
Akhirnya dengan amat sangat terpaksa, Anita kini sudah berganti pakaian menjadi gadis pemandu lagu sekaligus gadis penuang minuman untuk para tamu.
Bergabung bersama dua gadis pemandu lagu lainnya, Anita yang wajahnya memerah kini memasuki VIP room karaoke dengan kapasitas sepuluh pengunjung itu.
Mengikuti dua gadis yang terlebih dahulu berprofesi melayani tamu suka-suka itu, sebuah pandangan kini tertuju pada sosok Anita yang seperti tidak asing. Pandangan itu uterus mengikuti gerak gerik Anita yang kaku dan tidak biasa melayani tamu sampai beberapa pria kini memintanya untuk menuang deretan botol minuman beralkohol yang sudah tersaji di atas meja.
“Hey, kamu. Kenapa cuma diam saja? Sini duduk!”
Seorang tamu pria menepuk pahanya meminta Anita duduk di atasnya. Tentu saja Anita refleks menggeleng hingga pria lain kemudian menarik tangannya dan menyuruh menuang salah satu minuman ke dalam gelas.
Dengan tangan bergetar, Anita mengulurkan minuman itu. Namun bukannya menerima, pria itu malah mendorong gelas itu ke mulut Anita hingga gadis itu meneguknya sampai tersedak.
“Ha…ha..haaa!” tawa beberapa pria menggelegak ramai di ruangan yang terputar dengan suara yang tak kalah memekakkan telinga.
Dua gadis pemandu lainnya sudah melakukan tugasnya dengan bergoyang tak karuan dan satu lagi sibuk melayani hasrat para lelaki sialan yang dengan seenaknya mereka menggerayangi tubuh molek gadis itu.
Sementara Anita sibuk menampik beberapa uluran tangan lantaran risih dengan kondisi yang tidak pernah ia rasakan sendiri sebelumnya.
“Hehh! Kamu itu sudah bikin kerugian di sini! cepat layani kami atau kami adukan kamu ke manajer biar kamu dilaporkan ke polisi!”
“Jangan!” pekik Anita ketakutan lalu terpaksa bekerja memilihkan lagu di mesin pemutar musik lalu dengan menahan tangis, menuang minuman dan menyuapkan ke bibir pria meski dengan tubuh luar biasa gemetar.
Seorang tamu kemudian memasukkan sebutir pil ke dalam gelas dan meminta Anita meminumnya. Meski menolak dengan keras, namun tenaganya jelas kalah dengan beberapa tangan kekar yang memaksanya malam ini.
Suara lagu masih mengalun keras dengan lampu ruangan yang temaram cenderung gelap, Anita yang sudah dicekoki entah berapa gelas minuman itu kini tak kuat menopang tubuhnya sendiri. Sampai kemudian seorang tamu pria mendudukkannya di salah satu sofa sudut lalu mulai memainkan jari tangan menelusuri tubuhnya.
“Jangan kurang ajar!”
Sebuah tangan menampik keras hingga pria itu kaget lalu mendongak, “Kenapa loe, Andy? Kagak kebagian cewe, loe? Beli sendiri sana! Dia punya gue!”
Andy yang berdiri menahan geram sedari tadi kemudian mengangkat kerah baju temannya itu lalu melayangkan bogem mentah hingga pria itu tersungkur di sofa. Sementara Anita ini sudah terkulai teler setelah diracuni obat perangsang yang terlanjur masuk ke tubuhnya.
“Brengsek, loe!”
Dan perkelahian pun tak terelakkan di ruangan yang hampir semua pengunjungnya sedang berada di bawah pengaruh alcohol.
Petugas keamanan sampai masuk untuk melerai perkelahian yang dimenangkan Andy karena dia sendiri yang belum teler di ruangan ini.
“Carikan dia gadis lain atau semuanya bawa ke sini!” perintah Andy pada petugas lalu membawa tubuh Anita yang tak sadar dalam gendongannya.
Sontak kejadian ini menjadi pemandangan tersendiri bagi teman-teman klub mobil mewah Andy yang datang ke tempat ini dengan tujuan bersenang-senang.
“Maaf, tuan. Gadis ini sedang bermasalah dengan manajer. Silahkan menemui manajer kami terlebih dahulu jika ingin membawa dia pergi”
Andy memberi kode pada asistennya yang standby di luar room untuk mengurus semuanya, sementara dirinya terus melangkah keluar membawa raga Anita yang tak sadar dalam gendongannya.
“Berapa hutang gadis itu?” Jimmy kini mengambil alih menghadap manajer karaoke.
“Enam puluh juta untuk biaya berobat ibunya. Belum lagi kerugian tamu karena dia mencuri jam tangan dan memecahkannya. Kemudian—“
Jimmy melempar sebuah black card ke permukaan meja hingga manajer itu terdiam, “Jangan persulit gadis itu lagi. Atau tempat ini akan berhadapan dengan tuan Andy Hardiputra!”
Andy melirik gadis yang terduduk teler di samping kemudinya. Gadis yang masih mengenakan pakaian minim khas para wanita pemandu karaoke. Entah angina pa yang membuat Andy membawa pergi Anita dari hadapan teman-temannya. Andy sendiri tidak mengerti alasannya. Seperti ada yang mendorongnya untuk menjauhkan Anita dari tindakan semen-mena yang mengusik nuraninya.
“Emmhh!” Anita terdengar menggeliat tak nyaman di tempatnya duduk.
Ia menggigil kedinginan karena pakaiannya begitu minim hingga menampakkan bagian atas tubuhnya hingga kedua paha mulusnya yang terbuka gratis memanjakan mata.
Ditengah malam jalanan kota, Andy yang mengemudikan sendiri kendaraannya itu lantas mengecilkan volume air conditioner mobilnya karena melihat Anita yang mengelus kedua lengan atasnya yang sudah menampakkan bulu-bulu halusnya yang berdesir.
Masih dengan kedua mata terpejam, Anita malah mendesah dan menggerakkan tubuhnya tak karuan, hingga hal yang tak terduga kemudian terjadi dengan begitu cepat.
“Huekkgh!”
Anita memuntahkan isi perutnya dengan kurang ajar di dalam mobil Andy tanpa permisi.
Hingga Andy kemudian mengerem paksa mobilnya. Untung saja tengah malam ini jalanan sedang lengang.
“Brengsek!” Andy memukul stir bundarnya dengan kesal. Aroma alcohol bercampur muntahan menguar menimbulkan bau yang menyengat hingga membuat Andy ikut mual.
Terpaksa pria itu menepikan kendaraannya lalu turun dari mobil dan membuka pintu sisi sampingnya seraya berkacak pinggang “Merepotkan! Ngapain juga aku bawa kamu tadi!” Andy sampai menendang ban mobilnya lalu mengusap kasar wajahnya.
“Jimmy, bawa kendaraan ke sini, cepat! Saya di depan bank xxx, Oh ya, sekalian bawa dua baju ganti” dihubunginya sang asisten yang bisa diandalkan dalam segala situasi.
Sambil menunggu bantuan datang, Andy menarik tangan Anita yang lemas untuk keluar dari kendaraannya. Namun bukannya berhasil mengeluarkan gadis itu, Andy malah mundur karena Anita menimpa tubuhnya saat ini.
“Hishhh!”
Tubuh Anita menempel pada tubuhnya hingga Andy harus menahan dirinya dengan berpegangan pada ujung pintu mobil supaya tidak terjungkal. Dilihatnya wajah gadis yang pernah di setubuhi nya dari dekat, begitu polos dan ternyata cantik juga. Kedua mata Andy sampai memicing mengingat perbandingan wajah Anita dengan Ratih.
“Kalian begitu mirip, tapi sangat berbeda” gumam Andy sampai ia tak sadar Anita kembali menggeliat.
“Huekkhh!”
Anita kembali memuntahkan sisa apa saja yang ada di dalam perutnya sampai Andy refleks mendorongnya ke tepi trotoar.
“Cewe brengsek!” Andy sampai jengkel setengah mati memegangi ujung bajunya yang ketumpahan cairan kotor dan menjijikan.
Tak lama Jimmy datang lalu menghentikan kendaraannya tepat di belakang mobil Andy lalu segera turun saat melihat tuannya itu sedang menunduk dengan tubuh Anita telentang persis di bawahnya. Kedua tangan Andy terlihat berada di atas dada Anita yang tidak sadarkan diri. Pikiran pria itu langsung mengarah ke satu hal lalu melihat sekeliling jalan raya
“Tuan muda, apa yang anda lakukan?”
Bagaimana kelanjutan cerita ini? Kira-kira apakah yang terjadi?
Nantikan di bab selanjutnya…stay tuned