakan ada sepasang mata meliriknya tajam, yang tak lain dan tak bukan adalah Hardianto dan Anita tahu akan selalu mengawasinya setiap saat. Anita baru paham kini opa Hardi itu sedang bermain karakter di depan semua orang.


Namun demi perjanjian dan kesembuhan ibunya, Anita harus lebih menguatkan mentalnya. Toh waktu tinggal tujuh bulan saja karena ia sudah hamil dua bulan.


Andy yang setelah acara akad nikah langsung berganti pakaian dan bersiap pergi kerja. Sementara Anita tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini meski ia sendiri juga sudah berganti pakaian pula.


Duduk di ruang keluarga bersama opa Hardi dan Harlina yang setia mendampingi disamping Anita saat ini berada.


“Andy, duduk sini sebentar” panggil opa Hardi mencoba sementara meruntuhkan gengsinya saat dia sangat keras terhadap cucunya beberapa waktu lalu.


Andy melirik dulu ke arah neneknya yang mengangguk lalu mengambil duduk di sofa tunggal berhadapan dengan kakeknya.


“Baru saja menikah, sudah langsung bekerja. Ambillah libur sepekan. nikmati waktu bulan madu kalian” ucap Harlina nyelonong saja tanpa aba-aba hingga membuat Hardi yang akan membuka mulutnya jadi terjeda sesaat.


“Banyak proyek yang harus dikerjakan langsung oleh Andy, oma” potong Hardi agar istrinya tidak bicara hal lain di depannya.


“Toh perusahaan tidak akan tutup hanya karena kamu libur kan, Andy?” sahut Harlina tak mau kalah.


Meski pernikahan ini cukup mendadak, namun Harlina tidak ingin membuat Anita merasa asing dan harus ditempatkan sebagai istri oleh cucunya.


“Bawa istrimu tinggal bersamamu, nak”


“Anita akan tinggal di sini bersama kita!” tegas opa Hardi hingga membuat jantung Anita terasa berdegup cepat. Ia berpikir akan menjalani hari-harinya penuh dengan tekanan orangtua ini meski Harlina siap melindungi dengan kebaikannya.


“Opa—“


“Andy pasti akan sibuk bekerja. dan Anita baru pertama hamil, apa bisa dia sendiri? Bagaimana kalau sewaktu-waktu butuh sesuatu? Kita kan juga harus jaga calon penerus cucu kita oma, bukan begitu, Anita?” kilah Hardi cukup beralasan juga.


Anita tidak berani mendongak. Ia hanya mengangguk dengan kedua telapak tangannya yang gemetar.


Pemandangan ini jelas terbaca dari pandangan Andy yang mengangkat sebelah alisnya lalu melirik opa yang memicing tajam ke arah Anita, istrinya.


“Halahh. kerjaan juga punya sendiri. Ngapain dibuat pusing sendiri, Sudah , Opa saja yang kerja di perusahaan sana! BIar Andy sama Anita dulu buat beberapa hari ke depan”


Harlina segera berdiri lalu menggandeng pergelangan tangan Anita dan Andy dikedua tangannya. Tanpa menggubris suaminya yang sudah mengatur kan tempat tinggal Andy kedepannya.


“Oma mau kemana?”


Hardianto sampai menepuk jidatnya karena istrinya yang ternyata sudah punya rencana sendiri di atas rencana yang sudah ia susun sedemikian rupa.


Di dalam kendaraan kini tercipta suasana yang begitu canggung sekali karena Harlina sengaja mendekatkan Andy duduk bersebelahan dengan Anita yang justru menjauhkan dirinya dengan duduk mepet di pintu.


Meski mobil ini sungguh nyaman di duduki, namun tidak untuk Anita yang justru merasa pusing dengan aroma pengharum bercampur parfum dan entah apa itu. Perutnya serasa bergejolak namun sebisa mungkin ia tahan.


Mobil yang dikendarai supir itu kini memasuki kawasan gedung bertingkat. Anita jelas mengingat betul tempat ini. Tubuhnya tiba-tiba gemetar dan tidak fokus saat sedari tadi Harlina terus mengoceh tentang apapun yang tidak Anita tanggapi.


Sesampainya ditempat parkir, Anita yang sedari tadi menahan gejolak di perutnya terpaksa turun saat mobil belum benar-benar berhenti sempurna.


“Eh, Anita. hati-hati!” pekik Harlina khawatir karena Anita malah membungkam mulutnya dan berlari ke sana kemari. Sebuah lorong menuju lift dituju Anita dengan sebuah toilet didalamnya. Ia sudah tidak tahan lagi untuk memuntahkan isi perutnya.


“Andy, kenapa kamu diam saja, susul istrimu!” perintah Harlina geram karena Andy nampak santai menyandarkan kepala ke telapak tangannya yang menempel di kaca jendela mobil.


Harlina yang kini turun lalu membuka paksa pintu sisi dimana Andy menumpukkan tubuhnya hingga terjungkal.


Wanita tua itu berjalan cemas membuntuti Anita yang kini tertunduk merasakan perutnya yang tidak enak lalu menangis terisak.


“Sabar ya,Nak. Beginilah memang orang yang sedang menanti buah cinta. Nanti semuanya akan terbayar indah saat anak ini kahir. Maafkan cucu oma, Oma janji akan membuat Andy berubah”


Harlina memeluk lembut Anita yang kini makin terguncang. Anita yang buta soal kehamilan. Tidak ada yang bisa ia ajak berbagi soal apapun. Meski Harlina begitu perhatian padanya namun rasa canggung dan ketakutannya pada Hardianto membuatnya sulit bergerak saat ini.


Wanita tua itu menuntun Anita untuk memasuki rumah mereka dimana Andy sudah terlebih dahulu berada di dalamnya. Bi Umi menyambut mereka dengan tatapan membelalak. Terlebih lagi wanita itu hafal betul wajah dan postur Anita yang paling berbeda dari banyak wanita yang pernah majikannya ajak ke tempat ini.


Tubuh Anita sontak gemetar. Apalagi saat ia menyapu bagian dalam rumah ini dengan bayangan buruk yang langsung berputar.


Napas Anita memburu dengan tubuh semakin gemetar ketakutan. Sementara Harlina nyelonong masuk saja dan mendapati cucunya sedang berganti pakaian di kamarnya.


“Nah, Andy. Kalian tinggal berdua. Nanti sesekali oma ke sini menengok Anita saat kamu kerja”


“Tidaakk!” teriak Anita sampai membuat Harlina terjingkat.


Anita memejam erat lalu membungkam telinganya. Bayangan demi bayangan saat kejadian di masa lalu sungguh menyiksa mentalnya saat ini.


“Kenapa, Anita?"


“Saya tidak ingin tinggal di sini! Kamu jahat!” tunjuk Anita menyeringai penuh dendam ke wajah Andy yang hanya berdiri mematung di ambang pintu kamarnya.


Menyadari dan mengingat video penyiksaan itu langsung membuat Harlina tersadar “Andy, lakukan sesuatu, dia istrimu, kamu jangan diam saja”


Andy hanya mengedikkan bahu tanpa berdosa “Tidak mau tinggal ya sudah” ucapnya enteng hingga kemudian sesuatu terjadi.


Bagaimana kelanjutan cerita ini?


Kira-kira apakah apa yang terjadi setelah Andy mengatakan seperti itu?


Nantikan di bab selanjutnya…stay tuned