
Anita kembali mundur saat Andy kini melihat ke arahnya.
“Kamu?” Andy melihat ke sekelilingnya dengan dirinya yang sudah bersih dan nyaman di sofa.
Giliran Anita yang kini salah tingkah. “Ka-kamu….mabuk. Mimpi buruk!” membuang muka ke arah lain kini Anita berdiri gemetar saat Andy mengusap kasar wajahnya.
Daripada menunggui Andy di sini tidak jelas, Anita memilih berbalik badan, namun Andy dengan cepat menangkap pergelangan tangannya.
“Tolong, jangan pergi!”
“Shh!” Anita mendesis saat merasakan telapak tangannya kesemutan.
Membuka kedua kelopak mata yang masih lengket, Anita merasakan tangannya kesemutan hampir kram karena tertindih bantal yang ditiduri Andy samping tempatnya tidur sambil duduk saat ini.
Sejak Andy memintanya untuk tidak pergi, entah dorongan dari mana yang meminta Anita untuk tinggal, Ia pun seperti menurut saja dan melupakan semua kebenciannya terhadap pria yang malah seperti anak kucing yang minta dikasihani.
Walhasil, Andy pun tertidur ditemani Anita di sofa dengan salah satu tangan Anita sebagai alas bantal pria itu. Sungguh tidak ada yang tahu bahwa mereka adalah sepasang suami istri yang tidak saling mencintai.
Dan benar saja, Andy langsung tak terdengar mengigau sampai pagi.
“Awhh!” decak Anita makin keras karena tangannya mulai kram. Apalagi dengan posisi tidurnya yang hanya duduk bersandar pada sofa, membuat serangan pagi rutin kini menerjangnya.
Anita merasa ada sesuatu yang mendorong naik ke kerongkongannya hingga ia membungkam mulutnya dengan tangan kiri, Akhirnya Anita menarik paksa tangannya lalu mengibaskan tangannya dan membangunkan dirinya hingga Andy pun ikut terbangun,
Anita segera berlari ke kamarnya menuju kamar mandi dan menumpahkan muntahnya di wastafel. Andy yang melihat Anita berlari sontak mengikuti dengan langkah besar.
“Hehh!” napas Anita tersengal naik turun dengan wajah memerah teraliri air mata yang otomatis keluar setiap kali serangan morning sickness datang.
Andy yang bingung harus apa kini menyibakkan helaian rambut istrinya kebelakang lalu memijit tengkuknya. Namun lagi-lagi Anita menampik dan risih dengan sentuhan pria itu di salah satu bagian sensitifnya.
“Maaf…” Andy mengibaskan tangannya setengah malu dan canggung pada Anita yang masih sibuk mengembalikan tubuhnya ke mode normal.
Anita mendongak agar air matanya tidak ada yang tumpah sementara kerongkongannya terasa panas dengan ulu hati yang perih. Wanita itu memegangi perutnya yang selalu tidak karuan.
“Anita….”
“Jangan sentuh aku” kesal Anita tiap kali tubuhnya seperti dihantam sesuatu yang menyakitkan namun entah apa itu.
“Maaf, aku sudah membuatmu seperti ini”
Anita membersihkan mulutnya lalu membasuh wajahnya dengan napas yang masih tersengal. Dilihatnya wajah pucat dan layu miliknya dari bayangan cermin yang memantulkan wajah Andy pula di sana.
“Apa maaf bisa mengembalikan semuanya?” sembur Anita selalu emosi karena ia benci muntah, ia benci saat semua tubuhnya terasa sakit semua.
Anita berharap semua penyiksaan ini akan berakhir dan dia akan kembali hidup normal bersama ibunya kembali ke kehidupan mereka tanpa sentuhan kemewahan apapun.
“Lalu maumu aku harus seperti apa?” cecar Andy yang tak dipungkiri begitu iba melihat Anita tersiksa seperti ini setiap hari.
“Seperti apa kamu itu bukan urusanku. Seperti apa mauku aku juga tidak tahu karena aku tidak memiliki daya untuk menginginkan apapun!” marah Anita dengan suara lantang menggema hingga sejurus kemudian ia terisak lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Anita, sepertinya…kita harus bicara baik-baik. Kita tidak bisa seperti ini terus”
Andy sudah akan mengulurkan tangannya kembali saat Bi Umi datang dengan segelas minuman hangat ditangannya.
Andy segera tahu untuk memberikan ruang pada Anita sendiri. Pria itu tidak ingin memaksa dengan kondisi Anita yang sangat sensitive dengan hormon kehamilannya.
“Nyonya muda, Silahkan minumannya”
Anita mengusap wajahnya dan kembali membasuhnya dengan air dingin yang sejenak menyejukkan pori-pori kulitnya. Segelas lemon madu dengan jahe diminum Anita sampai habis.
“Maaf,Bi” ucap Anita lalu memilih kembali ke dalam kamar dan tidak tahu harus berbuat apa hari ini.
“Apa tuan muda semalam mengigau, nyonya?”
Anita sedikit membelokkan tubuhnya menghadap Bi Umi yang sudah mengikuti Andy sejak usia muda.
“Apa setiap malam dia seperti itu, Bi?”
Bi Umi mengangguk sedih.”Setelah nyonya temani apa masih mengigau?”
Anita mengingat-ingat lagi semalam saat ia memutuskan menemani Andy tidur di sofa meski ia harus rela duduk bersandar saat memejamkan matanya.
“Seingat saya sudah tidak, Bi”
Bi Umi lantas tersenyum lega lalu membenarkan helaian rambut Anita agar tak menutupi wajahnya yang cantik meski tanpa riasan makeup.
“Ada perubahan. bertahun-tahun tuan muda Andy hidup dengan rasa trauma yang seolah tidak bisa disembuhkan”
Anita termenung sesaat “Trauma?”
”Nyonya Muda datang untuk mengobati luka hati Tuan Andy yang siapapun sebelumnya tidak bisa mengatasinya”
“Maksudnya?” Anita mengerjap tak paham.
“Tolong maklumi Tuan Andy, Nyonya. Terkadang jiwa kejinya muncul karena dia tidak bisa menghalau emosinya sendiri. Dia tidak pernah bisa mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya. Perasaannya seolah mati selama bertahun lamanya”
Mendengar ucapan Bi Umi yang mengambang jelas menyiratkan sesuatu hal besar yang ditanggung Andy sebagai beban terberat dalam hidupnya. Anita boleh gak peduli dengan kehidupan macam apa yang Andy lakoni saat ini.
Anita bahkan tidak pernah mau tahu dimana orang tua kandung Andy hingga dirinya seolah hanya memiliki kakek dan nenek saja.
Anita yang sudah mandi dan berganti pakaian kini muncul menuju meja makan dengan memakai maskernya untuk menghalau aroma dan bau asap apapun yang ada diruang makan.
“Nyonya, baru saja saya akan kirim makan ke kamar”
“Tidak perlu repot, Bi. Saya makan disini saja. Tapi tolong jangan yang terlalu beraroma, ya”
“Baik, roti panggang dengan sayur dan telur, mau?”
“Saya juga mau itu!” sahut Andy dari arah kamarnya saat Anita belum juga menjawab iya pada Bi Umi.
Anita langsung tertunduk saat Andy kini juga duduk diruang makan bersamanya.
“Di sini banyak bau makanan. Sebaiknya dikamar atau diruang tengah” ucap Andy membuat Anita makin tertunduk.
“Nyonya muda tidak ingin merepotkan bibi katanya, Tuan” goda Bi Umi yang sedang menyiapkan isian roti panggang dan memotong sayuran.
“Sudah tugasnya Bi Umi, tidak perlu sungkan”
“Aku tidak biasa dilayani!” sahut Anita ketus hingga membuat Andy kemudian berdiri dan menggandeng tangan Anita untuk ikut berdiri dengannya.
“Mau apa!” bentak Anita kaget dan tak siap.
“Bi Umi. antar ke balkon saja ya”
Bagaimana kelanjutan ceritanya?
Apakah Anita bisa menerima Andy sebagai suaminya?
Nantikan di bab selanjutnya…stay tuned