One Night Stand With Me

One Night Stand With Me
BAB 51



Opa Hardi lagi-lagi dibuat kehilangan muka saat ia tidak bisa menjawab tiap kali ada orang yang bertanya mengenai asal usul istri Andy yang terlanjur diumumkan secara masal oleh Harlina.


“Maklumi Andy, Tuan Charly. Dia ini sukses di pekerjaan tapi agak lemah dalam urusan wanita. Saya sendiri juga bingung dimana Andy mendapatkan yang tidak bisa menunjang karirnya, Kalau Anna sudah tidak diragukan lagi prestasinya.”


Andy hanya melirik dengan tatapan misterius tanpa ingin menginterupsi apapun atas ucapan sang kakek.


Ingin sekali Anita menghilang dari ruangan yang sudah mempermalukannya, Tahu begini, Anita juga tidak ingin diakui pun tidak masalah dan lebih baik daripada diakui namun dipermalukan seperti ini.


“Anita, cucu kesayangan Oma, Sini sayang. Oma punya manisan buat calon cicit oma”


Beruntung Harlina kini datang menyelamatkan Anita dari situasi yang bisa membuat dirinya stress. Wanita itu langsung membawa Anita ke ruangan lain dan menjauh dari obrolan mereka yang sedang bicara terlalu tinggi untuk Anita mengerti.


“Jangan diambil hati ya, Anita. Opa itu memang keras mirip seperti Andy” hibur Harlina yang hampir menangis karena Andy pun tak membuat pembelaan apapun di depan mereka.


“Tidak apa, oma” Anita hanya tertawa kecut meski tak dipungkiri ia juga sakit hati.


“Jangan dengarkan apapun. Meski ada seribu wanita di luar sana, kamu tetap cucu menantu oma satu-satunya”


Acara ulang tahun yang semestinya menjadi ajang mengakrabkan diri secara intimate dengan keluarga berubah menjadi kecanggungan seperti ini.


Anita memilih menepi bersama Harlina sedang Andy kini bersama kakeknya dan keluarga Anna malah membicarakan masalah pekerjaan yang akan mereka jalin di luar kota.


Harlin masih berupaya menghibur Anita dengan memuji pakaian yang telah dia buat. Namun dasar perasaan Anita yang sedang sangat sensitive, wanita itu hanya melamun dan tak seberapa mendengar apapun saat ini.


Pandangannya entah mengapa malah tertuju ke ruang tamu dimana kini Anna yang digadang akan menjadi rekan kerja itu kini malah duduk di samping Andy yang bahkan tidak menolak kehadiran wanita itu.


“Emm, Anita sayang, Oma antar kamu ke kamar Andy saja ya. Kamu istirahat saja di sana”


Seolah paham apa yang dirasakan oleh Anita, Harlina kini menggiring Anita menuju kamar pribadi Andy yang sudah ditinggali sejak kecil.


Memasuki kamar yang lebih tepat seperti kamar pria remaja ini, Anita menyisir ruangan yang tidak terlalu banyak ornament namun menunjukkan sisi maskulin pria.


Ada sebuah benda yang kemudian mengusik indra penglihatan Anita. Sebuah bingkai kecil dengan potret Andy kecil bersama kedua orang tuanya.


Anita mengingat betul wajah Yeni muda yang kecantikannya tak luntur meski Andy sudah dewasa. Sementara pria yang ada di samping kanan Andy baru kali ini Anita melihat wajahnya.


“Manis sekali” gumam Anita melihat wajah Andy kecil kisaran usia sepuluh tahun yang jauh dari kesan seram dan arogan, Tidak seperti saat ini yang begitu arogan dan menyebalkan.


“Memang manis!” sahut Andy yang sudah berdiri dibelakang Anita yang langsung terperanjat.


Anita langsung meletakkan bingkai itu kembali ke tempatnya.


“Itu mama dan almarhum papa. Foto itu diambil hanya beberapa bulan sebelum papa meninggal”


“Owh!” jawab Anita mencoba biasa saja saat Andy yang menasbihkan diri membenci pernikahan karena contoh orang tuanya itu mulai membuka cerita soal mereka.


“Papa sakit ginjal dan mama merasa bahwa pernikahan mereka tidak pernah bahagia karena papa sakit-sakitan”


Anita sebenarnya yang masih sedih karena hal memalukan tadi akhirnya sedikit merasa iba karena Andy kehilangan sang ayah sejak ia masih kecil.


“Karena mama itu brengsek!”


“Astaga, Andy!” telinga Anita jelas tidak terima. “Apa yang ada dipikiranmu saat mengumpati orang tua kandungmu sendiri seperti ini!”


“Aku juga akan jadi seorang ibu di masa depan, Andy. Apakah jika dimasa depan aku melakukan kesalahan maka kamu akan membiarkan anakmu nanti mengataiku seperti itu?”


“Kondisi mereka dulu berbeda, Anita! Mama kemudian memilih menikahi adik iparnya sendiri kemudian membiarkanku diasuh oleh oma, Apa itu bukan brengsek namanya? Sejak kapan mama bermain dengan adik papa juga hanya mereka yang tahu. Sudah, Anita. Kamu tidak mengenal mereka, tidak usah membela siapapun!”


Ditengah amarahnya mengingat masa lalunya, Andy kemudian memilih keluar kembali dan meninggalkan Anita sendiri di kamar.


“Sabar, Anita, sabaarrr!” lirih Anita menggertakan giginya melihat Andy yang hari ini sungguh menggoda nalurinya.


Hingga malam pun tiba, Anita masih betah berdiam diri di dalam kamar meski kini perutnya terasa keroncongan, Karena Harlina memintanya untuk bermalam di rumah ini, Anita memilih menahan lapar lalu berganti pakaian dan menghapus riasan tipisnya.


Sebuah kaos longgar dipadu bawahan celana pendek berbahan semi jeans dengan kancing dan resleting besar di bagian depan, panjang di bawah lutut menjadi pilihannya untuk bersantai di kamar ini, Setidaknya ia tak harus melihat opa Hardi didekatnya, Anita tidak bisa membayangkan kalau setiap hari mereka tinggal bersama.


Bisa-bisa Anita tidak akan mempertahankan kehamilannya karena selalu dilanda tekanan batin setiap hari.


Anita mencoba merebahkan diri dengan bantalan besar di sofa santai yang menghadap balkon. Begitu tenang dan senyap. Anita sangat suka suasana yang damai seperti ini.


Meski bayi didalam perutnya mungkin sedang berteriak meminta makan, namun Anita tak ada pilihan lain selain diam atau mungkin menunggu.


“Permisi Nyonya, makan malam sudah siap, Nyonya muda diminta Nyonya Harlina ke ruang makan”


Seorang asisten rumah tangga memberi tahu Anita untuk turun ke ruang makan, Jantung Anita berdebar, terlebih lagi dia sudah berganti baju santai karena toh dress mahalnya juga tidak ada artinya di acara yang tidak menganggapnya ada ini.


“Anita, kemarilah nak” panggil Harlina yang sudah siap di posisinya bersama opa Hardi dan juga Andy yang mendahului makan.


Sementara Anita tidak melihat lagi keberadaan keluarga Anna yang mungkin saja sudah pulang.


Anita berjalan pelan dan ragu lebih tepatnya takut.


Sampai tangan Harlina kemudian terulur ke arahnya, “Kemarilah, pasti sudah lapar ya cicit oma. Maaf, ya makan malamnya sedikit tertunda karena keluarga Anna baru saja pulang.”


Anita mengangguk saja saat diminta Oma duduk disamping Andy yang kemudian mendongak kepadanya.


Andy mengerutkan kening saat menyisirnya dari atas sampai bawah “Kenapa kamu memakai baju seperti itu, Anita?”


Degh!!


Anita terkesiap lalu melihat tubuhnya sendiri dan tidak merasakan keanehan apapun.


“Kamu mau buat anak kita sesak nafas didalam sana dengan celana yang kamu pakai? Itu kan ketas sekali” Andy menegurnya dengan nada yang begitu menyakitkan di telinga maupun dihatinya.


... Bagaimana kelanjutan ceritanya? ...


...Tetap dukung othor yah dengan mengikuti cerita di bab selanjutnya….salam hangat selalu...