
Anita jelas menyeringai tak suka dengan kehadiran Hardi yang tetiba menyelonong masuk tanpa permisi dan tanpa basa-basi.
Pria yang berpakaian jas hitam itu melempar selembar map tebal ke meja yang membuat Anita seolah tersudut saat ini.
“Nona, di dalam map ini ada surat perjanjian resmi dan tertulis, saya pengacara. Silahkan di baca dengan seksama. Tuan Hardi akan mengirimkan ibu Anda berobat ke rumah sakit paling bagus di luar negeri. Nona bisa pilih sendiri ke China, Singapura atau Belanda. Semuanya akan terjamin sempurna, Nona Anita hanya perlu merawat kandungan sampai bayi itu terlahir, itu saja . Tentu yang diawali pernikahan. Di Negara kita sangat tabu jika wanita memiliki anak tanpa suami”
Panjang lebar pengacara itu menjelaskan keuntungan apa yang Anita dapatkan jika menurut dengan pria tua itu.
Dengan tangan gemetar Anita memegang ujung map dan membukanya. Ada beberapa lembar kertas putih dengan tulisan yang sudah diketik sangat rapi dan banyak poin di dalamnya.
Anita langsung terisak begitu membaca poin demi poin yang tertera di dalamnya, Bayangan sang ibu yang harus sembuh teris menari dan menjadi fokus utama Anita saat ini yang harus dibayar dengan sebuah perjanjian pernikahan kontrak. Didalam perjanjian itu, Anita harus menyerahkan anak yang dilahirkannya nanti kepada keluarga Hardi dan pernikahan Andy dan Anita akan berakhir.
“Saya….tidak ingin ibu saya tahu soal kehamilan apalagi pernikahan sialan ini!” lirih Anita disertai isakan yang menyesakkan dadanya.
“Nona tenang saja. Setelah malam ini. Ibu anda segera kami berangkatkan keluar negeri. setelah anak itu lahir, Nona bisa menjalani kehidupan baru saat ibu Anda sudah sembuh dan clear! Semuanya akan berjalan kembali normal seolah tidak pernah terjadi apapun”
Anita mengusap wajahnya yang penuh air mata “Apa saya harus benar-benar menikah?” Anita menggeleng pedih tak sanggup membayangkan dirinya akan bertemu pria yang dibencinya setiap hari “Saya tidak sudi menikah dengan pria brengsek itu!”
“Hehh! Brengsek katamu?” Hardi mulai maju mendekati Anita. Pria itu jelas tersinggung dengan ucapan gadis yang tidak ada kelasnya sama sekali dengan keluarganya. “Kamu tidak perlu menjalani rumah tangga seperti orang lain karena saya juga tidak sudi punya cucu mantu yang bukan siapa-siapa seperti kamu!”
Anita memejam dan menahan nafasnya yang sesak setelah Hardianto menolak dengan tegas keberadaannya, dan hanya menginginkan calon anaknya. Mengatur nafasnya se-stabil mungkin, Anita nekat mengambil pena yang sudah tersedia dan membubuhkan tanda tangannya di surat perjanjian itu.
“Okeh, hanya sampai anak ini lahir, kan? Tolong sembuhkan ibu saya dengan pengobatan yang terbaik!”
Keesokan harinya, sebuah mobil mewah sudah terparkir apik di depan gang rumah kontrakan Anita yang sedang menyiapkan ibunya untuk berangkat ke Singapura siang ini juga.
“Anita, dari mana kamu dapat uang untuk mengobati ibu jauh keluar negeri?”
“Ada orang baik yang menolong kita, Anita senang sekali. Ibu pasti sembuh”
“Kamu tidak menjual diri, kan Nak?”
Deg!
Anita tergagap kali ini. Bagaimana feeling seorang ibu bisa setajam ini menghujam sanubari Anita yang harus berakting sebaik mungkin saat ini.
“Insya Allha tidak, Bu. ayo kita berangkat, mobilnya sudah di depan gang” Anita menuntun ibunya yang fisiknya terlampau lemah untuk berjalan sendiri.
“Sudah mau berangkat, ya?”
Anita membelalakan mata saat Harlina bersama Andy sudah berada diambang pintu rumahnya. Andy nampak menyapukan pandangannya ke sekeliling rumah sempit Anita yang tidak lebih besar dari kamar mandinya.
“Siapa, Anita?”
“Emm..itu Bu….emmm” Anita memejam erat dengan pikiran kusut harus beralasan apa saat mereka tiba-tiba muncul.
“Andy, bantu tuntun ibunya Anita” pinta Harlina tanpa bisa dibantah Andy atas nama rasa sayangnya terhadap wanita tua itu supaya neneknya tidak jatuh sakit lagi.
“Jaga diri ya nak”
“Ibu juga yang semangat demi Anita di sini”
Menyaksikan kedekatan Anita dengan ibunya, membuat perasaan Andy kini berkecamuk. Pria itu hamoir lupa rasanya dipeluk oleh seorang ibu yang sudah meninggalkannya sejak ia kecil.
Segala keperluan keberangkatan sudah diatur sedemikian rupa oleh Hardianto dan pengacaranya, Anita jelas menangis haru saat melambaikan tangan pada ibunya. Ia terisak tak tahu harus senang atau nelangsa saat menyaksikan ibunya menjemput kesembuhannya. Punggungnya terguncang. ia merasa sendiri saat ini.
Sebuah tangan kini meraih jemari Anita yang tergantung lemah. Anita mendongak dengan wajah basah saat sebuah jemari terulur ke wajahnya dan mengusap pipinya
“Aku ….minta maaf”
Beberapa hari kemudian
“Ayah kandungnya masih ada?”
Anita menggeleng tak yakin saat pihak KUA menanyainya saat ini, Ia hanya mengedikkan bahunya singkat lalu tertunduk malu.Bukan malu tersipu namun lebih ke sedih dan bingung.
Ternyata dirinya benar-benar membutuhkan kehadiran seorang ayah saat dirinya menikah, seperti saat ini.
“Ayahmu…pergi saat kamu masih bayi kan?” tebak Hardianto lebih ke mencibir, terlebih lagi pria itu telah menyelidiki seluk beluk Anita meski tidak terlalu spesifik.
“Sudah, tidak apa. Kamu bisa pakai wali hakim dari KUA, Tidak usah dipikirkan. Ibu hamil itu pantang kepikiran. oke!”
Kedua kelopak mata Anita sudah basah merasakan kebaikan dan kelembutan Harlina padanya. Sejenak bisa sedikit mengobati kegelisahan Anita saat jauh dari ibunya seperti saat ini.
Setidaknya masih ada hal yang patut ia syukuri dengan keberadaan Harlina di tengah dua pria ajaib seperti Hardianto ini dan tentunya Andy si pria brengsek dan kejam melebihi penjahat paling kejam di dunia.
Di salah satu sudut rumah Hardianto , akad nikah Andy dan Anita akan digelar secara sederhana tanpa mengundang pihak luar, apalagi wartawan. Bisa dibilang pernikahan paling senyap untuk sekelas pengusaha besar seperti Andi Hardiputra yang saat ini tengah naik daun.
Anita masih didandani oleh make up artis yang dibawa khusus oleh Harlina. Sementara Andy lebih memilih menyendiri di dalam kamarnya, tidak menyangka bahwa semua hal terjadi bagaikan di dalam mimpi buruknya,
Harlina lumayan sewot pagi ini, terutama pada suaminya yang mengatur semuanya dari mulai pengobatan ibunya Anita ke luar negeri sampai pernikahan ini tanpa berunding dengannya.
“Opa, oma mau bicara sebentar” pinta Harlina saat suaminya masih berbincang dengan pengacara keluarga yang nantinya akan menjadi saksi dari pihak mempelai wanita.
Dengan sekali anggukan istrinya, Hardianto dengan tubuh tuanya berjalan pelan menghampiri istrinya lalu mengikuti menuju kamar mereka yang terletak di lantai satu rumah mewah dengan banyak asisten itu.
Bagaimana kelanjutan cerita ini?
Kira-kira apakah gerangan yang akan dikatakan Harlina kepada Hardianto?
Nantikan di bab selanjutnya…stay tuned