
“Victor? Masih hidup dia?” Abraham melirik tajam kearah pengacara yang memberitahunya bahwa gugatan atas hak hibah itu kemungkinan ditolak lantaran semua harta Hardianto sudah beralih tangan ke orang lain.
“Kabarnya wajah istri Tuan Andy ini sangat mirip dengan putri Tuan Victor. Tapi sampai saat ini belum ada informasi yang jelas karena Tuan Victor sendiri tidak mengakui apapun”
“Putri? Putri dari mana? Hehh!” Abraham kini menggeleng dan kembali tertawa licik “Bullshit! bawa si Victor itu ke sini”
**
Sementara Andy yang memilih tidak kembali ke proyek luar kotanya hari ini masih berkutat dengan kesibukannya di tempat kerja, Banyak hal yang harus ia handel sendiri sampai paling beberapa bulan kedepan ia akan masih sibuk dengan perluasan jaringan bisnisnya.
“Jimmy, sudah dapat info dimana fashion school yang bagus?”
“Esmode sedang membuka kelas, Tuan. Saya pikir Nyonya Anita akan antusias, Saya kenal dengan orang sana. Kalau Tuan berkenan, saat ini juga bisa mengajak nyonya ke sana”
“Oh ya? Bagaimana fasilitasnya? Saya tidak mau Anita terlalu bergumul dengan banyak orang”
“Bisa diatur, Tuan, Private class juga bisa dikondisikan”
Andy mengangguk lalu meletakkan beberapa folder yang baru dia buka “Kalau begitu kita ke sana sekarang juga!”
Padahal jam pulang kerja juga masih jauh karena langit masih terang siang menjelang sore ini. Andy menghubungi istrinya yang bahkan tidak tahu kalau ia tidak berangkat keluar kota hari ini.
“Halo, Anita. Bersiaplah, aku akan menjemputmu sepuluh menit lagi”
“Menjemput? Kemana?”
“Ke tempat yang kamu suka!”
Anita menutup panggilannya dengan seribu kegundahan. Mungkin ia tidak bisa lari dari ikatan perjanjian dengan Opa Hardi namun kini Anita makin tak bisa berbuat apa-apa dengan jerat seorang Andy Hardiputra yang lebih erat dari apapun.
Anita sudah berganti baju dress casual di bawah lutu dengan sneakers putih dan rambut kuncir ekor kuda, Siapa yang mengira Anita adalah calon ibu saat ini, Penampilannya bahkan lebih mirip seorang mahasiswi ketimbang istri seorang pengusaha kaya yang mestinya berdandan bak sosialita.
Semenjak kejadian Andy yang menegurnya soal celana ketat waktu itu. Anita kini lebih berhati-hati dalam memilih pakaian. Apalagi Andy sudah membelikannya banyak sekali pakaian untuk ibu hamil yang nyaman digunakan di rumah maupun untuk pergi keluar.
Anita sudah menunggu di depan pintu dan tak lama sosok Andy pun membuka pintu lalu tercengang.
“Anita? Kamu…?”
Anita mendongak pada suaminya yang menyisir dirinya dari bawah ke atas, Anita pun akhirnya menilai dirinya sendiri.
“Kenapa? salah kostum lagi?”
Andy jelas menggeleng cepat “Cantik!” pujinya kemudian menggandeng tangan Anita untuk beranjak pergi.
Suasana masih sangat canggung dengan Anita yang ternyata mati-matian menahan sesuatu yang tak ingin dirasakannya terlalu jauh.
Andy kini sendiri mengendarai mobilnya dengan Jimmy yang berada di kendaraan lain dan lebih dahulu menuju lokasi.
“Kita mau kemana?”
“Suatu tempat yang membuatmu tidak bosan di rumah”
“Ada banyak keramaian?”
“Memangnya kenapa? Ada aku, kan?”
Anita tetiba memeluk dirinya sendiri “Aku malu, Andy. Aku tidak siap jadi pusat perhatian karena menjadi istrimu, Semua yang ada didiriku juga tidak akan bisa mengimbangi penampilanmu di luar sana. Aku tidak keberatan kok jika terus kamu sembunyikan di rumah”
Mendengar sesuatu yang mengusik dirinya, Andy lantas menepikan kendaraannya lalu mematikan mesin mobil dan menarik tuas rem tangan.
“Andy, apa arti pernikahan itu buatmu?”
Pertanyaan balik Anita ini justru makin membuat Andy tak habis pikir, Melepas tautan sabuk pengamannya, kini Andy memiringkan duduknya agar bisa menghadap ke Anita dengan lurus.
“Kamu masih bertanya pertanyaan konyol itu? Apa kamu berpikir pernikahan ini hanya main-main atau sementara? Aku bercermin dari pernikahan orang tuaku yang tak karuan, Anita. Aku tidak ingin seperti mereka!”
Anita hanya terdiam menunduk seraya menggosok lengannya yang gugup. Sejujurnya ia takut kalau sudah berhadapan dengan Andy yang tersulut amarah seperti ini.
**
“Wahh!” desau Anita kagum dan tercengang begitu Andy membawanya ke sebuah gedung bergaya arsitektur Eropa dengan lahan parkir yang begitu luas” Esmode!” pekiknya girang membaca tulisan super besar yang terpampang di dinding gedung.
“Silahkan, kamu jadi calon siswa di tempat ini”
“Aku?” Tanya ulang Anita meyakinkan dengan menunjuk hidungnya sendiri.
Dan Andy pun mengangguk penuh keyakinan “Ayo. ku antar kamu lihat-lihat, Jimmy sudah ada di dalam”
Anita sudah terlebih dahulu keluar mobil saat Andy baru saja akan membuka pintu untuknya. Begitupun Andy yang akan menggandengnya, Anita malah berjalan terlebih dahulu memasuki gedung dengan tiga lantai tempat impian fashion designer seperti dirinya.
“Wow, bagus banget!” pekik Anita lagi-lagi terkagum dengan tempat yang mungkin akan menjadi tempat khayalan selamanya jika dirinya tidak menjadi istri Andy saat ini.
“Hati-hati, Anita!” Andy sampai geleng kepala melihat Anita yang seperti anak kecil memasuki wahana permainan sampai ia sepertinya lupa kalau tengah berbadan dua.
Anita berjalan cepat bahkan berputar melihat apapun yang membuatnya terpukau pada tempat ini.
Dan Andy membiarkan saja istrinya itu merasakan kesenangan yang mungkin jarang didapat dalam hidupnya.
“Silahkan, Tuan Muda” Jimmy yang baru keluar dari ruang administrasi itu menyodorkan beberapa lembar pendaftaran dan langsung ditandatangani oleh Andy sendiri.
Andy kini mengikuti langkah Anita yang masih melihat-lihat lalu mengeluarkan ponselnya untuk mencari sesuatu.
“Anita, mulai besok kamu bisa belajar fashion di sini! Jangan khawatir, kamu bisa ambil private clas kalau tidak nyaman dengan banyak orang, Sesukamu, semaumu” bisik Andy yang tak seberapa didengar oleh Anita yang malah fokus ke layar ponselnya.
Tiba-tiba bibir Anita membulat sempurna “Hahhhh! Seratus tujuh puluh juta!” pekik Anita lumayan keras saat melihat biaya untuk sekali short course saja ditempat ini bisa melebihi seratus juta.
Buru-buru Andy membungkam mulut istrinya yang memekik hampir menggema di gedung ini.
“Ssstt! Kecilin!”
“Mahal sekali, Andy”
Andy lagi-lagi menempelkan jari telunjuk pada bibirnya “Memangnya kenapa? Aku bahkan mampu membeli tempat ini!”
Anita menggeleng lalu melebarkan langkahnya pergi “Tidak, tidak! Aku tidak bisa, Ini terlalu berlebihan”
Andy segera menarik lengan istrinya untuk berhenti sejenak “Apa yang berlebihan diberikan suami untuk istrinya sendiri?”
Anita seketika mendongak dan mematung.Napasnya seolah berhenti sejenak. Semakin hari Andy semakin menunjukkan keseriusannya. Sementara Anita kini terasa makin tak leluasa bergerak dan ia harus berhati-hati agar jeratan duet maut kakek dan cucu padanya ini tidak semakin erat mencekiknya.
.….
...Bagaimana kelanjutan ceritanya? ...
...Tetap dukung othor yah dengan mengikuti cerita di bab selanjutnya….salam hangat selalu...