One Night Stand With Me

One Night Stand With Me
BAB 27



Sementara di sebuah area yang gelap dengan struktur jalan bergelombang, tiga unit kendaraan melaju pelan menuju hamparan persawahan di sisi kanan dan kirinya.


“Turun!”


Sebuah bungkusan besar berbahan karung goni dikeluarkan dan ditendang dengan kasar dari dalam mobil dengan jenis jeep ke hamparan persawahan kering dan gelap.


Brughh!


Kedua ujung karung ditarik oleh dua orang bertubuh kekar hingga mengeluarkan isinya. Seonggok raga dengan kaki dan tangan terikat meringkuk tak berdaya.


‘Silahkan boss!”


Sebuah langkah kaki yang keluar dari mobil sedan hitam mengkilap kini berderap menghampiri tubuh yang masih bernyawa itu. Mengenakan sebuah sarung tangan tebal yang mengepal geram, Andy sudah siap dengan benda panjang andalannya.


Splaashh!


Satu sabetan sebagai pemanasan melayang mulus di area kaki yang terlipat dan terikat. Abraham mengerang dengan suara beratnya.


“Tau rasanya sakit?”


Ada sebuah pandangan yang menatap Andy nyalang penuh dengan kebencian kali ini. Tak peduli raganya tidak bisa melawan, pria berkumis itu seperti melihat bayangan opa Hardi semasa muda dari perawakan Andy di langit yang gelap ini.


Splaashhh!


Andy kembali mengayunkan cambuknya dari sisi kanan kemudian berbalik semakin keras dari sisi sebaliknya.


“Hakkhh!” Abraham kembali mengerang saat merasakan punggungnya seperti terkelupas panas. Begitupun wajah sisi kirinya yang tak luput dari serangan ekor cambuk yang bisa sangat tajam jika diayunkan dengan kekuatan penuh.


“Abangku tidak mempunyai anak iblis seperti kamu, Andy!”


Splasshhh


Satu kali cambukan melayang lagi saat otak Andy makin panas dengan umpatan pamannya itu. Paman yang harusnya bisa menggantikan ayah mendidiknya , malah hanya menggantikan posisi sang ayah di samping ibu.


“Aku jadi iblis juga karena siapa! Belum puas membuat papa mati sekarang, aku pun mau kau buat mati. Sekarang siapa iblis yang sebenarnya, hahhh?”


Dua kali bertubi Andy tanpa ampun dan kekuatan maksimal menghukum Abraham sebelum pria itu melakukan banyak hal demi kepuasannya semata.


“Tanyakan kepada ibumu, anak siapa sebenarnya kamu ini!” umpat Abraham ditengah raganya yang kesakitan.


Suara geluduk di langit bergemuruh mengiringi amarah Andy malam ini.


“Boss, sudah mau turun hujan” Salah seorang anak buah Andy yang menjaga jarak dari ekor cambuk yang bisa melayang mengenai siapapun itu mengingatkan Andy untuk menghentikan aksinya ‘Biarkan lukanya di sapu air hujan, boss!”


Andy pun mengerang emosi sebelum akhirnya pergi menuju kekendaraannya untuk berteduh saat rintik hujan mulai turun. Suara Abraham terdengar mengerang bercampur dengan suara air hujan deras yang mengguyur tubuhnya membuat luka bekas cambukan terasa sangat perih mengelupas kulitnya.


“Seret dia!” perintah Andy kemudian pada anak buahnya untuk melakukan hal yang sudah direncanakan pada pria itu.


Tak peduli Abraham masih memiliki darah yang sama dengannya, Andy yang mala mini menjelma menjadi binatang buas itu berpikir pria itu tidak pernah memedulikan apapun selain kepuasan pribadinya.


Kembali ke tempat tinggalnya, waktu juga sudah menjelang dini hari. Andy merasakan pusing di kepalanya lantaran obat penenangnya hilang bersamaan dengan barang-barangnya yang lain pada waktu kecelakaan itu, terpaksa Andy meminum alcohol agar ia bisa tertidur barang sejenak. Dengan langkah gontai dan sedikit menyeret, Andy membuka pintu lalu mengambrukkan tubuhnya ke sofa ruang tengah.


Pelan Anita memanjangkan kakinya menuju tempat Andy ambruk. Aroma alcohol langsung menyeruak ditambah pakaian Andy yang lusuh, terlebih lagi alas kakinya penuh dengan bekas lumpur basah.


Dengan tangan gemetar, Anita mengulurkan tangan kearah pundak Andy yang masih mengenakan jaket kulitnya. Wanita itu tidak mungkin merepotkan Bi Umi dengan membangunkannya malam begini.


“Heh! Bangun!” panggil Anita mendorong kecil pundaka Andy namun pria itu bergeming “Mabuk! Dasar!’ umpatnya kemudian tak tega juga melihat Andy dengan gurat lelahnya yang tergambar jelas diwajahnya.


Terpaksa Anita yang tadinya menunggu Andy hanya ingin pria itu segera mengabari oma malah membenarkan posisi suaminya agar tidak meringkuk di sofa.


Dilepasnya sepatu Andy yang kotor dan jaket yang menyulitkan posisi pria itu, Susah payah Anita menggeser tubuh Andy yang jauh lebih besar darinya.


“Hehh!” Anita terengah saat membungkukkan tubuhnya lelah “Kamu ini, manusia atau gorilla! Berat sekali! Kebanyakan dosa!” umpat Anita tidak akan didengar oleh Andy yang sudah dengan posisi ternyamannya dengan bantal dibawah kepalanya dan pakaian yang sudah dilonggarkan istrinya,


Polesan terakhir Anita mengambil sebuah handuk kecil dengan wadah air hangat untuk sedikit menyeka wajah dan telapak kaki Andy yang bau lumpur.


Sebuah baskom sudah diletakkan di samping bawah sofa untuk sewaktu-waktu jika pria itu muntah.


Anita mendengus kesal jika melihat wajah Andy yang malah seperti bayi tanpa dosa seperti ini, Untuk pertama kalinya dalam kondisi sadar, ia bisa begitu dekat dengan pria yang selama ini dibencinya.


“Mikir apa kamu waktu menyiksaku waktu itu, hahhh! Ratih, Ratih, siapa! Dasar buta! “ sembur Anita kini seolah melampiaskan emosinya yang telah lampau dan beruntung Andy tidak bisa membalas apapun saat ini.


Merasakan perutnya yang bergejolak, Anita akhirnya mengatur nafas kembali untuk tidak emosi pada pria itu. Memasuki kamarnya, Anita mengambil sebuah selimut tebal lalu dibawa dan dibentangkan menutupi sebagian tubuh Andy yang ia biarkan merebah di sofa ruang tengah.


Setelah dirasa Andy sudah dengan posisi nyaman, Anita kembali menguap dan berniat melanjutkan tidurnya dikamar, Namun baru saja di ambang pintu, ia mendengar Andy bersuara dalam tidurnya.


“Tidak! Hentikan! jangan pergi, Ma!”


Anita mengerutkan wajahnya dan hampir menahan nafas demi mendengar igauan Andy yang gelisah sampai menggeliat tak nyaman,


“Tolong, jangan! Papa!”


Anita mengerjab cemas lalu menghampiri Andy yang sudah mengeluarkan keringat dingin dari pori-pori wajahnya.


“Hehh, bangun! Hehh!” Anita menepuk pipi Andy sampai menaikkan kekuatannya namun pria itu masih mengigau dan gelisah.


Menepuk pipinya, mencubit lengannya sampai memukul pundaknya semua sudah Anita lakukan hingga wanita itu kini panik sendiri.


“Aduhh, bagaimana ini” Tidak pernah menemui orang seperti ini, Anita semakin panik, ‘Siram, nggak, siram,nggak!” ucap Anita ragu sekaligus takut jika harus menyiramkan air ke wajah Andy.


Setengah berlari, Anita kembali mengambil handuk yang sudah dicelup ke air hangat semi panas lalu mengusapnya ke wajah Andy yang akhirnya tergagap dan membuka matanya.


“Hahhffmmhh”


Anita segera mundur takut melihat Andy yang membelalak lalu refleks membangunkan tubuhnya, Nafasnya terengah dan tersengal saat mengembalikan nyawanya yang masih belum terkumpul


Anita kembali mundur saat Andy kini melihat ke arahnya.


Bagaimana kelanjutan ceritanya?


Nantikan di bab selanjutnya…stay tuned