One Night Stand With Me

One Night Stand With Me
BAB 34



Anita ingin menarik jemarinya namun tangan tua Harlina begitu erat dan dingin saat menggenggamnya. Anita tak ingin menjanjikan apapun atas hubungan yang aneh ini. Meski berulang kali Andy menunjukkan penyesalannya yang seakan tak terbayarkan dengan apapun, namun entah mengapa Anita terus terpaku bahwa tujuannya menikah hanyalah untuk menyerahkan anaknya pada keluarga Andy kelak.


“Mengapa Anita? kamu ragu?”


Anita lagi-lagi tak menjawab. Betapa dia tak ingin terbawa suasana terlalu dalam pada keluarga ini. Anita sadar dirinya tetap bukan siapa-siapa.


“Ya sudah, oma tidak memaksa. Kedatangan oma ke sini ingin mengajakmu ke pagelaran busana. Kamu suka desain, kan?”


Wajah Anita mendadak sumringah dan langsung mengiyakan ajakan Harlina, Pergi ke tempat yang ia sukai menjadi pelipur lara tersendiri agar ia tidak bosan berada di rumah ini dari pagi sampai pagi lagi.


**


Mengenakan masker hitam sekali pakai untuk menghalau segala aroma yang dapat membuatnya mual, Anita kini berada di kendaraan Harlina dengan seorang supir dan asisten yang siap mengawal mereka kemanapun.


“Halo, Andy. Oma mengajak istrimu pergi ke pagelaran busana. Tidak usah bilang tidak boleh karena oma sudah menjemputnya. Oma tidak meminta ijin hanya memberitahu”


Tanpa menunggu jawaban cucunya, Harlina langsung mengakhiri panggilannya, Anita merasakan hawa mendominasi yang cukup kuat dari aura Harlina terhadap Andy yang hampir tak pernah mengelak apapun yang diperintahkan.


Sampai di sebuah shopping mall dengan fasilitas atrium di dalamnya, Harlina tak melepas genggaman tangannya pada jemari Anita.


Anita patut bangga bahwa masih ada sosok berhati malaikat yang menerima dirinya yang sama sekali bukan siapa-siapa dibanding keluarga Andy yang stratanya amat sangat jauh menyentuh langit.


Memasuki kawasan atrium, Anita begitu tercengang disambut ratusan koleksi busana yang terpamerkan dengan apik dari berbagai desainer tanah air.


“Wuahh!” sejenak Anita melupakan kehamilannya sampai berjalan cepat bahkan memutar mengitari tiap stand sampai Harlina di buat geleng kepala.


“Suka?”


“Suka, oma. Impian Anita akan dulu berada di dunia seperti ini. Terima kasih Oma” ucap Anita tulus lalu memeluk singkat Harlina yang lega karena bisa sedikit demi sedikit merubah pandangan buruk Anita pada cucunya.


“Kalau kamu suka mintalah pada Andy untuk sering-sering mengantarmu ke tempat seperti ini, Nak. Healing untuk ibu hamil itu sangat perlu lho biar menciptakan suasana hati yang positif, bagus juga untuk perkembangan janin mu juga”


Anita langsung memasang wajah kecut. Ia tak mungkin meminta apapun pada Andy, meski ia adalah istrinya yang sah. Anita sangat amat tahu diri posisinya saat ini.


Memasuki pameran batik yang digelar, Anita yang sudah banyak menyiapkan layar Tab pemberian Opa Hardi menyimak dengan seksama setiap rangkaian fashion show untuk membuatnya banyak belajar hal yang terputus dari pendidikan formalnya.


“Sudah dapat banyak ilmu?”


“Lumayan, Oma. nanti mau Anita praktekan langsung di rumah”


“Kamu wanita yang cerdas, Anita. Setelah melahirkan lanjutkan kuliahmu. Kamu juga harus bisa meraih cita-citamu. Bilang saja sama suamimu mau kuliah dimana”


Ada sesuatu yang membuat tenggorokan Anita terasa tercekat. Bagaimana Harlina menggambarkan begitu banyak rancangan masa depan untuknya, sementara dirinya akan kembali kehabitatnya nanti setelah melahirkan.


Bahkan Anita sudah memiliki rencana untuk pulang kampung bersama ibunya nanti setelah sembuh.


“Apa oma tidak tahu menahu soal perjanjian itu? Mengapa oma tidak pernah membahas soal penyerahan anak ini nantinya” batin Anita kini diselimuti banyak pertanyaan yang bahkan tak sanggup ia bayangkan jawabannya.


Anita masih murung dengan pemikirannya sendiri saat Harlina kini beralih ke stand butik untuk membeli beberapa baju.


“Anita? Anita?”


Sebuah suara membuyarkan lamunan Anita yang hanya berdiri di depan stand pakaian. Anita refleks mencari sumber suara.


“Anton!” pekik Anita terperanjat bukan main sampai mengelus dadanya.


“Kamu di sini, Anita? Akhirnya kita bertemu lagi. Aku berpikir kamu pasti akan datang di event-event busana seperti ini. Kamu sakit?”


Anita mendadak gugup. Meski sudah memakai masker yang menutup sebagian wajahnya, nyatanya pria berpostur sedang dengan pembawaan kalem khas pria Jawa itu masih mengenalinya.


“Anita, kamu sudah ganti nomor,kah? Aku mencari mu selama ini. Aku sering event di kota berharap masih bisa berjodoh denganmu”


Anita semakin gugup karena tidak tahu harus bersikap apa pada pria yang menatapnya teduh hinggat lututnya terasa lemas.


“Kamu tinggal dimana, Anita? Kamu marah sama aku, Anita?”


Berulang kali Anton mencecarnya namun Anita masih belum mengeluarkan sepatah kata. Bahkan Anita sampai memundurkan kakinya berada sebegitu dekat dengan pria yang mengenakan ID Card pertanda Event organizer di dadanya.


“Emmm, Anton, Sebaiknya kamu tidak mencariku lagi. Tolong maafkan aku dan sekali ini aja kita bertemu lagi, Maaf….” ucap Anita lirih menahan gempuran perasaan yang menghantam dirinya. kalau saja ia tidak seperti ini, Anita mungkin sudah menangis menghambur ke pelukan pria itu.


“Tunggu, Anita. Tapi ada apa? Bukankah sebelumnya kita tidak ada masalah? Mengapa kamu tiba-tiba putus kuliah dan pergi ke sini?”


“Anton, tolong! Aku …bukan lagi Anita yang kamu cari”


“Anita, siapa?”


Anita kembali terjingkat saat oma Harlina tetiba ada di belakangnya. Pandangan Harlina menyapu bolak balik antara Anita dan Anton yang kemudian menundukkan badan padanya.


“Temanmu, nak?”


Anita tergagap. Antara ingin menjawab iya atau tidak mengenalnya. “Emm, oma sudah selesai? Anita, tidak enak badan”. Anita mengusap tengkuknya yang tetiba terasa berat.


“Owh, Sorry, sayang. kalau begitu kita pulang sekarang”


Tanpa menoleh lagi, Anita segera mempercepat langkahnya meninggalkan Anton yang masih kebingungan dan ingin mengejar. Namun keberadaan Harlina membuat pria itu segan dan hanya memperhatikan kemana langkah Anita kemudian berbelok.


“Oma. maaf, Anita ke toilet sebentar”


Setengah berlari, Anita kemudian berbelok ke arah toilet. Di dalam salah satu bilik Anita kemudian duduk dan menumpahkan tangisnya. Membayangkan wajah Anton yang tidak berubah, tetap sopan dan teduh membuat perasaan Anita semakin teriris.


“Mengapa kamu datang di saat seperti ini, Anton?” Isak Anita lirih tak berani terlalu bersuara keras di toilet dengan banyak bilik.


Anita begitu nelangsa dengan nasibnya. Disaat dirinya sudah terikat dengan orang lain, Tuhan mempertemukannya kembali dengan pria itu. Seandainya bisa bicara, Anita harusnya meminta Anton untuk menunggunya selama beberapa bulan ke depan. Tapi wanita itu tak sanggup. Siapa pria yang akan menerima wanita kotor seperti dirinya?


“Wajahmu sembab, Nak. Kamu habis menangis? Kenapa?” cecar Harlina sekeluarnya Anita dari toilet.


‘Hanya muntah seperti biasanya Oma. Tidak apa”


Harlina pun tidak memaksa lalu bersama Anita keluar dari tempat itu dan kembali ke kendaraannya.


“Kita ke kantor Andy sebentar, ya. Kamu belum pernah ke sana kan? Kita beri kejutan buat dia”


Bagaimana kelanjutan kisah ini?


Nantikan di bab selanjutnya…….